
Aditya langsung memajukan bibirnya, ketika mendengar nama Bethrand. "Enggak ada nama yang lain gitu, Bu. Jangan bule somplak itu. Dia itu kan masih suka gangguin Neng!" sungutnya.
Mendengar pernyataan Aditya yang masih tampak posesif hanya menggelengkan kepalanya, "Tidak mungkin Nak Bethrand mau merebut hati Nancy. Mereka berteman baik, rekan bisnis. Jangan cemburuan, nanti rejeki kamu dipatok ayam," godanya pada puncak hidung menantu kesayangannya.
Aditya hanya melebarkan senyumannya. Sengaja ia memijat pundak Ibu mertua terbaiknya, sambil menoleh kearah pintu yang menghadap ke paviliun mereka, melihat dua insan pengantin baru bersama Melinda menyambangi rumah besar Sugondo.
Tentu saja, pemandangan itu menjadi pusat perhatian Aditya. Dia tidak menyangka bahwa sahabatnya itu tampak semakin berseri-seri setelah dipersunting oleh Luqman.
Ningsih memberikan nampan ke tangan Aditya, agar memberikan sarapan kepada Nancy, "Nih ... kamu kekamar dulu! Jangan ganggu urusan orang tua. Apalagi menguping pembicaraan! Sana pergi, kasih makan sama istri kamu yang manja itu, cepet!"
"Iya Ibu mertua ku tersayang. Ta-ta-tapi Adit penasaran." Aditya mengerlingkan mata, melihat plastik hitam yang ia tahu dengan isinya, "I-i-itu di dalam plastik hitam apaan, Bu? Ibu gitu deh, main rahasia-rahasian sama menantu sendiri. Nanti Adit ngambek lho," sungutnya masih menahan diri berdiri didekat meja makan.
"Itu uang dari Mama Memel buat Sindi. Ssht, sana. Ingat jangan dibahas sama mereka berdua! Kalau Ibu denger selentingan saja, berarti kamu biang keroknya!" tolak Ningsih pada tubuh sang menantu, agar Adit keluar dari kediamannya.
Aditya langsung memberi hormat pada Ningsih, mengecup lembut pipi Ibu mertuanya, berlalu meninggalkan kediaman rumah induk Sugondo.
__ADS_1
Tidak banyak bicara, Ningsih menghampiri Sindi kemudian menoleh kearah Luqman. Dengan tatapan penuh makna, wanita paruh baya itu dapat melihat rona wajah bahagia dari anak menantunya tersebut.
Ningsih langsung bertanya kepada Luqman, yang langsung mengecup punggung tangannya, "Bagaimana Nak Luqman? Betah tinggal sama Ibu di sini? Atau mau pindah ke rumah Mama?"
Dengan malu-malu Luqman langsung menjawab, "Betah Bu. Lagian ada teman juga, Adit. Kebetulan masih satu kesatuan. Walau sebentar lagi kami akan pindah. Aditya lagi dapat promosi untuk meneruskan pendidikannya di luar negeri. Luqman rencana mau ikut kesatuan prajurit elite angkatan darat di Belanda. Ta-ta-tapi kata Sindi, disini dulu saja kalau Aditya pindah, karena dia bakal bawa Nancy dan Abdi juga," ceritanya.
Ningsih yang sudah mendengar kabar itu dari Atmaja, hanya bisa menelan ludah sendiri. Satu sisi, Nancy merupakan putri kesayangannya satu-satunya, ditambah Abdi cucu pertama keluarga itu.
"Iya, Ibu sudah mendengar. Mungkin setelah mereka resepsi, dikasih cuti seminggu, dan langsung berangkat kembali ke Yordania. Ibu hanya bisa pasrah pada keputusan masa depan anak-anak. Lumayan lama, kalau enggak salah empat tahun mereka bakal tinggal disana. Makanya Ibu tidak membolehkan cucu kesayangan kami dibawa-bawa dulu. Karena bakal jauhan ..." tunduk Ningsih dengan raut wajah sedih.
Ningsih tersenyum tipis, mengangguk pelan membenarkan ucapan Melinda. Kembali ia menoleh kearah Sindi yang masih menundukkan kepalanya, dengan tersipu malu karena sesekali melirik kearah Luqman.
"Kalau Nancy pindah, kamu disini dulu ya, Sin? Lagian kamu bisa sekolahkan anak-anak di Penabur tempat kalian sekolah dulu, dan membantu Bapak di kebun. Bagaimanapun, kita butuh Nancy. Tapi Neng harus ikut sama suaminya. Jadi jangan jauh-jauh dulu yah kitanya, bagaimana?"
