Merebut Hati Suami Mayor

Merebut Hati Suami Mayor
Mata-mata


__ADS_3

Suasana hati semua insan yang berada di kediaman Sugondo sangat bahagia menyambut kedatangan Melinda dengan ketiga buah hati Sindi tak kalah riuhnya.


Mereka bermain-main selayaknya anak-anak bule yang sangat bahagia bersama Abdi juga Unik selaku pengasuh di sana.


Sindi yang telah mempersiapkan semua kebutuhan Luqman selayaknya pengantin baru, membuat Melinda enggan menyambangi paviliun anak menantunya.


"Kenapa jeng enggak bilang sama saya, kalau Sindi itu janda yang tidak pernah di sentuh oleh suaminya? Saya baru tahu tadi malam, jeng ... dari Juno. Anak ini benar-benar jujur dan polos menceritakan siapa Ibu dan Ayahnya kepada saya," cerita Melinda dengan wajah malu dihadapan Sugondo.


Sugondo yang mendengar cerita dua wanita itu, malah beranjak dari duduknya karena tidak ingin mendengar perbincangan dua wanita tersebut.


Ningsih menyentuh tangan Melinda yang duduk disampingnya dengan penuh kelembutan, sambil berkata, "Biar Luqman sendiri yang cerita sama jeng. Karena itu urusan anak-anak kita. Sindi itu sangat baik, tapi dia tidak mau memberitahu pada siapapun tentang pernikahannya yang ia rasa gagal. Walau sesungguhnya itu menjadi pelajaran buat kita. Entah mengapa, saya senang sekali sama Sindi. Dia wanita yang ceria, tidak pernah terlihat raut muka masam ataupun meratapi nasibnya. Saya juga sudah bilang sama Nancy, untuk belajar tegar seperti Sindi," jelasnya panjang lebar.


Melinda hanya menghela nafas berat, "Jujur saya takut, jika Luqman menikah dengan janda seperti anak Sunardi, jeng. Ditambah anak tiga yang membutuhkan biaya. Saya tidak tahu, ternyata Sindi menikah dengan Keluarga Van Dijk, yang ternyata sangat baik kepada Sindi, hmm semoga mereka bisa bahagia. Karena Luqman dan Sindi bersahabat sejak sekolah. Saya ingat persis mereka berempat selalu bersama."


Mendengar nama Sunardi yang disebut oleh Melinda, sontak membuat Ningsih mengerenyitkan keningnya, berfikir sejenak kemudian menjawab singkat, "Sangat berbeda anak Sunardi dan anak Lazuardi, jeng. Walau kita tahu status mereka sama-sama janda. Sudahlah, kita harus memberikan motivasi kepada mereka untuk selalu bersama dalam keadaan suka dan duka. Karena tidak mudah menjadi istri seorang prajurit dan abdi negara."


Melinda mengangguk mengerti. Ia mengambil satu kantong plastik hitam uang tunai, kemudian meletakkan diatas meja ruang keluarga Sugondo.


"Saya tidak bisa membantu banyak untuk resepsi anak-anak, jeng. Tapi saya tidak mau Luqman menikah tanpa resepsi. Saya setuju untuk membuat acara besar sesuai obrolan kita beberapa hari lalu. Dan Sindi akan saya bawa ke kediaman saya, untuk tinggal bersama. Karena saya tidak mau menyusahkan jeng." Tunduknya menyodorkan uang tunai tersebut.


Ningsih yang melihat setumpuk uang itu menggelengkan kepalanya, "Bawa saja jeng. Berikan kepada Luqman. Karena semua hajatan besar itu sudah ditangani oleh Bapak Nancy dan Pak Atmaja. Jadi tidak perlu memikirkan hal lain. Kita sama-sama demi kebahagiaan anak-anak. Nancy juga sudah mempersiapkan semua kebutuhan mereka, walau sesungguhnya tidak diketahui kenapa Sindi ikut mengukur kebaya kemaren. Karena dilarang sama Bapaknya, biar nanti pas acara semua terkejut melihat dua pasang pengantin dengan adat yang berbeda."

__ADS_1


Melinda menggeleng, mengisyaratkan bahwa dia sangat sungkan untuk memberi langsung pada anak menantunya. "Jeng saja yang memberikan uang ini sama Sindi. Rasanya, uang ini tidak ada cukup untuk membeli apapun. Saya benar-benar salut sama kebaikan hatinya. Dia benar-benar menantu idaman saya untuk Luqman, jeng. Mau saya kasih uang satu milyar pun, belum tentu anak-anak mau menerimanya. Jeng tahu sendiri Luqman bagaimana kerasnya. Dia tidak pernah mau menerima mobil dari saya, memilih hidup pas-pasan dari gajinya. Terkadang saya melihat dia saja, terbayang sama almarhum Papa-nya. Coba kalau Papa-nya masih hidup, mungkin akan bahagia seperti yang saya rasakan mendapatkan menantu sebaik Sindi," tunduknya sambil menyeka air mata yang tidak terbendung lagi.


