
Tak menunggu lama, Aldo membiarkan Aditya untuk membersihkan diri dikediamannya, dan memberikan baju kaos yang sesuai dengan tubuh sispack sahabatnya, karena mereka memang memiliki tubuh dan tinggi yang sama.
Aditya menikmati hidangan makan malam dari tangan sahabatnya, membuat ia berdecak kagum melihat kepiawaian Aldo dalam meracik makanan praktis yang sangat lezat.
Aldo bertanya pada Adit, "Bagaimana, enak enggak masakan rumahan gue?" godanya.
Aditya menautkan kedua alisnya, mengangguk membenarkan bahwa masakan sahabatnya sangat cocok di lidahnya.
"Good, setidaknya saat ane baikkan dengan Nancy, ane akan belajar menjadi suami siaga. Kebetulan ane cuti dua bulan setelah persidangan, dan ane akan membawa Nancy pergi jauh meninggalkan kota ini untuk sementara waktu. Tapi yah gitu, uang ane habis gara-gara wanita laknat itu. Banyak banget mintanya, untung saja ane langsung menceraikan talak tiga, walau sampai saat ini Nancy belum percaya sama ane," ceritanya.
Aldo menyunggingkan senyumnya, dia tertawa kecil, mendengar celotehan Aditya yang sangat tidak tahu diri menurutnya.
"Sorry yah bro! Ane belum menepati janji yang dulu saat lo baru nikah sama Nancy untuk mobil sesuai pembicaraan kita waktu itu. Tapi ane sudah janji, dan sekarang ane tanya serius sama lo, mau uang cash atau mobil? Sebenarnya lo enggak perlu pakai mobil dinas juga keren kok! Mobil Nancy ada dua kan digarasi? Lo nya saja yang tidak pandai untuk menikmati keindahan pernikahan atas perjodohan. Sebenarnya kalau lo menikmati, lo sudah enak ... Punya rumah mewah, besarin Abdi, dan menjadi suami yang baik untuk Nancy. Pasti pangkat lo juga naik menjadi kolonel bintang! Kesalahannya ... Lo tidak bersyukur atas apa yang ingin dimiliki orang lain diluar sana. Gue yakin 100%, jika lo pisah sama Nancy, berbondong-bondong orang datang kerumah Pak Sugondo untuk melamar putri kesayangannya! Apa lo mau seperti itu? Penyesalan itu selalu datang terlambat, Dit. Kalau mau datang didepan, lo jadi penghalang banteng saja!" gelaknya.
Aditya tersenyum lirih, kali ini dia bingung harus memulai dari mana untuk meminta maaf pada Nancy. Perlahan matanya terpejam, hanya untuk sekedar mengenang masa indah bersama sang istri, yang memang tidak begitu banyak ia berikan kebahagiaan. Justru Aditya selalu menorehkan luka selama pernikahannya.
"Ane mesti mulai dari mana, Do! Nancy sangat keras kepala, dan ane baru sadar saat ini. Dia wanita yang baik didepan umum, namun memiliki watak keras jika berdua. Sama sekali dia tidak ingin mengalah sama ane saat ini ..." rundungnya dengan wajah menekuk merah.
Aldo menepuk-nepuk pundak sahabatnya, "Lo tahu, dia sudah memberikan syarat gampang banget sama lo! Cobalah, lo mengatakan pada Evi, bahwa Nancy berhasil merebut hati lo! Dan sampai kapanpun kalian tidak akan pernah terpisahkan! Gue yakin, pasti Nancy akan memeluk lo dan memberikan semua apa yang lo mau, just simple, Dit!"
Aditya menghela nafas panjang, mengusap lembut kepala plontosnya, dengan mata berkaca-kaca, dia hanya bisa berkata sambil tersenyum, "Akan ane coba ..."
PLAAK ...!
Aldo langsung menampar kasar wajah pria yang masih duduk disampingnya itu ...
"Jangan buang-buang waktu! Evi itu jallang, janda bisa dipake sama semua orang. Masak lo mau menghabiskan waktu untuk memikirkan perasaan dia! Apa lo enggak sayang, berapa banyak waktu lo terbuang hanya untuk memikirkan perasaan wanita seperti Evi? Mending ni yah ... Duit yang lo punya kemaren itu, lo kasih sama panti asuhan, atau sama Abdi, anak butuh biaya bro! Walau sebenarnya lo sudah aman tidak mesti bertahun-tahun untuk memulai kehidupan baru setelah menikah. Harus merintis dari awal, hidup di barak kesatuan, belum mikirin baju anak, celotehan istri, dengan gaji pas-pasan. Lo seharusnya mikir sampai kesana Aditya Atmaja!" geramnya.
Akan tetapi Aditya hanya bisa tersenyum lirih menahan rasa malu dan sesak di dadanya. Bagaimana mungkin selama dia kembali dari medan perang timur tengah, tidak pernah memberikan kebahagiaan yang sempurna pada Nancy.
Aditya bertanya dengan wajah memelas merah, "Ane mesti gimana, Do!"
__ADS_1
Aldo meraih handphone miliknya, menghubungi Nancy dihadapan Aditya ...
"Wait ..." ucapnya, menyalakan speaker aktif.
[Ya Aa ...]
[Neng ada acara apa malam ini? Bisa kita ketemu di club']
Terdengar suara Nancy mengehela nafas dalam-dalam juga berat, mengisyaratkan bahwa wanita itu tidak menyukai dunia malam.
