Merebut Hati Suami Mayor

Merebut Hati Suami Mayor
Satu syarat ...


__ADS_3

Tak menunggu lama, Nancy kembali ke meja restoran, dirinya semakin tampak asing ketika melihat mertua dan suaminya tampak tak saling kenal.


Kesal, hanya wajah itu yang tersirat dari raut wajah mertuanya, begitu juga dengan Aditya.


"Mas ..." usapnya pada pundak suami tercinta.


Namun bukan jawaban baik yang Nancy dapatkan, melainkan sikap yang sangat mengejutkan ...


"Lepaskan tangan kamu dari bahu, ku!" hardiknya keras, membuat Nancy bergidik ngeri.


Nancy melirik kearah Atmaja serta Sulastri bergantian, hatinya remuk seketika, malu karena hardikan suaminya yang tiba-tiba, bahkan membuat matanya berkaca-kaca.


Tubuhnya bergetar, harga dirinya sebagai wanita seketika terasa terinjak-injak. Bergegas Nancy mengambil tas kecil serta handphonenya dari tangan Aditya, berlalu meninggalkan keluarga itu.


"Maaf Pak, Bu, sepertinya kehadiran Neng tidak di butuhkan lagi oleh Mas Adit!" sesalnya, namun masih bisa menunduk hormat.


"Neng ..." panggil Sulastri.


"Nan-cy." Atmaja menoleh kearah Adit, "Jangan biarkan Nancy per--- ..." geramnya.


Adit tersentak, mendengar ucapan Nancy, dia berdiri, mengejar wanita yang sudah menjadi istrinya, "Neng!"


Nancy tidak ingin berdebat, tidak ada angin ataupun hujan, dia kembali mendapatkan perlakuan kasar dari Aditya.


"Mas kenapa? Berubah-ubah, bahkan tampak asing jika sudah berhadapan dengan keluarga ... Apa salah Neng ...!" tangisnya pecah seketika saat melewati koridor menuju kamar hotel.


Dengan tangan bergetar, Nancy menempelkan card di pintu kamar, namun Adit langsung memeluk tubuhnya dari arah belakang.


Aditya berbisik pelan, "Maafkan Mas, Neng! Mas hanya kesal sama Bapak dan Ibu. Sekali lagi maaf!"


Pintu kamar terbuka lebar, Nancy melepaskan pelukan Aditya. Baginya hardikan didepan umum itu hal yang sangat memalukan dan tidak pernah ia alami selama hidupnya.


Apalagi Aditya melakukan itu dihadapan mertuanya, membuat harga dirinya sebagai seorang menantu tak berarti apa-apa.


Nancy membalikkan tubuhnya, menatap lekat wajah Aditya, "Mas kenapa? Kita baru melewati hari yang sangat menyenangkan sepanjang malam hingga pagi, tapi harus begini Neng dapat kan? Apa salah Neng sama Mas? Ternyata selama satu tahun Neng menunggu, hanya satu malam Mas berbuat lembut! Apa salah Neng sama, Mas! Apa Aditya Atmaja!"

__ADS_1


Nancy tak sanggup untuk berkata-kata, kali ini dia kecewa pada sikap suaminya.


Adit mendengus dingin, "Kamu enggak pernah sadar, yah? Ternyata selama ini kamu yang merusak kebahagiaan Mas dengan Evi!"


Nancy terkejut mendengar nama wanita itu kembali di sebut oleh suaminya, matanya memerah, bahkan bibirnya bergetar.


Entahlah Nancy hanya bisa menyunggingkan senyuman tipis, menyentuh dadanya lembut, mengarahkan tangannya agar pria itu tidak mendekat padanya.


Bersusah payah Nancy mengatur nafasnya, saat dia mendengar nama jallang itu kembali di sebut oleh suaminya. Seketika dirinya mengingat sesuatu dengan status wanita itu.


Nancy mengalihkan pandangannya kearah lain, kembali menatap nanar kedua bola mata Aditya ...


"Oke ... Neng baru paham saat ini. Kenapa Mas Adit berubah, kenapa mood Mas turun naik, bahkan hanya menjadikan Neng sebagai jallang Mas di ranjang, tapi pikiran Mas masih sama dia! Oya, status Evi janda? Neng baru ingat saat ini. Silahkan kejar mantan kamu Aditya Atmaja! Karena aku Nancy Sugondo tidak akan pernah meminta mu ataupun memohon lagi pada mu! Pergi!"


Nancy mengemasi semua barang-barang bawaannya, kali ini dia benar-benar tidak dihargai sebagai istri sekaligus Ibu dari anak mereka.


