Merebut Hati Suami Mayor

Merebut Hati Suami Mayor
Tidak mudah ...


__ADS_3

Di sudut kota kembang, Lembang. Tengah duduk seorang diri, wanita cantik yang masih berbalut kemeja ketat berwarna putih, dipadu celana bahan putih, seperti biasanya. Nancy tengah menyesap satu cangkir wedang jahe ditemani sate kelinci kuah kacang, duduk di warung yang memiliki bale-bale hanya untuk beristirahat sejenak.


Mungkin, mertua Nancy beranggapan bahwa menantunya merupakan istri yang kejam. Namun, kini wanita cantik itu hanya ingin melakukan sesuatu hal yang menurutnya baik untuk dirinya juga Abdi.


"Hmm apapun keputusannya saat ini Neng merasa lega. Nancy Nancy ... Kenapa sih kamu bego amat, minta nikah sama laki-laki yang enggak cinta sama kamu? Tapi setidaknya kamu telah berjuang hidup bersama, walau momen indah itu hanya beberapa hari saja ..."


Senyum kecilnya menyeringai di bibir mungil itu hanya untuk menenangkan jiwanya, sebagai anak manusia yang berstatus kan istri dari prajurit serta mendapatkan rasa simpati dari semua orang padanya, atas pengkhianatan yang dilakukan Aditya.


Nancy hanya menikmati pemandangan, melihat kota Bandung, yang sudah menyalakan sinarnya, sebagai tanda sore akan berganti senja, hingga malam.


Sudah lebih dari sembilan jam Nancy meninggalkan Abdi di kediamannya, hanya untuk mencari kesibukan dengan pekerjaannya, namun saat pikirannya mulai tenang, lagi-lagi musibah datang dalam waktu beberapa jam saja.


Mungkin esok, Aditya sudah tidak bersamanya lagi, namun Nancy sudah merasa sangat bahagia telah berhasil menjadi sebagai istri sah dari seorang pria berpangkat mayor bunga dua, walau ia harus mengayuh perlahan sendiri tanpa berbalas.


"Aaagh ... Mas Adit. Kenapa kamu tega menikahi jallang seperti Evi? Apa tidak ada wanita cantik di club' Aa Aldo? Naha mesti Evi, buat harga diri Neng jadi terinjak-injak. Apa salahnya nikah teh sama artis, DJ, atau bahkan sama wanita lebih bager, halus, dari Neng. Laki-laki teh kalau selingkuh kagak lihat bibit bebet bobot keluarga na ... Gemes sama kebodohan Mas Adit. Mungkin kalau wanita itu bukan Evi, Neng bisa maafkan. Tapi Evi, beeegh rendah amat selera mu, Mas! Bagus Neng enggak punya suami, daripada harus berbagi suami sama Evi. Bisanya ngabisin doang. Cari kek janda kaya, cantik dari Neng, hebring, bahkan tunggangannya lebih dari Neng ..." sesalnya, melahap satu tusukan sate sambil memainkan jari di layar handphone pintar miliknya.


Nancy berpangku tangan, menyandarkan tubuhnya di kursi warung langganan, memandangi keindahan alam yang semakin terasa menyejukkan. Seumur hidupnya, ia tidak pernah menghabiskan sate kelinci itu seorang diri, karena selalu di bantu oleh Sugondo atau Ningsih. Namun hari ini, dia melahap dua piring sate kelinci, di tambah dua ketupat yang di balur kuah kacang serta kecap.


"Ooogh indahnya hidup ini. Bisa menikmati makanan yang sangat mengenyangkan di alam terbuka seperti saat ini ..."


Seketika dia masih menikmati pemandangan, dengan lampu kota semakin terlihat terang benderang, Nancy dikejutkan dengan suara deheman seorang pria dari arah belakang.


"Ehem ..."


Sedikit terkejut, Nancy membalikkan badannya, hanya untuk mencari dari mana arah suara itu muncul.

__ADS_1


Nancy tertawa kecil, menepuk bahu pria bule yang sengaja mengganggu lamunannya.


Nancy bertanya, sekaligus mempersilahkan pria bule itu duduk di sebelahnya, dengan membuka satu kursi yang tersedia, "Iiigh ... Kesel! Ngapain di sini mister? Mau beli makanan buat nyonya?"


Bethrand tertawa kecil, kali ini dia datang hanya untuk memberi keceriaan bagi Nancy. Tentu atas izin Prisil istrinya, membawa Gibran bersama, yang masih sibuk memesan beberapa makanan di warung tersebut.


Bethrand menjawab sekedarnya, "Tadi kebetulan lewat, karena saya dari pabrik. Ternyata lihat mobil kamu, kebetulan lapar, yah sudah ... Mampir!"


Nancy kembali memangku tangannya didada. Dia menundukkan kepalanya, dan kembali mengangguk-angguk pelan, untuk menutupi rasa kecewanya pada suami.


