Merebut Hati Suami Mayor

Merebut Hati Suami Mayor
Rasain!


__ADS_3

Kedua keluarga Aditya juga Nancy, masih duduk diruang tamu, memikirkan bagaimana caranya agar Adit tidak mendapatkan hukuman atas perbuatannya di kesatuan militer yang terletak di Jakarta.


Sementara didalam kamar Aditya tak kuasa untuk menyuapkan makanannya, karena tak mampu melihat wajah sang istri yang sudah tidak bisa sabar memuntahkan seluruh isi hati dan tampak berbalik 180 derajat dari dalam awal bertemu di depan supermarket. Tak ada ketenangan, tidak ada kedamaian, semua tersirat dari tatapan Nancy yang memerah.


PLAAK ...!


"Aaagh ... Neng!"


"Sakit?"


Nancy melayangkan satu tamparan keras ke wajah Aditya karena merasa penat melihat wajah suami sendiri. Tangan kanan bergetar hebat, matanya membulat seperti akan mencekik Aditya Atmaja.


Aditya meletakkan piring yang ada ditangannya, meraih tangan Nancy yang berdiri dihadapannya. Pipinya terasa sangat panas, dan telinganya semakin mendengung karena tamparan istrinya tepat mengenai rahang bawah telinga.


Nancy berkacak pinggang, menantang Aditya yang tampak semakin merasa bersalah ...


"Apa yang Mas lakukan di belakang Neng? Tuhan itu tidak tidur Mas. Sekuat-kuatnya Mas menutupi bangkai, akhirnya tercium juga, kan? Sekarang apa? Bagaimana ...? Apa yang mau Mas sampaikan sama, Neng? Kenapa Mas tega menyakiti hati, Neng? Mas berzinah sama dia? Merasa mampu? Adil? Tanggung jawab hmm!" geramnya tak kuasa membendung amarah.


"Neng, dengarkan omongan Mas dulu!"


"Apa? Mau minta maaf? Mau bilang kalau wanita itu yang terbaik! Mau ngasih tahu kalau wanita itu yang paling hebat dari, Neng? Sama dengan Neng? Neng pikir selera Mas tinggi, ternyata hanya sisa, dan tidak ada kelasnya! Neng jijik sama, Mas! Tahu! Mungkin kalau kita bertahan saat ini karena permintaan keluarga, bukan karena ingin, Neng! Mas jahat! Selama ini Neng setia sama Mas, tapi Mas berselingkuh, menikah bahkan tidak menghargai Neng sebagai istri mu Aditya Atmaja!" teriaknya dengan suara bergetar.


Aditya berdiri dari duduknya, tersulut emosi karena tuduhan istrinya yang tidak ia sangka-sangka, "Dengar kan Mas, Neng!" hardiknya.


Nancy tertawa kecil, menyunggingkan senyuman lirih, "Apa! Apa yang harus Neng dengar? Apa yang harus Neng dengarkan dengan baik tentang mu, ternyata Mas menikahi wanita sampah, yang selama ini Mas bela!"


Nancy mengacungkan jari telunjuknya, "Dengar Aditya Atmaja, sampai kapanpun, Neng tidak akan pernah memaafkan pernikahan mu! Mas suami pengecut yang pernah Neng temui, dan paling terburuk dalam hidup Neng juga Abdi!!"


"Mas tidur dengan dia, terus datang kepelukan Neng! Apa kurang Neng melayani mu! Sampai-sampai kamu nikahi wanita laknat itu! Kamu pikir, laki-laki hanya kamu saja. Beberapa jam lalu, Neng masih berpikir baik, waras, dan Neng hilangkan semua pikiran negatif tentang mu, tapi kali ini melihat wajahmu, aku sudah tidak bernafsu! Aku capek Dit, aku capek berjuang sendiri mempertahankan rumah tangga ini. Aku Nancy meminta mu untuk menceraikan aku! Aku telah gagal merebut hati mu, aku telah gagal merebut hati suami ku sendiri, Aditya. Silahkan pergi, tinggalkan kediaman ku! Karena aku tidak ingin melihat wajah mu! Terimakasih telah menjadi suamiku selama satu tahun, dan jangan pernah datang ataupun menemui anak ku, karena aku tidak membutuhkan suami seperti mu! Aku menikah bukan untuk menangis seperti ini!" teriaknya semakin frustasi.


Nancy beranjak ke pintu kamar, membuka pintu itu dengan lebar, karena kali ini dia tidak ingin mendengar apapun pembelaan diri dari Aditya.

__ADS_1


Aditya tampak kebingungan, bahkan semakin kalut, karena beberapa pasang mata melirik kearah kamar mereka, "Neng, Mas sudah menceraikan dia talak tiga!" tegasnya.


Nancy tertawa kecil, "Bagus, sekarang silahkan pergi!"


"Enggak Neng!"


