
Seketika suasana kamar hotel kedua insan suami istri itu terdengar riuh, karena tawa-canda seorang Sindi. Bagaimana tidak, janda beranak tiga itu tidak henti-hentinya menggoda sahabat lamanya, dihadapan Nancy sang istri.
Namun, Aditya merasa semakin tidak nyaman, karena perbuatan wanita tersebut telah membuka aibnya semasa sekolah dihadapan Nancy.
"Dit, setahu gue nih yah. Nancy ini cewek yang lo taksir waktu itu, kan? Yang lo bilang anak orang kaya, dan ternyata di taksir Bambang! Bener enggak, sih?"
Seketika jantung Nancy seperti berdebar lebih kencang, mendengar penuturan sahabat, sekaligus rekan bisnisnya yang baru selama berada di Netherland. Hanya bergumam dalam hati, "Benar enggak sih ...!?"
Akan tetapi, Aditya lagi-lagi mengelak, dengan mengusap lembut wajahnya, dan menyelusup di bawah ketiak Nancy, yang sejak tadi duduk di sofa bersamanya.
"Hmm eng-enggak! Mana ada ane bilang begitu. Ane enggak pernah punya pacar waktu sekolah! Jadi jangan buat fitnah, deh!" tegasnya lagi, memperdalam dekapannya di tubuh Nancy.
Sindi justru tengah berpikir, dia mencoba mengingat kejadian masa sekolah itu, "Iya, lo cerita sama gue, Dit. Waktu itu gue lagi pedekate sama siapa yah? Luqman atau Cecep, ya? Cecep justru sudah tinggal di luar negeri, karena mendapatkan istri seorang pengusaha di Sidney. Nah, gue berpisah ketika lulus sekolah menuju Netherland. Ketemu Aldo deh, dan almarhum suami gue. Tapi gue masih penasaran sama perjalanan cinta lo sama Nancy. Kok bisa kalian bertemu lagi? Pasti lo yang ngejar-ngejar anak Sugondo, kan!" tawanya menggoda Aditya.
Nancy mengerenyitkan keningnya, berfikir sejenak, menoleh kearah Aditya yang tampak kikuk karena perkataan sahabatnya yang asal bicara.
"Enggak kok, Teh! Kan Neng udah bilang, kalau kami di jodohkan. Emang awalnya Mas Adit belum bisa menerima Neng sebagai istri, karena mantan pacarnya itu. Sampai saat ini mereka juga masih saling peduli, hingga lupa sama hmm ..." Ucapan Nancy seketika terhenti, ketika Aditya menoleh ke arahnya dengan tatapan mata penuh dengan kekesalan.
"Udah deh, Mas sudah minta maaf! Jangan bahas lagi. Mas, mau istirahat. Sin, lo keluar sana! Gangguin orang bulan madu saja! Goda Luqman sana! Jangan ane. Kan kalian lagi pedekate!" gerutunya melepaskan diri dari Nancy, kemudian beranjak ke arah ranjang, untuk mengusir sahabat yang tidak pernah menyaring ucapan jika berbicara.
__ADS_1
Dengan berat hati, Sindi mengikuti semua perintah Aditya, dan langsung meninggalkan kamar sahabatnya tersebut, karena tidak ingin mengganggu ketenangan rumah tangga Aditya dan Nancy.
Namun, Sindi kembali membalikkan badannya, ketika pintu connecting akan tertutup rapat, sambil berkata, "Benar kan? Nancy ini yang lo taksir dulu, Dit?"
Aditya justru membulatkan kedua bola matanya, enggan untuk menjawab pertanyaan sahabatnya, karena tidak ingin membahas tentang masa lalu.
Benar saja, Aditya kembali terkenang masa sekolah beberapa tahun silam, tentang kelulusan mereka sebagai seorang siswa sekolah menengah atas di Penabur kota kembang.
"Yes! Lulus!" teriak semua siswa-siswi kelas tiga, ketika mata mereka melihat papan pengumuman tentang kelulusan.
"Agh!!" teriak Sindi dan Aditya saling berpelukan bak teletubbies, setelah menemukan nama mereka berdua.
"Cowok idaman aku lulus, Jum! Tapi sayang, mungkin setelah ini aku justru tidak akan bertemu dengan dia lagi," rundungnya ketika memeluk pilar tembok yang bercat putih biru tersebut.
