Merebut Hati Suami Mayor

Merebut Hati Suami Mayor
Kawin gantung Arini dan Abdi


__ADS_3

Aditya benar-benar tidak menyangka bahwa Nancy akan semurka ini padanya. Dia menjalin komunikasi dengan Evi hanya untuk sekedar menyapa sebagai mantan, yang kini terkurung di jeruji besi penjara rutan Salemba. Tidak ada niat untuk berbaikan seperti yang dipikirkan oleh sang istri.


Lagi-lagi Aditya mendengarkan suara Nancy yang kembali muntah-muntah didalam kamar mandi. Tidak mau menunggu lama, bergegas Aditya mendobrak pintu kamar mandi paviliun sang mertua, karena merasa khawatir dengan keadaan Nancy.


BRAK ...!


Dengan satu tendangan, pintu kamar mandi terbuka lebar. Membuat Nancy terlonjak kaget karena suaminya telah meruntuhkan pintu kamar mandi kediaman orangtuanya.


"Mas Adit! Apa yang Mas lakukan? Jangan gila, Neng benar-benar sedang marah!" pekiknya, akan tetapi Aditya langsung memeluk tubuh ramping Nancy.


"Mas minta maaf Neng. Mas janji tidak akan menghubungi dia lagi, Mas janji! Mas enggak mau kehilangan Neng ..."


Nancy yang merasakan sesuatu akan kembali bergejolak, seketika ...


"Uwek, uwek, uwek ..."


Nancy memuntahkan semua isi perutnya ditubuh Aditya, membuat pria itu terdiam sejenak merasakan aliran hangat yang membasahi dada bidangnya.


"Ma-ma-maaf Mas, tapi Neng enggak bisa nahan, mual banget ..." senyumnya mengembang lebar, langsung membuka baju kaos milik suami yang terkena muntahan efek kehamilan kedua-nya.


Aditya tersenyum lirih, sejujurnya dia ikut merasakan mual, karena tidak menyangka bahwa Nancy akan memuntahkan cairan yang beraroma tidak sedap itu ke baju kesayangannya.


"Neng nakal, kita mandi yah. Mas bantuin ..." kecupnya kecil pada leher Nancy yang masih mengeluarkan aroma yang bercampur aduk.


Tidak banyak bicara, Nancy mengikuti semua keinginan sang suami, kemudian mengikuti langkah Aditya yang menggandeng tangannya untuk berdiri dibawah guyuran shower yang menyala.


Bukan sekali dua kali, Nancy menghadapi Aditya yang masih teringat akan Evi. Tapi sudah acap kali, dan kini ia merasa sudah mulai lelah, karena harus memikirkan kondisi kesehatannya pasca kehamilan anak kedua.


Bukan cemburu yang Nancy rasakan, tapi janji Aditya yang selalu ia tuntut karena terus berucap akan melupakan wanita perusak rumah tangga mereka tersebut.


Perlahan Aditya, mengusap lembut punggung Nancy dengan tangannya, yang sesekali nakal menyentuh bagian-bagian tertentu yang membuat wanita itu tertawa geli, karena merasakan sesuatu yang sangat ia rindukan.


"Mas ..."


"Hmm ..."


"Kangen ..."


"Jangan agh, nanti dede bayinya ngambek. Kata Dokter Arlen masih di suruh cuti dulu sampai usia debay dua belas minggu. Jadi Mas mau memanjakan Neng saja," bisiknya pelan.


"Kita nyusul ke Jogja yah, Neng kangen sama Abdi. Kita naik pesawat saja. Lagian ngapain kita berduaan di sini. Neng tahu kok dimana mereka menginap."


Aditya tersenyum, mengangguk setuju, "Jangan bilang Neng mau buat kejutan untuk Luqman dan Sindi?"


Kedua-nya tertawa terbahak-bahak, saling menggoda, bahkan saling bermain dengan busa. Tidak ada yang tahu, bagaimana hati seorang istri jika sudah merasakan kehangatan suami yang membuatnya nyaman.

__ADS_1


Cinta yang dimiliki Nancy, sangat besar terhadap Aditya, sehingga terkadang ia terlihat bodoh karena cintanya, tapi karena keyakinannya kini dapat berbalas dari seorang Aditya Atmaja walau masih menorehkan luka.


.


Tidak menunggu lama, kini kedua insan itu telah mendarat di Jogjakarta, menunggu pihak hotel menjemput dua insan suami istri itu, karena tidak membawa kendaraan.


Aditya membawakan semua travel bag, dan beberapa tentengan mereka yang berisikan makan kecil selama di pesawat.


Wanita hamil, yang banyak meminta selama di bandara, membuat Aditya ikut mabuk karena ulah Nancy.


"Semua mau di beli. Enggak dimakan, malah suruh Mas yang makan," gerutunya ketika memilih duduk di ruang tunggu kedatangan, menunggu jemputan dari hotel mereka menginap.


Nancy menggoda puncak hidung sang suami, merebahkan kepalanya di bahu gagah Aditya, "Makan saja, Mas. Anak kamu yang minta, jadi jangan heran kalau nanti isi kulkas banyak, Mas yang makan. Biar gemuk, dan enggak ada yang naksir lagi sama Mas!"


Aditya tersenyum, mengusap lembut kepala sang istri yang benar-benar berubah menjadi manja ketika mengetahui kehamilannya.


Tidak lama mereka menunggu, mobil hitam yang bertuliskan nama hotel tempat mereka menginap, menghampiri Aditya.


"Maaf Pak, benar Anda Bapak Kolonel Aditya?"


Aditya menganggukkan kepalanya, melihat wajah istrinya yang sudah terlelap, ia mengusap lembut wajah cantik sang istri untuk membangunkannya, "Neng, jemputan kita sudah datang. Nanti di hotel lanjut tidur lagi."


