
Aditya yang mendengar ledekan dari Nancy hanya mendengus kesal, "Udah aaagh ... Enggak lucu. Pokoknya enggak boleh, Neng enggak boleh kemana-mana kalau tidak di kawal. Mas enggak bolehin hmm ..."
Bibirnya seketika terkunci rapat, melirik kearah Nancy yang langsung memeluknya dari belakang.
"Jangan cemburu, jangan larang-larang, karena Mas akan berhadapan dengan Bapak. Mas mau kasih 10 bodyguard juga buat Neng, sungguh sangat bahagia perasaan istri mu ini, Mas. Karena selama kita menikah, kamu enggak pernah cemburu buta begini. Bodyguard Neng banyak, ada dua Bapak dan 10 ajudan Mas ... Uuugh pasti asyik!" tawanya mengejek Aditya.
Tak lama mereka saling berdebat, karena ketakutan Aditya yang sangat luar biasa, seketika berubah hening dan saling bertatapan, saat mendengar suara ketukan pintu dari arah luar ...
"Dit ... Aditya! Aldo!"
Nancy memajukan bibirnya, mencepol rambutnya tinggi, membuka pintu kamar mereka, namun dihadang oleh Aditya.
"Biar Mas yang buka!"
Nancy memilih duduk di sofa, mengusap dada, memberi ruang pada suami posesifnya itu untuk membuka pintu kamar mereka.
Saat pintu terbuka lebar, saat itu pula, senyuman Aditya mengembang lebar, ketika matanya melihat kearah mobil baru, masih menggunakan plat profit, berwarna silver metalik.
"Njiir ... Ini mah sama dengan warna mobil bini ane, bro! Terimakasih banyak atas kejutan lo, ini merupakan kado terindah yang pernah ane terima dari seorang sahabat," peluk Aditya pada Aldo yang masih berdiri dihadapannya.
Sementara Emi, hanya tertawa kecil, melihat kedua pria itu semakin tidak bisa memberikan jalan baginya agar bisa masuk kedalam kamar paviliun mereka.
"Hmm ... Maaf daddy muda, bisa kasih jalan enggak? Kenapa enggak pelukan diluar saja iigh ... Biar tidak menghalangi jalan masuk orang lain," sindirnya menoleh kearah Aditya dan Aldo yang masih seperti Teletubbies.
Aditya langsung memberi jalan, pada Emi, yang ingin menghampiri Nancy ...
"Silahkan atuh Nyonya Besar," goda Aditya, membuat Emi hanya tersenyum manis.
Aditya membawa Aldo untuk melihat mobil sport buatan Jepang itu, dengan tawa menyeringai lebar, mengusap body mobil yang masih tampak bersih.
"Ini kado terkeren, bro. Lo ngepet dimana? Kok bisa ngasih ane uang dan mobil. Ane tahu ini harganya seharga satu unit rumah, setan! Lo enggak jual hati atau limpa, kan?"
Aldo tersenyum puas, karena bisa memberikan kado yang indah untuk sahabat yang selama kembali dari timur tengah sengaja ia diamkan, karena masih menjalin hubungan dengan Evi, sambil berkata ...
"Ini rejeki lo sama Nancy! Ingat, jangan sampai lo lupa sama anak dan istri lagi hanya untuk seorang Evi! Jika lo masih menjalin hubungan atau komunikasi sama dia, gue cabut semua fasilitas lo di club'! Gue enggak mengancam, tapi akan gue buktiin! Intinya jangan macam-macam lagi!" tunjuk Aldo di wajah Aditya.
__ADS_1
Aditya mengangguk patuh, memberikan dua jarinya sebagai janji yang tidak akan pernah ia ingkari sampai kapanpun, "Ane janji, tapi nasehatin juga dong sepupu lo. Jangan terlalu sering berinteraksi dengan bule somplak itu! Bule itu kan naksir sama bini ane. Takutnya bini ane kepincut sama tuh bule, bisa tinggal kolor ane, bro!" sungutnya.
Aldo tersenyum lebar, ketika mendengar Aditya yang ternyata seorang pria posesif, dan cemburuan. Dengan cepat ia menepuk pundak sahabatnya, sedikit berpesan namun tidak untuk menghakimi.
"Bro, Bethrand itu dia sangat mencintai Prisil. Dia mendekati Nancy karena sikap lo. Jadi untuk masalah ini, biarlah Nancy melakukan kegiatannya, demi masa depan keluarga kalian, tanpa melupakan kewajibannya sebagai istri. Gue lihat, selama ini mereka propesional kok. Jangan terlalu mengekang, karena semua ini hanya titipan. Kalau enggak diambil orang, yah diambil Tuhan ..." ejeknya.
