Merebut Hati Suami Mayor

Merebut Hati Suami Mayor
Merutuki kebodohan sendiri


__ADS_3

Suasana hening, Adit terjaga diranjang kingsize kamar pengantin tersebut, dengan tangan melilit di perut ramping Nancy istrinya. Kepalanya seketika berkunang-kunang, karena terasa sangat berat, dengan keringat dingin membasahi tubuhnya.


"Aaagh ..."


Adit melepaskan tangannya dari perut Nancy, membuat gadis itu terlonjak kaget, saat melihat pria tegap itu berada di sampingnya.


"Aaaagh! Apa yang Mas lakukan di sini? Mas apain Neng?!"


Nancy melihat pakaiannya hanya tersisa underwear menutupi bagian bawahnya, sementara Adit tidak mengenakan sehelai benangpun ...


"Mas! Mas perkosa Neng? Bukankah kita tadi malam? Aaaagh!!!"


Adit menutup bibir Nancy menggunakan bibirnya, berusaha mengingat apa yang terjadi tadi malam.


PLAAK ...!


Nancy melayangkan tamparan keras ke wajah Adit, tak ingin di perlakukan seperti tadi malam lagi.


"Aaauugh ...! Neng kenapa? Sakit banget iiighs. Bukankah tadi malam hmm Neng yang mau ..."


Nancy menggelengkan kepalanya, dia merasakan ada yang lengket di bawah sana, tapi tidak merasa sakit ataupun terjadi sesuatu.


"Mas apain Neng! Jawab! Mas tega, menyebut nama wanita itu sepanjang malam, terus sekarang seenaknya mencium bibir Neng! Neng enggak sudi!"


Nancy beranjak dari ranjang, melilitkan selimut di tubuh indahnya, menuju kamar mandi.


Adit tersenyum tipis, saat melihat gadis itu berlalu. Dia memang melakukannya, hanya untuk melepaskan hasratnya. Entah berapa kali Adit meletakkan benda kerasnya, di paha gadis yang sangat membantunya tadi malam, saat Nancy terlelap.


"Maafkan Mas, Neng. Ternyata kamu juga sangat menikmati sentuhan Mas ..."


Adit menghubungi komandannya, memohon izin untuk tidak masuk kerja hari ini. Karena tubuhnya masih terasa belum fit seperti biasa.


Setelah melakukan ritualnya, Nancy keluar dari kamar mandi, dengan balutan handuk kimono yang melilit di tubuh ramping itu, membuat Adit menelan ludahnya sendiri, saat matanya tertuju pada kaki jenjang istrinya.


Nancy tak menghiraukan tatapan suaminya. Setelah dia merasakan bagian intinya tidak ada masalah, dia melupakan semua kejadian tadi malam. Baginya tak ingin berbasa-basi, apalagi mengingat kembali nama wanita bernama Evi tersebut.


Adit berusaha untuk berbuat baik pada Nancy, membawa gadis itu bercerita selayaknya pasangan suami istri yang sudah sah di mata agama dan negara.


Perlahan dia mendekati Nancy, berbisik tanpa mau menyentuh gadis yang telah membuatnya penasaran sejak tadi malam.

__ADS_1


"Hmm hari ini Mas libur. Neng mau kemana? Mas ada janji sama Aldo, dia hmm ... Enggak jadi deh, bisa tolong buatin Mas teh manis? Terserah mau panas atau hangat, semua oke kok ..."


Nancy hanya tersenyum tipis, menatap punggung suaminya.


Adit berlalu tanpa menunggu jawaban dari istrinya. Hari ini dia ingin menebus semua kesalahan nya.


Nancy menatap lekat wajahnya di depan cermin, begitu banyak bekas merah di leher gadis itu, membuat tubuhnya semakin meremang, menyentuh bagian bawah perutnya.


"Tumben ... Apakah Mas Adit menembus keperawanan ku? Aaaagh ... Mana mungkin. Kata Ibu melepas perawan itu sakit, perih, bahkan buat menjerit dan enggak enak berhari-hari. Aku sama sekali enggak ada ngerasain sakit atau apalah ..." sesalnya dalam hati.


Nancy melakukan hal biasa pagi itu, membuatkan sarapan untuk suaminya, tanpa banyak bicara.


Namun, saat Adit keluar dari kamar mandi, lagi-lagi jantung kedua-nya berdebar-debar tak karuan.


"Aaagh ... Kenapa pikiran ku jadi ingin mencobanya ..."


Adit berpikir sejenak, kemudian membayangkan bagaimana indahnya tadi malam. Dia menggelengkan kepalanya, tersenyum bahagia karena baru kali ini melakukannya, dengan pasangan halalnya.


