
Suasana malam semakin larut, dikamar yang berbeda dengan suasana tak kalah romantisnya, Aditya tidak mau kalah dengan Luqman yang melakukan ritualnya sebagai pengantin baru. Ia justru menginginkan hal itu lagi pada sang istri dengan alasan kerinduannya tak terbendung setelah menginap dikediaman orangtuanya.
Tangan lembut Nancy mendekap erat punggung suami tercinta, setelah mereguk kebahagiaan dengan nafas masih menderu. Tubuh telanjang kedua-nya tampak mengkilap, karena saling berpacu dalam penyatuan cinta dua insan anak manusia dalam ikatan janji suci pernikahan.
"Hmm, Neng capek Mas. Tadi sore sudah, malam ini minta lagi. Mas Adit nakal igh," sungutnya ketika Adit enggan melepas penyatuan mereka.
Perlahan Aditya mellumat bibir Nancy sedikit menuntut, akan tetapi di lepas oleh sang istri dengan rengekan manja yang menggemaskan.
"Mashh, sudah ..."
Aditya tertawa geli mendengar teriakan manja sang istri yang semakin hari, semakin menyenangkan.
.
Sangat berbeda di kamar kecil nan sejuk juga nyaman. Emi masih memeluk tubuh Aldo setelah melakukan ritualnya membersihkan diri juga menjalani kewajibannya sebagai umat beragama.
Teringat akan kisah cinta yang tidak pernah ada titik terang karena perjodohan kedua keluarga, membuat mereka membuka pintu hati secara perlahan, walau pada awalnya sangat terpaksa.
"Aa ..."
"Hmm ..."
"Neng lihat anak-anak Teh Sindi itu enggak ada mirip-miripnya sama Teteh. Emang beneran Teteh nikah sama bule Belanda dulunya?"
Aldo menautkan kedua alisnya, mendengar pertanyaan sang istri yang seolah-olah akan menjebak dirinya, kemudian menimbulkan masalah baru karena rasa cemburu pada akhir cerita.
"Jangan pernah kamu bahas anak-anak Sindi. Aa enggak tahu, tapi biarlah itu menjadi tanggung jawab dia sebagai wanita yang di tinggal mati suaminya. Lagian sekarang Sindi sudah menikah, jadi dia sudah bahagia dan jangan pernah bahas tentang mantan jika kita sudah berada di rumah!"
Aldo sengaja menegaskan kepada Emi bahwa tidak ingin membahas tentang mantan, karena sangat mengetahui bagaimana watak wanita jika sudah membahas masa lalu.
Berantem, hal itu akan menjadi pemicu munculnya berbagai steatmen bahwa sang suami masih teringat yang namanya mantan.
Emi bukanlah wanita pencemburu, tapi Aldo selalu menjaga perasaan sang istri demi kebahagiaan rumah tangga mereka.
__ADS_1
Benar saja, saat Aldo menegaskan kepada Emi tentang mantan, ia justru melepaskan tangannya dari dada sang suami, untuk menelentangkan tubuhnya. Tatapan sendu menatap langit-langit kamar mereka, kemudian berkata ...
"Kenapa Aa tidak memperjuangkan hubungan kalian? Bukankah kalian saling mencintai? Sama seperti Aditya dan Evi ..." Emi tidak melanjutkan ucapannya, karena merasakan tangan Aldo langsung melilit di perut rampingnya.
"Jangan pernah membahas tentang Sindi. Aa enggak mau kita harus membahas tentang masa lalu, karena Aa sudah bahagian dengan kamu. Kami bukan tidak memperjuangkan, tapi sangat sulit mendapatkan jalan keluar atas cinta Sindi sama Dedrick kala itu. Tapi akhirnya Aa sudah bertemu dengan kamu. Walau awalnya kita tidak saling mencintai, kita bisa melewati semua tantangan untuk terus bersama. Jadi mulai saat ini, kita fokus pada kebahagiaan keluarga kecil kita. Sudah tidur, jangan berfikir aneh-aneh lagi!"
Emi menoleh kearah Aldo, menatap lekat wajah tampan sang suami yang sangat baik dan setia, "Makasih ya, Aa. Setidaknya Aa suami yang paling pengertian. Neng semakin sayang sama Aa walau terkadang suka kesal, karena lebih mengutamakan restoran dan club' ampe lupa sama, Neng!" rungutnya manja.
Seketika Aldo yang sudah memejamkan matanya tersenyum tipis, kembali membuka matanya hanya untuk melihat wajah cantik sang istri.
"Aa kerja, Neng! Dunia kita sangat berbeda, tapi percayalah bahwa Aa tidak pernah mengkhianati komitmen kita untuk terus bersama dalam mewujudkan impian kecil kita. Mungkin setelah resepsi Aditya dan Nancy, kita akan kembali ke Swiss untuk beberapa minggu. Karena ada yang harus Aa selesaikan sama keluarga. Jadi Neng harus ikut, dan membawa Arini. Kemaren Bapak bilang, mau menikahkan Abdi dengan Arini dari kecil. Menurut Neng bagaimana?"
