
Begitu banyak kegiatan yang mereka lakukan hari itu. Dari melayat ke kediaman Komandan Simon yang kehilangan istri tercinta, menemani Aditya latihan dengan para prajurit lainnya, serta membayar semua kebutuhan acara resepsi besar yang akan diadakan kedua keluarga Nancy serta Aditya minggu depan.
500 juta yang dibayarkan pihak Keluarga Nancy kepada pihak wedding organizer belum seberapa menurut Nancy, membuat kepala Aditya benar-benar terasa seperti berputar-putar dan pening. Ia hanya bisa merangkul mesra tubuh Nancy ketika tiba dikediaman mereka, paviliun Sugondo.
Nancy tidak banyak bicara pada Sindi, karena dia melihat kegelisahan wanita berhijab itu ketika langsung menyelonong masuk kedalam paviliun kamarnya.
Setibanya di paviliun, lagi-lagi Aditya memeluk erat tubuh Nancy dari belakang, mengecup lembut leher jenjang istrinya yang semakin hari tampak semakin menggoda.
"Hmm Neng mau mandi, Mas. Mas lihat Abdi ke rumah Bapak gih! Habis Neng mandi, kita makan di rumah Bapak saja. Neng lelah kalau harus masak," rengeknya menerima kecupan-kecupan nakal dari bibir basah Aditya.
Nancy menikmati keindahan ditiap-tiap sentuhan Aditya dengan sengaja mengusap lembut perut yang masih tampak rata, sambil berbisik, "Hamil ya? Mas akan bawa Neng kalau kerja, dan dinas keluar kota. Yang penting Neng hamil."
Nancy menggeleng perlahan, tertawa geli karena merasakan keromantisan Aditya yang sangat ia rindukan sejak awal mereka menikah. Kehangatan suami yang selalu meminta agar mau mengandung benihnya, membuat Nancy semakin menggoda Aditya yang meletakkan dagunya di bahu.
"Ehm, jangan hamil dulu Mas. Kasihan Abdi, masih kecil. Bukan di tunda, tapi Neng masih ingin menikmati keindahan kita bertiga. Kalau hamil lagi kasihan Abdi, dibesarkan sama Ibu dan Bapak. Jarang bertemu dengan kita kayak sekarang. Makanya Neng minta sama Tuhan, biar kita merasakan indahnya kebersamaan dulu saat ini, setelah kita tahu akan tinggal dimana, dan enggak pindah-pindah lagi, kita program bayi kembar."
Tubuh Aditya yang awalnya terasa bersemangat, seketika berubah mendengus dingin kemudian memiringkan kepalanya, hanya untuk sekedar melihat wajah cantik Nancy.
"Mas mau Neng hamil! Tidak ada pertimbangan atau bahkan penolakan. Karena Mas pengen lihat Neng hamil dan menemani dari awal sampai proses melahirkan. Setelah itu, kita fokus besarin anak-anak, bagaimana?"
Nancy melirik kearah Aditya, hanya untuk sekedar bertanya, "Emang setelah resepsi, masih bisa cuti buat bulan madu?"
Kepala Aditya langsung menggeleng, "Enggak yakin sih, tapi kalau bulan madu cuma pindah lokasi saja ke Ciwidey atau Puncak, mungkin masih bisa. Kita pergi Sabtu dan Minggu saja, jadi akan aman. Tapi enggak bawa Abdi, Mas mau sama Neng dulu menghabiskan waktunya berdua!"
Nancy menggeram, mencubit kecil perut sispack suaminya, "Jangan atuh! Masak kita pergi ke Netherland enggak bawa Abdi, bulan madu enggak bawa Abdi, terus kapan kita bawa dia! Sudah agh, kesel sama Mas! Egois, emang Abdi anak siapa? Anak Mas, kan? Kok enggak mau bawa-bawa dia!" sesalnya terus melepaskan pelukan Aditya.
Akan tetapi Aditya masih mendekap tubuh ramping itu dengan erat. Dia tidak memperdulikan omelan istrinya, karena tengah menikmati keindahan kekesalan seorang wanita yang sangat ia cintai saat ini.
"Iya, iya, kita bawa Abdi! Lagian Abdi itu cowok, Neng! Harus mandiri, harus berani, dan harus jadi pria idaman kayak Papa-nya."
Mendengar celotehan dari bibir Adit, Nancy hanya bisa menggelengkan kepalanya, "Tapi bagaimana kita mau bawa Abdi coba, Mas! Orang Bapak enggak pernah kasih izin untuk kita bawa jalan-jalan anak kita sendiri. Kayaknya, Abdi itu emang cucu kesayangan mereka."
__ADS_1
Adit mengangguk meng'iya'kan. "Ya udah mandi berdua ya? Mas pengen ..."
Tak menunggu anggukan dari Nancy, Aditya langsung menggendong tubuh istrinya yang terus menepuk dada bidang suami tercinta.
"Mas, geli!" tawanya semakin keras, dan tidak bisa meloloskan diri dari dekapan sang pria yang menjadi cinta pertamanya.
Tak banyak bicara, selayaknya dua insan yang sedang jatuh hati, berkali-kali terdengar suara dessahan dan errangan saling bersahutan. Membuat Sindi yang berdiri didepan pintu kamar Nancy hanya terus mengetuk perlahan.