"Pantas saja Evi berkali-kali meminta aku melakukan hal itu, ternyata dia pernah melakukannya dengan pria lain sebelum aku, mungkin ..."


Adit meletakkan handuk di tempat yang tersedia, melihat lekukan tubuh Nancy yang berbalut mini dress dari belakang yang membuat gairahnya kembali membuncah.


Perlahan Adit mendehem, "Ehem ..." hanya untuk melihat reaksi wanita yang ada di depannya.


"Hmm ... Boleh peluk lagi enggak? Maafin Mas tadi malam ..."


Suara pelan yang keluar dari bibir Adit membuat Nancy semakin salah tingkah.


Bagaimana mungkin, pria yang sudah hampir dua minggu bersamanya, seketika berubah drastis menjadi manis seperti pagi ini.


Nancy membalikkan tubuhnya, untuk menatap Adit dengan lekat, kemudian bertanya, "Mas Adit kenapa jadi aneh, semenjak bangun tidur, sampai saat ini. Sudah mandi juga masih saja aneh kelakuannya. Neng hari ini mau ke pabrik, jadi terserah Mas mau kemana! Asal jangan macam-macam lagi deh di luar, Neng susah untuk mencerna rayuan gombal Mas yang hanya mengingat wanita itu!"


Dia ingin berlalu meninggalkan Adit, namun lengannya ditahan oleh pria yang sejak tadi menginginkan hal berbeda dari tadi malam.


"Neng ... Mas sudah minta maaf. Tolong jangan buat Mas jadi serba salah lagi."


Hanya kalimat itu yang dapat keluar dari bibir Adit karena rasa bersalahnya.


Nancy memejamkan kedua matanya, menghela nafas panjang, berbalik arah agar bisa menatap pria yang berdiri didekat nya.

__ADS_1


"Hmm ... Oke! Kita mulai dari awal. Tapi butuh waktu untuk kita bisa menemukan feeling, karena hmm entahlah ..."


Nancy melepaskan tangan Aditya dari lengannya, meninggalkan suaminya yang masih berdiri di dapur mini paviliun mereka.


"Neng ... Mas minta maaf! Mas, ingin sekali menikmati keindahan rumah tangga ini. Kita coba, untuk saling percaya dan menjaga demi Bapak sama Ibu!"


Nancy tersenyum, wajah cantik itu hanya bisa menuruti semua permintaan pria yang sudah menjadi suaminya.


"Ya, baiklah. Sekarang katakan apa yang Mas Adit inginkan dari Neng?"


Adit terdiam, wajahnya merah padam, saat mendengar kalimat yang sangat menusuk jantungnya, keluar dari bibir mungil Nancy yang selalu bertutur kata baik.


"Mas hanya ingin Bapak dan Ibu bahagia, karena telah menjodohkan kita. Tanpa menyakiti hati siapapun termasuk Neng ..."


"Janji?"


"Ya!"


"Tanpa E-e-vi?"


Adit terdiam, wajahnya menunduk malu.


"Mas coba, asalkan kita bisa menghabiskan waktu selayaknya dua insan suami istri yang mencoba untuk mempertahankan rumah tangga kita, demi keluarga ..."


Nancy tersenyum dingin. Dia menggelengkan kepalanya tidak menyangka dengan jawaban Adit yang mengatakan hanya mencoba.


"Neng permisi, karena ada urusan di pabrik!"


Adit berlari lebih dulu menghalangi langkah istrinya, agar tidak keluar sebelum dia mendapatkan apa yang ada dalam benaknya saat ini.


Nancy mengerenyitkan keningnya, menyunggingkan bibir basahnya, menggeram karena seorang Aditya ternyata sangat kekanak-kanakan.


"Mas mau apa? Neng enggak ngerti!"


Adit menggeram, menghela nafasnya panjang, menggaruk tengkuk yang terasa gatal.


"Kita mulai dari awal. Mas hmm ... Mas eee ... Mas suka sama Neng! Perhatian Neng sangat baik pada selama ini, jujur Mas sendiri baru ngerasain semua tadi malam. Bagaimana jika kita memulainya? Untuk memberikan keturunan pada hmm Bapak sama Ibu ..."


Nancy menaikkan kedua alisnya, tersenyum kecil melihat tingkah suaminya.

__ADS_1


"Bilang saja, kalau Mas itu masih mau bermain-main sama tubuh Neng! Jangan kemana-mana ceritanya! Aneh ... Pagi-pagi masih mabuk saja!"


Wajah Adit berubah malu, dia tidak menyangka, kali ini terjebak dengan permainan nya, merutuki kebodohan sendiri, "Aaagh ... Sial!" sesalnya dalam hati.


__ADS_2