Merebut Hati Suami Mayor

Merebut Hati Suami Mayor
Mengecewakan


__ADS_3

Pagi menjelang, dua insan masih terbalut selimut tanpa melepas penyatuan mereka, membuat Nancy terjaga karena ada sesuatu yang kembali mengganggu tidurnya dibawah sana.


Perlahan Nancy ingin beranjak dari atas tubuh sang suami, namun masih ditahan oleh tangan Adit yang berada dibawah nya.


"Mashh ... Lepas," rengeknya mencium leher kekar suami tercinta.


Adit masih menutup matanya, dia masih ingin merasakan hangatnya tubuh Nancy, yang benar-benar membuat candu baru bagi seorang pria sekaku Adit.


"Biarin dulu, Mas masih kangen sama Neng. Mas pengen nambah lagi ... Pokoknya sampai Neng benar-benar enggak bisa jalan," ucapnya mengendus lembut wajah mereka yang saling bersentuhan.


"Ahh ..."


Lagi-lagi Nancy di buat mendessah karena ulah nakal seorang Adit. Entahlah ... Adit hanya ingin menikmati indahnya bersama Nancy seorang, tanpa memikirkan hal lain termasuk Abdi, baby yang masih berusia 2,5 bulan tersebut.


Entah berapa kali Adit meminta, mendominasi permainan mereka sejak tadi malam, sehingga membuat Nancy tak mampu menolak atau sekedar mengucapkan kata 'tunggu'.


Sungguh semua ini di luar pikiran wanita polos seperti Nancy, yang ternyata harus siap tempur siang malam hingga pagi, jika suami kembali dari medan perang.


Nancy benar-benar terkulai lemas, saat menatap wajah tampan suaminya, yang begitu dahsyat, bahkan tidak memberikan waktu baginya mengenakan sehelai benangpun.


Ranjang kingsize yang tak berbentuk, bahkan terlihat basah karena keringat mereka berdua, membuat Adit menggendong tubuh istrinya, untuk melanjutkan permainan mereka di dalam kamar mandi, sambil menikmati hangatnya air di dalam bathtub.


Adit mengecup punggung Nancy yang tengah menyikat gigi, membuat bulu kuduk istrinya benar-benar meremang karena geli.


Adit bertanya, sambil memeluk dan merremas tubuh indah itu dari belakang, "Kamu sangat pandai merawat tubuh, Neng. Mas suka ... Hari ini kita mau kemana? Mau ke salon atau kemana?"


"Hmm ..."


Nancy hanya mendehem, membasuh wajahnya, meletakkan sikat gigi pada tempatnya. Kemudian mengambilkan sikat gigi dan memoleskan odol milik Adit, dan memberikan pada sang suami.


"Mas mau sikat sendiri, atau Neng yang ..."


Adit hanya membuka mulutnya, memberi ruang pada Nancy untuk melakukannya.


Nancy tersenyum sumringah, menyikatkan gigi sang suami yang sudah duduk sambil mendekap erat tubuh sang istri dihadapannya.


Nancy melakukannya dengan sangat hati-hati, walau sesungguhnya merasa aneh, namun dia menikmati manjanya seorang suami yang telah lama meninggalkannya.


Setelah melakukan ritualnya, tentu berbagai macam dessahan dan drama yang mereka lakukan didalam kamar mandi, membuat kedua-nya semakin tampak mesra.

__ADS_1


Kini mereka sudah berada di restoran hotel, untuk mengisi asupan gizi yang cukup, sebelum bertempur kembali.


Adit memilih duduk bersama kedua orangtuanya, memberi ruang pada Nancy, untuk memilih sarapan yang disukainya.


Tentu saja, Nancy tampak kewalahan membawa tiga piring makanan, namun belum mendapatkan bantuan dari Adit.


Atmaja yang melihat menantunya kewalahan seperti itu, memberi perintah kepada Aditya untuk membantu Nancy.


"Jangan biarkan istrimu biasa melakukan apapun sendiri. Karena jika dia sudah bisa melakukannya, dia tidak akan membutuhkan kamu!"


Penuturan Atmaja seolah-olah menampar wajah Adit, yang sangat cuek pada sang istri jika sudah berada di luar.


Tanpa memberi alasan, bergegas Adit menghampiri Nancy, yang masih berdiri di meja bulat tempat memilih makanan.


Nancy yang menyadari kehadiran suaminya, hanya berkata, "Mas ... Sudah duduk saja, Neng bisa kok," usapnya lembut pada punggung Aditya.


Aditya hanya tertegun melihat wanita cantik, yang masih sibuk memilih makanan kesukaan suaminya, telor dadar yang di buat omlet, sosis bakar dibalut kecap, serta makanan berat lainnya.


"Neng ..."


"Hmm ..."


Nancy menoleh kearah suaminya, menautkan kedua alisnya, tersenyum kecil menggelengkan kepalanya.


"Mas kenapa sih? Bagi Neng, kesehatan Mas lebih utama. Nih, bantuin bawain kalau masih berdiri di sini. Riweh bawa tiga piring, Neng bukan pelayan rumah makan Padang," tawanya menyeringai kecil menggoda sang suami.


