
Setelah merasa baikan, Aditya membawa Sugondo untuk kembali ke Bandung. Tentu saja, Nancy berada di mobil yang berbeda dengan suami, karena tidak ingin jauh dari Sugondo. Ditambah Aditya akan langsung menuju ke tempat kejadian bersama team yang telah di tunjuk untuk memeriksa kondisi mobil Nancy.
Benar saja, saat tiba di lokasi kejadian, Aditya hanya membayangkan bahwa tiga penumpang yang berada didalamnya akan meninggal di tempat. Dua kali mobil sedan accord itu membalik dan langsung menghantam tembok pembatas jalan, dengan roda mobil berada diatas.
Tak terbayangkan bagaimana kondisi Ningsih, serta Abdi yang berada di dalam mobil tersebut. Ditambah Angga yang mengemudikan kendaraan di jalur cepat menuju Pasteur.
Masih bisa dikatakan 'untung' sebagai warga +62 yang baik, tidak ada korban. Cukup dua orang pihak militer angkatan darat melihat kejadian tersebut, di tambah beberapa pihak kepolisian yang masih berada di sana tengah memeriksa beberapa titik kejadian.
"Izin komandan! Selamat siang menjelang sore, Pak Aditya," sapa seorang pria yang berbaju coklat dari kasatlantas.
"Ooogh ya. Perkenalkan Aditya, dengan Bapak siapa?"
"Saya Sean. Dari pihak kasatlantas. Kami sudah mengamankan satu unit mobil, yang langsung di bawa ke kantor polisi, jika mau melihat kondisi bisa kita langsung ke kantor saja."
Tanpa basa-basi Adit langsung menjawab, "Ya, mari!"
Dengan langkah cepat Aditya langsung menunju kantor polisi, untuk melihat kondisi mobil istrinya.
Cukup 20 menit, mereka tiba di kantor polisi, membuat kedua bola mata Aditya teralihkan pada satu unit mobil milik istrinya yang hancur.
"Sep ... Itu mobil istri saya! Ya Allah Gusti, bagaimana anak saya, Sep ..." rundungnya saat mobil mereka terparkir di halaman kantor polisi.
Benar saja, Asep ternganga lebar, melihat kondisi mobil yang hancur, bahkan masih bisa menyelamatkan tiga nyawa. Mungkin jika melihat kondisi mobil yang hancur seperti itu, orang sudah mengatakan bahwa semua penumpang akan meninggal di tempat. Namun kali ini, semua selamat, walau harus mengalami luka-luka.
"I-i-iya Pak. Ini sepertinya memang di rencanakan, Pak. Harus di selidiki lebih lanjut!"
Aditya mengangguk cepat, "Kamu kirim semua bukti ke Luqman, dan minta tolong cepat bawa pelakunya ke barak kesatuan kita. Tiga orang itu harus menanggung perbuatannya!" geramnya.
"Siap Pak."
Mereka bergegas turun dari mobil, menghampiri mobil yang benar-benar tak berbentuk, bahkan jika di perbaiki tidak akan ada gunanya.
Entahlah, seketika mata Aditya berkaca-kaca mengenang mobil accord yang selalu menjadi kebanggaan baginya pribadi juga istri tercinta. Mobil berplat dua seri yang selalu dirawat, tanpa ada yang boleh menggunakan selain istri dan dirinya, membuat Aditya ingin meremukkan semua tulang dalang dari semua ini.
"Hmm apakah mereka tidak tahu siapa aku ...? Macan Asia bahkan semua orang takut pada kami angkatan darat ...! Brengsek, jika aku mengetahui siapa dalang dari semua ini, akan aku habisi tidak bersisa ..."
Seketika pikiran Aditya dapat mengingat dari pandangan terakhir Sunardi juga Alvi. Seketika ia juga dapat membayangkan wajah dua insan yang di bawa menggunakan mobil polisi militer.
__ADS_1
Tak menunggu lama, Aditya mengeluarkan handphone miliknya, meminta Aldo untuk mengirimkan nomor Gibran padanya ...
[Ane masih di kantor polisi, bisa minta nomor Mayor Gibran. Dia yang menangani kasus Dida dan Evi, kan]
Tidak menunggu lama, Aldo mengirim balasan pesannya.
[Ya ... +62888.888.8887]
[Ok, thanks]
Aditya menuju ruangan Sean, hanya untuk sekedar berbasa-basi, juga menghargai pekerjaan mereka.
Sambutan Sean sangat baik, dan ramah. ditambah masih muda, dengan wajah oriental yang terlihat tampan dan gagah.
"Bagaimana keadaan anak bayi yang berusia enam bulan dan wanita paruh baya didalam mobil mewah itu, Pak? Tadi pihak rumah sakit, hanya memberi informasi dan semua tertutup untuk pihak luar. Ada beberapa pihak dari kesatuan militer angkatan darat sudah menjaga di sana, dan kami hanya bisa bertemu Angga selaku sopir dan adik dari Pak Aldo yang memiliki club' di daerah sini juga. Apakah kalian ini keluarga?" tanyanya sedikit penasaran.
