Merebut Hati Suami Mayor

Merebut Hati Suami Mayor
Belum siap


__ADS_3

Sudah lebih dari tiga jam, Nancy dan Adit berada di satu ruangan, namun tidak bisa bicara apa-apa. Kedua-nya hanya saling terdiam tanpa mau saling mendengarkan.


Setiap Adit bicara, Nancy menyela terus, membuat suaminya itu menjadi mati kutu.


Menyesal atas keguguran sang istri, tentu tidak. Dalam benak Adit, hanya ingin kembali kepelukan Nancy, agar pria itu tetap aman tidak mendapatkan masalah dikesatuan.


Kini karir Adit benar-benar menjadi taruhannya. Ditambah ia belum siap untuk menjadi seorang ayah, karena perasaannya yang masih belum bisa menerima Nancy sepenuhnya.


Namun, takdir berkata lain, mereka berdua harus dihadapkan dengan rejeki yang berbeda, sehingga membuat pria itu tampak semakin tak siap menjalani kehidupan rumah tangganya.


Semua terlihat, saat Nancy mengatakan tentang kehamilan anak kedua mereka. Aditya sama sekali tidak mau mengunjungi sang istri dikarenakan masih tidak percaya bahwa istrinya akan mengandung begitu cepat.


Perdebatan panjang antara Aditya dan Sulastri yang membuat murka Atmaja, selaku orangtuanya.


"Bisa jadi itu bukan anak Adit, Bu! Masak baru dua hari Adit sentuh Nancy sudah hamil saja! Enggak mungkin, kan?" bantahnya kala itu dikediaman keluarga, satu minggu setelah pertikaiannya dengan Nancy.


Kedua bola mata Sulastri membulat, dia tidak menyangka bahwa putra kesayangannya mengatakan hal itu ...


"Jadi kamu pikir itu anak siapa, Dit? Jangan asal ngomong kamu! Gusti Allah itu kalau mau ngasih, sekali nancep langsung hamil juga bisa! Kok kamu jadi aneh begini, sih? Nancy itu hamil anak kamu! Kamu yang tidak pernah berhenti, kan? Sekarang kamu bertanya kok bisa? Mulut kamu, Nak! Kejam ... Enggak pernah menantu ku itu selingkuh, ataupun keluyuran selama kamu pergi! Tahu kamu!"


Aditya masih menatap tidak percaya pada Sulastri, namun dapat di dengar oleh Atmaja, yang seminggu pula tidak mau berbincang dengan anak laki-lakinya itu.


Mendengar penuturan Adit, membuat darah Atmaja selaku mertua Nancy mendidih seketika ...


"Kamu itu maunya apa sih, Dit? Kalau kamu tidak mau menerima Nancy, atau masih mencintai Evi, sudahlah ... Tinggalkan kediaman Bapak, silahkan kamu jadi Bapak untuk wanita yang jelas-jelas menjadi simpanan Sigit itu. Semua orang sudah tahu, dan Sunardi sendiri sudah bilang sama saya. Orangtuanya saja tidak mampu menangani anaknya yang janda, apalagi kamu! Masak Nancy hamil kamu ragu? Toh kalau di hitung dari masa pertemuan kamu dengan istrimu, wajar dia hamil, emang sudah masa perhitungan Bidan Siska," geramnya ingin melempar Adit dari kediamannya, namun ditahan oleh Sulastri.


"Tapi Pak, mana ada orang hamil secepat itu! Adit sudah bertanya sama Evi, kalau melakukan hubungan intim itu harus berkali-kali, baru hamil! Ini kami bisa di hitung pakai jari melakukannya, masa sudah hamil!" ucapannya membuat darah Atmaja semakin menggelegak.


"Brengsek kamu! Jadi yang kamu lakukan sepanjang malam, sampai enggak keluar kamar itu apa!? Aaagh ... Susah ngomong sama anak yang bodoh! Pangkat doang tinggi, otaknya ternyata bodoh! Lagian, ngapain kamu ketemu lagi sama Evi? Kamu benar-benar mau pisah dari Nancy? Kamu menyesal nanti, Dit! Menyesal tidak naik pangkat, dan kamu akan kehilangan segalanya! Ingat Dit, doa anak dan istri yang teraniaya itu di dengar Gusti Allah!" sesal Atmaja meninggalkan ruang makan dengan penuh amarah.

__ADS_1


Aditya terdiam, sejenak matanya tertuju pada Sulastri yang terus menerus mencoba mengingatkan tentang sang istri.


Sulastri memohon, hanya bisa berkata, "Cobalah Dit, sebelum semua terlanjur hancur. Perbaikilah lagi hubungan kamu sama Nancy, kasihan cucu Ibu, Nak! Jangan sampai kamu enggak naik pangkat, dan di pindahkan ke kampung halaman Bapak kamu di Aceh. Enggak akan ada karir disana. Bahkan kamu akan menyesali semua perbuatan kamu, seumur hidup. Sia-sia kamu jadi mayor tapi enggak bisa naik pangkat selama lima tahun!"


