Merebut Hati Suami Mayor

Merebut Hati Suami Mayor
Uang enggak dapat, nyawa melayang ...


__ADS_3

Nancy tampak kebingungan mendengar penuturan Adit yang semakin kalud pagi itu. Dia hanya mengusap lembut punggung suaminya, karena tidak mau membahas ucapan suaminya yang tampak tidak penting baginya.


"Mas kenapa sih? Emang Mas nikah sama siapa?" tawanya menyeringai kecil.


Adit memperbaiki posisi duduknya, menelan ludahnya berkali-kali, mengusap wajahnya sedikit kasar, hanya bisa menjawab dengan gugup, "Eee enggak ada apa-apa. Mas berangkat dulu yah? Nanti siang jangan lupa kamu hadir, karena ada yang akan di tandatangani untuk kenaikan pangkat Mas!"


Nancy yang mendengar ucapan perintah suaminya, hanya mengangguk, tak mengeluarkan suara.


Semenjak Nancy mengalami keguguran, Adit benar-benar berubah. Dia tampak seperti orang linglung, bahkan tidak bersemangat untuk menyentuh istrinya seperti beberapa waktu lalu.


Nancy hanya berpikir, mungkin Aditya terlalu lelah, dan banyak pikiran, tapi tidak mau berbagi dengannya, sehingga ia memutuskan untuk mencari momen liburan berbulan madu mengunjungi keluarga yang berada di luar negeri. Tentu keluarga dari Sugondo yang merupakan Papa-nya Aldo.


Rencana Nancy untuk berlibur ke Swiss musim ini, membuat Aldo bersemangat. Bagaimana tidak, sudah lebih dari satu setengah tahun, pria berusia 27 tahun itu tidak menjenguk kedua orangtuanya.


Nancy membereskan semua perkakas dapur yang tampak masih berantakan, menumpukkan di wastafel, karena sebentar lagi Unik akan datang ke kediamannya untuk mengasuh Abdi, dan bersiap-siap menuju pabrik.


Sangat berbeda dengan Aditya, sepanjang perjalanan menuju kantor, dia harus menerima panggilan telepon dari Evi yang sangat memekakkan gendang telinganya ...


[Apa lagi sih? Iya, nanti aku belikan! Kalau kamu seperti ini menuntut ku, lebih baik kita berpisah saja! Karena aku tidak ingin menyakiti Nancy. Terserah sama kamu maunya apa!]


Aditya menonaktifkan handphone miliknya, menggeram kesal, karena tuntutan Evi yang semakin lama semakin memusingkan kepalanya.


"Dia pikir aku pembantunya apa! Seenaknya main suruh-suruh beli susu! Anak ku saja tidak pernah aku pikirkan untuk susunya ..." Seketika Aditya tersentak, dia semakin tersadar, bahwa selama ini dia telah menyakiti perasaan Abdi juga Nancy tanpa disadarinya.


Lagi-lagi Adit terkenang pertikaiannya di kantor bersama Jumaida. Wanita berpangkat kopral menyerangnya habis-habisan setelah mendengar semua cerita dari orang-orang, terutama Alvi istri dari Komandan Dida.

__ADS_1


BRAAK ...!


Adit terlonjak kaget saat Jumaida masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Adit berucap tegas, "Hei! Bisa sopan enggak masuk keruangan orang lain? Beri salam dan hormat dulu dong!"


Jumaida tertawa kecil, berdiri tegap, kemudian memberi hormat, "Lapor Ndan! Gue mau menampar kepala lo, brengsek!"


Adit bergidik ngeri, tidak menyangka wanita yang merupakan adik angkatan dibawahnya tiga tahun berbicara semena-mena di ruangan kedap suara itu.


"Emang salah aku apa!"


"Oogh, masih nanya? Salah lo apa? Lo inget enggak bini lo siapa? Anak siapa? Nancy sahabat gue, Dit! Di luar lo atasan gue, tapi di ruangan ini kita teman!" tegasnya dengan suara lantang.


Aditya memijat pelan pelipisnya, "Jadi mau mu apa? Aku enggak ada urusan sama kamu? Nancy cerita apa sama kamu? Pasti nangis-nangis, jelek-jelekin aku, terus bilang kalau aku laki-laki brengsek! Gitu?!" geramnya.


BRAAK ...!


"Kepala lo sudah siap, gue tendang pakai ini hmm? Bukan Nancy yang ngomong sama gue! Tapi bini komandan lo, bodoh! Pangkat doang tinggi, gelar doang S2, tapi ternyata berat digelar doang. Mending kayak gue! Jelas brutal!"


Adit yang enggan ribut dengan wanita, hanya menggeleng pasrah.


