Merebut Hati Suami Mayor

Merebut Hati Suami Mayor
Darah ...


__ADS_3

Aditya Atmaja, pria berpangkat mayor itu masih tak menyangka, bahwa ia akan melihat dengan mata kepalanya sendiri kegilaan Evi sang kekasih hatinya beberapa waktu lalu.


Sakit namun tak berdarah, itu yang dirasakan oleh Aditya saat berjalan tertatih menuju kediaman kedua orangtuanya Atmaja. Air mata kesedihan mengalir membasahi wajahnya, membuat ia teringat akan anaknya bersama Nancy, yang dikatakan Evi ...


"Apakah itu anak ku? Sementara saat aku meninggalkan Nancy, kami baru saja menikah. Tidak mungkin secepat itu dia akan mengandung, aku tidak pernah melakukannya, dan tidak ada pernah ada darah malam pertama ...! Aaagh ... Wanita semua sama saja! Murahan, bahkan sangat menjijikkan!" sesalnya saat tiba didepan rumah keluarganya.


Suasana tampak sepi, tidak ada siapapun dari balik jendela, saat Adit menempelkan wajahnya di kaca dekat pintu utama.


Adit terus memanggil dari luar, "Bu, Ibu, Adit pulang!" teriaknya.


Namun tak ada satu jawabanpun yang dia dengar dari arah dalam.


"Aaagh ... Kemana mereka? Bapak sama Ibu sama saja, tidak pernah ada di rumah!" geramnya.


Adit merebahkan tubuhnya di kursi besi yang berada di teras, menatap langit-langit plafon teras kediaman orangtuanya, yang tampak baru di perbaiki dan terlihat sangat rapi.


Rumah lama, namun masih terlihat rapi dan bersih itu juga membuat decak kagum dari seorang Aditya. Walau rumah itu tak semewah kediaman mertuanya, namun memberi kenyamanan yang tidak tertandingi.


Di rumah itu Adit tumbuh, menjadi sosok pria yang dingin dan kaku, karena selalu di tinggal dinas oleh Atmaja.


Adit terkenang masa sekolahnya saat di Penabur dulu, ia selalu di juluki sebagai pria kaku. Tidak bersahabat, bahkan hampir sama dengan Nancy yang lebih menutup diri. Teman mereka hanya itu-itu saja, tidak banyak.


Aditya hanya bisa bersahabat dengan Bambang, dan Luqman, sementara Nancy hanya dekat dengan Jumaida yang biasa di sapa Ijum kala itu ...


"Jum ..."


"Hmm ... Nih uang, kamu kasih sama Mas Adit. Atau kamu bayarin sama ibu kantin, apa saja yang mereka makan!" tegas Nancy, sambil memeluk tubuh sahabatnya yang masih duduk di kursi kala itu.


Tanpa menunggu lama, Ijum berhamburan keluar kelas, untuk melakukan semua perintah Nancy, wanita lugu nan terlihat sangat cantik namun masih kekanak-kanakan yang mengagumi Aditya Atmaja dalam diam.


Bambang yang melihat kehadiran Ijum yang akan memberikan uang kepada Adit, langsung merampas uang pecahan 20 ribu itu dari tangan Jumaida.


"Hei ... Kembalikan!" pekik Ijum saat melihat Bambang berlari memutari meja kantin sekolah, karena mendapatkan pengejaran dari Jumaida.


Bambang yang selalu penasaran uang itu dari siapa, berusaha menggoda gadis itu, "Katakan padaku, siapa yang memberikan uang ini? Atau tidak, aku tidak akan membayar makanan ini!" ejeknya.

__ADS_1


Namun Luqman yang tidak begitu suka dengan gaya Bambang, dia merebut uang 20 ribu dari tangan Bambang, dan memberikan pada Ijum, memberi ruang pada gadis kecil itu memberikan sendiri pada Aditya.


"Hei ... Ini uang dari penggemar rahasia mu!"


Hanya kalimat itu yang di ucapkan Ijum dihadapan Adit, kemudian bergegas meninggalkan kantin sekolah, karena terasa sesak oleh kakak kelas yang tidak pernah sabar dalam memperebutkan gorengan atau makanan kecil lainnya.


Keindahan masa sekolah di Penabur, memberikan kesan bagi mereka siswa-siswi yang berprestasi yang bisa masuk kesana.


Bagaimana tidak, sekolah bertaraf internasional itu, menjadi salah satu sekolah terbaik, dan harus memiliki otak yang cerdas untuk masuk kesana.


Tentu tidak begitu bagi Bambang, dia merupakan orang terpandang dan memiliki banyak uang kala itu. Keluarga kaya yang tidak ada saingan dengan bisnis Sugondo, yang baru merintis pabriknya sendiri.


Pintar, hanya itu yang ada pada diri Aditya, Luqman, Ijum dan Nancy, kecuali Bambang.


Aditya yang masih menggenggam uang pemberian Ijum, hanya tersenyum tipis, melihat pecahan 20 ribuan itu sambil berkata dihadapan sahabatnya ...


"Ini uang asli apa palsu, yah? Masak setiap hari aku mendapatkan uang 20 ribu ini? Apa mereka pikir aku tidak bisa mendapatkan uang dari orang tuaku?" Adit menempelkan uang itu di kening Luqman.


