Merebut Hati Suami Mayor

Merebut Hati Suami Mayor
Nyatakan cinta ...


__ADS_3

Mereka tiba di club' milik Aldo, tentu saja dengan lampu gemerlap yang menyala remang-remang, di iringi dentuman musik yang sangat memekakkan gendang telinga, bagi yang baru pertama kali berada di sana. Sehingga tidak menunjukkan bahwa pemiliknya tengah menggandeng tangan istrinya, agar tidak diganggu oleh para pria asing yang tengah menikmati malam di sana.


Malam itu mereka ingin menikmati malam, untuk menemani Aditya yang masih berada dalam kegalauan hati.


Cukup lama mereka menunggu Nancy agar segera muncul di sana, karena merasa sangat kasihan melihat Aditya yang masih menekukkan wajah tampannya.


Akan tetapi, ketika mereka tengah asik menikmati malam, dengan pasangan masing-masing, Nancy muncul dengan dikawal oleh Nanang saat masuk kedalam club' agar tidak diganggu oleh para pengunjung iseng.


Tentu saja pemandangan itu membuat gejolak Dida yang tengah duduk sangat jauh dari Aditya merasa terkejut melihat Nancy hadir di sana. Pemikiran nakalnya bekerja dengan sangat baik, karena tidak melihat kehadiran Aditya berada ditempat yang sama, namun gerak-geriknya dapat di baca oleh Gibran yang tengah berdiri meja bartender.


Dida bergumam dalam hati, "Hmm ... Ternyata kamu nakal juga yah, Nancy! Kelihatannya saja anak alim, cewek rumahan, ternyata suka berkunjung kesini?" tawanya menyeringai kecil.


Saat Nanang telah memastikan anak majikannya bertemu dengan Aldo, dan melihat ada Aditya sang suami berada di sana, pria yang sudah mengabdikan diri lebih dari 20 tahun dengan Keluarga Sugondo itu berlalu meninggalkan club' tanpa mau berbasa-basi dengan pengunjung lainnya.


Seketika Komandan Dida semakin liar menyesiasati keberadaan Nancy yang ternyata telah duduk disamping Aditya. Tentu saja pemandangan Aditya dan Nancy ada di sana membuat sang komandan itu berpikir sejenak, kemudian mengundang jallangnya mendatangi tempat itu.


Nancy yang masih tampak kaku, hanya terdiam menyandarkan tubuhnya disofa melihat para pengunjung militer asing.


Gibran menghampiri Bethrand yang duduk agak jauh dari temannya itu, membisikkan sesuatu, kemudian menoleh kearah Nancy dan Aditya. Pria bule itu mengangguk, sambil menarik tangan Prisil, untuk pergi kelantai dua.


Aldo yang sudah mempersiapkan semua dengan baik, untuk sahabatnya, memberi ruang pada Bethrand dan Aditya untuk naik kelantai dua lebih dulu, tentu dengan membawa Emi sang istri bersama mereka.


Gibran juga memberitahu pada Aldo, bahwa Dida sejak tadi memperhatikan Nancy istri Aditya Atmaja.


"Gila komandan Aditya, ternyata matanya liar! Pasti dia berpikir bahwa saat ini sepupu kamu sudah berpisah dari suaminya," bisiknya.


Aldo mengangguk mengerti maksud arah pembicaraan Gibran. Kali ini, mereka hanya ingin melindungi keluarganya dari orang-orang iseng yang ternyata tampak bahagia dengan kasus menimpa Aditya Atmaja.


Entahlah, malam itu ... Club' milik Aldo dipenuhi oleh angkatan yang tidak tahu datang dari mana. Tampak satu team Aditya, Luqman dan Ali berada disana, tentu membawa Jumaida bersama mereka.


"Good night everyone... Tonight we will have a party, and we have our beautiful artist ... Gisel."