Adit terhenyak mendengar ucapan istrinya yang berani padanya ...


"Neng ... Mas minta ma-- ..."


Aditya semakin berang saat melihat sikap Nancy yang semakin berani padanya.


BRAK ...!


Aditya menutup pintu kamar, agar Nancy tidak keluar dari kamar.


Adit bertanya dengan wajah garang juga memerah, menatap tajam kearah Nancy, "Jawab Mas, kamu wanita yang pernah di lamar Bambang, kan?"


Nancy menautkan kedua alisnya, mencoba mengingat kejadian beberapa tahun silam. Ia tertegun sejenak mendengar pertanyaan Aditya ...


Namun Aditya yang tidak sabar menunggu jawaban dari Nancy kembali membentaknya ...


"Jawab!"


Jantung Nancy seperti akan berhenti berdetak. Jika di ikutkan hati, ingin sekali dia terjun dari lantai atas gedung, daripada harus berhadapan dengan seorang pria arogan seperti Aditya Atmaja.

__ADS_1


Nancy menatap lekat mata Aditya, "Mungkin ... Ya! Kenapa, apa kamu cemburu? Atau ...?"


Adit tersenyum tipis, dia mengangguk-anggukkan kepalanya, "Jika kamu yang menolak Bambang saat itu! Berarti kamu harus siap aku persunting Evi menjadi madu mu!"


Mendengar penuturan itu, darah Nancy semakin bergejolak, bahkan semakin mendidih mendengar pernyataan seorang suami yang baru kembali ke pelukannya, seketika ...


PLAAK ...!


PLAAK ...!


"Aaagh ..." Adit mengusap wajahnya kasar, yang terasa sangat panas setelah menerima tamparan dari tangan istrinya.


Nancy tak kuasa membendung amarahnya, dia benar-benar tak menyangka bahwa Aditya akan menikahi wanita itu, hanya karena untuk membalaskan sakit hati pada putri kesayangan Sugondo.


"Silahkan! Tapi dengan satu syarat, ceraikan Neng! Karena kamu memang pantas mendapatkan wanita sampah seperti dia. Permisi!"


Saat Nancy akan melangkah, namun lagi-lagi Aditya masih menghalangi langkahnya. Dia semakin sakit hati mendengar jawaban seolah-olah menghina Evi sebagai wanita yang sangat buruk.


Adit menarik lengan Nancy, "Apa maksud kamu selalu mengatakan Evi sebagai wanita sampah? Dia itu sama seperti kamu! Dia wanita baik-baik, walau sesungguhnya dia tidak kaya, tapi dia sangat baik, Nancy!"


Nancy menghela nafas dalam-dalam, membalikkan tubuhnya, berusaha tersenyum dan tenang menghadapi suami gila menurutnya ...


"Dengar Aditya Atmaja, jangan pernah membandingkan aku dengan wanita laknat itu! Jika kamu tidak bisa memberikan hatimu padaku tulus, lebih baik kamu tinggalkan aku, dan aku tidak akan pernah meminta satu sen pun uang dari mu! Semoga kamu bahagia, bersama mantan yang sudah tidur dengan berbagai macam jenis pria. Mungkin kesukaan kamu hanya sisa, tanpa memberi celah pada wanita seperti aku yang tulus mencintai kamu. Aku tidak akan pernah memohon pada mu. Kejarlah cinta mu, dan jangan pernah menemui aku!"


Nancy pergi meninggalkan kamar hotel tersebut, tanpa mau berbasa-basi ataupun membuang-buang waktu untuk menghadapi seorang Adit yang memang masih belum bisa sepenuhnya melupakan Evi, dan menerima dia, walau sebagai istri sah seorang mayor.


Kedua mertua Nancy yang melihat menantunya kembali ke loby hotel, mendekati sang menantu yang tampak berusaha tenang walau berwajah sembab.


Atmaja berbisik pada istrinya, "Kamu tenangin Nancy dulu, Bu!" perintahnya, "Akan aku bereskan anak bodoh itu!" geramnya, memasuki lift, menuju kamar Aditya


Mendengar perintah Atmaja, Sulastri bergegas mendekati menantunya, memeluk tubuh ramping Nancy. Dia tidak akan membiarkan menantu terbaiknya menangis karena ulah putra kesayangan.


"Tenang yah, Nak! Adit masih dalam tekanan. Jangan masukin ke hati semua ucapannya," usapnya lembut pada rambut Nancy, yang menangis pilu karena permintaan suaminya.


Setahun dalam penantian, namun hanya rasa sakit yang Nancy dapatkan. Inikah sakitnya mencintai ...

__ADS_1


__ADS_2