
Sudah lebih dari seminggu Sugondo juga Atmaja mendampingi Aditya di kesatuan untuk menjalani proses pemeriksaan. Bagaimanapun tidak mudah bagi seorang bunga dua untuk menjelaskan pada semua orang telah memiliki simpanan, walau sesungguhnya sudah menceraikannya talak tiga.
Tentu ini menjadi momok baru bagi para prajurit militer, yang tidak diperbolehkan memiliki istri lebih dari satu, JIKA KETAHUAN. Ditambah Aditya menggunakan fasilitas dinas dan di ketahui oleh orang sipil, dan viral di seluruh Nusantara, dan ini merupakan satu petaka bagi Aditya Atmaja.
Tidak mudah bagi Dida selaku komandan Aditya, saat menerima laporan Evi yang menunjukkan semua bukti pernikahan sirih mereka berdua.
Komandan Dida, menggenggam kuat kertas kopian itu dihadapan Evi, menatap lekat wajah Evi yang tampak tak berseri, hanya bisa tersenyum dan bertanya setelah membaca surat nikah sirih Evi dan Aditya ...
"Apa maksud mu?"
Evi mendengus dingin, menyandarkan tubuhnya di kursi yang berada dihadapan Dida.
"Saya ingin menuntut Adit. Dia harus bertanggung jawab, dan memberikan saya uang dua milyar!" ucapnya angkuh tanpa merasa bersalah dan berdosa.
Dida mengerenyitkan keningnya, bagaimana mungkin Adit akan memberikan uang dua milyar. Sementara yang kaya itu bukan Aditya, melainkan Nancy yang merupakan anak tunggal dari Sugondo.
"Apa? Dua milyar? Apa enggak salah dengar, kamu meminta uang dua milyar pada Aditya? Aditya tidak memiliki uang segitu. Jangan mimpi kamu, Evi. Lebih baik, kamu urungkan niat kamu untuk melakukan hal yang tidak benar ini. Aditya sudah cukup memberikan penjelasan kepada kami, dan dia telah menceraikan kamu talak tiga. Ini tidak akan masuk akal. Jika kamu menuntutnya, kamu yang akan tertimpa masalah. Pikirkan lagi ..."
Evi menggelengkan kepalanya, kali ini dia hanya memiliki bukti surat itu saja, selain itu dia tidak memiliki apapun untuk memeras Aditya Atmaja.
"Saya tidak peduli, jika Adit tidak memberikan saya uang senilai yang saya sebutkan tadi, saya akan melaporkan semua ini ke bagian paling tinggi dan menyatakan bahwa Mas Adit telah melecehkan saya, dan mencampakkan saya sebagai istri yang terzolimi!" tukasnya tajam.
Dida hanya bisa tersenyum tipis, mendengar celotehan janda itu dihadapannya.
"Baik, saya akan menyampaikan pada Aditya, tapi tolong pikirkan lagi tuntutan mu ini. Karena yang akan kamu hadapi merupakan Keluarga Sugondo, saya tidak yakin mereka akan menggelontorkan dana sebesar itu pada mu," senyum Dida.
Evi termangu, dia menghela nafas panjang, tapi tidak menutup kemungkinan untuk segera menemui Nancy. Dia bertanya pada Dida dengan tatapan penuh selidik ...
"Apakah Nancy sudah menggugat cerai suaminya, karena video itu?"
__ADS_1
Dida menggelengkan kepalanya, dia tidak menerima laporan apapun dari Nancy untuk Aditya Atmaja.
"Tidak ada laporan yang diberikan Nancy pada kami. Justru, jika istri sahnya menuntut, akan mempermudahkan kamu bisa menggugat Adit. Kalau begini, kamu tidak ada kekuatan. Bagaimana jika kamu temuin Nancy, kamu tunjukkan bukti surat ini, dan kamu pancing wanita itu untuk segera melayangkan gugatan cerai ke pengadilan agama juga ke kesatuan. Itu akan menjadi lebih kuat. Saya yakin Nancy akan percaya sama kamu, dan Sugondo memutuskan kerjasamanya dengan Atmaja. Bagaimanapun, kita harus mengambil satu keuntungan dalam kasus ini ..." jelasnya panjang lebar.
Evi mengalihkan pandangannya kearah lain, sejujurnya dia tidak bisa menghadapi Nancy. Dia mencondongkan tubuhnya agar lebih dekat dengan Dida, mempertontonkan bagian dada yang membusung sehingga membuat Komandan itu mereguk ludahnya sendiri saat menyaksikan keindahan janda dihadapannya.
