Merebut Hati Suami Mayor

Merebut Hati Suami Mayor
Tujuh bulanan


__ADS_3

Tujuh bulan berlalu ...


Suasana siang itu semakin tampak hangat dan bersahabat saat Keluarga Sugondo tengah melakukan syukuran tujuh bulanan.


Beberapa keranjang kecil yang di hias dengan pita biru, memberi isyarat bahwa Nancy tengah mengandung anak laki-laki, sesuai hasil USG yang ia lakukan beberapa hari lalu.


Sulastri memilih duduk disamping menantunya, yang akan melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Bagaimanapun kehamilan Nancy merupakan hal yang sangat di nantikan bagi keluarga Aditya.


Sungguh sangat bahagia, saat putri Sugondo itu mengenakan baju syar'i yang menutupi seluruh tubuhnya, dengan warna senada, biru muda.


"Aduh Neng ... Meni geulis pisan. Sayang Mas Adit tidak ada disini. Jika ada mungkin kamu tidak di perbolehkan keluar dari kamar," goda salah satu keluarga Nancy.


Nancy tersipu malu, saat pujian-pujian itu datang menghiburnya yang selama hamil jauh dari suami tercinta.


Suasana haru namun tampak bahagia semakin terasa, saat air mata Nancy mengalir deras merindukan sosok suami yang selalu ia rindukan di tiap-tiap malamnya.


Terkadang pinggang yang terasa sakit, bagian pangkal paha, bahkan betis yang sangat sering mengalami pegal bahkan ingin sekali dia meminta pada Tuhan, agar segera mengirimkan suaminya kembali walau hanya sesaat, untuk memijat tubuh yang tak terlihat ramping lagi.


Sulastri mengusap lembut punggung menantunya, memijat pelan bagian pinggang belakang yang dapat di rasakan Nancy pijatan dari mertuanya sangat melegakan rasa lelahnya kali ini.


Lelah dalam penantian, terkadang ingin sekali Nancy mengirim voice note, mengatakan bahwa dirinya tidak sehat dan sangat merindukan suami tercinta.


"Mas Adit ... Neng rindu sama Mas ... Cepat pulang, Mas ..." isaknya, saat mendengarkan pencerahan dari seorang ustadz kondang, yang melantunkan doa serta keselamatan untuk Adit yang berada di daerah konflik.


Ustadz yang selalu di undang oleh Sugondo, jika mengadakan acara di kediamannya, menoleh kearah Nancy.


"Doakan Papa buat putranya yah Teh Nancy ... Semoga selamat saat kembali ke tanah air. Jika seorang suami pergi dalam berperang, itu merupakan surga bagi keluarga kalian. Yang penting Teteh selalu mendoakan Mas Adit, semoga dia kembali dan dapat menimang buah hati kalian berdua ..." titah Ustadz Abdul Slamet.

__ADS_1


Nancy tersenyum, setidaknya selama dia menjalani kehamilan selama tujuh bulan ini, sangatlah menyenangkan. Namun, jiwa wanita yang manja tak menutupi rasa rindunya pada sosok Aditya, saat menghadapi hari-hari yang lebih berat dari biasanya.


Keluarga yang datang kali ini sangat menghibur dan menguatkan Nancy sebagai istri prajurit abdi negara.


Aldo yang sejak tadi duduk di teras setelah mengantarkan istrinya masuk ke dalam rumah keluarga tersebut, membawa putri cantik mereka yang masih berusia beberapa bulan.


"Idiih ... Cantik banget anak kamu, Mi. Mirip Aa waktu kecil. Tapi Neng inget pas Aa mau pindah ke luar negeri. Naaah ... Pulang-pulang kalian sudah menikah saja," tawa Nancy mengusap lembut kepala putri kecil Aldo dan Emi dengan gemas.


Emi mengusap lembut perut buncit Nancy, "Sehat terus sampai lahiran yah Neng? Pasti Mas Adit senang banget pulang-pulang melihat Abdi Negara sudah lahir ke dunia. Pasti enggak bisa ngelepasin kamu dua minggu karena rindu. Anaknya ngungsi dulu ..."


Nancy tertawa kecil membenarkan ucapan Emi yang sangat menghibur baginya.


Emi meletakkan putri kecilnya yang sudah terlelap di lantai, yang beralaskan bantal, memberi ruang bagi wanita muda tersebut untuk saling berbagi pengalaman setelah melahirkan nanti.


"Kira-kira Mas Adit pulangnya kapan, Neng?"


