
Begitu banyak waktu yang Aditya habiskan bersama rekan kerjanya, sambil menikmati segelas teh hangat di restoran milik Aldo, sekaligus mengambil paspor dan legalitas keberangkatan mereka besok ke Netherland.
Senyumannya tampak menawan di bibir Aditya karena baru mengetahui bahwa Sindi sahabat sekolahnya pernah menjalin hubungan asmara dengan sepupu Nancy tersebut.
Aditya berdiri, dan melangkah menuju pintu restoran, hanya untuk mengantarkan sang komandan Sudirman, karena telah berhasil menyelesaikan pekerjaan dan komandan yang baik selama beberapa hari terakhir.
Sudirman menoleh kearah Aditya, sedikit merangkul pria muda nan tampan tersebut, sambil menepuk-nepuk pundak pria gagah nan serius jika bekerja, namun bodoh dalam menyikapi rumah tangganya ...
"Saya permisi ya, Dit! Sekali lagi hanya dua minggu kamu saya kasih izin cuti! Setelah itu kita akan melanjutkan perjalanan dinas, dan mungkin akan meninggalkan Indo untuk beberapa pertemuan dengan beberapa negara. Nanti kita bicarakan lagi ... Yang penting kamu harus tetap menjaga kesehatan dan stamina! Satu lagi, nama baik kamu sebagai prajurit pilihan!"
Wajah Aditya mematung sejenak, tanpa ekspresi, ketika ia mendengar dari komandannya akan melakukan dinas keluar negeri, dan meninggalkan Nancy ... "Aaagh ... Berarti aku akan pergi meninggalkan anak istri ...? Enggak-enggak ... Aku tidak akan meninggalkan Nancy lagi. Karena aku tidak bisa jauh dari dia. Bisa sakit kepala yang berkelanjutan, nih ...!"
Sudirman lagi-lagi menepuk pundak Adit, yang tengah melamun, "Dit, kamu memikirkan sesuatu?"
Aditya tersentak mendengar ucapan sang komandan, dan langsung mengalihkan pandangannya kearah lain, "Agh siap Ndan! Saya sedikit gundah saja, jika harus membicarakan tentang keberangkatan dinas keluar negeri. Karena saya harus meninggalkan Nancy bahkan Abdi anak semata wayang saya, Ndan," tawanya gugup.
Sudirman tertawa kecil, "Bisa kita atur, yang penting kamu siapkan dirimu! Jangan lengah lagi, ataupun ceroboh! Kamu tengah di sorot oleh beberapa militer asing. Bisa jadi kamu pindah kesana, kan. Untuk membawa nama negara kita ..."
Aditya mengangguk mengerti, ia hanya tersenyum tipis, sambil menelan ludahnya sendiri.
Mereka berpisah, Aditya kembali masuk ke restoran milik Aldo, hanya untuk sekedar menyapa sahabatnya tersebut ...
Tanpa basa-basi, Aditya menepuk pundak Aldo yang tengah berbincang dengan salah satu koleganya ...
"Hei ..."
__ADS_1
"Sebentar yah, Bro!"
Aldo menoleh kearah Aditya sebentar, memberi isyarat agar menunggunya di meja yang ia tunjuk.
Bergegas Adit menuju meja kosong, kembali duduk hanya untuk memeriksa handphone miliknya, mengirim pesan kepada sang istri.
[Neng ... Bisa kirimin uang buat di jalan besok, uang Mas tinggal satu juta. Kemaren habis belanja kebutuhan Abdi, serta membelikan Ibu baju ...]
Hanya pesan itu yang Adit tulis, dan langsung mengirimkan pesan pada Nancy.
Tak lama, pesan terkirim. Aditya menerima balasan dari sang istri dengan jawaban yang sangat menyayat hati seorang suami.
[Sudah, cukup segitu. Jangan pegang uang banyak-banyak. Satu juta juga cukup buat di pesawat. Toh, enggak ada belanja apa-apa selain di pesawat ...]
Kening Aditya mengerenyit masam, bergumam dalam hati ... "Hmm gini nih kalau sudah enggak percaya sama suami. Lihat yah, kalau ketemu enggak akan Mas lepasin kamu ..."
[Kejam amat sih! Enggak mungkin Mas minta bayarin sama Aldo ...]
Tidak lama menunggu, pesan Aditya kembali terbalas dari Nancy ...
[Hmm ya sudah, Neng transfer 500 ribu lagi. Enggak boleh jajan banyak-banyak, bye ...]
Sontak pernyataan Nancy, membuat dada Aditya semakin bergemuruh karena perasaan kesal, "Buset! Punya istri kejam banget, masak 500 ribu ..." geramnya meremas kuat handphone miliknya.
