
Suasana sepi senyap diruangan tertutup tempat Atmaja dan Sulastri berbicara dengan Komandan Dida, raut wajah yang tak muda lagi itu hanya bisa menekuk, tak tahu apa yang harus ia perbuat saat ini.
Ingin rasanya Atmaja sebagai orang tua menjemput sang putra ke timur belahan dunia itu. Dadanya terasa sangat sesak, karena tidak tahu akan kemana dia menghadap saat ini.
Air mata jatuh jauh di relung hati terdalamnya. Rasa cinta Atmaja pada Aditya membuat dia harus kuat, demi menantu yang tengah mengandung cucunya, sebagai penerus keluarga mereka.
Atmaja melirik kearah Sulastri sang istri yang menangis tersedu-sedu di pelukannya, hanya bisa menahan rasa sesak didada saat ini, kemudian berkata ...
"Jangan sampai Nancy mengetahui bagaimana kondisi Adit. Karena ini akan menggangu kehamilannya. Bapak sangat mengetahui rasa rindu yang dirasakan menantu kita, Bu ..."
Sulastri yang mendengar penuturan suaminya, mengangguk setuju. Dia tidak ingin memberitahu pada Nancy, kecuali Sugondo dan Ningsih.
Komandan Dida tersenyum tipis, mendengar penuturan dua orang paruh baya itu demi sang menantu.
Dida mengusap lembut pundak Atmaja, "Izin Pak ... Semoga kita menemukan Fredy Guarin secepatnya, dan kita bisa mengembalikan semua prajurit apapun keadaannya!"
Atmaja mengangguk, "Siap Ndan ... Semoga kita dapat berpikir jernih saat ini. Kalau begitu saya permisi!"
Atmaja meninggalkan ruangan Komandan Dida, menuju mobilnya. Kembali matanya tertuju pada Evi yang menunggu di mobil mereka.
Sulastri menghela nafas berat, menyunggingkan senyuman tipis, kali ini dia tidak ingin berbasa-basi dengan wanita yang telah melukai Aditya sang putra.
Evi menyapa dengan menundukkan kepalanya, "Maaf Pak, Bu ... Neng bisa numpang? Karena tadi enggak di antar sama Bapak. Maklum, mobil tua, terus Bapak tidak mau mengurus Ali ..." jelasnya pelan.
Sulastri mencubit kecil lengan Atmaja, mengisyaratkan bahwa dia tidak setuju memberi tumpangan pada wanita tersebut.
Atmaja menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal, "Hmm ... Maaf Neng. Bukannya Bapak tidak mau memberi tumpangan, tapi hmm Bapak mau menjemput Nancy. Sekali lagi maaf, yah?"
Sulastri melirik kearah Evi, menyunggingkan senyuman kecil, sambil bergumam dalam hati, "Rasain kamu ... Bawa tuh anak bayi kamu pake angkot ...!"
Mereka berpisah, meninggalkan Evi yang tampak kesal, karena penolakan kedua orang tua yang tidak menyukainya sejak dulu.
"Lihat saja, aku akan memberitahu pada menantu mu tentang kondisi suaminya yang sudah tidak bisa menjadi apa-apa lagi ..." geramnya meremas kuat sudut kain gendongan anak yang berada dalam dekapannya.
__ADS_1
.
Dikamar paviliun Nancy masih tertidur setelah kembali dari pabrik, untuk menemani Ningsih yang sangat menyukai membawa putrinya untuk berjalan-jalan di perkebunan.
Kali ini Nancy hanya ingin menikmati kehamilannya anak pertamanya, yang semakin hari semakin aktif menendang dan bergerak didalam sana.
Nancy mengusap lembut perut buncitnya, berbicara dari hati ke hati, agar buah cintanya dengan Adit kuat hingga saat kelahiran tiba.
"Tenang yah Abdi kesayangan Mama. Kamu akan melanjutkan perjuangan Papa jika sudah besar. Mama akan memberikan kamu nama yang gagah, sama seperti eyang kamu memberi nama pada Papa, Aditya Atmaja. Berarti kamu Abdi Atmaja, yang akan menjadi Abdi negara selanjutnya ..." tawanya sendiri menikmati sejuknya kamar paviliun keluarga.
Saat matanya kembali terlelap, dia mendengar suara ketukan pintu dari arah luar paviliun yang memanggil namanya ...
"Neng ... Neng Nancy, bibi mau antar cemilan! Boleh masuk enggak, nih?" panggil Bi Sumi dari arah luar.
Nancy hanya menjawab singkat dengan nada suara serak, "Masuk saja Bi!"
Bi Sumi membuka pintu paviliun, membawa satu nampan yang berisikan makanan kecil untuk anak majikannya.