"Neng, Adit!" Sindi mencari celah agar bisa melihat kearah dalam melalui jendela, namun tidak menemukan gorden yang terbuka untuk melihat kondisi kamar dua insan tersebut.
"Kemana mereka? Duh, Luqman sudah jalan lagi mau ke sini. Mana aku belum memberi kabar pada Aldo ataupun Emi. Ck, pake diem aja nih bocah! Apa enggak bosan yah, begituan terus ..." sungutnya dalam hati, kemudian beranjak menuju rumah utama Sugondo.
Betapa terkejutnya Sindi ketika kakinya melangkah masuk ke kediaman Sugondo. Bagaimana tidak, makanan kecil tersaji di atas meja, bingkisan atau disebut besek untuk acara sesuai daerah mereka sudah tersusun dengan sangat rapi di dekat lemari meja makan. Kemudian tampak kursi-kursi telah disusun dengan balutan kain indah, membuat batinnya menjadi bertanya-tanya.
"Ada acara apa Pak Sugondo? Apakah mereka mengadakan sukuran karena mau pesta resepsi Nancy dan Adit? Ogh, beruntungnya Adit mendapatkan istri sebaik Nancy dan sekaya Keluarga Sugondo. Semoga saja hidup mereka bahagia selamanya hingga maut memisahkan ..." Senyumnya ketika mencicipi kue basah yang terhidang.
"Hmm, enak! Ini kue apa namanya? Besok kalau kembali ke Netherland aku bawa," bisiknya lagi, sambil mencicipi beberapa kue basah lainnya.
"Aduh Sindi! Kamu teh belum siap-siap? Pakaian atuh Neng, kebaya putih ada tuh dikamar Nancy yang masih baru! Kamu langsung ibu nikahkan saja sama Luqman. anak-anak sudah setuju? Alhamdulillah, Mama Melinda juga sudah setuju setelah kami bertemu dengan Ibu dan anak-anak kamu tadi siang. Jadi mereka mau langsung menikahkan kalian, karena Luqman sudah bicara sama Mama-nya. Cepetan pakai bajunya, yang penting halal dulu, resepsinya sekalian sama Nancy! Di Bandung kamu anak Ibu, jadi tidak usah membantah!"
Ekspresi wajah Sindi melongo mendengar penuturan Ningsih. Bagaimana mungkin, dia akan menikah secepat kilat bahkan tanpa persiapan. Jantungnya berdegup kencang tak mampu berkata-kata. Matanya semakin tak berkedip, karena Ningsih masih menyibukkan diri mempersiapkan semua kebutuhan pernikahan kilat Sindi dan Luqman.
Kedua alisnya kembali menyatu, mencari keberadaan Nancy yang belum terlihat.
"Kutil! Aku mesti bagaimana ini! Agh, ini nikah beneran atau bohongan sih! Kok buru-buru, emang aku hamil di luar nikah apa? Luqman resek ighs, mana bisa main nikah-nikah begitu saja. Ditambah Mama Melinda belum bertemu dengan aku! Ia kalau dia terima iklhas, kalau enggak? Ogh Tuhan, bagaimana ini ...!
Sindi berlari kencang menuju kamar Nancy yang masih tertutup dan terkunci rapat dari dalam.
"Neng! Neng Nancy, buka pintunya! Masak Teteh harus nikah malam ini juga, ck, agh, Neng ... Buka pintunya!"
Berkali-kali Sindi menggedor pintu kamar paviliun Nancy, baru di buka oleh Aditya setelah 20 menit kemudian.
__ADS_1
Sindi menghela nafas berat, melirik kearah Adit yang tampak bahagia dan tatapan mata yang berbinar-binar.
Sindi bertanya dengan suara lemas, "Mana Nancy?"
"Tuh, lagi rebahan, baru selesai mandi bawel! Kenapa, lo mau ngajak bini ane kemana?"
Mendengar pertanyaan Aditya, Sindi langsung berdiri dari duduknya, kemudian melongokkan kepalanya didepan pintu, hanya untuk sekedar memastikan bahwa Nancy tahu kabar pernikahan mendadak yang akan diadakan malam itu.
"Neng!"
Nancy yang lagi memainkan handphone miliknya, langsung menoleh kearah pintu, melihat Sindi dan Aditya yang masih berdiri di sana.
"Ya Teh, kenapa? Teteh mau makan lagi?"
Sindi menggeleng, dia memilih untuk masuk kedalam kamar, tapi Aditya justru sedikit curiga, karena satu persatu para tamu mulai hadir.
Berkali-kali Aditya, meyakinkan pandangannya, kemudian menoleh kearah Nancy, hanya untuk sekedar bertanya, "Neng ada acara apa di rumah?"
Nancy menggelengkan kepalanya, karena dia memang tidak mengetahui tentang apapun. "Mana Neng tahu! Coba tolong tanyain sama Ibu, Mas! Biar Neng siap-siap."
Aditya mengangguk setuju, meninggalkan Nancy dan Sindi didalam kamarnya.
Sementara Sindi yang masih berdiri kaku, karena tidak tahu harus berkata apa, dia hanya bisa pasrah menerima kejutan pernikahannya malam itu.
"Teteh mau nikah sama Luqman, Neng ..."
Sontak pernyataan Sindi membuat Nancy ternganga lebar, sangat terkejut dengan kejutan keluarganya, "Apa? Nikah? Kapan Teh?"
"Sekarang, Neng! Sekarang!"
Gubrak ...!
__ADS_1