Tak lama Aditya hanya tertawa kecil, karena perasaan kesal, namun dengan penuh semangat Aldo menepuk bahu sahabatnya, sambil memberikan satu amplop legalitas pria gagah tersebut.
__ADS_1
"Woowh! Kayaknya sudah duduk dengan para jenderal nih. Seneng gue lihat karir lo! Jangan nakal lagi, biar lo semakin meroket, dan terbang tinggi menembus awan!" godanya.
Aditya hanya tersenyum tipis mendengar celotehan Aldo, menerima amplop yang diberikan sahabatnya, yang menurutnya hanya sekedar basa-basi saja, sambil menjawab ringan ...
"Iya, ane lagi berusaha untuk menjadi orang super tega! Eh Do, lo kok enggak cerita sama ane pernah pacaran sama Sindi? Emang kenapa lo enggak nikah sama dia, dulu? Ane baru tahu, ternyata mereka sudah tiba di Netherland, dan sekarang lagi jalan-jalan keliling negeri kincir," jelasnya.
Aldo tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Aditya yang baru mengetahui hubungannya dengan Sindi, hanya menjelaskan secara singkat, "Rencana kita mau nikah, tapi memang enggak jodoh sih. Karena dia lebih memilih untuk meninggalkan gue. Sindi ngomong secara jujur, kalau dia jatuh cinta sama bule di sana. Tapi mungkin takdir berkata lain, suaminya meninggal, anaknya kalau enggak salah usia empat bulan waktu suaminya meninggal. Tapi kita hanya sekedar say halo saja. Dia juga dekat sama Emi, sering nanya-nanya baju muslim gitu. Berhijab dia sekarang, kan? Karena setahu gue dia berhijab, dan single parents yang sangat hebat! Enggak pernah minta sama gue, dan gue juga tahu diri. Karena kita hanya mantan pacar, bukan mantan istri. Anak-anaknya pinter-pinter, gue juga sering melihat di status whatsApp Sindi," ceritanya panjang lebar.
Aditya mengangguk-angguk bak burung balam, mendengar cerita Aldo, yang ternyata memiliki prinsip untuk selalu menjaga komitmen dalam rumah tangganya, agar tidak menyakiti hati Emi sebagai istri.
"Emang Emi enggak cemburuan, Do? Kayaknya ane harus banyak belajar sama lo, nih."
Aldo melirik kearah Aditya, menatap lekat kedua bola mata sahabatnya itu hanya untuk sekedar memberikan wejangan ...
"Awal menikah, kami memang kayak Tom and Jerry. Tapi setelah gue melakukan hal itu sama Emi, gue merasa nyaman dan memutuskan untuk tidak menjalin komunikasi dengan Sindi. Walau sesungguhnya Bapak gue suka banget sama Sindi. Tapi kita biasa saja, sih. Kemaren mereka beli baju-baju muslim di Prancis, ternyata Emi membelikan untuk Sindi, hijab yang seharga tiga jutaan kalau di rupiahkan. Gue hanya diam saja, enggak peduli. Itu urusan kaum hawa, kan!" tawanya menyeringai kecil.
Aditya ternganga lebar, mendengar harga hijab seharga tiga jutaan, "Gila ... Jilbab apaan tiga jutaan. Berarti tadi dia pake hijab yang dikasih Emi dong, karena dia banggain sama ane!" ceritanya lagi.
"Bisa jadi. Gue enggak pernah mau tahu sih, karena bagi gue, Emi Ibu dari anak gue, dia baik, penyayang, bahkan sangat menyenangkan. Enggak ada salahnya kita ini nikah berdasarkan perjodohan. Walaupun awalnya keterpaksaan, tapi dengan berjalannya waktu kita bisa bahagia. Saling memahami pekerjaan, serta menjaga komitmen yang pasti!!" tawanya merangkul bahu Aditya.
Dari Aldo, Aditya banyak belajar dalam mempertahankan rumah tangga yang sama-sama di jodohkan. Dari sahabatnya itu juga, Adit mampu untuk mengerti dalam menghargai hati seorang istri.
Namun lagi-lagi, ada perasaan menyesal dihati Aditya karena telah memberikan uang dalam jumlah besar kepada cucu Sunardi, yang hingga saat ini tidak bada basa-basi ataupun ucapan terimakasih yang ia terima.
Bukan satu atau dua kali, Aditya harus menghabiskan uang tabungannya hanya untuk Evi. Tapi inilah kebodohannya yang selama ini tidak ia sadari sejak menikah dengan Nancy.
__ADS_1
"Bagaimana cara Mas, meyakinkan Neng, biar kembali percaya ...! Agh ... Bodohnya aku, Tuhan ...!"