
Aldo dan Bethrand yang sejak tadi menyaksikan mobil Nancy berhenti di pinggir jalan, membuat mereka berdua semakin ingin tahu, kenapa mobil sedan silver itu terparkir di persimpangan jalan yang tidak begitu jauh dari kediaman mereka berdua.
Kini wajah Aditya tampak memerah, bahkan merasa malu karena kejujurannya telah merendahkan harga dirinya sebagai pria yang enggan untuk mengakui perasaannya selama ini.
Namun apalah daya, kedua pria itu telah mendengar suara Aditya berpangkat mayor bunga dua dihadapan Nancy yang masih menunggu pria egois itu untuk terus merayunya.
"Hei! Ngapain kalian berdua mengikuti ane, monyet! Kalian sengaja mau buat ane malu, kan?" teriaknya membuat beberapa pasang mata menoleh kearah Aldo juga Bethrand.
Bethrand hanya mengusap wajahnya lembut, sementara Aldo memilih menyebrang jalan untuk mendekati Aditya. Ia juga memberi isyarat pada Nancy, agar bertahan ditempat awalnya.
Sementara Aditya melihat gerak-gerik pria bule tampan itu membuat amarahnya semakin meledak-ledak ...
"Eeeh bule sialan! Sudah beberapa kali lo pengen merebut perhatian bini gue, yah! Awas lo yah! Gue hajar lo, setan!" teriaknya semakin frustasi.
Nancy yang mendengar ancaman Aditya pada Bethrand, hanya tertawa mengejek menirukan bibir suaminya yang melebihi emak-emak rempong di organisasi kesatuan kalau tengah dilanda rasa cemburu.
Terdengar jawaban dari Bethrand diseberang sana yang sengaja mengejek Aditya, "Bilang saja kali ini lo sudah kalah, dan tidak tahu mau berlindung pada siapa! Keluarga jelas-jelas murka sama kasus pernikahan sirih lo yang sangat menjijikkan, sekarang justru gue pengen melihat sehebat apa lo menaklukkan hati wanita yang ada dihadapan kita ini!" tawanya semakin keras.
Aldo langsung merangkul pundak sahabatnya, yang sudah tak kuasa menahan amarahnya, "Santai bro! Santai! Jangan emosi," godanya, namun matanya tertuju kearah Nancy memberi isyarat agar segera meninggalkan mereka.
Bergegas Nancy berlari kearah mobil miliknya, ketika melihat Aldo menahan Aditya yang mengumpat kesal kepada Bethrand di seberang sana.
Aditya baru menyadari bahwa Nancy meninggalkannya, ketika mobil sedan silver itu berlalu dengan meninggalkan kepulan asap yang membuat mayor semakin berang dan menggeram.
__ADS_1
"Do, aaagh! Sialan lo, ane di tinggal Nancy tuh, brengsek. Ane udah jujur, lo malah biarin dia ngacir gitu aja! Sialan lo! Aaagh!" teriaknya semakin frustasi, bahkan menendang-nendang kakinya ke udara dengan perasaan marah pada Aldo yang memang sengaja menahan untuk tidak mengejar sang istri.
Bethrand semakin tertawa terbahak-bahak, melihat kebodohan Aditya yang sengaja mereka kerjain, "Rasain lo! Ini belum seberapa!" tawanya.
Aldo menepuk pundak sahabatnya, "Mending lo ikut gue, di rumah ada tiga mobil! Jadi lo bisa pake satu, tapi yah city car. Karena mobil besar dipake bini gue," senyumnya menahan tawa melihat wajah Aditya yang semakin merah padam.
"Brengsek lo, Do! Brengsek! Hampir ane dapetin maafnya Nancy, lo malah buat hancur gitu aja! Dasar sahabat setan, sekalian aja lo lariin Nancy dari ane! Biar senang lo melihat ane menderita begini!" kesalnya menghindari dekapan Aldo.
Aldo yang sangat mengetahui bagaimana sifat sahabatnya hanya tersenyum tipis, tanpa menghiraukan umpatan Aditya yang masih berapi-api dalam meluapkan amarahnya. Dia menyebrang jalan, menghampiri Bethrand yang masih tertawa terbahak-bahak melihat wajah Aditya yang masih belum bersahabat.
Bethrand hanya berkata, "Emang enak, ditinggal tegak ..."
Aditya yang tidak terima dengan ucapan Bethrand menantang pria bule itu dengan tatapan marah, "Kalian memang enggak berguna!" umpatnya kesal.
Namun Aditya menyela pembicaraan sahabatnya, "Nancy bini ane!! Enggak bisa begini dong! Kalian terlalu mencampuri urusan orang lain! Dosa tahu!"