Jumaida justru tengah tertawa geli, melirik kearah Luqman yang melambaikan jemarinya, hanya untuk menggoda gadis lugu seusia mereka.
Sindi merangkul bahu Aditya, hanya untuk memastikan bahwa gadis yang ditaksir sahabatnya itu, "Dit, itu bukan cewek yang lo bilang? Cewek yang mirip Dora, bahkan sangat lucu karena telah berani mengirimkan kado buat lo. Lo yakin cewek itu yang ngasih kado ulang tahun itu?"
Aditya mencoba untuk melirik kearah Nancy, namun gadis kecil itu sudah tidak berada di sana, "Hmm mana! Mana ada cewek. Mereka itu, hanya menjadi pengagum rahasia. Tapi kalau dia ngomong langsung sama ane, pasti ane terima. Karena anaknya baik banget, dan ane yakin dia pasti bisa sabar nungguin kalau ditinggalkan saat pendidikan!"
__ADS_1
Hanya kata-kata itu yang diutarakan Aditya saat itu, namun tidak pernah ia temui Nancy lagi, walau sebenarnya mereka tinggal tidak berjauhan.
Atmaja, yang masih tinggal di rumah dinas. Hanya kembali ke rumah pribadi mereka ketika cuti, ataupun libur panjang setelah melakukan dinas keluar negeri atau keluar kota.
Bukan hal yang mudah bagi Aditya, ketika lulus sekolah, dan langsung melanjutkan pendidikan di dunia militer selama satu tahun, membuatnya melupakan cinta monyet masa sekolah tersebut, setelah berkenalan dengan Evi dari Ali.
Keluguan Aditya yang baru merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama, membuat ia melupakan gadis lugu dan lucu bernama Nancy.
Aditya tersenyum lebar, ketika semua kenangan masa indah itu kembali terkenang. Dia menoleh kearah Nancy, yang kini sudah resmi menjadi istri sahnya.
Nancy mengerjabkan kedua matanya, masih tampak kebingungan, karena tiba-tiba Aditya langsung berhambur memeluk tubuhnya.
"Maafkan Mas, Neng! Mas janji enggak akan mengenang Evi lagi. Mas minta maaf. Mas sudah menghapus semua kontak yang berhubungan dengan Evi serta keluarganya. Kita mulai dari awal yah, Neng! Mas janji, akan selalu setia sama Neng, sampai anak kita dewasa dan tumbuh menjadi keluarga militer!" kecupnya bertubi-tubi di wajah Nancy yang tampak menolak ciuman dari sang suami tercinta.
"Ighs, gemes agh! Bukan sekali dua kali Mas janji sama Neng. Enggak usah ngomong sekarang, tapi buktikan, kalau Mas benar-benar mencintai Neng! Sudah berapa kali Mas menghabiskan uang hanya untuk seorang wanita bernama Evi! Sampai lupa sama kewajiban Mas sama Abdi! Neng tidak mempermasalahkan uang, tapi jika kita mengalami perubahan dalam ekonomi, atau bahkan terjadi sesuatu yang tidak terduga, bagaimana? Mas kalau baik-baik saja, pasti rejeki itu jalan. Ini, sok-sokan bantu anak orang, tapi malah melupakan anak sendiri. Emang Mas pikir pendidikan anak itu hanya sampai SMA? Bahkan masuk pendidikan militer, taruna gitu gratis apa? Enggak ada yang gratis Aditya Atmaja! Kita harus memberikan siraman rohani kepada para bla-bla-bla, untuk mendapatkan posisi. Contohnya sudah ada, kan? Membungkam kasus murahan Mas itu bagaimana? Mikir enggak sih, sampai kesana?" geramnya.
Aditya hanya mendekap erat tubuh Nancy, untuk memberikan keyakinan pada sang istri bahwa ia telah melakukan semua demi Nancy, demi Abdi, serta keutuhan rumah tangganya.
"Mas kangen sama, Neng! Jangan ceramah lagi. Yang pasti, Mas akan membuktikan bahwa kita akan bahagia kembali dari sini. Mas cinta sama Neng. Mas juga sangat sayang sama Abdi, dan rumah tangga kita. Jangan pernah berpikir kita akan berpisah yah, Neng sayang ..." kecupnya lembut pada bibir basah Nancy.
__ADS_1