Merebut Hati Suami Mayor

Merebut Hati Suami Mayor
Pernikahan sirih


__ADS_3

Ya ... Rasa cinta yang di miliki Nancy untuk seorang Aditya sangat lah besar, sehingga membutakan mata hatinya untuk menerima saran dari pihak keluarga.


Bagi Nancy, seorang pria akan berubah apabila mereka hidup bersama, berdua, seperti awal pertama menikah, tanpa campur tangan orang tua juga pihak ketiga lainnya.


Kini Nancy tinggal di kediaman pemberian orangtuanya, agar menjauh dari Sugondo yang tidak ingin melihat Aditya begitu sombong bahkan semakin arogan saat hubungannya dengan putri kesayangan Sugondo itu kembali membaik.


Seperti pagi ini, sudah lebih dari satu bulan dari pasca kegugurannya. Nancy terjaga lebih pagi untuk membuatkan sarapan kesukaan Adit, karena melaksanakan latihan penyambutan rapat besar kenaikan pangkatnya sebagai seorang kolonel bintang satu.


Tentu satu kebanggaan bagi Aditya, dapat meraih kolonel, di usia muda, bahkan dengan gampangnya dia semakin menjengkali seorang Nancy.


Adit keluar dari kamar mandi, yang berada di dalam kamar mewah mereka, tanpa memikirkan dimana letak underwear, juga pakaian dinasnya.


"Neng! Neng!" teriaknya tanpa peduli pada Abdi yang masih terlelap ditutupi dengan selimut tebal.


Nancy yang mendengar panggilan suaminya, berlari tergopoh-gopoh, untuk mendekati Aditya, yang tengah bersiap-siap.


"Ya Mas ..."


Aditya yang melihat istrinya menggunakan celemek, dengan rambut yang terikat tinggi, hanya mengerucutkan bibirnya, agar Nancy mengembangkan pakaian dinas yang masih terletak diranjang kamar, agar membantu mengenakan seperti waktu pertama mereka menikah.


Nancy menggelengkan kepalanya, dia menghela nafas panjang, bergumam dalam hati, "Biasanya juga biasa sendiri. Kenapa tiba-tiba jadi manja begini sih ...?"


Walau hatinya bertanya-tanya, Nancy masih saja melakukan apa permintaan Adit, karena tidak ingin pria itu semakin berteriak, dan membangunkan Abdi.


Adit menatap wajah cantik Nancy, ketika istrinya berada dihadapannya, untuk mengancingkan baju loreng kebanggaannya itu dengan sangat hati-hati.


"Neng ..."

__ADS_1


Nancy menatap iris mata Adit dengan tatapan penuh cinta dan kebahagiaan.


"Hmm ..."


"Mas, boleh minta uang gaji enggak? Karena hari ini mungkin Mas enggak pulang. Mau melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Tabungan Mas tinggal sedikit, dan takutnya enggak cukup."


Nancy menautkan kedua alisnya, selama menikah Aditya tidak pernah membahas masalah gaji yang memang di serahkan padanya sejak mereka menikah. Karena ia sangat tahu, Adit mempercayakan keuangan rumah tangga selama ini padanya.


"Tumben? Mas ..."


Sebelum Nancy melanjutkan ucapannya, Adit langsung memotong pembicaraan sang istri. Dia mendekap tubuh ramping Nancy kemudian mengecup lembut puncak kepala wanita yang sangat mencintainya sejak dulu.


"Enggak tahu, sudah lebih dari sebulan pengeluaran Mas semakin besar. Justru Aldo enggak seroyal dulu sama, Mas. Sepertinya Mas harus mencari bisnis sampingan untuk diri sendiri," ucapnya dengan menciptakan kebohongan baru pada sang istri.


Nancy tersenyum sumringah, dia menepuk pelan dada Aditya yang sangat dicintainya, "Enggak usah takut sama rejeki. Toh selama ini gaji Mas masih utuh. Neng enggak pernah gunain. Palingan untuk kebutuhan Abdi saja, karena uang Neng juga ada kok. Emang buat apa, Mas?"


Tidak ingin berdebat, Nancy mengeluarkan uang tunai, sebesar 10 juta dari dalam tas kecilnya, membuat Aditya ternganga. Bagaimana tidak, selama ini istrinya ternyata menyimpan banyak uang, bahkan dia sempat berpikir bahwa istrinya selalu berfoya-foya menghabiskan uang gajinya, sesuai hasutan Evi selama ini padanya.


"I-i-ini uang apa Neng? Kok banyak banget. Gaji Mas enggak sampai segini, tapi kamu malah pegang uang tunai sebanyak ini!"