Aldo tersenyum lebar, menutup pintu mobil setelah melihat sahabatnya masuk dengan umpatan yang semakin menjadi-jadi, ketika melihat Bethrand mengemudikan kendaraan.
"Aaagh sial! Kalian sengaja buat ane jadi begini, kan Do! Ane akan balas perbuatan kalian, lihat saja! Tunggu pangkat ane naik enam bulan lagi! Ane hajar kalian berdua!" sesalnya.
Kedua-nya tak menjawab, mereka hanya saling bertatapan mengisyaratkan bahwa malam ini Aditya milik mereka berdua dengan senyuman lebar yang menyeringai di wajah tampan pria tersebut.
Aldo menoleh kebelakang, sambil berkata, "Kita ke rumah gue dulu, ambil mobil, terus antar lo pulang. Nanti malam lo pasti akan mengucapkan terimakasih sama gue sebagai sahabat! Oya, nanti malam ada acara di club', khusus militer bule. Lo gabung aja, karena ada pelatihan di kota ini kan? Mereka menginap di hotel yang tidak jauh dari club'. Kebetulan komandan lo ketemu gue tadi di restoran. Ada 100 orang prajurit asing, yang ingin menghabiskan malam. Jadi kita have fun malam ini!"
__ADS_1
Aditya mendengus dingin, "Terserah! Ane kesal sama lo, monyet!" sesalnya.
Mobil berwarna hitam itu berhenti dikediaman Aldo yang tampak asri, namun terlihat sangat sepi.
Selama Aditya menjadi sahabat Aldo, baru kali ini ia mampir ke kediaman sahabatnya itu. Sontak pemandangan tampak sepi menjadi tanda tanya bagi Aditya ...
Adit bertanya, saat kakinya melangkah keluar dari mobil milik Bethrand, "Mana bini lo?"
Aldo membuka pagar, dan pintu utama, hanya menjawab singkat, "Emi dirumah orangtuanya. Palingan malam atau bahkan subuh kami bertemu. Karena dia sangat mengetahui bagaimana suaminya sibuk cari uang! Ditambah Emi masih fokus pada butiknya. Biasa, dia kan wanita enggak bisa anteng dirumah, jadi yah kita sama-sama memberi kebebasan."
Aditya menautkan kedua alisnya, kembali bertanya karena penasaran, "Bukannya tugas istri itu dirumah ngurusin anak! Apalagi anak kalian masih kecil, kan?"
Aldo tersenyum, ia mengangguk membenarkan, "Kami berpisah pukul 09.00 pagi. Bertemu palingan jam 02.00 dini hari. Jadi kalau sempat siang ketemu di restoran, atau aku yang menghampiri butiknya. Anak yah untuk sementara waktu sama Mama Emi dulu. Tapi tidak menutup Emi memperhatikan semua kebutuhan anak kami. Alhamdulillah Emi masih memberikan asi eksklusif. Dan sampai saat ini kita saling kerja sama. Jika dirumah gue suami siaga, yang mau melakukan apa saja, termasuk membersihkan rumah. Lo lihat saja, ada debu enggak?" tawanya mempersilahkan Aditya duduk di kursi ruang tamu.
Benar saja, Aditya melihat rumah yang tampak tenang dan sangat menyejukkan. Dia semakin penasaran melihat kemandirian seorang Aldo ...
"Emang lo yang masak juga, Do?"
Aldo mengangguk, "Emi cukup dengan keluarganya Dit. Kami juga dijodohkan sama kayak lo. Dia anak manja, dan rumah ini pemberian kedua orangtuanya. Lo tahukan Papanya masih dinas di kedutaan, dan Emi anak tunggal, sama seperti Nancy. Makanya gue mencoba menjadi suami yang baik saja. Walau sesungguhnya dunia gue lebih banyak haramnya dari yang halal. Cuma gitu, gue kasihan melihat bini lagi hamil. Sakit, dan melahirkan. Makanya semenjak anak gue lahir, gue ambil alih untuk membahagiakan bini gue. Yah, kita ada berantem juga, sama kayak lo! Tapi gue masih tahu diri sih!"
Aditya terdiam, berkali-kali dia merutuki kebodohannya sendiri. Ternyata Aldo dan dirinya sama-sama beruntung memiliki istri dari kalangan keluarga bahagia. Namun, kali ini dia seperti tertampar. Bagaimana mungkin selama ini dirinya tidak pernah peduli dengan semua fasilitas yang diberikan mertuanya, bahkan istri yang sangat baik dan patuh padanya.
"Apa yang telah aku lakukan pada Nancy ...! Selama ini aku tidak pernah mendengar semua ceritanya tentang sakitnya dia saat melahirkan Abdi ... Aku hanya baru melihat dia keguguran saja sudah mau menangis, bagaimana melahirkan. Suami seperti apa aku aaagh ...!"
__ADS_1