Bethrand menepuk pundak Nancy, "Eeeh ... Bagaimana rencana liburan kalian dengan Aldo? Jika jadi, saya juga mau mengatur semua jadwal, untuk mengirimkan file melalui email saja."


Nancy menoleh kearah Bethrand, berpikir sejenak kemudian menjawab lembut, "Sepertinya jadi. Mungkin Neng sama Abdi serta membawa Unik saja. Besok begitu urusan Neng selesai, Neng langsung meminta Mang Nanang ngurusin deh. Jadi datang-datang ke imigrasi langsung poto. Maklum, belum pernah keluar negeri masalahnya. Jadi nanti semua Aa Aldo yang ngurusin, kan? Dari visa izin tinggal dan semuanya?"


Bertrand mengangguk membenarkan, melanjutkan pertanyaannya dengan pancingan kecil, "Adit enggak ikut?"


Bethrand menganggukkan kepalanya, entah kekaguman apa yang harus dia ungkapkan untuk seorang Nancy. Sama sekali wanita yang berada disampingnya ini tidak sedikitpun memberi celah untuk orang lain mengorek masalah retaknya rumah tangga partner bisnisnya ini.


Nancy memesan dua bungkus sate kelinci, dengan kuah terpisah.


Pria bule yang melihat gelagat Nancy akan pergi begitu cepat, langsung menahan bahu wanita itu, agar tidak langsung meninggalkannya.


Bethrand benar-benar khawatir di buat oleh Nancy satu hari ini. Bagaimana tidak, satu harian ia mencari keberadaan direktur utama pabrik perkebunan milik Sugondo, kemudian menyaksikan video Aditya yang sudah di blokir penayangannya, baru senja dia dapat menemukan keberadaan Nancy, hanya untuk meminta tanda tangan.


Bethrand bertanya dengan menatap iris mata Nancy, "Apa yang terjadi Neng? Jangan tutupi kesedihan mu!" tegasnya.

__ADS_1


Nancy mengalihkan pandangannya kearah lain, membasahi bibirnya beberapa kali, menghindari tatapan mata elang pria bule yang sangat mengetahui bagaimana hancurnya perasaan Nancy saat ini.


Nancy hanya tersenyum, berusaha tersenyum walau sebenarnya ingin menangis, namun dia tidak ingin menangis di dekapan pria lain, karena itu akan menimbulkan pertanyaan bagi orang lain yang melihatnya.


"Maaf mister. Biarkan Neng dengan masalah ini. Neng sudah ikhlas, apapun yang terjadi di luar sana, Neng sudah tidak peduli. Jujur Neng sedih, Neng kecewa dengan perlakuan Mas Adit. Tapi bagaimanapun, ini aib buat Neng, dan keluarga. Neng tahu mungkin Bapak sudah khawatir sejak tadi, tapi Neng akan menyelesaikan semua ini dengan sangat baik, tanpa ada yang terluka. Biar Neng yang menikmati semua proses ini. Sakit, senang, pernah Neng lalui di usia yang masih dikatakan cukup. Terimakasih mister sudah mau menghibur, salam buat Nyonya. Jangan nakal ..." godanya pada puncak hidung Bethrand tanpa rasa canggung.


Bethrand menghela nafas panjang, "Oke, saya percaya sama kamu. Jika kamu mau menangis, menangis lah di bahu Bapak mu, Neng! Atau Aldo, jangan di bahu saya ... Nanti saya kebawa perasaan!"


Nancy menyunggingkan senyuman tipis, menepuk pipi Bethrand, "Jangan pernah berpikir aneh-aneh saja. Neng permisi yah mister? Mungkin Mas Adit sudah di rumah. Kasihan dia belum makan, dari tadi telpon Neng berdering saja. Mungkin dari Mas Adit, atau Bapak." Dia memanggil pelayan warung untuk membayar semua makanan, namun Gibran sudah melayangkan satu lembar nota, mengisyaratkan bahwa makanannya sudah dilunasinya.


Nancy tersenyum sumringah, "Terimakasih mister ku yang baik ... Kamu paling best. Tidak mengurangi rasa hormat, Neng permisi! Bye ..."


Nancy berdiri, dan melangkah keluar warung menuju mobilnya, kemudian meninggalkan Bethrand yang masih memandangi kepergiannya.


"Ternyata tidak mudah untuk masuk kedalam hati wanita itu ... Aku yakin ada yang terbaik untuk mu menjadi pengganti Aditya, Nancy ..."


____


Hai hai hai ...


Sudah Senin lagi ... Hayo atuh, dukung karya Merebut Hati Suami Mayor ...


Give akan meluncur pada dua pemenang ... Yang pasti like, komentar dan hadiah paling banyak ...


Kenangan dari karya perjuangan Nancy ... Berupa hijab atau daster ...

__ADS_1


Hatur nuhun reader ...🌹😍😘


__ADS_2