Aditya menggeram, bagaimana mungkin dia akan melepaskan Nancy pergi bersama Bethrand ke negara Eropa, yang pasti akan banyak waktu bagi mereka untuk berduaan.
"Yah ... Ane enggak mau sakit hati aja. Karena lama banget hilangnya. Perih, bahkan sangat membekas, dan menyakitkan!" rungutnya.
Aldo hanya tertawa mengejek, "Tahu sakit, tapi di nikahin juga! Jijik gue sama gaya lo! Ngerti!"
"Iiighs ... Yuk, kita test drive."
Aldo mengacungkan jempolnya, menghampiri peviliun yang masih terbuka lebar, melongokkan kepalanya untuk memanggil dua wanita yang tengah bercerita tentang rencana mereka untuk jalan-jalan ke Swiss, karena terancam batal.
"Istri-istri Aa yang cakep-cakep, hayuk kita jalan-jalan. Pakai mobil baru Pak Aditya," tawanya.
Dua wanita cantik itu, berdiri dan melangkah keluar paviliun.
Aditya mengecup lembut bibir Nancy dihadapan Aldo dan Emi, "Hmm jangan gitu dong, istri Mas yang cantik. Mas janji enggak akan mengulangi kesalahan yang sama!" kecupnya lagi pada wajah Nancy, membuat wanita itu menjauhkan wajahnya.
"Udah agh! Malu didepan Aa Aldo, Mas! Kok Mas jadi aneh begini sih, Neng jadi gerah nih!" geram Nancy dengan wajah memerah.
Aldo tertawa melirik kearah Emi, sejujurnya ini merupakan hal yang langka, dilakukan Aditya selama mereka bersahabat.
Tidak sampai disitu saja, saat mereka akan memasuki mobil, ternyata Sugondo yang mendengar suara anak menantunya dari arah luar, langsung keluar dari rumah, dan menghampiri anak menantunya.
Sugondo bertanya, menatap anak menantunya secara bergantian, "Wah ... Ada yang menang lotre nih! Mobil siapa ni, Do?"
Aldo mengangguk, tersenyum kecil menjawab santai, "Punya Komandan Aditya Atmaja, Pak. Buat bawa Abdi jalan-jalan."
Sugondo hanya menggelengkan kepalanya, menunjuk kearah garasi, yang terdapat dua mobil putri kesayangannya didalam sana ... "Itu saja enggak di pake-pake Do, sama menantu Bapak ini. Karena bukan mobil 500 juta kali, yah!" godanya, membuat Aditya salah tingkah, dan menggaruk tengkuk yang tidak begitu gatal.
"Bu-bu-bukan begitu Pak. Itu kan mobil Neng, segan Aditya gunakan..." tawanya tersenyum tipis.
__ADS_1
Sugondo hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, "Masukin mobil ini ke garasi, yah Dit! Mobil Neng biar di luar saja. Jangan lupa untuk mengunci garasi, karena Mang Nanang lagi pulang kerumahnya. Besok pagi kita ke Jakarta sama-sama!"
Aditya mengangguk patuh, bergegas ia mengeluarkan mobil Nancy, dan memberi ruang untuk memasukkan mobil baru mereka nanti kedalam garasi.
Tidak menunggu lama, mereka berlalu, hanya untuk menikmati keindahan malam, dengan acara doble date penuh kebahagiaan.
Namun, dua orang yang sejak tadi memperhatikan kediaman Sugondo, bergerak cepat untuk melepaskan selang minyak rem yang berada di salah satu ban mobil, untuk mencelakai dua insan yang sudah meninggalkan kediaman keluarga mereka.
Tak lama mereka mengerjai kendaraan Nancy, salah satu dari mereka menghubungi seseorang diseberang sana ...
[Izin Bu, kami sudah mengamankan satu mobil sedan accord warna silver yang terparkir di carport luar. Aman terkendali, kami menunggu sisa bayarannya ...]
[Baik, sebentar lagi akan saya transfer. Pastikan mereka akan mengalami kecelakaan tragis]
[Siap Bu, semua sudah sesuai perintah ...]
[Oke]
Senyuman seorang wanita, menyeringai lebar, meletakkan handphone miliknya diatas meja, menoleh kearah pria paruh baya yang duduk dihadapannya ...
"Semua aman Pak. Selamat menjemput ajal mu, Aditya Atmaja dan Nancy Sugondo!"
_____
Hai hai hai ...
Sudah awal bulan November saja ... 😘
Dukung terus yah reader ... buat penyemangat ... sambil nunggu update, mampir di karya author ...
"Benih Sang Mantan"
"Mas Oon is My Husband"
Terimakasih ...🌹🌹⭐⭐
__ADS_1