
Matahari bersinar semakin tinggi, namun Aditya masih disibukkan dengan aktivitasnya membersihkan mobil barunya, setelah menghubungi Luqman untuk memberi kabar tentang dua pemuda yang ingin menjemput adik mereka bernama Ayu di kesatuan.
Aditya yang terlalu fokus pada pekerjaan, tidak menghiraukan putra semata wayangnya yang di tinggalkan oleh Nancy yang tengah sibuk mempersiapkan makan siang, serta membersihkan kamar paviliun mereka sendiri. Membuat kedua orang tua Abdi itu tak menyadari bahwa bayi mungil yang mulai aktif tersebut, merangkak menuju air yang terus mengucur di teras rumah mertuanya.
Betapa terkejutnya Aditya saat melihat Abdi telah duduk bermain air sambil tertawa bahagia ...
"Da-da-da-da ... Ma-ma-ma ... Pa-pa-papa ..."
Aditya menghela nafas panjang, berteriak keras memanggil Nancy yang masih di sibukkan dengan beberapa pekerjaannya di dapur mini paviliun.
"Neng! Neng! Neng Nancy! Aduh ... Kemana sih Mama kamu, Nak," sesal Adit menggendong tubuh putranya yang telah basah kuyup karena bermain air.
Mendengar teriakan suaminya dari arah luar, membuat Nancy teringat akan putra kesayangannya, "Abdi ... Ya ampun ..." geramnya, langsung berhambur keluar mencari keberadaan Abdi.
Melihat anaknya sudah basah, karena ulah Aditya yang tidak memperhatikan Abdi, membuat Nancy semakin kesal pada suaminya itu.
"Aduh Mas ... Kan, tadi Neng bilang tolong lihatin Abdi. Kok di biarin gitu saja. Dia sudah mandi, Mas. Aaagh kamu ternyata tidak memperdulikan ucapan, Neng!" kesalnya mengambil Abdi dari gendongan Aditya.
Abdi menangis keras, karena tidak ingin di pisahkan dari sang Papa, sambil meronta-ronta di gendongan Nancy ...
"Pa-pa-pa!" pekiknya membuat Nancy semakin kesal.
"Sama Mama saja atuh kasep, jangan sama Papa! Papa kamu lebih sayang sama mobilnya daripada kamu!" sindirnya, menatap lekat Aditya dengan wajah garang.
Aditya melirik kearah Ningsih yang telah berkacak pinggang, di depan pintu menyaksikan anak menantu dalam merawat cucu kesayangannya.
Ningsih yang tidak suka dengan cara Adit, karena terlalu cuek pada Abdi, membuat dia mendekati menantunya itu ...
__ADS_1
"Dari tadi Ibu perhatikan kamu, masih sibuk dengan mobil, tanpa menghiraukan Abdi! Lebih baik kamu kerja sana, tidak mau membantu istri dalam mengasuh anak!" geramnya, langsung menghampiri Nancy yang tengah mengganti pakaian Abdi, setelah memandikan ulang anak kesayangannya.
Ningsih semakin berceloteh, didalam kamar paviliun itu, namun lagi-lagi Nancy hanya diam karena tidak ingin berdebat karena masalah sepele seperti ini.
"Bu ... Sudah, lagian Mas Adit sibuk ngurusin mobilnya. Kan Abdi sudah bersih lagi. Ibu bawa ke rumah deh, biar main sama Ibu dan Unik di dalam rumah. Kalau di sini, dia aktif banget, karena Neng masih masak, sebentar lagi selesai," jelasnya.
Ningsih langsung membawa Abdi ke pelukannya, dengan menatap wajah Aditya yang tampak salah tingkah.
Berkali-kali Adit harus mengusap dadanya, karena bingung harus menjawab apa untuk membela diri. Ia lebih memilih untuk diam, dan tidak menjawab omelan Ningsih.
"Kok akhir-akhir ini mertua ku lebih garang pada ku, daripada sama putrinya ...? Padahal Abdi kan cuma main air, bukan main yang membahayakan ..." gerutunya dalam hati, memilih masuk ke paviliun untuk membersihkan diri.
Lebih dari 20 menit Aditya melakukan ritualnya, kemudian menghampiri istri tercinta yang masih berkutat di dapur mini paviliun itu, sambil menggoreng kerupuk udang kesukaan mereka berdua.
"Neng ..."
"Hmm ..."