Adit hanya mengangguk, membawa piring yang sudah penuh, bahkan tampak lebih banyak.


Nancy duduk dihadapan mertuanya, tentu disamping Adit, sambil menyuapkan makanan kedalam mulut suami untuk pertama kali.


Sulastri yang melihat kemesraan anak menantunya, berbisik ketelinga Atmaja, dengan nada menggeram karena melihat Adit yang masih kaku, bahkan hanya sibuk melihat foto-foto Abdi, yang belum pernah dia temuin melalui handphone istrinya.


"Kenapa anak mu jadi kaku begini sih Pak, gemes banget! Lihat menantu kita ... Bukannya makan lebih dulu, malah mendahulukan suaminya ..."


Atmaja hanya mengerjabkan matanya, tidak ingin merusak suasana kebahagiaan Aditya dan Nancy pagi ini.


Beberapa rekan Adit juga menginap di hotel yang sama, namun mereka tampak lebih mesra bersama pasangan masing-masing, membuat Sulastri semakin gemes melihat sang putra.


Aditya menghabiskan dua piring makanan, tanpa melihat, namun menikmati suapan dari sang istri, tanpa memikirkan Nancy yang belum mendapatkan asupan sejak membuka mata.

__ADS_1


Nancy memberikan tisu, dan memegangkan gelas untuk suaminya menenggak segelas air putih.


"Sudah kenyang?" bisik Nancy ketelinga Adit, yang masih sibuk dengan handphone pintar sang istri.


Adit terhenyak seketika, mendengar bisikan lembut dari Nancy, melihat dua piring makanan habis tak bersisa, namun masih menyisakan satu piring untuk sarapan sang istri.


Adit menelan ludahnya, melirik salah tingkah kearah Sulastri dan Atmaja yang memberi kode padanya agar peka, memberanikan diri untuk bertanya dengan pelototan Sulastri, "Hmm Neng belum makan? Mau Mas suapin?"


Nancy menunduk malu, "Enggak usah, Neng bisa kok. Mas masih sibuk sama anak kita ..." usapnya pada wajah Aditya, yang tampak lebih segar dari kemaren.


Adit melihat cara Nancy makan, benar-benar menikmati dan tidak pernah meminta tolong padanya.


"Kenapa hati ku masih belum bisa menerima kenyataan, bahwa Nancy lah penyebab Bambang merebut Evi dari ku ...? Kenapa dia tidak mengatakan sejak awal, siapa dirinya ...? Kenapa aku hanya bisa mengira-ngira, dan aku harus mencari tahu sendiri, apa maksud wanita ini menikah dengan ku ...?"


Seketika dada Adit terasa semakin sesak, perasaannya semakin gelisah. Perpisahannya dengan Evi, tampak sempurna dengan Nancy yang memintanya beberapa waktu lalu. Sehingga dia tak mampu berkata tidak pada Atmaja.


Kali ini Adit hanya bisa menikmati permainan istrinya yang ia anggap sangat licik. Dia ingin melihat seserius apa seorang Nancy mencintainya, tanpa mau membahas hal ini untuk saat ini.


Sulastri yang melihat perubahan terhadap sang putra, hanya bisa menahan diri, untuk menjaga hati seorang menantu yang sangat baik pada Aditya.


Setelah menyelesaikan makannya, Nancy menoleh kearah mertuanya, kemudian melirik pada Aditya ...


"Maaf Pak, Bu ... Neng permisi dulu mau ke toilet. Sebentar yah, Mas? Neng kebelet ..."


Tanpa menunggu jawaban dari keluarga itu, dia berlalu meninggalkan meja di restoran menuju toilet yang berada tidak jauh dari sana.


Melihat menantunya berlalu, Sulastri mencubit keras tangan Adit yang berada di meja.


"Kamu kenapa sih, Dit? Nancy itu istri kamu! Dia sangat memperhatikan kamu, tapi kamu terlalu cuek sama menantu Ibu. Jangan macam-macam kamu, yah!" geramnya.


Adit menatap lekat mata Sulastri, hanya bisa meringis, dan menjawab, "Ternyata Nancy ini yang di cintai Bambang, Pak ... Bu! Wanita ini yang menyebabkan Evi diambil oleh Bambang, dia penyebab retaknya hubungan Adit dengan Evi!"


Sulastri ternganga lebar mendengar penuturan Aditya, menoleh kearah Atmaja ...


"Pak ... Lihat nih anak kamu! Pulang-pulang masih saja yang dia inget Evi, Evi, Evi wae ... Eeeh Aditya Atmaja, dengarkan omongan Ibu! Mungkin Bambang mencintai Nancy, tapi menantu ku itu mencintai kamu sepenuh hati, walau kamu cuek kayak patung Buddha, dia tetap sabar menghadapi kamu. Jangan limpahkan kekecewaan kamu sama menantu ku! Karena penyesalan itu selalu datang terlambat!" tegasnya.


Atmaja hanya mengeraskan rahangnya, menatap kecewa pada Aditya ...


"Bapak pikir kamu sudah lupa sama anak jahanam itu! Ternyata yang ada di kepala kamu hanya Evi. Sungguh mengecewakan sikap kamu!"

__ADS_1


"Pak ..."


__ADS_2