
Suasana makan siang seketika berubah menjadi panik. Bagaimana tidak, Nancy menangis sejadi-jadinya karena melihat Sugondo pingsan tidak sadarkan diri. Sosok Sugondo yang senantiasa ada di setiap kesedihan Nancy kini tak bisa menggerakkan tubuhnya ketika mendengar kabar dari Angga.
"Pak ... Bangun Pak. Jangan tinggalin Neng ..." tangisnya dalam ruangan militer, saat petugas medis langsung membawa pria paruh baya itu dengan cepat.
Aditya seketika teringat akan kondisi mobil Nancy tadi pagi, "Sudah Adit ingatkan, kenapa Ibu enggak mendengar ucapan Adit sih, Pak?! Sekarang Abdi bagaimana, Ibu Neng bagaimana, Pak? Adit akan meminta team turun ke lokasi!"
Atmaja menggeleng, "Semua lagi ditangani pihak kepolisian."
Dengan cepat Aditya menyela ucapan Atmaja, "Ck ... Ini sabotase Pak! Jika terjadi sesuatu sama keluarga Adit, terutama Abdi dan Ibu, Adit akan tenggelamkan orang itu di kesatuan polisi militer! Tidak perlu pihak kepolisian, pasti aagh sudahlah, Bapak tahu sendiri bagaimana seragam coklat itu bekerja!" geramnya dengan rahang mengeras.
Aditya mendekati Nancy, menepuk pundak istrinya dengan sangat pelan, "Tenang Neng ... Kata Dokter Mahfud, Bapak hanya kaget, sebentar lagi siuman."
Nancy langsung merangkul pinggang Aditya yang berdiri didekatnya, kembali menangis tersedu-sedu, "Neng takut Bapak pergi, Mas. Neng belum siap kalau Bapak ninggalin Neng. Bapak belum lihat Neng bahagia dalam pernikahan kita. Neng enggak mau Bapak meninggalkan Neng ... Tuhan, jangan ambil Bapak, cuma Bapak yang ada buat Neng saat susah ..."
Aditya yang mendengar isak tangis Nancy, hanya bisa mengusap lembut punggung istrinya dengan perasaan iba, memberi ruang pada Nancy untuk meluapkan rasa takutnya.
Sesuai arahan Dokter Mahfud yang merupakan Dokter militer angkatan darat, "Pak Sugondo hanya kelelahan dalam berpikir beberapa hari terakhir, jadi dia kaget mendengar berita yang menimpa keluarganya. Tapi semua baik-baik saja, tidak ada yang serius, hanya kelelahan. Jadi tunggu saja beliau siuman ..."
Hanya itu yang terngiang-ngiang di telinga Aditya, saat di luar sana masih tampak semua bekerja untuk mencari informasi tentang kecelakaan mobil Nancy.
Seseorang mendekati Aditya yang disaksikan oleh Atmaja, namun dapat di dengar oleh Nancy ...
"Izin Ndan!"
"Ya ..."
"Kecelakaan tunggal, karena rem blong, bagian depan dan belakang mengalami kekosongan pada angin saat pengereman mendadak. Ibu mertua Komandan sementara masih dalam perawatan, karena mengalami benturan dan sudah dapat bicara. Putra Anda sudah siuman, dan sekarang masih dalam penanganan dokter spesialis anak Pramudya. Sopir baik-baik saja, hanya luka di kepala, dan masih berada di rumah sakit. Saat ini kesatuan 608 sudah berada di rumah sakit. Dan mobil sudah dalam penanganan team khusus. Kediaman Pak Sugondo juga sedang dilakukan penyelidikan, dalam waktu 24 jam kita akan mendapatkan bukti otentik, Ndan."
Aditya terdiam sejenak, matanya menyesiasati sekelilingnya mencari keberadaan orang-orang terdekatnya, seperti Luqman juga Ali serta Jumaida sahabat Nancy. Ia hanya bisa menjawab, "Baik terimakasih. Jika Pak Sugondo siuman, kamu ikut dengan saya ke Bandung. Saya akan mengajukan mu menjadi ajudan untuk saya!"
__ADS_1
"Siap Ndan. Izin!"
Aditya mengangguk, otaknya kembali bekerja, dia meraih handphone miliknya, dengan tangan kiri masih mengusap lembut punggung Nancy, yang masih memeluknya.
[Dimana lo]
[Rumah sakit. Alhamdulillah Abdi baik-baik saja. Dia pingsan karena terbentur dashboard depan, dan kepalanya benjol, lumayan juga sih. Tapi enggak apa-apa. Dokter Pramudya bilang, kalau enggak muntah, tidak ada yang fatal juga serius. Jadi gue masih di sini, nungguin Ibu mertua lo]
[Do ... Ada yang enggak beres! Lo bisa kirimin ane video saat kita mau keluar dari gerbang rumah pas test drive tadi malam, enggak? Ane curiga ini sabotase, dan waktu lo video-in buat kenangan itu, ada tiga orang pria yang lewat pake dua motor kalau enggak salah. Kirim yah ...]
