
Kediaman Sugondo masih di ramaikan dengan berbagai drama karyawan yang tiba di sana untuk menjemput oleh-oleh yang dibawa langsung oleh majikan mereka, dari negri kincir angin tersebut.
Tidak begitu dengan Angga yang merupakan putra kedua dari Anggoro yang kini menjadi orang kepercayaan Sugondo untuk di perkebunan. Ia masih duduk di kursi teras bersama Aditya, bercerita pengalaman ketika berada di Netherland yang sangat menyenangkan.
Sangat berbeda dengan gadis berusia 24 tahun tersebut, ketika mendengar sahabatnya kembali dari Netherland, dan mendengar semua cerita tentang Luqman akan menikah dengan Sindi, membuat perasaan Jumaida sebagai wanita yang hanya berpangkat balok dua, menunduk sedih setelah mendengar cerita Nancy.
"Kenapa Luqman tidak memperjuangkan gue sih! Kenapa dia mesti memilih janda beranak tiga? Emang dia mampu merawat tiga orang anak yang masih kecil-kecil! Kok hati gue berasa seperti di sobek-sobek ya, Neng!" tangisnya di pelukan Nancy.
Nancy yang masih berada di paviliun, hanya mengusap lembut punggung Jumaida, kemudian menoleh kearah pintu kamar karena melihat wajah Aditya yang akan membawanya ke rumah orangtuanya.
"Sebentar ya Mas! Neng, ngobrol sebentar sama Ijum," jelasnya yang langsung diangguki setuju oleh Aditya.
Aditya langsung menutup pintu kamar paviliun, kembali ke rumah utama, untuk bermain bersama putra kesayangannya dan di susul oleh kehadiran Asep yang tengah menaikkan kedalam mobil beberapa perlengkapan sang komandan.
"Izin Ndan! Kita berangkat jam berapa?" tanya Asep, sebelum berlalu meninggalkan ruang keluarga kediaman Sugondo yang masih dipenuhi beberapa buruh pabrik.
"Sebentar lagi! Oya Sep, bagaimana perkembangan keempat orang pria yang salah satu dari mereka putra kesayangan Pak Dida? Apakah sudah keluar dari tahanan?"
Asep mengingat terakhir melihat keempat pria muda itu, yang mereka serahkan kepada pihak kepolisian, dan mendapatkan perlakuan hukum, sehingga menyeret Alvi yang masih menjalani beberapa pemeriksaan.
"Saya dengar dari salah satu rekan di kepolisian, mereka menyebut nama Bu Alvi serta Pak Sunardi, Ndan. Saya rasa mereka masih menjalani pemeriksaan. Untuk lebih jelas, tinggal menghubungi kasat reskrim Pak Sean, Ndan. Karena dia yang menangani kasus itu," jelasnya.
Aditya menganggukkan kepalanya, dia sangat mengetahui siapa dalang yang akan mencelakai keluarganya kala itu.
Benar saja, baru akan memanggil sang istri karena sore telah beranjak malam, mengingat janji yang ia sampaikan kepada kedua orangtuanya, seketika handphone miliknya kembali berdering.
Aditya menautkan kedua alisnya, melihat nama yang tertera dilayar pipih itu, "Sean ..."
__ADS_1
Aditya : "Hmm selamat malam!"
Sean : "Izin Ndan! Saya Sean, yang menangani kasus kecelakaan tunggal waktu itu. Bisakah besok pagi Komandan tiba di kantor untuk bertemu dengan para pihak yang sudah kami tetapkan menjadi tersangka? Untuk melanjutkan proses hukum ini, Ndan! Karena ini semua perbuatan hmm eee ...," ia terdiam.
Aditya menghela nafas berat, menoleh kearah Asep, memberi isyarat agar memanggil Unik untuk mengambil Abdi dari pangkuannya.
"Pa-pa-pa-papa ..." ucap bibir mungil putra kesayangannya sambil menunjukkan gigi kecil yang sudah tumbuh di bagian atas dan bawah dengan wajah menggemaskan.
Aditya : "Maaf Ndan, kemungkinan besar pihak perwakilan dari keluarga saya saja yang hadir kesana. Karena besok pagi saya ada kegiatan. Atau mungkin, Nancy yang akan datang bersama pengacara kami."
Terdengar suara bahagia Sean di seberang sana, mengisyaratkan bahwa akan bertemu lagi dengan wanita yang sangat ia kagumi sejak kuliah.
Sean : "Ogh, tidak apa-apa Ndan. Karena saya akan memberikan pelayanan terbaik untuk istri Anda. Saya tunggu pukul 10.00. Kalau bisa tepat waktu, karena kita akan melanjutkan ke P21 untuk menyerahkan kasus ini ke kejaksaan!"
Aditya : "Ya, saya akan membicarakan semua ini dengan Nancy serta keluarga kami. Terimakasih banyak atas bantuannya."
Mereka mengakhiri panggilan telepon itu, dan langsung mencari keberadaan Sugondo untuk menyampaikan semua informasi yang ia terima.
Sangat berbeda dengan Nancy dan Ijum yang masih berkabut kesedihan di kamar paviliun itu.