Ningsih benar-benar bahagia mendengar penuturan Melinda. Wanita yang selama ini ia kenal sebagai Ibu yang angkuh, karena satu ambisi harus menikahkan anaknya dengan seorang dokter, membuat dirinya semakin terlihat sangat baik setelah menerima Sindi sebagai menantu yang sempurna untuk anak laki-lakinya.


Cukup lama kedua-nya saling bercerita tentang dua pelaminan, dan pesta pedang pora yang akan di selenggarakan di gedung pertemuan milik Keluarga Emi, membuat mereka ingin mengenakan pakaian yang sama.


Melinda bertanya karena penasaran, "Oya, jeng. Apakah Anggoro akan datang ke sini?"


Ningsih menggelengkan kepalanya, "Dia hanya mengirimkan uang pada Bapak, dan kemaren uangnya sudah kami berikan kepada Aditya. Ya, syukuran ini acara kita saja, jeng. Jadi tidak melibatkan anak-anak. Yang datang justru kerabat kita, yang penting semua tahu bahwa Nancy sudah menikah dengan Adit hampir dua tahun. Karena Bapaknya Pramudya kemaren sempat bertanya pada Pak Sugondo. Dia bilang, memiliki menantu berpangkat kok enggak mengundang kita-kita. Justru tahunya dari anak lanangnya yang dokter spesialis anak itu. Saya jadi sungkan ... mereka berpikir bahwa Nancy melakukan kesalahan. Padahal kita sudah menikahkan mereka. Makanya kami mau menutup fitnah itu, jeng."


Mendengar pernyataan seperti itu, Melinda membenarkan ucapan Ningsih. "Bagaimanapun kerabat itu mulutnya suka cuap-cuap enggak jelas. Dan menebar fitnah kemana-mana. Ya sudah, saya nyamperin anak-anak dulu. Mau tak ledekin yang belah duren," tawanya menyeringai lebar.


Dengan cepat Ningsih menyembunyikan uang tersebut, karena tidak ingin diketahui oleh Aditya, dan menjadi salah sangka karena perasaan cemburu ataupun pilih kasih.


"Bu ..." sapa Aditya mencari keberadaan Melinda, setelah mencium punggung tangan Ibu mertuanya.


"Hmm, sudah sarapan belum?"


"Belum Bu, didepan Adit lihat ada mobil Mama Melinda. Kemana Mama mertua Sindi, Bu?"


Ningsih tersenyum, mengusap lembut punggung menantu kesayangannya, "Lagi dikamar menantunya. Mau membujuk biar pulang ke rumah. Memangnya kenapa?"

__ADS_1


"Hmm, jangan pindah dulu dong, Bu. Ntar enggak ada ngomel-ngomel lagi kayak biasanya. Enak kalau ada Sindi di sini. Justru Adit suka, karena dia janda menawan hati pria ..." godanya di telinga sang ibu mertua.


Ningsih yang mendengar candaan menantunya, mencubit kecil perut sispack Aditya, "Jangan macam-macam. Dia itu istri Luqman sahabat kamu. Ibu jitak kamu kalau nakal lagi sama janda!"


Aditya langsung berhambur memeluk tubuh Ningsih, mencium pipi wanita baik nan cantik, yang telah memberikan putri kesayangannya ...


"Enggak Ibu sayang. Satu Nancy saja masih belum habis. Trauma dekatin janda, enggak mau lagi, ngabisin duit dan waktu saja!"


Lagi-lagi Adit merangkul bahu Ningsih, sambil membisikkan sesuatu, "Bu, buatin sarapan dong. Nancy masih malas katanya. Entah mengapa dia enggak enak badan, pengen rebahan saja. Jadi dia suruh Aditya minta sama Ibu."


Ningsih yang mendengar pernyataan sang menantu kembali penasaran, "Neng hamil lagi kali, Nak? Coba cek ke dokter. Bawa saja ke dokter Siska. Kalian itu benar-benar subur banget. Bulan madu sekali sudah jadi saja ..."


Aditya bertanya hanya untuk sekedar menggoda Ningsih, "Ibu senang enggak?"


Ningsih menjawab dengan wajah penuh perasaan bahagia, "Ya senang atuh kasep. Mudah-mudahan anak kalian cewek. Jadi punya sepasang, tinggal gedein lagi. Ingat, jangan sampai kamu macam-macam sama anak ibu. Karena kamu akan berurusan dengan, Luqman, Sindi, Aldo, Emi, dan Nak Bethrand!"


"Buset dah, banyak mata-mata ni sekarang ..."


.


.

__ADS_1


__ADS_2