[Siap Ndan! Durasi 30 menit ini, Ndan. Handphone lo pintar apa bodoh]
Aditya hanya mendengus dingin ...
[Ane sedang tidak bercanda Aldo. Please ... Ini masalah serius, ane harus mencari tahu siapa dalangnya. Kalau dapat, ane yang proses langsung]
[Siap komandan. Siap-siap]
Benar saja, begitu video dikirim Aldo, Aditya melihat dengan seksama dan mencari tahu dua plat nomor yang ia screenshot dari layar handphone miliknya.
[Cari plat nomor ini. Terimakasih]
Aditya mengirimkan foto yang ia screenshot kepada Luqman, yang memiliki banyak teman di kepolisian.
[Siap Ndan. Kami otewe Bandung. Lo tenang saja, anak, Ibu mertua dan sopir keluarga lo selamat. Biarkan kami yang bekerja, I love you Komandan Aditya Atmaja]
Aditya hanya menggelengkan kepalanya, "Disaat kayak gini, masih saja mereka ngajak bercanda. Dasar sahabat enggak ada etika ..." sungutnya.
Kembali Aditya menundukkan kepalanya, hanya untuk sekedar mengusap wajah cantik Nancy yang terlihat sembab. Perlahan tangan kekar itu mengusap wajah halus istrinya, mengecup lembut kening Nancy ...
__ADS_1
"Sudah, jangan nangis lagi ... Semua baik-baik saja. Aldo masih di rumah sakit. Mungkin bawa Emi juga, buat menemani Abdi. Kita masih menunggu Bapak siuman. Kamu tenang yah. Mas yang akan urus semua," jelasnya penuh kelembutan.
Nancy menganggukkan kepalanya dua kali, kembali menyandarkan kepalanya di bangkar ruangan khusus kesatuan militer, tanpa memikirkan apa-apa lagi. Perasaannya kembali tenang, karena memiliki orang-orang baik di sekitarnya.
Perlahan Sugondo menggerakkan tangannya, mengusap lembut kepala Nancy dengan sentuhan hangat seorang Ayah. Cinta pertama bagi seorang anak perempuan, yang tidak akan pernah bisa tergantikan oleh pria manapun ...
Nancy yang merasakan tangan hangat Sugondo menyentuh kepalanya, langsung mengangkat wajah cantiknya hanya untuk meyakinkan bahwa sang Ayah baik-baik saja, sesuai yang di sampaikan sang suami tercinta.
"Bapak ..."
Sugondo mengerjabkan matanya, berkali-kali hanya untuk melawan rasa kantuk akibat obat yang di suntikkan oleh Dokter Mahfud pada tangannya. Suntik sebagai penetralisir aliran darah agar tidak tersumbat ataupun pecah, namun mengakibatkan rasa kantuk yang sangat luar biasa.
"Ba-ba-bagaimana cucu Bapak, Neng? Apakah Ibu sama Abdi baik-baik saja?"
Nancy mengangguk, dia mendekatkan wajahnya pada wajah Sugondo sambil menangis memeluk tubuh sang Ayah ...
"Bapak jangan pergi tinggalkan Neng. Neng belum siap kehilangan Bapak. Nanti kalau Neng ada masalah, siapa yang bantuin ..." rengeknya manja dalam dekapan hangat Sugondo.
Sugondo menepuk-nepuk bahu Nancy dengan pelan, "Bapak baik-baik saja Neng. Hanya kaget, dan Bapak teringat pesan Mang Nanang. Katanya jangan pakai mobil kamu, tapi sama-sama lupa untuk ngasih tahu sama Ibu. Tapi kata Nanang, Mas Adit sudah ngomong sama Ibu. Makanya Bapak enggak inget lagi ..." jelasnya dengan suara berat.
Nancy mengangguk, "Jadi Bapak sudah bisa gerak, kita pulang ke Bandung ... Neng pengen ketemu Abdi, Pak. Kasihan ... Pasti dia butuh Neng."
Sugondo menganggukkan kepalanya, berusaha untuk duduk, walau masih sempoyongan.
Tentu Atmaja selaku sahabat sekaligus besannya, melihat Sugondo berusaha untuk duduk, berlari cepat untuk menghampiri serta membantu pria itu agar tidak memberatkan sang menantu.
"Terimakasih Mas ... Nak Adit mana?" tanya Sugondo saat menerima tangan Atmaja.
"Lagi bicara sama Nanang. Ternyata dari awal sudah di ingatkan oleh Adit. Tapi istri mu tidak mengacuhkan. Syukurnya semua baik-baik saja, kalau celaka sampai meninggal, bagaimana?"
__ADS_1
Sugondo hanya bisa menahan diri, agar tidak menjadi beban pikiran, hanya bisa menjawab, "Itu namanya takdir, Mas ..."
"Hmm ..."