
Di restoran tidak jauh dari batalion kesatuan militer kota kembang Bandung, mereka duduk di ruangan lebih privat untuk membahas tentang Aditya Atmaja.
Nancy yang enggan mengeluarkan handphone miliknya yang sejak tadi berdering, entah sudah berapa kali, tapi tak diacuhkan. Namun dia menyaksikan video itu dari layar handphone milik Jumaida sahabatnya.
Tidak ada air mata, tidak ada umpatan yang menyakitkan keluar dari bibir mungil Nancy. Ia hanya bisa tersenyum tipis, menatap satu persatu dua pria dan satu wanita yang masih mengenakan seragam loreng tersebut.
Dalam hati Nancy hanya bergumam, "Siapa yang jahat sama kamu, Mas? Neng atau Evi? Kenapa Mas tega menghancurkan karir Mas demi wanita itu dan mengorbankan rumah tangga kita? Dia bukan yang terbaik, kenapa mereka melakukan ini untuk menjatuhkan karir dan harga dirimu sebagai prajurit angkatan darat ..."
Mereka bertiga menatap iba kepada Nancy. Terutama Luqman yang semakin berapi-api meluapkan kekesalannya pada Adit, begitu juga Ali.
"Dia akan menyesal telah menyakiti kamu, Neng! Aditya Atmaja akan di nonaktifkan bahkan dia akan mendapatkan hukuman atas tindakannya. Kita harus memikirkan nasib kamu dan Abdi, Neng!" tegas Luqman.
Nancy masih menatap mimik wajah Luqman, dan ia sangat memahami kemana arah pembicaraan pria hitam manis itu.
Nancy menghela nafas panjang, dia menyandarkan tubuhnya di sofa restoran, memijat pelan pelipisnya, mendengarkan ketiga orang itu berbicara seolah-olah mereka sudah melakukan hal yang benar.
Sedih, kecewa, itu sudah ada dalam benak Nancy. Namun dia hanya bisa diam mendengarkan kalimat-kalimat yang terkadang sangat menyesakkan hingga menyesatkan.
"Cerai saja Neng! Cerai! Biar Aditya tahu bagaimana rasanya ditinggalkan oleh seorang istri," tambah Luqman, dan diangguki setuju oleh Ali.
Jumaida hanya ternganga mendengar penuturan kedua pria gila itu. Dengan sengaja ia menendang tulang kering Luqman agar berhenti berbicara.
Nancy yang sudah muak dengan ucapan kedua sahabat Aditya itu, memanggil pelayan restoran untuk membayar semua bill makanan mereka, hanya bisa berkata dingin ...
"Terimakasih, karena telah mengingatkan Neng! Untuk saat ini, Neng belum bisa mengambil keputusan. Biar Mas Adit yang menyelesaikan semuanya, karena apa yang dia tebar, itulah yang akan ia tuai. Neng kecewa, sedih, tapi Neng masih punya Abdi. Sekali lagi, terimakasih sudah mengingatkan Neng. Tapi satu pertanyaan Neng, jika kalian sayang sama Mas Adit, dan Neng ... Kenapa kalian tidak ada di masa-masa sulit kami? Kalian hanya menjauh, dan memberi saran seperti ini. Mungkin besok atau lusa, Neng akan bertindak cepat. Tapi untuk berpisah rasanya masih jauh, karena Neng menjaga nama baik keluarga dan Mas Adit. Neng permisi, silahkan pulang pakai taksi!"
Nancy meletakkan uang pecahan seratus ribuan diatas meja, meninggalkan ketiga prajurit itu dalam kondisi ternganga lebar.
Bagaimana tidak, mereka berhadapan dengan wanita yang selama ini dianggap lemah, ternyata memiliki jiwa yang teguh dalam memperjuangkan rumah tangganya.
Nancy meraih handphone miliknya, benar saja, lebih dari 100 telpon masuk dan 200 whatsApp belum ia tanggapi, termasuk dari Aldo, Bethrand, juga Sugondo yang khawatir dengan kondisi Nancy.
__ADS_1
Nancy mengirimkan pesan pada Aditya, dengan kalimat yang sangat menyejukkan ...
[Neng tunggu Mas di rumah. Neng sayang sama, Mas]
Hanya pesan singkat itu yang Nancy kirimkan, tanpa memperdulikan panggilan telepon dari keluarga dan rekan-rekan lainnya.
Waras ... Hanya itu yang ada dalam benak Nancy saat melajukan kendaraannya, membelah kemacetan yang semakin padat merayap.
.
Sangat berbeda di ruangan Komandan Dida ...
Aditya tengah dihadapkan dengan dua pilihan, nonaktif dalam kesatuan selama enam bulan dan tidak naik pangkat, atau membuat berita acara untuk pengunduran dirinya dari kesatuan batalion pasukan elite kopassus angkatan darat.
Pilihan yang sangat menyakitkan, ditambah dengan kehadiran Evi yang menyusul Aditya di kesatuan siang menjelang sore tersebut.