Aditya hanya diam tak bergeming, dia memilih pergi meninggalkan kediaman orangtuanya, untuk mencari Evi.


Hanya Evi yang harus Adit temui, untuk memberikan uang yang ia maksud, sebagai pria yang bertanggung jawab.


Gayung bersambut, Adit menemukan Evi di jalan dua minggu stelah perdebatannya dengan kedua orangtuanya.


Ketika janda itu akan menyebrang jalan, membuat Aditya merasa bahwa hutangnya akan terbayar, dengan membawanya makan di persimpangan jalan lampu merah hanya untuk mengenang kisah kasih mereka kala itu.


Mungkin niat Adit baik yang pria itu tawarkan untuk memberi tumpangan pada janda yang merupakan mantan kekasihnya beberapa waktu lalu, membuat dia sedikit melupakan Nancy.


Tawaran yang Evi suguhkan, hanya tubuhnya, yang ingin menghabiskan waktu bersama seorang Aditya Atmaja.


"Maaf Neng ... Mas masih menikah dengan Nancy. Jadi tidak usah menawarkan apa-apa. Apalagi dia hamil lagi!"


"Mas, kan sudah Neng bilang. Wanita itu hamil, kalau sering di kunjungi. Ini aja Mas jarang ketemu Nancy, kok dia bisa hamil. Sudah tinggalkan saja dia, Mas ... Wanita sombong itu tidak pantas buat, Mas. Apalagi, Neng selalu melihat dia sering berkeliling perkebunan sama bule dan Nanang. Bisa jadi, kan? Abdi itu anak si bule atau Nanang!" bisiknya membuat Adit semakin menggeram.


Evi menggenggam erat jemari Aditya. Bagaimanapun, dia masih merasa penasaran pada Adit, yang selama berpacaran tidak pernah menyentuhnya.


Evi merengek manja, menatap lekat mata Aditya, "Mas, kita lakukan sekali saja! Neng pengen ngerasain, Mas!" godanya membuat Adit sulit menelan ludahnya.


Bagaimana mungkin seorang wanita yang telah dia berikan uang sebesar lima juta, kini menawarkan sesuatu yang sangat menggiurkan.


Namun ... Kini semua hanya tinggal tawaran. Aditya harus dihadapkan pada kenyataan, bahwa Nancy mengalami keguguran karenanya.


Adit menelan ludahnya sendiri, ternyata benar, bahwa anak yang ada dalam kandungan istrinya itu darah dagingnya, setelah mendengar arahan dari dokter spesialis kandungan yang membantu Nancy.

__ADS_1


Saat Nancy akan duduk, di bangkar rumah sakit, dia masih meringis menahan rasa sakit di bagian intinya, yang sangat kebas dan nyeri.


"Ssssht ... Hmm ..." Berkali-kali Nancy hanya meringis kesakitan, setelah obat biusnya hilang.


Adit menggenggam erat tangan Nancy, "Kita pulang ke rumah Bapak, ya? Nanti Abdi di suruh ke rumah orang tua, Mas ..."


Nancy menggelengkan kepalanya, mengisyaratkan tidak mau menghabiskan waktu di rumah mertuanya.


"Neng mau di rumah Bapak saja. Kasihan Abdi. Mas mau pulang atau enggak?"


Aditya merasa bahwa Nancy membutuhkannya, membuat dia tersenyum sumringah.


"Tapi nanti Bapak marah sama Mas, Neng!"


Nancy menghela nafas panjang, "Mas kenapa sih? Mas mau pulang apa enggak? Kalau enggak, berarti benar kan? Mas masih menjalin hubungan dengan Evi? Mas tolong ceraikan, Neng! Please ... Ceraikan Neng, Neng sudah enggak sanggup. Kita pisah saja."


Lagi-lagi air mata Nancy kembali pecah. Membuat perawat yang mendengar pertikaian suami istri itu, mendekati sepupu Aldo tersebut.


"Ibu Nancy jangan nangis-nangis dulu yah? Nanti pendarahan lagi. Keluarga Bapak dan Ibu sudah ada di luar, jadi saya tinggal, yah?"


"Iya suster, terimakasih ...!" ucapnya pelan.


Perawat wanita itu berlalu meninggalkan ruangan, membuat Nancy menoleh lagi kearah suaminya ...


"Sekali lagi Neng tanya, Mas mau pulang atau enggak? Enggak kangen sama Abdi hmm?"


Adit menghela nafas dalam-dalam, "Dengan satu syarat, jangan minta cerai lagi, yah Neng? Mas minta maaf ...!" kecupnya di punggung tangan Nancy.


Nancy melepaskan tangannya dari genggaman suaminya, "Neng nikah sama siapa sih sebenarnya? Sama Aditya Atmaja seorang mayor? Atau Aditya Atmaja seorang pengecut hmm?"

__ADS_1


Wajah Aditya merah padam, sejujurnya dia takut untuk keluar dari ruangan tersebut, karena Sugondo pasti akan membelah kepalanya.


"Aaagh ... Jika aku tidak baik-baik dengan Nancy hari ini, bisa hancur semuanya ...!" geramnya mengepalkan tangan.


__ADS_2