
Pukul 22.00 waktu Indonesia barat, Nancy memarkirkan mobilnya di carport yang terhampar luas di rumah mewah pemberian Sugondo.
Betapa terkejutnya Aditya saat melihat semua keluarganya telah berkumpul di kediaman mereka, hanya menunggu kedatangan anak menantunya.
Adit menoleh kearah Nancy dengan panik, memasang mimik wajah garang. Dia meremas kuat lengan sang istri dengan geram menghardiknya lantang, "Jawab Mas, Neng! Neng yang memberitahu pada semua keluarga!? Jadi Neng jebak Mas!"
Nancy yang terkejut mendapatkan perlakuan kasar dari Aditya, meringis kesakitan, hanya bisa menjawab dengan tenang, "Sama sekali Neng belum bertemu dengan keluarga, kecuali Bapak dan Ibu, Mas! Sekarang, kita turun, dan bicara baik-baik. Coba Mas tenang, tarik nafas dalam, jangan emosi. Neng akan selalu ada buat, Mas. Please ... Jangan kasar seperti ini sama Neng. Sakit Mas ...!" ucapnya, menahan tangis dengan mata berkaca-kaca, dan bibir bergetar.
Aditya terdiam, dia mengalihkan pandangannya kearah lain, hanya bisa menahan amarah dengan melepaskan tangan kanannya dari lengan Nancy yang meninggalkan jejak merah dilengan tersebut.
Nancy menatap wajah Adit, yang tak setampan awal mereka menikah. Wajah sembab, mata sayu, dan rahang yang semakin tampak tegas. Membuat wajah itu tampak tidak sesegar awal dia kembali dari timur tengah.
Nancy bicara dengan nada lembut, karena tidak ingin melihat suaminya semakin tertekan, "Bisa Mas jelaskan sama, Neng? Apa yang terjadi? Kenapa mobil Mas diambil? Dan apa maksud dari video yang beredar itu?"
Adit mendongakkan kepalanya menahan tangis, "Mas bingung mau mulai dari mana untuk menjelaskan sama Neng. Mas enggak tahu harus berkata apa, Neng terlalu sabar, dan sangat baik. Mas hanya bisa menyesali semua perbuatan ini."
Nancy tersenyum, walau hatinya terasa sangat perih dan sakit. Dia mencintai Adit, tapi dia tidak ingin melanjutkan pernikahan ini lagi, walau kali ini ia berusaha tenang, melepaskan suami tercinta secara perlahan.
Nancy mengusap lembut wajah Aditya, "Kita keluar dulu, Mas mandi, dan Neng siapkan makan malam. Bapak sama Ibu, Neng yang urus. Mereka tidak akan menyentuh Mas sedikitpun. Yuk ... Kita keluar."
Aditya mengangguk, kali ini dia bukan hanya takut akan dihajar habis-habisan oleh keluarganya, melainkan ia juga takut di gugat cerai oleh Nancy. Karena konsekuensinya, jika istri sah menggugat ke kesatuan, maka kelarlah karir seorang mayor Aditya Atmaja.
Nancy keluar dari mobil, menoleh kearah Sulastri yang masih menangis tersedu-sedu, ditambah Ningsih mengisyaratkan dengan tatapan memohon.
Nancy memijat pelipisnya, sesekali menoleh kearah Sugondo, menunduk penuh hormat, hanya bisa berkata, "Biarkan Mas Adit masuk, Neng sudah memikirkan yang terbaik untuk keluarga."
__ADS_1
Sugondo mendengus dingin, dia melihat kearah Aditya, yang menundukkan wajahnya, tanpa berani untuk mengangkat kepala.
Perlahan Nancy menarik tangan suaminya, tanpa mau melepaskan. Kali ini ia tengah berperang melawan batinnya sendiri sebagai wanita yang terzolimi oleh suami sendiri. Dikhianati, disakiti, bahkan ingin sekali dia melempar Aditya keluar dari kediamannya. Namun jika sudah berada didekat Aditya, tak mampu ia lakukan.
Nancy menarik nafas dalam-dalam, dia memejamkan kedua bola matanya, menahan diri agar tidak menangis dihadapan Aditya, ataupun keluarga yang masih menatap tajam kearah mereka berdua.
"Mas tunggu Neng di kamar yah? Bersihkan diri, Mas. Nanti Ibu, atau Neng yang mengantarkan makanan ke kamar. Neng masih mau ngobrol dulu sama Ibu dan Bapak."
Aditya hanya mengangguk pelan, dia berlalu memasuki kamar, meninggalkan ruang tamu yang berhadapan dengan ruang keluarga.
Ketika Nancy memastikan Aditya masuk ke dalam kamar, kemudian menoleh kearah ibunda yang telah melahirkannya. Hanya bisa berhambur memeluk erat tubuh Ningsih dengan sangat kuat, hanya bisa berkata ...