Dengan mudahnya Nancy terjaga, tangan lembut itu mengusap lembut wajahnya, menoleh kearah driver yang tengah menata barang-barang bawaan mereka yang telah tersusun rapi diatas troli.


Aditya menggelengkan kepala, tanda tidak setuju, "Semua cemilan yang kamu beli, tidak satupun kamu sentuh. Jadi mau beli lagi? Enggak Nancy Sugondo!"


Nancy enggan untuk beranjak dari bandara, membuat Aditya langsung memenuhi semua keinginan sang istri belahan jiwa.


"Cukup ini saja, ya sayang! Tidak ada cemilan lagi, karena nasi goreng buatan Mas saja, enggak kamu makan sama sekali!" geramnya.


Nancy menggembungkan pipi mulusnya, selayaknya seorang anak kecil yang tampak sangat menggemaskan.


Tidak banyak bicara mereka berlalu meninggalkan bandara, dengan semua drama yang tak kalah bahagianya mengalahkan drama Korea.


.


Kini keluarga mereka telah berkumpul bersama, mengisi acara gathering yang diadakan team pabrik perkebunan teh milik Sugondo, dengan berbagai acara yang sangat mengharukan.


Bagaimana tidak, semua mereka tampak bahagia bersama keluarga terbaik, terpandang sekelas Sugondo yang senantiasa memfasilitasi para buruh dan tenaga kerja yang mereka miliki.


Aset yang berlimpah, tak pernah sekalipun Nancy selaku anak pemilik perkebunan teh tersebut terlihat sombong dan angkuh. Ia tumbuh di keluarga yang serba berkecukupan membuat Aditya sangat-sangat beruntung telah menikahi seorang Nancy.


Pilihan yang tepat, mungkin itu yang ada dalam benak Aditya, karena berhasil diluluh kan oleh seorang Nancy.


Awal yang menjadi paksaan membuat pria berpangkat itu sadar, bahwa Nancy lah wanita yang tepat untuk menjadi ibu yang baik bagi kedua anak-anaknya kelak.

__ADS_1


Ningsih tersenyum menatap anak menantunya, ketika tengah menikmati hidangan makan malam di ballroom hotel bintang lima tersebut. Sang Ibu kembali bertanya, karena sudah membicarakan dengan semua keluarga, termasuk Atmaja.


"Bagaimana Neng? Apakah kamu setuju dengan keputusan kawin gantung Arini dan Abdi? Karena Ibu tidak mau kalau tidak ada penerus, jika kami sudah tidak ada. Jika kamu setuju, mungkin selesai resepsi kamu, kita akan mengadakan pertemuan keluarga besar," titah Ningsih mengusap lembut punggung putri kesayangannya.


Dengan sangat hati-hati Nancy menoleh kearah Aditya yang masih menggenggam erat jemari tangan kirinya, "Terserah Mas Adit saja, Bu. Jika itu yang terbaik hmm, Neng ikut saja. Toh Aa Aldo akan berangkat ke Swiss bulan depan. Dan mungkin Neng juga akan berangkat ke Yordania sama Mas Adit. Jadi Abdi bisa tinggal sama Ibu dan Bapak sebagai teman. Lagian ada Teh Sindi juga yang bisa menjaga Ibu."


Mata teduh itu seketika berkaca-kaca, ketika mendengarkan bahwa putrinya akan berangkat ke Yordania untuk menemani sang menantu terbaik Keluarga Sugondo.


"Hmm, Ibu enggak mau pisah sebenarnya, tapi bagaimana lagi ...!" isaknya sambil menundukkan wajah agar tidak terlihat oleh suami tercinta.


Nancy menggenggam erat jemari sang bunda, "Enggak lama ... mungkin kami akan kembali lima tahun setelah Mas Adit menyelesaikan tugasnya. Neng sayang Ibu ..."


Kedua-nya saling berpelukan membuat Aditya sebagai menantu hanya bisa tersenyum merasakan kesedihan yang dirasakan Ningsih.


"Ibu tenang saja, Adit janji akan selalu menjaga Neng. Janji Bu ..."


Ningsih melepaskan pelukannya, sedikit berbisik ketelinga Aditya, "Jangan janji-janji saja kamu, Dit! Karena Ibu akan selalu melindungi Nancy kalau kamu berani macam-macam lagi!"


Nancy yang mendengar pembelaan dari Ningsih, merasa besar kepala, tapi Aditya langsung berhambur memeluk tubuh sang istri.


"Janji, tidak akan ada dia lagi ..."


_____


Hai hai hai ... Author pemes mengucapkan terimakasih kepada semua reader yang ikut mendukung karya Merebut Hati Suami Mayor.


Cerita ini akan tamat di chapter 120.


Bab ini merupakan spin off untuk 'Kawin Gantung Mafia vs Abdi Negara' yang tak kalah serunya ...


Jangan lupa dukung terus karya Tya Calysta, karena hanya dukungan dari para reader membuat aku selalu update rutin dan akan memberikan give terbaik untuk pembaca terbaik, komen terbanyak, terlove-love dan jika berkenan bantu share dong sayang.


Lima orang, bukan berdasarkan top fans, jadi berikan give terbaik kalian. 😘😍


Mohon maaf jika ada salah kata, atau menyinggung perasaan kalian. Sekali lagi, ini hanyalah cerita. Yang baik di contoh, jika tidak berkenan di hati tinggalkan, hempaskan didasar lautan.


Terimakasih ... Salam Tya Calysta


Boleh saling follow Ig atau FB di :


FB : Fitria Handayani


Ig : fitria.handayani.522


__ADS_1


__ADS_2