
Sebagai orang tua dan mertua, Sulastri telah menghidangkan beberapa makanan kesukaan anak menantunya serta cucu kesayangan, yang kini dibawa oleh suami tercinta untuk melakukan kegiatan olahraga seperti biasanya.
Nancy merasa sungkan, karena tidak menolong Sulastri untuk mempersiapkan semua kebutuhan sarapan mereka pagi itu ...
Perlahan Nancy meringkuk di punggung Sulastri, sedikit berbisik dengan wajah tersipu malu, "Maaf ya Bu, Neng bangunnya kesiangan. Tadi malam ketiduran sampai larut malam, sampe lupa kalau nginap di rumah mertua."
Dengan penuh kelembutan, Sulastri menjawab, "Jangan sungkan begitu. Namanya juga orang baru pulang jalan-jalan, pasti capek. Sampai tidur di sofa. Padahal Ibu sudah merapikan kamar Adit. Apa enggak suka tidur di kamar kecil hmm?" godanya.
Nancy mengerutkan keningnya, "Enggak Bu, kami memang ketiduran. Ditambah Abdi udah tidur sama Ibu, jadinya yah beginilah. Kayak orang baru pacaran," jelasnya sambil tertawa kecil.
Sulastri menghela nafas dalam, "Ya sudah, nanti Ibu ke rumah kamu. Sekarang kalian sarapan dan jangan lupa samperin teman Mas mu, Sindi. Kalau enggak salah dia itu yang sering kalian bawa ke rumah kan, Dit? Yang Mama dan Papanya meninggal karena kecelakaan di perapatan lampu merah. Kalau enggak salah, tabrakan sama mobilnya Pak Siagian, waktu itu. Papa-nya Luqman, dan meninggal di tempat."
Aditya tersedak seketika, sejujurnya dia tidak pernah mengingat tentang kematian kedua orang tua Sindi dan Papa Luqman beberapa tahun silam, karena dalam proses pendidikan militer setelah tamat sekolah.
"Uhuk, uhuk, uhuk ... emang begitu, Bu? Hmm apakah Tante Melinda tahu, Sindi ini anak Pak Lazuardi? Pantas saja dia enggak ngizinin Sindi menikah dengan Luqman. Nanti deh Adit tanya sama anak itu. Dia sudah menunggu kami sejak tadi di rumah."
Aditya melahap makanan buatan Sulastri, kemudian membersihkan sisa makanan di bibirnya dan menoleh kearah Nancy yang masih menikmati nasi goreng kampung buatan Ibu mertua.
"Hmm, Neng bawa deh. Buat di jalan, habis enak banget. Jadi sambil nungguin Mas Adit latihan, Neng bisa makan di ruang tunggu," celotehnya sambil mencari box lunch di lemari yang berada di ruang makan.
Sulastri membantu Nancy, mempersiapkan semua kebutuhan menantu kesayangannya, dan mengambilkan satu botol minuman yang tersedia didalam kulkas.
__ADS_1
"Kalau bisa, pulang dari bulan madu jangan makan di luar terus. Biar cepet hamil, dan Abdi punya adik," titahnya dengan senyuman yang mengembang lebar.
Sementara Nancy yang mendengar ucapan Sulastri hanya melirik kearah Aditya dengan wajah memerah malu.
"Jangan dulu deh, Bu. Neng masih pengen main-main sama Abdi, jangan sampai hamil. Karena usia Abdi masih delapan bulan, kasihan kalau punya adik nanti repot. Apalagi Mas Adit enggak mau nolongin, Neng. Kalau semua-semua pembantu, lebih bagus di tunda dulu!" rungutnya.
Aditya membulatkan kedua bola matanya, ia tidak menyangka bahwa sang istri akan bicara seperti itu dihadapan Sulastri ...
"Eng-enggak kok! Ada Mas bantuin kamu mandiin Abdi, main sama Abdi. Tapi kalau bersihkan pup-nya emang Mas selalu kasih sama Unik atau Ibu," belanya untuk melindungi diri sendiri.