"Jadi mereka ngomong apa? Iya, kan aku udah minta maaf sama Nancy. Lagian dia lagi sakit, dan hubungan kami sudah membaik. Sudahlah ... Jangan pernah ngegosip lagi! Mending kamu keluar deh, jangan buat kepala aku semakin mumet. Kerjaan lagi banyak, minggu depan kamu naik pangkat, Luqman, kita semua. Jadi jangan buat gosip lagi. Karena akan berdampak pada karir kita," jelasnya.


Jumaida tertawa terbahak-bahak, menurunkan satu kakinya, mendengus dingin, "Ternyata lo bencong yah! Lo pikir dengan minta maaf semua masalah kelar? Ingat Dit, Nancy itu jatuh cinta dari SMP sama lo. Jangan sia-siakan dia, karena dia sangat menyayangi lo! Apalagi ada Abdi, dan satu lagi ... Jika lo tega nyakitin sahabat gue, nomor satu yang melaporkan lo adalah gue. Selanjutnya Luqman dan Ali! Are you understand!?"

__ADS_1


Adit menelan ludahnya sendiri, ternyata di kantor sudah santer terdengar gosip miring tentang rumah tangganya. Membuat dia sulit untuk membela diri.


Malu ... Sudah pasti. Karena di kesatuan sudah beredar bahwa Aditya Atmaja akan digugat cerai oleh Nancy Sugondo.


Bagaimana Aditya tidak semakin panik, karena semua orang membicarakan dia sebagai laki-laki yang tidak menghargai istri.


Dua hari setelah pertikaiannya dengan Jumaida. Evi datang menemui Aditya ke kesatuan militer saat tengah berada di ruangannya. Tentu kehadiran Evi kala itu menjadi gosip panas yang semakin memekakkan dan memusingkan kepalanya.


Ditambah Ali yang mengusir Evi dari ruangan Aditya, membuat mereka ribut besar, saling memaki, bahkan membuat Evi semakin terhina. Saat itulah Aditya membawa janda satu anak itu terbang ke Puncak untuk menikahinya.


Namun, setelah menjalani pernikahan sirih selama seminggu dengan Evi, membuat kepala Adit semakin berdenyut, bahkan tidak ingin melanjutkan kisah cintanya dengan Evi.


Adit menghentikan mobil di pinggir jalan, memilih turun dari mobil dinasnya, kemudian memasuki satu warung yang ternyata milik keluarga almarhum Bambang.


"Aditya? Menantu Sugondo? Ya ampun Gusti, kamu semakin cakep aja Nak Adit. Sudah lama enggak ketemu, membuat Ibu semakin rindu sama kamu," peluk wanita paruh baya itu memeluk lengan Aditya.


Adit tersenyum tipis, dia berusaha melepaskan dekapan Ibunya Bambang, hanya untuk mengambil satu botol air mineral. Entah mengapa, tenggorokan seperti mengering tiba-tiba setelah menerima telepon dari Evi.


Adit duduk di samping wanita paruh baya itu hanya sekedar berbincang-bincang.


"Ibu apa kabar? Maaf, Adit haus banget. Kayaknya pagi ini sangat memusingkan kepala," senyumnya menyeringai kecil.


"Baik Nak. Semenjak Bambang pergi, enggak ada yang mau mengunjungi Ibu, Nak. Punya menantu malah hilang. Baru sebulan Bambang pergi, sudah buat ulah. Nikah sama Sigit yang jelas-jelas suami orang. Terus sekarang dia menghilang lagi, katanya mau merubah nasib. Gimana mau berubah Dit, kawin sana sini. Untung dia enggak jadi sama kamu, Ibu benar-benar menyesal menikahkan Bambang sama Evi. Ternyata dia yang menjerumuskan Bambang jadi penyusub waktu itu, berharap uang lima milyar. Uang enggak dapat, nyawa melayang. Dia lagi dicari-cari sama perusahaan Bambang bekerja, Dit. Kan yang dapat pesangon Ibu, bukan Evi. Makanya bisa buka warung kecil ini. Makanya kamu hati-hati sama Evi yah, Nak. Nancy itu anak baik, semua orang bersyukur kamu nikah sama Nancy. Salam yah buat Neng Nancy. Semoga kamu bahagia selalu," ceritanya panjang lebar.


Aditya tak mampu bicara, tenggorokannya seperti tercekat, hanya bisa mengusap-usap wajahnya, meminum air mineral sedikit demi sedikit, karena merasa musibah telah menimpanya.

__ADS_1


"Brengsek, aku harus menceraikan wanita laknat itu. Karena pasti akan berdampak pada karir ku! Alhamdulillah aku belum ngapa-ngapain sama dia. Syukurlah aku masih di lindungi Tuhan ..." gumamnya dalam hati mengusap wajah yang sudah memerah, menahan tangis, karena telah tega menyakiti Nancy ...


"Maafkan Mas, Neng! Mas janji, setelah ini Mas akan menyayangi kamu dan Abdi anak kita ..."


__ADS_2