"Neng kalah, Bu! Neng sudah enggak kuat untuk nerusin pernikahan ini! Neng mau pisah dari Mas Adit. Neng udah enggak mau sama Mas Adit, Bu!" tangisnya pecah seketika, dengan tangan masih menggenggam erat plastik yang berisikan sate kelinci untuk makan malam Aditya.
Sulastri menoleh kearah Atmaja, mendekati menantu kesayangan, mengusap lembut punggung Nancy, mengikuti apa yang dilakukan Ningsih.
Ningsih yang sejak awal mereka akan menikah sudah menasehati Nancy, mengusap kepala putrinya dengan penuh kelembutan, hanya bisa berkata pelan ...
"Dengarkan Ibu. Kamu wanita yang kuat, tidak semuanya permasalahan perselingkuhan diakhiri dengan perceraian. Ingat Neng, ada Abdi. Dan Tuhan tidak menyukai perceraian. Saat ini, Mas Adit membutuhkan kamu, membutuhkan kita semua untuk melindungi dia. Jangan karena masalah ini, kamu tinggalkan dia, dan pergi dari dia, itu tidak baik, Nak. Rebut hati suami mu disaat dia terjatuh. Ibu yakin, dia akan sadar dengan cinta kamu yang tidak pernah berubah padanya. Disaat ini, Neng bisa bertahan, berdiri kokoh, mendampingi Nak Adit, untuk bertahan menghadapi ujian ini. Disaat itu kamu Nancy Sugondo telah berhasil merebut hati suami mayor mu! Kalau di ikutkan hati, mungkin kami selaku keluarga, tidak mau nerima dia masuk ke rumah kita. Ibu tahu, kata-kata yang keluar dari bibir kamu pada Pak Atmaja dan Ibu Sulastri tadi hanya bentuk kekecewaan kamu. Biar suamimu enggak naik pangkat tahun ini. Tapi jika kamu mendampingi dia dalam persidangan kesatuannya, di sana kamu akan melihat siapa yang menertawakan suamimu, dan siapa yang akan menjadi sahabat kalian."
Nancy menggelengkan kepalanya, "Tapi Bu ... Neng sudah tidak ada kekuatan lagi. Neng sudah capek!"
Ningsih tersenyum sumringah, mengangkat dagu putri kesayangannya, "Kamu meminta Mas Aditya Atmaja untuk menjadi suami kala itu?"
Nancy mengangguk pelan.
__ADS_1
"Jadi dia pakaian mu! Dia cinta mu. Berapa sering dia menyentuh mu? Apa kamu yakin dia akan menyentuh janda itu? Jika dia memang mencintai wanita itu, mungkin dia tidak akan meninggalkan anak Sunardi seperti sampah begitu. Ingat, kita harus melihat semua masalah dari sudut pandang yang berbeda. Ibu yakin, cinta kamu akan berbalas."
Sejujurnya Nancy hanya bisa memeluk Ningsih, yang selalu memberikan masukan positif padanya.
"Tapi Neng enggak yakin bisa seperti kemaren, Bu. Neng terluka, Neng yang sakit, Neng enggak sanggup lagi untuk berjuang sendiri ..." peluknya kembali erat pada tubuh Ningsih.
Ningsih mengusap lembut punggung Nancy, mengecup lembut kening putri kesayangannya, "Neng pasti kuat. Ini baru awal pernikahan, belum ada apa-apanya. Kalau mau bahagia terus, nikah sama patung," hiburnya.
Wajah cantik itu menekuk, Nancy kembali menoleh kearah dua orang pria paruh baya yang selalu ada untuknya.
Sugondo hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, menoleh kearah Atmaja, "Kasih tahu sama pihak pusat, Mas. Saya akan membayar berapapun, tapi hilangkan kasus sampah ini! Enggak naik pangkat enggak masalah, tapi minta cuti tiga bulan, agar mereka bisa memperbaiki diri!"
Atmaja mengangguk, "Biar saya ngobrol dulu sama Adit!"
Nancy melepas dekapan Ningsih, menoleh kearah Atmaja, "Jangan Pak. Neng yang mohon sama Bapak. Jangan tekan Mas Adit lagi. Dia sudah sangat terpukul."
Perlahan Nancy mengusap lembut wajahnya, kembali teringat sate kelinci yang masih dalam genggamannya.
"Neng permisi Bu, Pak. Masalahnya Mas Adit belum makan. Oya, Abdi dimana, Bu?" tanyanya menoleh kearah Ningsih.
Ningsih hanya menunjuk ke salah satu kamar yang berada di kediaman mewah itu.
Nancy berlalu meninggalkan keluarganya, mengambil piring kemudian mempersiapkan makan malam untuk Aditya.
Dengan perasaan serba salah, dada masih berkecamuk dengan amarah, namun lagi-lagi Nancy teringat nasehat Ningsih, "Harus menjadi pakaian bagi suami sendiri ..."
__ADS_1
(Menjadi pelindung untuk menutupi semua aib pasangan kita)