Merebut Hati Suami Mayor

Merebut Hati Suami Mayor
Ide yang sangat menyebalkan


__ADS_3

Malam semakin larut, kedua insan masih termenung di ruang tamu kediaman sederhana Keluarga Jali, Abah dari Jumaida.


Terlihat Jali tengah mengasah parang dihadapan Sean, tanpa mau menyapa calon menantunya itu setelah mendengarkan permintaannya untuk menikahi sang putri.


Jumaida menunduk hormat dihadapan Suminah, yang hanya menurut saja pada keputusan sang anak.


"Emak sih ikut saja. Jika kamu merasa yakin bahwa Nak Sean jodoh kamu. Tapi kamu harus tahu, kita ini bukan keluarga kaya seperti Nak Luqman dan Nancy. Kita cuma jualan kambing, Neng. Bukan jualan teh hijau. Jadi kami sebagai orang tua Ijum, juga tidak minta pesta besar. Kami hanya minta halalin anak gadis kami secepatnya, agar tidak menunggu terlalu lama!"


Entah mengapa, perasaan Jumaida semakin berkecamuk karena sang ayah tak kunjung usai mengasah parang miliknya.


Perlahan Jumaida memanggil sang ayah, "Bah!"


"Hmm ..."


"Bicara dong. Bagaimanapun, aku butuh jawaban dari Abah."


Jali menghentikan usapannya pada parang kesayangan, sambil mendengus dingin dan berkata, "Jam berapa kalian akan menikah?"


Mendengar pernyataan Jali, Sean langsung menoleh kearah calon ayah mertuanya, dengan tatapan mata yang berbinar-binar. Dengan mantap ia menjawab, "Ee, kalau di izinkan besok pagi jam 10.00, kita bertemu di kantor KUA, Bah. Ya ... karena dadakan palingan saya hanya menyediakan mahar, dan uang tunai sebesar 20 juta saja. Karena saya memiliki tanggung jawab pada ibu saya, dan besok saya akan membawanya kesini. Agar saling mengenal. Maklum Bah, Ibu saya hmm eee, seorang single parents. Jadi dia membesarkan saya seorang diri sejak usia saya 18 tahun hingga saat ini."


Jali menautkan kedua alisnya, menatap lekat wajah anak muda yang mengaku di besarkan seorang diri oleh ibunya, membuat dirinya merasa iba, "Bisa lihat KTP kamu? Karena saya tidak mau anak saya menikah dengan pria seperti Luqman, yang lebih memilih janda daripada anak perawan saya. Tapi saya sangat memahami bagaimana Tuhan bekerja, memberikan jodoh yang terbaik. Saya tidak mau kamu menipu anak perempuan saya, karena masih banyak yang ngantri untuk melamarnya. Tidak harus tengah malam begini, toh."


Sean tidak peduli, ia langsung mengeluarkan dompetnya, menunjukkan semua identitasnya, dan memperlihatkan status pernikahannya. "Saya masih perjaka, Bah. Belum berani menyentuh cewek, kecuali salaman sama Nancy. Padahal saya tampan dari menantu Sugondo, Pak Aditya Atmaja."


Suminah menutup bibirnya, hanya untuk menahan tawa, atas kepercayaan diri calon menantu diatas rata-rata.


Sementara Jali yang tengah membolak-balikkan identitas Sean, kembali bertanya, "Berapa orang adik kamu?"


Sean menjawab penuh semangat, "Saya anak tunggal, Bah. Adik saya meninggalkan kami ketika berboncengan dengan Bapak saya saat pulang sekolah. Karena kecelakaan. Makanya saya berniat untuk mengabdikan diri kepada Ibu dan keluarga. Kebetulan saat ini saya sudah menjadi kasat lantas dan Nancy tahu dimana kantor saya."


Lagi-lagi Jumaida hanya menelan ludahnya, melirik kearah Suminah yang tersenyum geli mendengar cerita Sean.


Sean bukanlah pria yang beruntung seperti Luqman, Aditya, ataupun Ali. Dia merupakan pria yang berjuang sendiri untuk menafkahi sang ibu sejak usia 18 tahun, sehingga memutuskan untuk menjadi abdi negara setelah menyelesaikan kuliahnya.


Cukup lama mereka berbincang-bincang untuk saling mengenal. Entah mengapa, Jali selaku Abah terbaik bagi Jumaida, merasa nyaman ketika berbincang dengan Sean yang ternyata memiliki selera humor. Membuat kedua orang tua Jumaida sangat suka pada pria berwajah tampan dan gagah itu.

__ADS_1


"Baiklah Nak Sean, sesuai keputusan kita, besok pagi Abah menunggu kamu di rumah jam 09.00. Mungkin setelah itu, kita langsung ke KUA, dan pesta kecil saja. Terimakasih atas kejujuran kamu," Jali menepuk-nepuk pundak Sean, ketika mengantarkan calon menantunya didepan pintu, dengan wajah tersenyum sumringah.