Nancy berpikir sejenak, menghitung dengan jari, "Hmm lebih kurang tiga atau empat bulan lagi. Tapi belum tahu waktu yang tepat untuk mereka kembali. Karena menurut istri Komandan Dida, ada penyusup gitu. Makanya tidak bisa menghubungi pihak keluarga. Tapi mereka baik-baik saja sekarang. Cuma ada prajurit angkatan darat yang menjadi tawanan, tapi bukan Mas Adit," jelasnya.


"Amin ..."


Mereka berbincang-bincang, tentang bisnis yang tengah di geluti oleh Emi. Butik khusus muslim, membuat Nancy berdecak kagum pada keputusan sepupunya tersebut, walau sudah memiliki bisnis yang sangat menjanjikan, namun memberi ruang pada wanita yang masih tampak cantik itu untuk tetap menjalankan hoby nya sebagai pebisnis.


"Kamu buat desaign sendiri, Mi? Kok enggak cerita siih? Kan aku bisa main-main ke butik kamu. Aku kemaren pusing-pusing mau cari baju-baju yang spesial gitu, eeeh ternyata keluarga sendiri merupakan desainer handal," cubitnya geram.


Emi tertawa terbahak-bahak, dia sangat bahagia melihat keluarga Aldo ternyata lebih hangat, dan baik hati seperti Keluarga Sugondo yang tidak pernah terlihat sombong jika berbaur dengan siapa saja.


.

__ADS_1


Malam semakin larut, Nancy masih mengharapkan ada secercah harapan untuk mendengarkan suara Aditya yang berada di seberang timur dunia.


"Mas ... Telpon dong, Neng kangen banget ...!"


Lagi-lagi Nancy hanya membolak-balikkan tubuhnya ke kiri dan kanan, merasa semakin gelisah dan matanya enggan untuk terlelap.


Ningsih yang merasakan putrinya semakin gelisah, kembali terjaga dari tidurnya dan bertanya ...


"Neng ... Ada apa? Sudah tidur saja, jangan di biasakan untuk bergadang. Tidak baik bagi wanita hamil tidur larut malam. Ayo sini ... Biar Ibu pijitin pinggang nya. Pegel yah?"


Nancy menghela nafas panjang, matanya berkaca-kaca, berharap Aditya Atmaja menghubunginya.


Nancy beringsut mendekati Ningsih, dengan tubuh membelakangi sang bunda yang selalu menemani nya setiap malam di paviliun.


"Neng kangen sama Mas Adit, Bu ... Rasanya jauh-jauh begini, sangat sakit. Enggak adil banget?" isaknya meremas kuat bantal yang menjadi tumpuan kepalanya.


Ningsih memijat pinggang putrinya dengan penuh kasih sayang, sambil bertitah layaknya wanita yang dapat merasakan keadaan sang putri.


"Dulu, waktu Bapak kamu selalu pergi keluar negeri, selama sebulan, dua bulan, hanya untuk mengurus perkebunan saja, Ibu juga kangen. Setiap malam Ibu hanya bisa menangis sendiri di dalam kamar. Cuma di temani kamu yang masih baby, belum bisa melakukan apa-apa. Ibu dapat merasakan apa yang kamu rasa, Neng. Tapi ini semua, harus kita hadapi ... Semoga saat Nak Adit kembali, dia tidak akan pergi lagi meninggalkan kamu ..."


Nancy hanya bisa tersenyum, buliran bening itu kembali mengalir, membasahi bantal sambil menggenggam foto Aditya saat bersamanya sebelum keberangkatan suami tercinta.


Nancy sedikit menoleh kearah Ningsih, "Kalau Mas Adit pulang perang, kata ibu-ibu Persit dua minggu harus karantina dulu Bu selama dua atau satu bulan. Untuk memulihkan kondisi psikologis mereka yang menghadapi trauma. Terkadang yang membuat tentara marah-marah, tempramen gitu, karena mereka tidak melewati masa karantina. Apa benar begitu, Bu?"


Ningsih sedikit bingung untuk menjawab, karena besannya Sulastri tidak pernah menceritakan apapun tentang Atmaja saat kembali dari daerah konflik.


"Enggak tahu juga, Neng. Besok kalau Bapak mertua kamu kesini, tanyakan saja ... Dia pasti tahu. Sudah, sekarang tidur dulu. Lagian Nak Adit tiga bulan lagi kembali. Semoga kamu dan anak kamu sehat selalu ... Amin ..."

__ADS_1


Nancy mengangguk, mengikuti semua perintah sang Ibu ... Hanya bisa menahan rasa rindu yang sangat menyesakkan dadanya.


"Tuhan ... Jaga Mas Adit buat Neng dan anak kami ..."


__ADS_2