"Bagaimana jika saya ditemani Ibu Alvi. Mungkin Nancy akan mudah mendengarkan pengarahan dari orang yang lebih tua dari dia. Kalau saya sendiri yang menemuinya, pasti tidak akan ada hasil yang memuaskan Pak. Kecuali hmm ..." Evi mengeluarkan lidahnya nakal, hanya untuk membuat Dida semakin mau menyentuhnya.
Dida berkali-kali mengangguk dan menggelengkan kepalanya ... Bagaimana mungkin, dia harus melibatkan istrinya, sementara beberapa waktu lalu saja, ia yang melarang istrinya agar tidak ikut campur dalam urusan Aditya dan Nancy.
"Hmm ... Maaf saya tidak bisa! Tapi jika kamu mau memberikan sesuatu, mungkin kita akan mencari jalan lain. Karena kebetulan istri saya lagi keluar kota dengan ibu-ibu lainnya. Bagaimana hmm ...?"
Evi tersenyum sumringah, dia dapat menangkap isyarat nakal dari seorang komandan Aditya. Tentu dengan cepat janda cantik itu menyambut penawaran Dida, dengan alasan mencari jalan keluar agar dia mendapatkan keuntungan dari perceraiannya dengan Aditya, walau melalui pernikahan sirih, dan berjalan satu minggu menjadi suami istri yang tidak pernah di sentuh oleh pria kaku tersebut.
Kedua-nya berjalan keluar kantor, menuju parkiran, tentu saja untuk mencari hotel yang jauh dari sana, hanya untuk melampiaskan sebuah hasrat seperti yang di janjikan Dida pada janda Aditya bernama Evi, dengan merencanakan sesuatu agar Nancy menggugat cerai suaminya yang berpangkat mayor tersebut.
.
Setelah lebih enam jam melakukan perawatan, dan merasakan kesegaran yang terpancar dari raut wajah cantiknya, Nancy meraih handphone yang bergetar ketika tengah duduk di sofa yang tersedia di ruangan spa langganannya.
Nancy menautkan kedua alisnya, saat melihat nama yang tertera dilayar handphone pipih miliknya.
"Mas Adit ..."
Nancy menjawab panggilan telepon dengan suara dingin.
[Hmm ...]
[Neng dimana? Kok enggak ada dirumah]
__ADS_1
Nancy menghela nafas panjang ...
[Mau ngapain? Abdi di rumah Ibu]
[Mas pengen ketemu Neng, kita harus bicara. Mas butuh Neng, tolong jangan menghindar lagi. Mas memohon sama Neng ...]
Nancy tertawa kecil mendengar permohonan suaminya, menautkan kedua alisnya, menatap layar handphone miliknya kembali, "Tumben sekali dia memohon! Pasti ada maunya!"
[Lain kali saja deh, atau omongin saja dulu lewat telepon. Nanti Neng pikirkan]
Terdengar suara hembusan nafas kesal dari Aditya diseberang sana ...
[Neng ... Permohonan maaf Mas di terima di kesatuan, tapi Mas membutuhkan kamu untuk menemani Mas menjalani persidangan minggu depan di Jakarta. Dan Mas diberi cuti dua bulan dalam kesatuan. Mas janji akan melakukan yang terbaik memperbaiki hubungan kita]
Nancy tertawa terbahak-bahak mendengar permintaan Aditya, membayangkan wajah bodoh sang suami yang pasti sangat salah tingkah jika berhadapan dengannya.
[Ooogh ... Jadi nelepon cuma buat urusan pribadi. Bagus deh! Maaf Neng enggak bisa, atau minta tolong saja sama istri sirih kamu itu! Cinta mu, yang selalu ada buat kamu, Mas Adit]
Lagi-lagi terdengar suara geramnya seorang Adit.
[Neng, tolongin Mas. Jangan sampai dana yang sudah dikeluarkan Bapak, terbuang sia-sia karena kamu tidak mau menemani Mas! Please Neng ... Ini demi masa depan kita, keluarga kita ...]
[Usaha dong Aditya Atmaja! Usaha ... Emang Neng pikirin, palingan kalau kamu tidak berhasil membawa Neng, pasti Bapak yang marah-marah sama kamu, kan? Bukan sama Neng]
Aditya menarik nafas dalam-dalam, jujur dia tidak mengerti apa yang dimaksud istrinya ...
[Aaagh ... Tolongin kenapa sih! Ini juga buat kamu, buat Abdi, buat kita semua, bukan buat Mas saja]
[Bodo ...]
__ADS_1
Nancy yang tidak suka dengan pemaksaan mengakhiri panggilan teleponnya dengan pria yang masih berstatuskan sebagai suaminya itu, meletakkan handphone miliknya kedalam tas.
"Dia pikir dia siapa! Seenaknya memaksa kehendak. Usaha dong! Usaha ..."