"Pergi! Neng tidak akan pernah bisa memaafkan Mas kali ini! Pergi!!! Pergi!!! PERGI!!"


Ningsih yang mengetahui bagaimana putrinya, menjemput Aditya agar tidak menambah masalah dengan Nancy.


"Yuk ... Biarkan Nancy tenang dulu! Kamu sabar yah?" usap Ningsih pada Aditya, yang masih memohon pada Nancy.


Sulastri menghampiri Aditya, menarik tangan putra kesayangannya, "Berapa kali ibu ..."


Suara Sulastri seketika terhenti saat mendengar suara bantingan pintu yang sangat keras dari kamar utama sang menantu ...


BRAAK ...!


PRANG ... PRANG ...!


Ningsih menghela nafas panjang, melirik kearah Sugondo, hanya tersenyum garing, "Yuk kita keluar saja. Biar Nancy meluapkan amarahnya. Jika dia sudah begitu, biasanya besok sudah agak tenang, biarkan dulu. Pelan-pelan yah jeng. Jangan dipaksa. Nanti Bapaknya yang ngomong sama dia. Sekarang Nak Adit pulang, yah?"


Aditya masih berharap memohon pada Ningsih, "Bu ... Kasih Adit kesempatan! Adit mohon! Adit salah, tapi Adit sudah menceraikan wanita itu talak tiga, Bu! Tolong jangan gugat Adit di kesatuan! Tolong Bu!"


Atmaja yang sejak tadi menahan diri, menyeret anaknya untuk meninggalkan kediaman istrinya.


"Pulang!!" geramnya dengan mata melotot.


Atmaja membawa anak dan istrinya pulang ke kediaman mereka, meninggalkan besan yang sudah berdiri, serta menantu yang sudah terdengar tenang.


Sugondo berdiri dari duduknya, tersenyum lebar, "Dia pikir, semudah itu minta maaf!"

__ADS_1


Ningsih mendelik tajam, "Pak!"


"Apa! Jangan sok bijak, kasih saran kamu kuat, kamu kuat, tuh buktinya apa? Emang bisa nerima kenyataan, ngelihat video di tonton ribuan orang, piral, terus minta maaf, siap masalah sampai di situ! Enak bener hidupnya! Bagus Nancy begitu! Biar menantu mu itu tahu, bagaimana rasanya kehilangan istri! Rasain! Rasain!"


"Pak! Aditya itu menantu kita!"


"Rasain!"


Sesal Sugondo mendengus, berlalu masuk kedalam kamar untuk menemani Abdi cucu kesayangannya.


Sementara Ningsih hanya termenung sendiri, mengusap dada, menutup pintu ruang tamu, hanya bisa berdoa dalam hati ...


"Tuhan ... Lembut kan hati anak ku! Bukakan hati menantu ku!" ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


Ningsih berlalu menuju kamar putrinya yang ternyata tidak terkunci. Perlahan Ningsih membuka pintu kamar, melihat putrinya yang sudah terbalut handuk di tubuhnya.


Kedua-nya tidak banyak bicara, mereka hanya saling tersenyum, melihat serpihan piring dan perkakas yang berserakan di lantai kamar putrinya.


Nancy mengambil baju piyama, melirik kearah Ningsih hanya untuk sekedar menyapa sedikit, "Abdi tidur sama Bapak, Bu?"


Ningsih mengangguk pelan, merebahkan tubuhnya di ranjang kingsize kamar putri kesayangan.


"Ibu capek Neng. Ibu pikir kamu bakal mengalah, ternyata ibu salah."


Nancy hanya menggelengkan kepalanya, "Hmm ... Lebih baik Neng menghindari dulu Bu, yang penting sudah menyatakan isi hati Neng selama ini! Daripada harus dipendam. Neng sudah capek, jadi biar Bapak saja yang urus. Biar Mas Adit yang menyelesaikan hukumannya. Kali aja anak Sunardi mau menanggung biaya yang dibilang Bapak itu!" sesalnya.


Ningsih hanya bisa mendengar umpatan Nancy, yang memang memiliki watak keras jika sudah tidak dihargai seperti saat ini.


Sementara Aditya di kediaman keluarganya masih memohon pada Atmaja ...


"Pak, tolong Adit! Jangan biarkan Nancy menceraikan Adit, Pak! Karena ini akan menjadi petaka baru buat Adit! Adit tidak akan pernah melepaskan Nancy, Pak! Sampai kapanpun ..."

__ADS_1


Atmaja hanya bisa geleng-geleng kepala, sambil berkata, "Terlambat! Nasi sudah jadi bubur!" geramnya.


Aditya yang merasa tidak mendapat perlakuan baik dari Atmaja, bersujud dikaki Sulastri, "Tolong Bu! Jangan biarkan Nancy menggugat Adit, Bu!" tangisnya pecah tak mampu terbendung lagi.


__ADS_2