
Tidak ingin menambah masalah dengan Ibu mertua, Aditya berpamitan pada Ningsih untuk kembali ke rumah orangtuanya. Ada sedikit rasa kecewa terhadap kedua orang tua Nancy, namun kini ia berpikir, "Jika apa yang aku lakukan itu salah, aku siap menerima konsekuensinya ...!"
Mobil sport pemberian Aldo terparkir di halaman rumah orangtuanya, membuat Sulastri berlari keluar, untuk menyambut Aditya, yang ternyata membawa Abdi sang cucu ikut bersama ...
"Eeeh ... Si kasep datang! Apa kabar cucu eyang!" tawanya sambil meraih tubuh mungil Abdi untuk membawa dalam gendongan.
"Pa-pa-papa ..." Abdi hanya mengeluarkan kata-kata lucu yang selalu ia lontarkan.
Aditya mengalami punggung tangan Sulastri, dan memilih untuk masuk ke dalam rumah, sambil berkata ...
"Aditya mau nyusul Neng ke Netherland, Bu. Adit titip Abdi yah? Oya Bu, Bapak mana? Apa Bapak pergi sama Pak Sugondo?"
"Iya, Bapak kamu ke pabrik." Sulastri mengangguk-angguk, karena masih sibuk bersenda gurau dengan cucu kesayangan, selayaknya menimang Aditya di waktu kecil.
Namun batin seorang Ibu, tidak dapat di bohongi, karena ada sesuatu yang aneh saat melihat raut wajah Aditya tak seperti biasanya.
"Kamu kenapa? Baru di tinggal istri empat hari sudah cemberut. Bagaimana kalau di tinggal satu tahun!" godanya memberikan makna yang dalam.
Perlahan Aditya mencoba menguraikan satu-persatu kejadian yang ia alami sama Nancy. Dari uang 20 juta yang diberikannya pada Sunardi beberapa waktu lalu, hingga perdebatan dengan Ningsih sebelum meninggalkan kediaman mertuanya.
Sulastri menghela nafas berat, memilih duduk di hadapan Adit, untuk sekedar memberikan wejangan pada sang putra.
"Adit ... Ibu yakin kamu orang paling hebat. Di usia muda kamu sudah berpangkat. Bapak mu itu dulu naik pangkat susah, nah kamu sudah di pilih, punya prestasi dalam pengaturan strategi. Masak sih mengatur strategi rumah tangga kamu sendiri enggak bisa! Kamu itu orang pintar, Dit. Rasa iba kamu yang sejak dulu itu hilangkan. Jangan buat masalah, apalagi menjalin komunikasi lagi dengan mantan! Kamu sudah punya Abdi, Nak. Kasihan anak kamu ... Bagaimanapun Ibu tidak setuju, kamu memberi uang pada cucu Sunardi! TITIK!! Dia itu orang paling jahat, kamu tahu siapa yang menyakiti anak kamu dan Ibu Ningsih?"
Aditya langsung menganggukkan kepalanya, karena memang sudah mendengar saat persidangan.
Perlahan Aditya mencoba untuk mengalihkan pandangannya kearah lain, dia tersenyum tipis, "Adit itu susah kalau ketemu sama Evi, Bu. Jujur lima tahun bersama, masih tersimpan semua kenangan itu. Walau sesungguhnya hati ini sudah Adit berikan pada Nancy, tapi tidak bisa untuk melupakan Evi begitu saja. Ada rasa kasihan, tidak percaya, dan ya ... Memang sepantasnya Adit kehilangan Evi, karena dia tidak baik. Tapi pertemuan kemaren, membuat hati Adit jadi kasihan, melihat anak usia segitu di tinggalkan orang tua dengan cara yang berbeda."
Sulastri melepaskan Abdi dilantai ruang tamu, karena ingin bermain dengan mobil kecil yang ia bawa dari rumah Nenek-nya.
"Itulah garis tangan seseorang, Nak!" jawabnya singkat.
Dengan mata berkaca-kaca, Sulastri hanya tersenyum mendengar kejujuran hati Aditya dan melanjutkan ceritanya ...
"Dulu, ini cerita dulu ... Bapak kamu punya mantan. Ibu tahu banget Bapak sangat mencintai wanita itu, sekarang dia masih tinggal di Aceh. Jadi tanpa sepengetahuan Ibu, Bapak selalu memberikan uang jajan, cemilan untuk anak-anak wanita itu. Ibu juga melakukan hal yang sama seperti Nancy. Walau kami harus ribut terus, beberapa kali minta cerai sama Bapak. Sama! Sama persis ... Nah bedanya, Bapak mau menutup akses komunikasi, bahkan tidak ingin bertemu dengan perempuan itu. Bapak rela memutar jalan pulang, untuk menghindar dan tidak bertemu wanita itu. Akhirnya kami pindah kesini, karena memang tidak di terima oleh keluarga. Yah sakit memang, apalagi kondisi belum punya apa-apa. Kamu mah enak, Nak. Mertua orang terpandang, sayang sama kamu, dan istri juga patuh. Kalau Ibu dulu, setiap Bapak pulang kerja, Ibu lempar pakai piring atau asbak setiap mereka bertemu, tapi semua itulah prosesnya, proses kekuatan hati dan keteguhan pikiran kamu, ditambah komitmen seorang kesatria!" titahnya mencoba untuk memberikan masukan positif pada Aditya.