[Hmm mau ngapain? Pasti Mas Adit, kan]
[Ya ho oh atuh! Enggak mungkin masalah Bethrand atau Gibran]
Tawa Aldo, meringis kesakitan karena pukulan Aditya bertubi-tubi di lengannya.
[Apaan sih! Kayak enggak ada pembahasan lain saja. Kalau Neng direbut Bethrand, entar Mas Adit Neng bagaimana? Neng tuh masih cinta, dan enggak pernah tergantikan oleh siapapun! Apalagi mister itu sudah menikah, sama kayak Aa ...]
[Hmm kalau Gibran?]
Nancy tertawa terbahak-bahak mendengar celotehan Aldo ...
[Emang tuh bule mau sama Neng? Kalau mau ya udah atuh! Lebih baik kayaknya]
Mereka berdua tertawa terbahak-bahak hanya untuk saling menghibur, namun wajah Aditya merah padam, dan dadanya semakin bergemuruh ingin meremas mulut sang istri jika bertemu.
[Makanya, kita selesaikan dulu satu-satu. Jadi nanti Neng tinggal pilih, mayor mana yang mau Neng rebut hatinya. Atau langsung saja anaknya Pak Solihin, dia kan seumuran sama Neng. Siapa tuh? Lupa Aa. Kemaren Angga cerita, kalau dokter spesialis anak itu mampir ke pabrik mencari, Neng]
[Yang mana? Neng enggak suka sama Dokter, Aa. Neng cukup merebut hati yang sudah sah saja. Kerena Bapak enggak ngizinin buat pacaran]
Tawa Nancy mengejek Aldo diseberang sana.
__ADS_1
Aldo semakin tertarik untuk menggoda Nancy ...
[Tapi sayang yah, Neng. Yang sudah sah, malah enggak mau mengakui]
Lagi-lagi Nancy menarik nafas dalam-dalam, kemudian menjelaskan isi hatinya ...
[Entahlah Aa. Neng juga sekarang sudah tidak mau berharap lagi sama Mas Adit. Apalagi setelah dia menikah dengan Evi, Neng sulit untuk memaafkan. Apa sih yang mau Mas Adit cari dari Evi? Mas Adit itu sudah terlalu sering melukai perasaan Nancy, Aa. Sejujurnya Ibu sama Bapak sudah sering sekali mengingatkan, jangan berharap, jangan berharap. Apalagi sama manusia, berharap itu sama Gusti Allah. Makanya sekarang Neng lebih menikmati saja. Kalau Mas Adit mau pisah hayuk, enggak ya usaha dong, buat Neng. Selama ini Neng sudah menunjukkan rasa cinta sama dia, tapi dianya aja malah suka traveling kesana kemari, tanpa memikirkan anak dan istri. Saat ini biarin begini dulu, nanti juga ada jalan keluarnya. Apalagi setelah persidangan Mas Adit minggu depan, Neng sama Prisil dan Emi mau jalan-jalan ke luar negeri. Kan Aa sudah kasih izin. Mumpung Abdi masih kecil, jadi bisa ditinggal sama Ibu dan Bapak. Jadi para pria silahkan tinggal, cari uang yang banyak buat istri kalian shopping ... Oke]
Aditya ternganga lebar, mendengar rencana istrinya, tanpa mau menghiraukan perasaannya sama sekali.
"Njiir ... Ane bagaimana ...!" ucapnya tanpa suara, mengepal kuat kedua tangannya, dengan rahang mengeras menahan rasa kesal.
Aldo mengangguk dua kali, melanjutkan pembicaraannya dengan Nancy.
[Jadi malam ini bisa enggak? Entar Aa kasih room presiden suite deh, buat Neng. Kita have fun, kalau mau, Aa menghubungi Bethrand nih, minta ajak Prisil. Sekalian ngajak Emi]
[Oke ... Satu jam lagi yah Aa! Neng ngomong dulu sama Bapak. Karena Neng malam ini nginap di rumah Bapak, dan nanti Neng minta antar sopir saja]
[Siap-siap ... Makasih yah Neng, salam buat Ibu dan Bapak]
[Ya ... Bye Aa]
Aldo menggeser layar merah, mengakhiri panggilannya dengan Nancy. Mengusap wajahnya, menoleh kearah Aditya.
"Bagaimana? Lo selesaikan urusan lo! Kita-kita menemani lo bulan madu monyet! Lo cari sahabat kayak gue, enggak akan nemu! Tahu lo! Yuuk ..." Aldo berdiri dari duduknya, bergegas berjalan menuju garasi mobil.
Aditya hanya bisa pasrah, setidaknya dia merasa lega, karena memiliki sahabat sebaik Aldo. Walau sepupu istrinya, namun bisa propesional dalam melakukan apapun.
Lagi-lagi Aditya bertanya pada Aldo, "Prisil siapa Do?"
Aldo menautkan kedua alisnya, "Calon kakak madu bini lo, kalau Nancy jadi bini kedua Bethrand, setan!" sesalnya.
__ADS_1
Aditya mendengus dingin, "Serius ane, siapa dia?"
"Iigh, lo repot yah ternyata! Apa lo enggak dengar tadi gue ngomong sama Nancy! Ayo jalan nanti juga bakal tahu, Prisil itu siapa!" tawanya.