Laporan, hanya itu yang di buat janda beranak satu, dengan berbagai drama yang Evi ciptakan untuk menjatuhkan karir Aditya.
Prajurit hanya menjalankan tugas sesuai perintah komandannya, "Maaf Bu, bagaimana datang besok pagi saja. Karena Pak Aditya tidak ada didalam," jelasnya.
Sontak penolakan dari prajurit tersebut, membuat Evi semakin menggila di gerbang masuk tersebut. Teriakkannya semakin menjadi-jadi, bahkan terdengar hingga kedalam.
Komandan Dida yang mendengar kericuhan dari arah gerbang tersebut, hanya tersenyum dingin menoleh kearah Adit.
"Apa yang kamu lakukan ini telah membuat malu kesatuan. Pusat meminta kamu untuk masuk kedalam tahanan barak batalion selama tiga bulan. Dan kamu tidak akan mendapatkan pangkat kolonel dalam waktu dekat! Saya kecewa sama kamu Aditya Atmaja! Sangat kecewa. Kamu bisa bayangkan bagaimana tindakan keluarga besar kamu. Kamu telah menorehkan luka pada anak dan istri mu!" tegasnya dengan wajah garang.
Aditya hanya bisa menunduk, kali ini dia harus menerima hantaman dari berbagai arah. Berkali-kali ia hanya bisa menahan tangis yang akan pecah. Namun apalah daya, nasi sudah menjadi bubur.
Jika Aditya menjalani hukumannya di dalam sel tahanan pusat, walau tiga bulan, dia akan menjalani proses persidangan yang sangat menyakitkan. Bagaimana tidak, mobil dinas, dan semua fasilitas yang ia miliki saat ini di tarik dari dirinya.
"Ooogh Tuhan, apakah Nancy akan menggugat aku di kesatuan?" usapnya pada wajah yang tampak semakin kusut.
__ADS_1
Aditya hanya bisa menjawab tegas pertanyaan Dida, "Izin Ndan! Beri saya waktu hingga besok. Maka keputusan akan saya terima, saya siap melakukan apapun!"
Dida hanya menaikkan kedua bahunya, "Baik, saya tunggu kamu jam 09.00 paling lambat. Jika Nancy mengajukan permohonan cerai, maka kamu akan menerima semua hukuman. Perjuangan kamu kelar Aditya Atmaja, bisa jadi delapan tahun kamu tidak akan mencapai kolonel bintang satu. Pikirkanlah ...!"
"Siap Ndan!"
Aditya berdiri tegap, memberi hormat, dan berlalu meninggalkan ruangan Komandan Dida.
Entahlah ... Kali ini Aditya hanya bisa menyesali semua perbuatannya, sambil melihat ke layar handphone, terlihat pesan dari Nancy.
Senyuman Aditya mengembang lebar saat membaca pesan yang masuk, masih bergumam dalam hati, "Aku hanya menjalani hukuman tiga bulan, dan Nancy tidak melakukan apa-apa ..."
Siapa sangka, Nancy sudah mempersiapkan satu kejutan untuk seorang Aditya Atmaja ...
"Maafkan Neng, Mas ... Neng sudah capek memperjuangkan cinta ini sendiri. Ternyata Mas masih berharap sama Evi dan menikahinya. Walaupun Mas akan mengatakan pada Neng belum melakukan apapun, tapi Mas sudah mengkhianati pernikahan kita ..."
Nancy menemui Atmaja serta Sulastri di kediaman mertuanya, yang sudah melihat video memalukan tersebut ...
Sulastri hanya menangis tersedu-sedu dihadapan Nancy yang masih duduk disofa ruang tamu mertuanya. Sementara Atmaja berdiri mondar-mandir dihadapannya karena menahan amarah.
"Maaf Bu, Pak. Beberapa bulan lalu, mungkin Pak Sugondo yang meminta pada Pak Atmaja agar Mas Adit mempersunting Neng. Tapi kali ini, Neng meminta maaf atas keputusan ini. Mungkin setelah Neng bicara dengan Mas Adit, Neng akan meminta pengacara keluarga mengurus semua perceraian Neng dan Mas Adit. Neng masih menganggap bahwa Bapak sama Ibu mertua yang baik, eyang yang hangat buat Abdi. Untuk masalah ini, Neng tutup pintu hati ini rapat-rapat. Neng permisi ..."
Saat Nancy mengatakan itu, Sulastri menangis semakin keras, namun Nancy tak bergeming, dia tetap tenang dan melangkah keluar rumah tersebut menuju mobilnya, dan kembali kekediaman nya.
BHUUG ...!
Atmaja memukul keras tembok rumahnya yang terdengar sangat keras, karena kecewa dan malu pada perbuatan Aditya Atmaja ...
Nancy sama sekali tidak menangis, kini dia sudah sadar, bahwa cintanya tidak pernah akan berbalas sampai kapanpun, sehingga menutup pintu hatinya untuk seorang mayor Aditya Atmaja.
"Maafkan Neng, Mas ..."
__ADS_1