Sean menganggukkan kepalanya, mencium punggung tangan Jali juga Suminah, dan mencari-cari keberadaan Jumaida, yang memilih masuk kedalam kamar, tapi mengintip melalui jendela.


"Hmm ... bilang saja sama Ijum, Aa pulang ya, Bah. Sekali lagi, Sean permisi."


"Iya-iya ... Ijum sudah tidur itu. Maklum besok dia cuti. Makanya tidur lebih cepat, karena tidak sabar menunggu pinangan kamu."


Sean berlalu meninggalkan kediaman Jumaida, dengan hati berbunga-bunga, bahkan tidak sabar menunggu besok pagi.


.


Pagi menyapa, dengan penuh perasaan bahagia. Dua insan anak manusia masih terbalut di bawah selimut tebal tanpa penghalang sedikitpun.


Deringan telepon milik Nancy membawa wanita cantik itu seperti berada di dua alam. Perlahan tangannya mengusap lembut punggung Aditya, agar mematikan handphone yang tak kunjung berhenti berbunyi.


"Mas!"


"Hmm ..."


"Handphone kamu, bukan telepon Mas!"


Nancy mendengus, lalu meraba nakas yang berada disamping ranjang kingsize kamar mewah itu, hanya untuk melihat siapa yang menghubunginya.


"Ck, Jumaida ngapain nelepon pagi-pagi begini. Apa enggak tahu Mas Adit lagi cuti," sungutnya, sambil meletakkan benda pipih itu ketelinga kanannya.


Nancy : "Hmm, halo!"


Jumaida : "Neng geulis sudah bangun. Masih inthehoi enggak nih?"


Mendengar suara tawa sahabatnya diseberang sana, membuat Nancy hanya tertawa kecil, sambil mengusap-usap lembut wajahnya.


Nancy : "Kenapa sih sayang, lo nelepon gue. Tumben, ada kabar baik apa buruk nih?"


Jumaida : "Alhamdulillah baik dong. Gue cuma mau ngasih tahu, kalau hari ini gue nikah Neng geulis ..."

__ADS_1


Sontak pernyataan Jumaida yang mengatakan bahwa dia akan menikah hari ini, membuat Nancy terlonjak seketika, dan langsung duduk dari tidurnya.


Nancy : "Serius? Sama siapa? Pak polisi atau Pak dokter?"


Jumaida : "Pak polisi. Aa Sean. Temen kuliah lo. Sebentar lagi, nih kami lagi dijalan menuju KUA. Nanti malam datang yah, ke acara syukuran kecil saja. Enggak pesta besar, karena bulan depan gue juga pendidikan. Terimakasih yah geulis, lo di pesta pernikahan kalian, gue ketemu jodoh. Walau sejujurnya masih belum yakin, tapi kebaikan Sean membuat hati gue yakin. Ibu-nya juga baik. Salam buat Mas Adit, jangan lupa kasih tahu Luqman dan istrinya untuk datang nanti malam ya. Gue sayang sama lo, dan satu jam lagi gue bakal jadi istri polisi ..."


Nancy tersenyum bahagia, matanya kembali berkaca-kaca ketika mengingat semua kegagalan sahabatnya dalam memilih pasangan hidup.


Nancy : "Selamat yah sayang. Gue juga sayang banget sama lo. Mudah-mudahan kalian berdua bahagia, walau nanti kita bakal berjauhan. Insyaallah gue bakal datang, dan ngasih tahu sama Luqman. Sekali lagi selamat menempuh hidup baru bersama polisi. Semoga kalian akur, walau sebenarnya kalian sama-sama beleguk!"


Tawa mereka pecah, membuat Aditya langsung memeluk perut sang istri yang sudah mulai membuncit.


Nancy : "Oke bye, salam buat Sean."


Bergegas Nancy meletakkan handphone miliknya kembali dinakas, kemudian mengusap lembut kepala sang suami dengan penuh perasaan sayang.


"Nanti malam kita pergi ke syukuran Jumaida dan Sean ya, Mas. Kita kasih kado apa?"


Tanpa menoleh Aditya hanya menjawab, "Hmm ... kalau jodoh itu enggak akan kemana. Nanti kita kasih alat kontrasepsi saja. Enggak usah kasih kado uang. Biar sahabat kamu itu enggak langsung hamil, karena dia mau pendidikan!" tawanya menggoda sang istri.


"Ighs, Mas Adit nyebelin banget!" Nancy mencubit kecil wajah tampan sang suami, karena memberikan ide yang sangat menyebalkan.


____


Halo-halo reader tersayang, kita intip visualnya dulu yuk. Berhubung author sangat mengagumi sosok artis endonesa ... jadi beginilah ...❤️😆



Aditya Atmaja, 26 tahun ...❤️



Nancy Sugondo, 23 tahun ...❤️


Jangan lupa dukung terus, karya author Tya Calysta ... salam hangat dari saya. Mohon maaf atas keterlambatan update, karena kondisi kurang sehat.

__ADS_1


Salam sayang, dan author ucapkan terimakasih. 🙏🙏🙏


__ADS_2