Nancy semakin aneh menatap kearah Aditya, dia bertanya seakan ada yang berbeda dari suaminya, "Ini biasa yang ada di tas Neng, kan?" tangannya semakin melebarkan tas kecil tersebut, terlihat tiga gepok uang tunai yang bernilai fantastis.


Aditya menelan ludahnya, sejujurnya dia tidak pernah tahu, bahwa selama ini yang ia persunting adalah seorang wanita kaya yang tidak pernah menunjukkan siapa dirinya.


Uang yang berlimpah, bahkan lebih banyak dari gajinya, membuat Aditya berpikir ulang karena telah melakukan kesalahan besar.


Ya ... Seminggu yang lalu Aditya telah menikahi Evi secara sirih di Puncak Bogor. Namun keduanya belum melakukan apapun, karena waktu dinas yang tidak bisa memberikan waktu banyak kepada mereka berdua untuk berbulan madu. Maka dari itu, Adit membutuhkan uang lebih untuk ia berikan kepada Evi yang kini menjadi istri keduanya.

__ADS_1


Jahat, pengkhianat, itulah yang terjadi pada Aditya Atmaja saat ini. Hanya karena ambisi dan kebodohannya mencintai seorang Evi.


Tentu saja kedua keluarga Aditya belum mengetahui apa yang terjadi sebenarnya saat ini. Karena pria berpangkat mayor itu, menutup rapat-rapat Evi yang kini tinggal lumayan jauh dari kediaman keluarganya.


Sebut saja Kiara condong Bandung, Aditya mengontrakkan sebuah rumah petak untuk Evi dan anaknya untuk menjauh dari keluarga besar mereka. Rumah petak yang hanya, memiliki satu kamar tidur, dan satu kamar mandi, membuat janda itu menuntut haknya sebagai istri kedua lebih banyak.


[Mas, kasih Neng uang! Neng mau beli skincare, sama susu untuk Eko. Sudah seminggu Mas nikahin Neng, selama seminggu pula Mas enggak pernah nyentuh, bahkan melihat kondisi Neng sama Eko di sini, tidak sama sekali. Katanya mau tanggung jawab, mana Mas tanggung jawabnya ...] rengeknya melalui telepon kala itu.


Rengekan Evi membuat kepala Aditya terasa semakin mau pecah. Perbedaan Nancy dan Evi sangat jauh berbeda.


Nancy tidak pernah merengek, bahkan tidak pernah meminta apapun pada Adit selama menikah, sangat berbanding terbalik dengan Evi. Wanita itu benar-benar memeras keuangan Aditya, sehingga dia bingung kemana harus mencari bisnis sampingan.


"Baru seminggu jadi istri sirih, sudah menuntut banyak hal. Bagaimana sebulan, dua bulan, bahkan tahunan? Apa aku sanggup? Sementara aku juga memiliki anak dan istri?" gumam Adit sepanjang perjalanan menuju kediamannya bersama Nancy.


Nancy dapat merasakan perubahan Aditya, yang sangat tertutup, bahkan mematikan handphone miliknya saat berada di rumah bersamanya.


Bagi Nancy, dia percaya sepenuhnya pada sang suami, yang tidak akan pernah menyakitinya lagi sesuai janji yang dia ucapkan kala itu.


Sama halnya, saat melihat segepok uang di dalam tas milik Nancy. Aditya lagi-lagi berpikir ulang untuk melanjutkan pernikahannya dengan Evi.


Adit terdiam saat duduk di meja makan, sambil menatap lekat wajah cantik Nancy yang tulus mencintainya, mengurus tanpa diminta, bahkan sangat telaten merawat asupan gizi untuknya ...


"Bodoh sekali aku menikahi wanita yang hanya ingin menjadikan aku mesin uangnya. Sehingga aku tidak tega untuk melakukan hal itu pada Evi ... Apa yang telah aku lakukan? Bagaimana jika Nancy tahu tentang pernikahan sirih ku ...? Kenapa ceroboh sekali aku melakukan hal ini. Bagaimana jika Nancy meninggalkan aku ...?" sesalnya dalam hati merutuki kebodohan diri sendiri.


Nancy yang melihat Aditya seperti melamun, menepuk pundak suaminya hanya untuk sekedar mengejutkan ...


Akan tetapi, Nancy benar-benar terkejut mendengar pernyataan Aditya yang seakan-akan terlontar begitu saja ...

__ADS_1


"Maafkan Mas, Neng ... Mas belum melakukan apapun sama dia, Mas akan menceraikannya!" dengan kedua tangan mengatup dan menunduk hormat pada Nancy.


__ADS_2