Merebut Hati Suami Mayor

Merebut Hati Suami Mayor
Kenangan dari Mas Adit


__ADS_3

Di kamar hotel Atmaja menggeram bahkan muak dengan keras kepala putranya. Sifat keras seorang Aditya merupakan petaka baru bagi anak semata wayangnya yang selalu dia banggakan pada Sugondo kala itu.


Lamaran, yang Sugondo tawarkan, dengan membawa makanan lezat untuk keluarga itu, membuat Atmaja yakin, bahwa Nancy memang wanita yang pantas untuk menjadi pendamping hidup seorang Aditya.


Ya ... Keluarga Atmaja sudah sangat kecewa saat melihat dengan mata kepalanya sendiri, bahwa kekasih Adit, telah mengkhianati putra kesayangan mereka dengan tidur di perkebunan bersama Bambang.


"Bakar! Bakar saja wanita tidak tahu diri itu!" teriak salah satu buruh yang bekerja di perkebunan teh milik Sugondo.


Nancy yang mendengar kejadian itu, langsung berlari kencang menuju kerumunan, melihat dengan jelas Evi masih menutupi tubuhnya dengan sehelai kain, yang dia dapatkan dari seorang ibu pemetik teh.


"Jangan Aa ... Kasihan, laporkan saja kepada Pak Sunardi. Nanti keluarga mereka yang menyelesaikan semuanya," bela Nancy yang di saksikan Atmaja serta Sulastri di sana.


Nancy terdiam, saat melihat Bambang masih menunduk malu dihadapannya, membuat ia hanya bisa menggelengkan kepala saja, tanpa mau berkata-kata lagi.


Perlahan Nancy sadar dan merasa bersyukur, dia tidak menerima lamaran Keluarga Bambang kala itu.


"Jika aku menerima lamaran Mas Bambang waktu itu, mungkin aku sudah menjadi janda saat ini," batinnya saat kembali ke pabrik.


Semua orang justru asyik membicarakan tentang Evi yang akan segera menikah dengan Bambang.


Membuat Nancy berpikir, bahwa saat inilah dia masuk ke kehidupan Aditya Atmaja, agar pria itu bisa melupakan Evi yang telah mengkhianatinya.


Sontak permintaan Nancy mendapatkan perhatian lebih dari Sugondo, saat putrinya meminta ...


"Pak ... Neng serius. Neng mau jadi istri Mas Adit, tolong lamar Mas Adit buat Neng. Neng jatuh hati sama dia dari dulu," tunduknya hormat, saat tiba dikediamannya kala itu.


Sugondo terdiam, keringat dinginnya keluar. Seumur hidup, baru kali ini putri kesayangan membicarakan pria di hadapannya serta Ningsih.


Malu, hanya itu yang ada dalam benak Sugondo kala itu.

__ADS_1


"Neng, apa kamu yakin akan menikah dengan orang yang tidak mencintai kamu? Bahkan dia tidak pernah tahu perasaan kamu selama ini. Ibu tidak mau melihat kamu menderita, Neng ..." ungkap Ningsih memberi pengertian.


Nancy menatap seraya memohon kepada Ningsih dan Sugondo, "Neng jatuh hati Bu, Neng cinta sama Mas Adit. Neng yakin, suatu saat nanti kami pasti bahagia. Neng mau menjadikan Mas Adit suami Neng. Neng cinta Bu ..." tangisnya, membuat Sugondo tak bisa berbuat apa-apa.


Sugondo yang mengetahui Aditya akan kembali beberapa minggu lagi, hanya bisa menelan ludahnya, sambil berpikir bagaimana caranya untuk membicarakan hal ini pada sahabat sekaligus rekan bisnisnya.


"Akan Bapak coba, tapi jika Aditya tidak membalas cinta mu, semua bukan salah Bapak, Neng. Tidak mudah merebut hati orang yang mencintai wanita lain. Apa kamu bisa merebut hati Adit, Neng?" tanya Sugondo hanya untuk meyakinkan.


Nancy mendongakkan kepalanya, menatap wajah Sugondo yang merupakan cinta pertamanya selama ini, "Bukankah pernikahan akan mendatangkan cinta dan rejeki, Pak? Kan Bapak yang bilang, menikah, baru pacaran. Jangan pacaran, baru menikah. Gitu kan Pak? Kali ini Neng yang meminta pada Bapak, agar mendatangi kediaman Pak Atmaja. Dia pasti nerima Neng, karena dia sudah kecewa dengan perbuatan calon mantunya Evi. Neng mohon Pak ..."


Sugondo tak dapat berkata-kata lagi, dia hanya bisa menahan rasa malu, jika harus datang ke kediaman Atmaja, untuk meminta anak laki-laki mereka.


"Ya sudah, Neng masuk ke kamar dulu. Bapak akan pikirkan caranya untuk melamar anak laki-laki Atmaja. Jika memang hanya Aditya yang menjadi cinta Neng."