Sulastri menggelengkan kepalanya, hanya menjawab singkat, "Rejeki jangan di tolak, yang penting kalau hamil lagi, kamu harus membantu Nancy. Jangan biarkan wanita itu sendiri! Lihat tuh Bapak kamu, pagi-pagi sudah membawa Abdi jalan-jalan dan mandi pagi. Enggak pernah mengeluh, semua dia lakukan sendiri tanpa perasaan jijik. Pup anak sendiri kok jijik sih, heran sama kamu itu, Dit!"
"Hmm iya-iya, besok Adit yang mandiin!" jawabnya singkat.
"Neng, kita jalan sekarang? Kasihan Luqman dan Sindi, sudah menunggu di rumah. Tadi Mas suruh mereka jalan deluan, Sindi enggak mau. Pusing sama cewek satu itu!"
Terlintas dalam benak Nancy untuk menggunakan mobil Aditya, daripada satu mobil dengan para pria yang akan melanjutkan kegiatannya.
"Neng bawa mobil sendiri saja, deh. Enggak usah bareng. Karena ada beberapa hal yang mau kami kerjakan. Cari baju buat para karyawan pabrik, dan hmm eee ... Bapak suruh beli baju untuk anak-anak panti asuhan. Buat acara resepsi kita, jadi kegiatan kami melebihi para Bapak-bapak. Mas jadi kasih Neng ajudan cewek? Di setujui enggak Jumaida yang nemanin Neng?" celotehnya ketika bersiap-siap.
Aditya mengangguk setuju, dia memikirkan permintaan Nancy, dan mengusap lembut punggung istrinya, "Mas setuju saja. Tapi jangan Jumaida yah, karena dia mau ikut pendidikan. Dan mungkin kembali delapan bulan lagi. Untuk seminggu ini, bolehlah ... tapi jangan bahas Luqman dihadapan Sindi dan Jumaida. Kita pura-pura tidak tahu saja, karena Mas enggak mau terlibat dalam urusan percintaan segitiga pria itu ..."
__ADS_1
Nancy mengangguk mengerti. Kemudian mencari keberadaan Abdi yang masih berjalan pagi bersama Atmaja, dengan kedua tangannya berisikan kembang gulali dan balon bergambar Spongebob.
"Eeh si kasep Mama sudah pulang jalan-jalan sama Eyang. Asik benar bisa makan kembang gula. Mama berangkat dulu, ya? Nanti kita ketemu lagi," kecupnya pada wajah Abdi yang langsung berhambur meraih selendang pashmina Nancy.
"Da-da-da-da ... Mama gi-gi-gi ... Pa-pa-pa ..."
Abdi membalas kecupan manis dari bibir Nancy, dan mengalihkan pandangannya kearah Aditya yang berdiri disamping sang istri.
"Beli apa hmm? Jangan jajan permen mulu ah, nanti gigi kamu yang empat ini hancur," tawanya menyeringai lebar, sambil mendekatkan wajahnya di kening Abdi dengan gemas.
Abdi yang tertawa geram, karena kelakuan sang Papa, mencium bibir Aditya dengan meninggalkan salivanya.
"Mamam bu-bu-bur ..."
Hanya kalimat-kalimat kecil itu yang keluar dari bibir mungil Abdi, membuat senyuman Aditya dan Nancy mengembang bahagia.
Tidak ada kata terlambat untuk memulai menerima dan sama-sama saling belajar dalam memahami pasangan itu dalam keadaan apapun juga.
Nancy mampu memberikan kata maaf untuk Aditya, hanya karena perasaan cinta yang tidak pernah pupus oleh waktu.
Akan tetapi, bagi Aditya ... Nancy lah pelabuhan terakhirnya, cinta terakhir hingga maut memisahkan untuk saat ini.
__ADS_1
Hanya waktu yang dapat menjawab, apa yang akan dilakukan Aditya jika dihadapkan kembali dengan wanita bernama Evi Sunardi suatu saat nanti, jika wanita itu telah keluar dari kurungan penjara dalam waktu lebih kurang delapan tahun lagi.