(Selamat malam semuanya ... Malam ini kita akan berpesta, dan kita kedatangan artis cantik kita ... Gisel)


Sontak pernyataan MC yang menyebutkan nama Gisel, membuat para pengunjung bertepuk tangan, dan semakin ramai berada di lantai dansa. Dentuman musik semakin keras didampingi DJ yang senantiasa mengisi acara disana.


Aldo kembali menghampiri Gibran, berbisik ketelinga rekan Bethrand, hanya untuk memastikan, "Kawal gerak-gerik pria itu! Jika tampak kasak-kusuk, rekam dan kirim sama saya. Aku dilantai atas! Have fun yah ..."


Gibran mengacungkan jempolnya, mengisyaratkan mengerti pada perintah Aldo.

__ADS_1


Aldo naik kelantai dua, yang menyediakan beberapa private room untuk mereka yang ingin menghabiskan waktu dengan suasana yang berbeda. Tentu dengan penjagaan yang ketat, dan tidak akan masuk dalam list jika ada orang iseng yang ingin membuat rusuh di sana.


Saat membuka pintu room, yang menyediakan tempat karaoke, mata Aldo melihat dua sepasang suami istri itu masih memilih diam tanpa mau bicara. Nancy masih sibuk dengan handphone pintarnya, sementara Aditya sibuk dengan mikrofon dengan nyanyian sendunya.


Patah hati, hanya lagu-lagu Ari Lasso yang mengisi kehampaan seorang Aditya Atmaja ...


"Entah dimana ... Dirimu berada ... Hampa terasa, hidup ku, tanpa dirimu ... Apakah disana, kau rindukan aku ... Seperti diriku, yang selalu merindukan mu ... Selalu merindukan mu ..."


Emi hanya tertawa kecil mendengar nyanyian hati Aditya, membuat Nancy ikut tersenyum geli.


Namun lagi-lagi Bethrand yang memang kesal sama Aditya Atmaja, meracuni sahabat Aldo itu dengan setengah pil laknat yang didapatkannya dari Gibran saat akan masuk kedalam club'.


Sontak perbuatan itu, kali yang kedua Aditya terima, karena memang niat mereka untuk mengetahui isi hati pria egois itu. Tentu tanpa sepengetahuan para kaum hawa, membuat Aldo hanya bisa menahan tawanya, melirik kearah Nancy yang masih disibukkan dengan handphone miliknya.


Perlahan Aldo mendekati Nancy, merampas handphone sepupunya, melirik kearah Aditya.


Nancy membulatkan kedua bola matanya, "Neng malas, Aa."


Aldo mengusap lembut kepala Nancy, membisikkan sesuatu ketelinga sepupunya itu, "Temani dulu, mengalah untuk menang!"


Bethrand yang menikmati dunianya sendiri, sambil memeluk Prisil sang istri, dengan musik sendu yang sengaja mereka ganti dengan alunan dentuman yang menggetarkan jantung di saat malam, membuat mereka menikmati keindahan malam yang sangat kompak dan damai.


Tak selang berapa lama, reaksi tubuh Aditya semakin berbeda. Ia melihat Nancy seperti memandang seorang permaisuri yang sangat ia rindukan.


Perlahan tangannya mendekap erat tubuh ramping istrinya, yang terasa semakin menggemaskan, membuat Aditya tak kuasa ingin mencium bibir mungil Nancy.


Dosis yang berbeda diberikan Bethrand, tidak sama saat pertama kali Aldo memberikan barang haram ketika awal Aditya menikah. Pria bule itu sengaja meracik hanya untuk menikmati malam, ditemani pasangan halal mereka, tanpa memikirkan masalah rumah tangga yang tengah menerpa.


Namun sangat berbeda dengan Aditya, dia justru tidak ingin jauh dari Nancy, berkali-kali istrinya menolak agar mereka tidak berciuman, dengan cepat Aditya menggendong tubuh istrinya, untuk masuk kedalam kamar yang ada dibalik partisi tersembunyi.