Sindi menghela nafasnya dalam-dalam, menjawab pertanyaan Ningsih dengan sangat baik, "Hmm, jujur Sindi harus kembali dulu, Bu, selesai resepsi Nancy. Karena mau mengambil berkas yang harus Sindi selesaikan. Paling lama empat hari, karena ada beberapa tunjangan anak-anak yang belum cair. Hmm, mohon maaf sebelumnya Bu, Ma ... hmm, kalau bisa jangan bilang-bilang yang kalian ketahui sama siapapun, Sindi malu," ia mengusap lembut sudut mata, kemudian melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
"Jujur Sindi menikah dengan Mr, itu hanya permintaan keluarga Dedrick. Awal pihak keluarga mengatakan bahwa Dedrick hanya membutuhkan perawat. Tapi setelah Sindi masuk kekeluarga mereka, hmm anak-anak Dedrick sangat dekat dengan Sindi. Sehingga pihak keluarga yang melihat kondisi Carlota tidak dapat berjuang lagi, memilih menikahkan Sindi dengan Dedrick. Sehingga Aldo sedikit kecewa karena Sindi lebih memilih orang sakit dibandingkan dia yang sehat. Jujur Aldo menganggap Sindi hanya mengincar harta Dedrick. Pernyataan itu yang sangat membekas dihati Sindi. Makanya Sindi menutup akses komunikasi dengan semua, sehingga Pak Anggoro mendatangi Sindi kerumah sakit, ketika Dedrick akan menghembuskan nafas terakhirnya. Mungkin, Sindi tidak mau menjalin komunikasi dengan Aldo, karena menghargai Emi. Pilihan keluarga terkadang lebih baik, walau sesungguhnya sedikit mengecewakan, tapi Sindi bahagia hidup hampir delapan tahun dengan Dedrick, Bu. Sindi minta maaf kalau selama ini menutupinya. Itu semua untuk menjaga perasaan anak-anak yang sudah Sindi anggap sebagai darah daging sendiri."
Air mata Melinda dan Ningsih jatuh tak tertahankan. Begitu banyak lika-liku yang Sindi rasakan selama merantau ke negeri orang. Ditambah orang tua yang meninggal, membuat dirinya harus berjuang keras menghadapi semua tantangan di Netherland.
Tidak mudah, bagi seorang wanita ceria dan cerdas seperti Sindi, untuk menutupi aib rumah tangganya yang tidak pernah ia umbar sama sekali.
Dengan perasaan hati-hati, Ningsih meletakkan uang yang diberikan Melinda kepada Sindi dan Luqman.
"Kalian baru menikah, terima uang ini untuk memulai kehidupan baru kalian. Kamu sudah menjadi tanggung jawab Ibu sama Bapak. Karena kami tahu Lazuardi tidak memiliki keluarga dekat selain kami, Sin. Mungkin dulu kamu tidak dekat sama Nancy, karena kalian beda usia. Tapi ingat satu hal, kita di pertemukan kembali pasti ada tujuan. Sekarang tujuannya, menyambung tali persahabatan kamu dengan Aditya, Luqman, dan hmm Bambang sudah meninggal. Jadi hanya tersisa kalian bertiga. Kalian jaga, anak-anak almarhum suami kamu, besarkan mereka, dan didik menjadi anak yang hormat dan tunduk pada agama. Ibu bangga sama kamu, Sin. Selamat ya, kalian sudah menikah. Jadi rumah ini, rumah induk kita. Rumah keluarga yang selalu terbuka kapan saja untuk menyambut anak dan cucu kami jika kembali suatu hari nanti," titahnya dengan mata berkaca-kaca.
Sindi yang merupakan wanita melankolis, sedikit terharu mendengar nasehat dari Ningsih yang sangat baik. Tidak ada perbedaan anak kandung ataupun anak angkat. Baginya, Sindi sudah menjadi bagian dari Keluarga Sugondo, yang harus mendapatkan fasilitas yang sama seperti Nancy, walau ada sedikit perbedaan yang tidak terlihat.
Mendengar semua itu, Luqman yang pernah ingin menjadi menantu kesayangan Sugondo, akhirnya berhasil karena menikahi janda perawan yang diperlakukan sama seperti Nancy.
"Terimakasih Tuhan. Ternyata aku yang dulu ingin merebut Nancy dari Aditya, ternyata dipertemukan dengan cara yang berbeda ... Maafkan gue, Dit. Mertua lo emang paling best, pantes lo betah tinggal di sini. Dasar menantu durhaka lo. Awas saja kalau lo sampai menyakiti Nancy lagi, gue orang pertama yang akan menghakimi, lo ..."
__ADS_1