Gadis tomboi yang masih mengenakan pakaian bebas itu, masih dibalut kesedihan yang mendalam. Tidak mudah baginya untuk menerima kenyataan bahwa cintanya hanya bertepuk sebelah tangan.
"Gue enggak pernah berharap apapun dari Luqman, Neng. Tapi kok sakit yah? Padahal gue hanya calon istri yang enggak pernah dianggap walau sesungguhnya Mama Luqman tidak menyukai aku," rungutnya.
Nancy tersenyum tipis, "Berarti kalau Luqman tidak mau berjuang untuk lo, lebih baik tinggalkan. Toh enggak ada ruginya, lo masih dianggap sahabat oleh Luqman, dan dia akan menikahi Sindi yang ternyata kakak kelas kita waktu di Penabur. Gue rasa mereka lebih cocok, ditambah Sindi juga sudah mengenal dekat Mama-nya Luqman."
Jumaida mengerenyitkan keningnya, dia menggelengkan kepalanya, karena sangat mengetahui bagaimana watak keras Mama Luqman ketika berkenalan dengan dirinya beberapa waktu lalu.
__ADS_1
"Enggak, gue enggak percaya bahwa Teh Sindi itu akan diterima Mama-nya. Mama Luqman itu pemilih, makanya anaknya seperti bingung dalam menentukan sikap untuk masa depannya!"
.
Benar saja, di kediaman Luqman, Sindi masih di interogasi oleh wanita paruh baya yang bernama Melinda. Wanita tegas, merupakan dokter disalah satu rumah sakit swasta, membuat dia mengurut dada ketika melihat putranya membawa janda beranak tiga di kediaman mereka.
Melinda menggelengkan kepalanya, menoleh kearah Luqman yang masih duduk bersebelahan dengan Sindi, kembali bertanya ...
"Apa kamu siap menikah dengan Sindi, Aa? Kenapa mesti janda anak tiga sih? Emang gaji kamu, cukup membiayai seorang janda yang memiliki tiga anak? Jangan buat Mama pusing Aa. Kemaren kamu membawa sersan, yang tidak jelas pangkatnya, sekarang seorang wanita bisnis. Apa kamu yakin Aa? Maaf yah Sin, Mama bukan memilih menantu, tapi Mama tidak ingin Luqman menikah dengan wanita yang memiliki tanggung jawab besar. Karena tidak akan mudah bagi dia membesarkan tiga anak yang membutuhkan biaya tinggi dalam pendidikan. Ditambah Sindi biasa hidup di Eropa. Mama bukan tidak setuju, tapi Mama tidak yakin Luqman mampu memberikan yang terbaik buat kamu!"
Sindi meremas kuat kedua tangannya, sejujurnya ini yang memberatkan dirinya untuk menikah dengan seorang perjaka. Ditambah Luqman seumuran dengannya.
"Maaf Ma. Sindi ke sini, karena anak-anak libur sekolah. Dan mungkin jika Luqman tidak ada kejelasan, kami hanya ingin menghabiskan waktu selama beberapa minggu dan langsung kembali ke Belanda. Bagi Sindi, jodoh ini hanya bonus," tegasnya, dengan raut wajah sopan tanpa ada perasaan kesal. Walau sesungguhnya hatinya seperti tersayat-sayat oleh sembilu karena tidak ada kepastian dari Luqman.
Melinda menatap lekat wajah putranya, yang hanya tertunduk diam tanpa mau menjawab pertanyaannya. "Bagaimana Aa? Apa kamu yakin menikah dengan janda?"
Luqman menelan ludahnya sendiri, seketika ia menoleh kearah Sindi yang masih duduk di sebelahnya, menjawab pertanyaan Melinda dengan penuh ketegasan, "Yakin Ma. Apakah Mama menyetujui pilihan Luqman?"
Melinda tersentak seketika, mendengar ucapan putra kesayangannya. Pipinya terasa sangat panas, bahkan seperti ditampar oleh satu aib yang akan mencoreng nama baik keluarga almarhum suaminya.
"Baik! Jika kamu benar-benar yakin akan menikah dengan Sindi, Mama minta setelah menikah, kalian tinggal di rumah dinas. Jangan di rumah Mama. Karena Mama, tidak ingin mengecewakan Keluarga Almarhum Papa yang ingin menikahkan kamu dengan seorang Dokter!"
Mendengar penuturan Melinda, wajah Sindi pias seketika. Ia merasa tidak nyaman atas pernyataan wanita angkuh dihadapannya saat ini.
Sindi menggelengkan kepalanya cepat, langsung berdiri tegap dihadapan Melinda dan Luqman, "Maaf Ma. Jika Mama tidak menginginkan Sindi, tidak masalah. Selamat malam, mungkin kami akan menginap di hotel saja. Karena Sindi bukan janda yang gampang untuk meminta pertanggungjawaban dari seorang mayor yang tidak memiliki ketegasan dalam mengambil satu keputusan!"
"Sin! Aku siap buat kamu!"
__ADS_1
"Maaf, pikir-pikir lagi. Karena Mama kamu menginginkan dokter. Bukan wanita seperti ku!"