Luqman tersenyum lebar, hanya bisa menjawab, "Lebih baik kita jajanin saja. Bagus begitu, kan?"


Aditya meninggalkan kantin, melewati Nancy yang sama sekali tidak ia kenali. Gadis kecil yang bertubuh mungil, namun kecantikannya tertutup oleh rambut panjang yang tergerai dengan poni welcome tampak seperti dora untuk menutup keningnya, hanya bisa tersipu-sipu malu saat mereka berpapasan.


Kala itu mereka benar-benar tidak saling mengenal, bahkan hanya Nancy yang mengagumi Aditya sejak kecil.


Kekaguman Nancy pada Adit sangat jelas, saat pria itu ulang tahun yang ke 16 tahun. Sengaja gadis kecil itu mengumpulkan uang jajannya untuk memberikan satu buah kado pada Adit, yang di antar langsung oleh Nanang ke kediaman Atmaja.


Kado kecil yang berisikan baju kaos berwarna putih, hanya bertuliskan 'i'm your's', membuat Adit tidak memperdulikan tentang bagaimana perasaannya saat itu.


Bangga, hanya itu yang ada di kepalanya, saat menerima kado yang dibungkus dengan kotak merah, dan diikat pita berwarna pink, tanpa menuliskan nama pengirimnya.


Sangat lucu, kekaguman seorang Nancy pada Aditya Atmaja dalam diam, sehingga kini semua itu menjadi nyata bagi putri kesayangan Sugondo, untuk menjadi istri seorang Aditya Atmaja.


Rasa cinta yang terus dijaga Nancy untuk seorang Adit, membuat dia menutup hatinya untuk pria lain, termasuk Bambang. Kisah cinta masa remaja yang ia anggap akan menjadi sebuah kenangan masa lalu, ternyata kini dia hidup bersama Aditya untuk menata masa depan.


Jodoh, mungkin itu yang tepat bagi Nancy dan Aditya. Walau hati dan perasaan Adit masih menolak sosok kehadiran Nancy dalam hatinya, namun kebaikan wanita itu tidak dapat dilepaskan dari dalam benak Adit.

__ADS_1


Butuh ... Kata itu paling tepat bagi seorang Adit yang membutuhkan Nancy, karena hanya wanita itu yang mampu menerima dia apa adanya, tanpa pernah mau mengeluh.


Seketika Adit tersentak, saat Pak RT menghampirinya di teras rumah ...


"Adit!" sapa Pak RT.


Adit tersenyum, mengerjabkan matanya perlahan, tersenyum tipis melihat kearah Pak RT yang masih berdiri dihadapannya.


"I-i-iya Pak. Saya masih menunggu Bapak, kayaknya mereka lagi pergi," jelasnya.


Pak RT yang sangat menghargai Adit, selaku menantu Sugondo, langsung berkata, "Bapak sama Ibu kamu lagi di rumah baru kalian. Sini saya antar! Enak banget kamu Dit, menikah dengan Nancy ... Jadi menantu kesayangan Sugondo. Rumah kalian gede pisan, seneng banget rasanya," ceritanya.


Seketika Aditya yang masih belum bisa sepenuhnya menerima kenyataan, dia bergegas mendekati Pak RT, menepuk pundak pria paruh baya itu ...


"Bisa tolong antarkan saya Pak! Saya harus menyelesaikan semua permasalahan saya dengan Nancy! Cepat Pak!" perintahnya, langsung duduk di motor matic Pak RT.


Tanpa menunggu lama, Pak RT mengikuti perintah Aditya walau tampak tergopoh-gopoh.


Cukup 20 menit, Adit tiba di depan rumah mewah dan besar, tampak kebingungan, karena melihat mobil mewah berjejer, dan karangan bunga atas rumah baru istrinya, membuat amarah Adit semakin tidak terkendali, saat matanya melihat papan nama yang bertuliskan Bethrand Ruselli.


"Bener kata Evi, ternyata Nancy berselingkuh dengan bule ini, dan aku yakin bahwa anak itu bukan anak ku ...! Dasar wanita murahan ...!" geramnya berteriak keras memanggil nama istrinya.


"Nancy! Nancy!"


Nancy yang mendengar suara suaminya dari luar rumah, berhamburan berlari keluar rumah membawa Abdi dalam pelukannya, hanya untuk menyambut suami tercinta ...


"Mas Adit ..."


Wajah Nancy tersenyum bahagia karena melihat kehadiran suaminya yang merupakan kejutan paling membahagiakan, namun tidak untuk Aditya, dia langsung meledakkan amarahnya, tanpa berpikir bahwa beberapa pasang mata menyambut kedatangan Adit di sana ...


"Katakan pada ku, anak siapa yang kamu bawa itu? Dia bukan anakku, karena aku tidak pernah melakukannya saat menikah! Dan aku tidak pernah melihat darah pada malam pertama!" ucapnya lantang dengan sangat keras ...


Nancy terdiam, wajahnya memerah karena pertanyaan suaminya, hanya bisa menjawab pelan dan mendekati sang suami, "Mas ... Kamu kenapa? Ini Abdi anak kita!"


Adit justru menatap istrinya dengan nanar dan menantang, "Kamu selingkuh Nan-cy! Ini bukan anak ku! Karena kita tidak pernah melakukannya!!"

__ADS_1


__ADS_2