Tak ada perlawanan yang berarti, karena Nancy tidak ingin suaminya malu dihadapan rekan bisnis juga sepupu sekaligus sahabat Aditya sehingga mengikuti semua keinginan sang suami.


Siapa sangka, ketika rekan mereka menganggap bahwa Nancy tengah menikmati Aditya yang dilanda gairah. Didalam kamar empat kali lima itu, justru di gigit habis-habisan oleh istrinya sendiri ...


"Aaauugh Neng! Sakit!" Pekik Adit saat merasakan bibir dan lehernya digigit kuat oleh Nancy.


Nancy menatap nyalang pada Aditya, "Emang enak!"


"Please Neng ... Balas ciuman Mas!" mohon nya dengan wajah memelas.

__ADS_1


"Ogah! Neng enggak mau!"


Aditya memeluk erat tubuh Nancy yang masih berdiri kaku, mencium aroma wangi yang menyeruak dihidung nya, membuat pria itu lagi-lagi memohon pada Nancy dengan bersimpuh di paha wanita yang telah memberikannya seorang putra.


"Mas minta maaf, Neng. Mas mohon maaf, kembalikan Nancy Mas yang dulu, yang manis, manut bahkan sangat menyenangkan juga lembut. Please Neng ..." tiba-tiba Aditya menangis sejadi-jadinya dikaki sang istri, tanpa memikirkan perasaan malu atau gengsi.


Nancy terdiam, wajahnya seketika berubah menjadi lebih sedih, dia tidak kuat melihat suaminya seperti ini, hanya bisa bertanya singkat ...


"Dengan syarat?"


Aditya mengangguk setuju, kali ini dia dapat mengontrol dirinya, karena Bethrand memberikan dosis yang bisa dikatakan sangat soft atau lebih rendah.


"Mas janji, kita akan ketemu sama Evi, dan Mas akan bicara sama dia, bahwa Mas mencintai Neng! Mas sangat sayang sama Neng. Mas kangen sama Abdi, Neng ..." isaknya lagi dengan suara bergetar.


"Sama Bapak dan Ibu juga?"


Aditya mengangguk setuju. Kali ini dia tidak ingin kehilangan wanita cantik yang sangat baik dalam merawat dan selalu setia menjaga kehormatannya sebagai istri prajurit.


Nancy mengehela nafas lega, dia tidak ingin menangis disana, dia hanya ingin menikmati malam ini dengan suasana yang berbeda.


"Oke ... Kalau begitu kita kebawah, Mas katakan pada MC dibawah untuk mengatakan bahwa Mas mencintai Neng ...! Mas setuju?"


Aditya mengangguk patuh, dia benar-benar ingin berubah menjadi lebih baik, dan mencintai Nancy, menerima wanita itu sepenuh hatinya.


Nancy meraih tas kecil yang ada diranjang kingsize, merogoh handphone untuk menghubungi Aldo ...


[Hmm ...]


[Siapkan presiden suite room hotel bintang lima sesuai janji Aa, dan beri ruang buat Mas Adit untuk mengungkapkan perasaannya sama Neng di lantai bawah ...]


Aditya mendongakkan kepalanya, tidak menyangka bahwa permintaan istrinya sangat mengejutkan pada Aldo ...


Aldo yang mendengar penuturan sepupunya dari balik partisi tersenyum sumringah, menoleh kearah Bethrand sambil berkata ...


"Bro ... Kita berhasil, saatnya nyatakan cinta!" tawanya terbahak-bahak menunjuk kearah ruangan yang masih tertutup rapat oleh partisi.


Bethrand tertawa, memeluk Prisil, yang sejak tadi ada disampingnya ...


"Ini baru seru ... Pasti semua orang akan terkejut mendengar pernyataan Aditya Atmaja!"

__ADS_1


__ADS_2