Emi menggeleng pelan, karena mengingat anak-anak mereka yang masih sangat kecil, tapi dia kembali bertanya, "Emangnya harus menikahkan anak sekecil itu dari sekarang? Bagaimana jika Arini tidak mencintai Abdi, bahkan memilih jatuh cinta pada pria lain? Apa kita enggak pusing, Aa?"
Aldo mengangguk membenarkan ucapan sang istri. Tapi semua itu demi masa depan anak-anak mereka, agar tidak mengenal keluarga lain, kemudian memutuskan tali silaturahmi yang sudah ada dari sekarang.
Kini kedua-nya hanya saling mendekap, tidak ingin membahas tentang perjodohan anak-anak yang kurang masuk akal.
.
Beberapa pertanyaan yang di lontarkan Melinda kepada anak yang masih berusia enam tahun itu, membuat ia sedikit penasaran karena mendengar nama wanita lain yang di sebutkan Juno.
"Siapa Carlota, Juno. Apakah wanita itu keluarga Ayah kalian?"
Juno menggelengkan kepalanya, wajah bule nan polos itu langsung berkata, "Sebenarnya Bunda dan Ayah menikah hanya karena permintaan keluarga. Tapi Ayah sudah menikah dengan Mama kami, Oma. Tapi Tuhan lebih menyayangi kedua orang tua kami, membuat Bunda harus menjaga dan merawat kami. Ibu Juno sudah lebih dulu meninggal, karena penyakit kanker otak. Sementara Ayah meninggal karena kanker hati. Jadi Bunda yang merawat kami sejak kecil, juga membantu Ayah selama ini."
Berkali-kali Melinda menelan ludahnya, karena tidak mengetahui status Sindi yang sebenarnya. Entah mengapa, dadanya terasa sangat sesak mendengar cerita Juno yang sangat jujur.
"Ja-ja-jadi, Bunda kalian menikah sama Ayah atas dasar apa? Apakah karena hmm eee ..." Pikiran Melinda semakin menerawang jauh.
"Karena permintaan Keluarga Van Dijk, Oma. Karena hanya Bunda yang mau merawat Ayah setelah pertemuan mereka di rumah sakit. Sebelumnya Bunda bekerja sebagai perawat di sana. Yah, ini sesuai cerita uncle dan aunty." Senyumnya sambil memainkan sudut piyama sebagai pengantar tidurnya.
Perlahan Melinda yang melihat Juno sudah semakin terlelap, dia menepuk-nepuk bokong anak pertama Sindi dengan penuh perasaan bersalah.
__ADS_1
"Ternyata Sindi bukan janda yang aku pikirkan. Ogh Sindi ... Mama minta maaf sama kamu. Pantas saja Ningsih memaksa ku untuk menikahkan Luqman dengan Sindi secepatnya. Mungkin anak ini sudah menceritakan semuanya sama keluarga itu. Ternyata Sugondo dan Ningsih benar-benar baik. Aku akan mengurus semua kebutuhan resepsi pernikahan mereka, dan mengundang para sahabat ku. Anakku bukan menikah dengan janda murahan, tapi janda baik yang berhati malaikat ..."
Melinda berusaha memejamkan kedua bola matanya yang masih terasa panas bahkan berkaca-kaca. Ia ikut merasakan apa yang dirasakan Sindi, yang ternyata merupakan wanita baik dan tidak pernah memikirkan hidupnya akan berakhir seperti apa.
Ketulusan Sindi dalam merawat almarhum suami selama ini, ternyata telah merubah statusnya menjadi janda yang tidak pernah mengeluh, bahkan Sindi mampu menutupi semua kepedihan rumah tangga itu sendiri.
"Besok Mama harus bertemu dengan, Sindi. Duh, enggak sabar nunggu pagi ... Jangan-jangan Luqman juga tidak tahu dengan semua ini. Kenapa anak-anak ini baru cerita sekarang ...?"
____
Hai hai reader tersayang ...
Awal bulan Desember menjadi akhir tahun untuk kita semua ...
Dukung karya Tya Calysta yang masih ONGOING dong ...
Karena author akan memberikan give untuk lima orang yang terus memberikan hadiah, komentar dan hmm love ...
Simak yuk semua kisah ONGOING, Tya Calysta ...
#Tergoda Hasrat Menantu (Rumah tangga, nikah paksa)
#Mas Oon is My Husband (Rumah tangga, Angst)
#Terpenjara Pernikahan Berbeda (Romansa action)
#Terpenjara Suami Pisikopat (Rumah tangga, Angst)
#Putri Tujuh Kesayangan Kaisar Muda (Romansa Fantasi)
#Cinta Suci Seorang Sultan (Rumah tangga, Angst)
#Merebut Hati Suami Mayor (Rumah tangga, nikah paksa)
__ADS_1
Terimakasih ... Sehat untuk kita semua ... 😘😍