Nancy menghela nafas panjang, menjawab dengan nada lembut, "Mas ... Abdi itu lagi dalam proses pemulihan. Bahunya masih luka, dan jahitannya belum kering. Wajar Ibu ngomel, entar kalau Abdi sakit lagi bagaimana? Kita yang repot, Mas!"
Aditya mengangguk mengerti, "Ya ...! Kita pindah saja yah. Mas enggak mau rumah tangga kita di campuri oleh orang tua, Neng. Takut kalau nanti justru yah hmm gitu deh ..."
Aditya tidak melanjutkan penjelasannya, karena Nancy sudah mengerti dengan maksud sang suami.
Nancy mengusap lembut wajahnya, karena sejujurnya, ia juga tidak ingin meninggalkan kedua orangtuanya. Namun apalah daya, ia hanya seorang istri dan harus mengikuti semua perintah Aditya.
"Tapi ada sebaiknya kita tinggal di rumah yang di buat Bapak, Mas. Jangan di rumah dinas, karena Neng enggak mau jauh-jauh dari Bapak, kalau mau meletakkan Abdi, jika ada pekerjaan. Contohnya bulan depan. Lagian minggu depan Neng mau ke Swiss sama Emi juga Prisil. Karena semua legalitas kami sudah selesai. Mungkin dari sana kami langsung ke Netherland, karena Bapak menyusul dengan Bethrand. Jadi Mas disini dulu, sama Ibu dan Abdi, yah. Enggak lama, cuma tiga minggu," godanya.
__ADS_1
Pernyataan Nancy membuat Aditya langsung menggelengkan kepalanya, "Kalau Neng pergi, siapa yang mengurus Mas! Kalau Neng pergi siapa yang mempersiapkan semua kebutuhan, Mas! Kalau Neng pergi, Mas kangen, terus bagaimana ...? Tidak boleh!" sungutnya.
Nancy yang sudah mengetahui sifat Aditya, hanya bisa tersenyum tipis, "Ya sudah, Mas nyusul saja sama Aa Aldo dan Bethrand. Karena rencananya mau jalan-jalan saja. Sekalian ada kerjaan, jadi kita bisa bulan madu. Mana tahu Neng hamil lagi ..." tawanya.
Mendengar pertanyaan istrinya, Aditya berlonjak kegirangan, dengan memeluk tubuh ramping Nancy, tanpa memikirkan bagaimana Abdi.
"Sebentar Mas ... Terus kalau Mas Menyusul Neng, bagaimana Abdi? Siapa yang mau mengasuh anak kita? Masak kita jalan-jalan, anak di tinggal sama Ibu? Bisa jadi bulan-bulanan Mas Adit sama Ibu!" tawanya menggoda sang suami.
Aditya menekuk wajahnya yang langsung memerah kesal. Bagaimanapun juga, ia tidak bisa meninggalkan Abdi dengan Ningsih ataupun Sulastri. Walau sesungguhnya, Nancy telah membicarakan semua itu pada ibu dan mertuanya, tanpa sepengetahuan Aditya.
Kali ini, Nancy tidak ingin melihat Aditya yang terlalu cuek pada buah hati mereka. Tidak sekali dua kali Nancy menerima perlakuan Aditya yang lebih mengutamakan kepentingan pribadinya, dibandingkan anak semata wayang mereka. Membuat dia harus memberikan beban tanggung jawab kepada Aditya sebagai suami sekaligus Ayah dari anak mereka.
Rasa cinta yang Aditya miliki tidak pernah terlihat, sama halnya dengan perasaan cinta dan sayangnya kepada Nancy.
Namun, Nancy menginginkan Aditya lebih memperhatikan anak dan dirinya, walau sebenarnya sudah ia dapatkan dengan cara yang berbeda.
Sejenak paviliun itu terasa hening, karena Aditya masih berpikir bagaimana caranya untuk berbicara dengan Ningsih selaku ibu mertuanya. Ibu yang selalu menjaga buah hatinya selayak anak sendiri. Membuat ia seakan lengah akan tanggung jawab sebagai seorang ayah.
"Neng ..."
"Hmm ..."
"Mas harus ngomong apa sama Ibu dan Bapak? Kalau Mas ikut, Neng ... Pasti Ibu marah-marah ..."
Nancy yang mendengar penuturan suaminya, hanya tertawa mengejek ...
"Pikirin atuh ..."
__ADS_1