__ADS_1
Aditya mengusap lembut wajah, dia merebahkan tubuhnya di sofa, dan langsung merogoh handphone dari dalam saku celananya.
Matanya tertuju pada satu pesan, yang ia lihat dari sudut layar atas, membuat senyumannya mengembang lebar ...
Bagaimana tidak, laporan keuangan dari sms banking yang menuliskan nominal ke rekeningnya bersama Nancy, dengan angka dua kali lipat dari yang ia beri beberapa waktu lalu pada cucu Sunardi. Perlahan Aditya mengusap lembut dadanya sambil berucap, "Alhamdulillah ..."
Sulastri yang melihat perubahan pada wajah putranya, hanya menggelengkan kepalanya, "Pasti dana rapel kamu masuk, ya!"
Dengan gagah Aditya mengubah posisi duduknya, langsung berkata, "Kita belanja, Bu?"
Sulastri menganggukkan kepalanya, "Ngomong dulu sama Nancy. Ibu enggak mau kamu enggak izin sama dia!" tegasnya.
Aditya menggeleng, "Enggak! Dia itu wanita kepala batu! Malas!"
"Ya sudah, kita enggak jadi pergi!"
Mendengar ancaman dari Sulastri membuat Aditya langsung berhambur mendekati sang Ibu. "Jangan musuhi Adit atuh Bu. Kenapa sih, susah sekali jika berurusan dengan wanita. Udah setia, malah di musuhi sampai kayak gini ..." sungutnya.
"Sudah telepon! Ibu mau dengar!"
Aditya menghela nafasnya dalam-dalam, mengambil Abdi agar segera naik dalam pangkuannya ...
[Hmm ... Mau ngomel-ngomel lagi]
Terdengar suara Nancy di seberang sana menjawab panggilan telepon dari Aditya dengan nada malas.
[Neng ... Jangan marah atuh. Mas minta maaf yah ...]
[Maaf mulu yang Mas minta. Tapi enggak pernah berubah! Sudah ya, Neng lagi di kereta. Lagi di perjalanan menuju Paris]
[Mas bawa Ibu yah, belanja! Tolong transfer kan uang ke rekening Mas, yah. Baru masuk uang rapel tunjangan. Kirim buat pegangan Mas saja ...]
[Ya]
Aditya menoleh kearah Sulastri, sambil meringkuk di pangkuan sang Bunda yang telah melahirkannya, sambil berbincang ringan tentang isi hatinya ...
__ADS_1
"Adit jahat yah, Bu?"
"Iya ..."
"Terus apa yang harus Adit lakukan, biar Nancy kembali lembut, sayang sama Adit, jangan ngomel-ngomel mulu kayak nenek lampir ..."
Lagi-lagi Sulastri menarik nafas dalam-dalam, "Makanya kamu jadi suami itu harus peka. Perhatian sama anak, perhatian sama istri. Saling bantu. Jangan malas! Kamu Ibu lihat hanya fokus sama mobil saja, terus enggak perhatian sama Abdi! Coba kamu perhatiin Abdi, mandiin, bersihin pup-nya. Buatin susunya, mungkin ada satu kelegaan di hati Nancy. Ini sama anak orang lain perhatian, sama anak sendiri cuek. Lebih baik, kasih saja anak kamu sama orang lain!" cubit nya pada perut sixpack sang putra.
Aditya hanya bisa tersenyum lirih, ada setitik kerinduan dalam hatinya, untuk Nancy yang dulu lembut, kini tampak berubah menjadi lebih tegas dan garang ...
"Mas akan membuktikan bahwa kita akan selalu bersama, Neng. Mas janji akan berubah ..."
Seketika Aditya yang tengah melamun, dengan perasaan yang masih bercampur aduk. Kembali terdengar deringan telepon ...
"My wife ..."
[Ya Neng sayang ...]
[Iigh ... Sayang sayang ... Jangan panggil sayang! Sudah Neng transfer lima juta. Jangan banyak-banyak pegang uang. Harus berhemat]
Nancy tidak memberi kesempatan untuk Aditya bicara, ia langsung mengakhiri sambungan teleponnya, membuat pria itu menoleh kearah Sulastri ...
"I-i-ibu lihat kan? Bagaimana dia memperlakukan Adit!?" sesalnya dengan wajah merah padam.
"Yah ... Salah kamu sih!"
"Ibu!!"
_____
Hai hai hai ...
Terimakasih Author ucapkan pada para reader, karena selalu setia untuk selalu sabar menunggu updatenya ...
Bulan ini othor kembali kirim give yah ... Terimakasih, dan mohon dukungannya ... 😘😍
__ADS_1