Semenjak kehamilan Nancy, Bi Sumi lah yang mempersiapkan semua kebutuhan makanan sehat untuk anak majikannya, sesuai perintah Ningsih juga Sugondo.
Nancy bertanya pelan pada Bi Sumi, "Ada siapa di luar, Bi? Tadi Nancy dengar ada suara Pak Atmaja dan Ibu? Bener enggak?"
Bi Sumi mengangguk, mengalihkan perhatian Nancy, dari apa yang dia dengar mengenai suami anak majikannya.
"Neng mau Bibi pijitin, enggak? Kalau mau, Bibi ambilin minyak zaitun. Biar pinggangnya enggak sakit-sakitan lagi. Setidaknya melegakan ..."
Nancy mengangguk setuju, dia merebahkan tubuhnya di ranjang kemudian memposisikan badan agar miring ke kanan, "Sok atuh Bi. Bibi tahu aja Neng lagi pegal-pegal. Pasti Ibu yang bilang, kan?"
Sumi tertawa kecil, mendekatkan dirinya pada Nancy, menyibakkan baju anak majikannya, mengusapkan minyak zaitun di pinggang wanita cantik itu.
Sumi mengusap lembut pinggang Nancy, yang tengah bermain-main handphone miliknya, melihat foto Aditya yang ada bersamanya sebelum keberangkatan sang suami beberapa bulan lalu.
Sumi yang melihat dari kejauhan kemesraan Nancy dan Aditya, memuji kemesraan anak majikannya tersebut.
__ADS_1
Sumi bertanya disela-sela pijitannya, "Kalau Mas Adit pulang, apa yang akan pertama kali Neng lakukan?"
Nancy menjawab dengan candaan, "Hmm ... Cium Mas Adit, buka baju, ehem atuh Bi. Mau ngapain lagi coba. Neng udah enggak kuat menahan rindu tangan Mas Adit. Kangen banget, tapi lebih kangen peluk Mas Adit. Dia selalu memeluk Neng kalau lagi tidur. Mesra banget ... Kayak seminggu sebelum berangkat itu kurang puas mesra-mesranya."
Kedua-nya tertawa terbahak-bahak, Sumi sangat bahagia mendengar celotehan anak majikannya.
Setidaknya Sumi bisa memberikan kedamaian dalam hati Nancy, walau sesungguhnya rasa khawatir dan kerinduan yang dirasakan anak majikannya itu merupakan satu firasat seorang istri.
Sumi masih mengusap lembut hingga ke tengkuk bagian belakang Nancy, "Enakan enggak?"
Nancy hanya mengangguk, karena dia tak kuasa menahan rindunya kali ini pada Aditya, kembali menangis terisak-isak.
Sumi yang tadi mendengar tawa dan celotehan Nancy, kini mendengar isak tangis yang tak terbendung, "Sabar yah, Neng. Mas Adit pasti pulang dan melihat anaknya. Bibi yakin, Neng pasti bahagia kalau udah ketemu Mas Adit."
Lagi-lagi Nancy hanya menjawab dengan anggukan.
"Mas ... Neng kangen Mas ..."
.
Di sudut dunia belahan timur. Telah duduk Aditya Atmaja yang telah siuman dari komanya. Kali ini dia hanya di temani oleh Yodi, karena Ali dan Luqman sedang di tugaskan ke markas militer untuk melakukan penyerangan malam nanti tepat pukul 02.00 dini hari waktu setempat.
Sudah dua hari Aditya dapat bicara, dan kembali mengingat semua foto-foto keluarga yang di tunjukkan oleh Yodi saat menemani rekan satu timnya.
"Bagaimana? Cantik kan istri kamu yang sekarang? Anak Sugondo memang tidak ada tandingannya, bro!" tepuk Yodi pada pundak sahabatnya, yang tersenyum lebar saat menyaksikan Aditya melihat foto Nancy sang istri.
Aditya mengangguk, dia tersenyum bahagia. Namun saat ini dia hanya mengingat Nancy adalah istrinya, tanpa mengingat semua kenangan bersama wanita itu.
"Aaagh Yodi, kenapa kepala ku sakit sekali jika mencoba mengingat istri ku?" geramnya.
Yodi kembali bertanya santai, setelah melihat Adit meringis kesakitan, "Jadi apa yang kamu ingat saat ini?"
Aditya menjawab dengan spontan, tanpa menoleh kearah Yodi, "E-e-vi ... Ya ... Hanya Evi yang aku ingat selama tidur ku ..."
__ADS_1
Yodi terdiam, wajahnya tampak menggeram, hanya bisa bergumam dalam hati, "Ngapain lo ingat Evi, goblok ...! Mendingan tidur aja deh, yang lama ..." sesalnya.