Nancy mengangguk patuh. Dia berlalu meninggalkan orangtuanya, memilih masuk kedalam kamar, hanya untuk sekedar menarik nafas dalam-dalam.


"Mas Adit ... Kita akan menikah ..."


Tak menunggu lama, dua hari setelah kejadian itu. Sugondo benar-benar datang kekediaman Atmaja bersama sang istri, dan membawa gambar rumah besar yang akan ia bangun sesuai permintaan putri kesayangannya.


"Apa-apaan ini? Apakah kamu akan menjual putri mu, Ndo?" gelak Atmaja saat melihat rumah mewah yang sedang dibangun tidak jauh dari kediaman mereka.


Sugondo yang mendengar penuturan Atmaja hanya bisa menghela nafas panjang. Sejujurnya dia tidak tahu apa yang harus ia katakan saat itu. Tujuannya satu, membahagiakan Nancy sang putri.


"Aku enggak tahu Mas. Kali ini aku yang terlihat bodoh datang kesini, membawa makanan ini untuk melamar putra mu. Nan-cy jatuh hati sama Adit ..." jujurnya dengan wajah menekuk malu.


Sejujurnya, jika bukan Nancy yang meminta padanya, Sugondo tidak akan pernah mau mempermalukan keluarganya seperti ini.


Atmaja menoleh kearah Sulastri, sejujurnya mereka masih berada dalam kekecewaan yang teramat menyakitkan beberapa waktu lalu.

__ADS_1


Namun, gayung bersambut ...


Atmaja hanya bisa berkata jujur apa adanya, "Sejujurnya saya juga pusing mencarikan wanita baik untuk Aditya. Dia seorang mayor, berprestasi, tapi mesti mendapatkan pengkhianatan yang sangat menyakitkan dari anak Sunardi. Saya melihatnya sendiri, dan Nancy yang membantu gadis itu dari amukan massa di perkebunan."


Sulastri menangis tersedu-sedu, membayangkan wajah putranya yang akan kembali tidak lama lagi. Akan tetapi, Atmaja yang sangat mengagumi kecantikan seorang Nancy, dan kebaikan putri kesayangan Sugondo, dia menerima lamaran sahabatnya itu. Karena mengetahui bahwa Evi akan menikah dengan Bambang.


Tentu saja kabar bahagia yang dibawa Sugondo saat kembali ke kediaman mereka membuat hati seorang Nancy riang gembira. Mencium kedua orangtuanya, bahkan semakin bersemangat untuk membantu Sugondo di perkebunan.


"Makasih Pak, Bu. Neng janji akan merawat Mas Adit dan tidak akan pernah mengecewakan Ibu sama Bapak ..."


Hanya janji itu yang selalu teringat dalam benak Nancy, saat berdebat dengan Aditya.


Namun, kali ini ... Setelah satu tahun lebih pernikahan mereka, dengan penuh perjuangan selama setahun berpisah, masih nama Evi yang di sebut Aditya dihadapannya.


Sakit, perih, bahkan terlihat tidak dihargai ... Itulah yang dirasakan Nancy saat ini.


Kali ini Nancy hanya menangis tersedu-sedu, di pelukan Sulastri, setelah dibawa mertuanya di kamar mereka yang berada dilantai yang sama dengan ruangan berbeda.


"Neng mau pisah, Bu. Neng enggak mau mengayuh sendiri, berjuang sendiri, Neng capek ... Neng mau pulang, Neng kangen sama Abdi. Setidaknya kalau Mas Adit enggak mau sama Neng, Neng masih punya Abdi yang menjadi kenangan dari Mas Adit ..." isaknya.


Sulastri yang melihat kehadiran Aditya di bawa Atmaja ke kamar mereka, hanya bisa meredakan isak tangis sang menantu selembut Nancy.


"Jangan pernah berpikir pisah, Neng. Mas Adit sudah disini. Kalian ngomong baik-baik, yah? Ibu keluar dulu ..."


Nancy hanya diam tak bergeming. Kali ini dia tidak ingin melihat wajah Adit lagi, tapi dia harus menghargai perasaan mertuanya, karena masih dalam pengawasan mereka.


Sepeninggalan Sulastri, Aditya hanya duduk di sofa, sementara istrinya diranjang kingsize kamar hotel orangtuanya.


Adit hanya diam membisu, melihat kearah Nancy yang masih menutup wajah dengan kedua tangan halusnya. Pria kaku itu hanya menuruti perintah Atmaja, bukan karena inginnya.

__ADS_1


Aditya mendekati Nancy, kemudian berkata tanpa perasaan bersalah, "Udah deh, jangan cengeng! Apa-apa ngadu sama Bapak, sama Ibu. Memangnya yang menikah siapa sih, Bapak sama Ibu atau kita?"


__ADS_2