Aditya mengangguk, "Ya, bayi enam bulan itu anak saya. Cucu dari Ibu Ningsih. Bisa bantu saya, Pak Sean. Ada beberapa hal yang saya curigai, tapi kami sudah mendapatkan informasi dari beberapa team Anda. Jadi saya kesini hanya untuk menandatangani surat pernyataan, agar bisa mengambil kendaraan, dan meminta pihak asuransi untuk menjemput kesini."
"Ooogh tentu bisa Pak Aditya, tentu bisa. Saya bisa membantu, karena saya sangat mengenal identitas pemilik mobil ini. Kalau tidak salah, dia Nancy Sugondo, anak semata wayang dari Sugondo. Kalau boleh saya tahu Bapak ini, siapa dari Nancy? Pengawal Keluarga Sugondo, kah ... Atau apa? Dan Ibu Ningsih itu siapa?"
Entah mengapa kening Aditya mengerenyit masam, bergumam dalam hati, "Gue suaminya njiir! Sok kenal sok dekat lo ..." gerutunya.
"Apakah Nancy harus menandatangani surat pernyataannya, Pak Sean?"
Sean menganggukkan kepalanya, "Ya tentu, harus pemilik mobil yang menandatangani, Pak. Biar semua jelas, tidak ada kecurigaan atau bahkan kesalahan saat pihak derek mengambil mobilnya!" senyumnya mengembang lebar.
Tanpa basa-basi Aditya menghubungi Aldo ...
[Hmm ...]
[Bro, bisa bawa Nancy untuk tanda tangan pernyataan ke kantor polisi]
[Kapan]
[Sekarang]
[Ok]
__ADS_1
Sean menyunggingkan senyumannya, sesekali melirik kearah Aditya yang tampak tenang, walau tengah menahan rasa amarahnya karena cemburu.
"Sial ni orang, bisa-bisanya dia kenal sama bini gue! Dia pikir Nancy masih gadis apa ..." sungutnya dalam hati.
Cukup lama Aditya hanya menunggu kedatangan Nancy di ruangan Sean, ditemani secangkir teh hangat, sambil bercerita ringan tentang kegiatan hari-hari di kesatuan.
Yang menjadi pertanyaan Sean dari tadi pada Aditya, namun belum di jawab oleh pria gagah itu ... "Apakah Anda anak angkat Pak Sugondo? Bayi yang berusia enam bulan itu anak Anda dari sepupu Sugondo."
Pertanyaan-pertanyaan itu, dapat dialihkan oleh Aditya sebelum Nancy tiba di kantor polisi.
Saat Sean tengah menyodorkan surat pernyataan, seketika ruangannya di ketuk dari arah luar ...
"Izin Pak, ada Ibu Nancy yang ingin mengambil mobilnya," ucap ajudan Sean menunduk hormat.
Sean menghentakkan kakinya, berdiri tegap, merapikan pakaiannya, "Ya ... Ya, suruh masuk. Ajudannya juga sudah ada di ruangan saya!" tegasnya.
Aditya mendelik tajam, langsung menoleh kearah Sean, "Brengsek ... Ane di bilang ajudan. Bener-bener pemuda somplak ...!" geram meremas kuat tangan sendiri.
Asep justru tersenyum-senyum sendiri, melihat dan mendengar semua kejadian di ruangan tersebut, membuat dia memilih mengikuti skenario Komandannya.
Seketika Nancy hadir ke ruangan yang cukup bersih dan luas tersebut, di dampingi Aldo yang berdiri di belakangnya, membuat Sean menyambut kedatangan wanita cantik itu dengan penuh perasaan bahagia ...
"Nancy ...! Apa kamu melupakan aku? Sean, Sean Pratomo, yang pernah mengirimkan surat cinta kepada mu!!" senyumnya tanpa perasaan bersalah ataupun malu.
Nancy yang tidak mengingat pria yang ada dihadapannya, kembali mundur dua langkah, agar Aldo yang berada di depan. Sementara Aditya sudah berdiri di belakang Sean dengan wajah menggeram garang ...
"Ma-ma-maaf, si-siapa yah! Mungkin kamu kenalnya sama dia!" tunjuknya pada Aldo, "Bukan sama saya! Karena saya sudah menikah ..." jawab Nancy meremas baju kaos milik Aldo.
Sean tampak seperti kebingungan, "Tidak mungkin Nancy sudah menikah! Kita dulu satu kampus, aku kakak kelas kamu! Kamu Nancy Sugondo, kan?"
Nancy yang melihat sorotan mata Aditya dengan kelopak mata yang membulat, bahkan seperti akan meloncat keluar, hanya menggelengkan kepalanya ...
"Mas ... Jangan di dengerin, dia ini pria gila!" geramnya berlindung di belakang Aldo.
Sean semakin kebingungan, menatap kearah Aldo dan mengalihkan pandangannya kearah Aditya, "Mas, maksud kamu, Mas Sean, Nancy?"
Rasanya Nancy seperti ingin kabur dari pria gila itu, karena memang hanya mengenal sebatasnya saja ...
__ADS_1
"Maaf ni Pak Sean, maksud Nancy itu, manggil suaminya, Mas Aditya Atmaja! Bukan Mas Sean!"
Gubrak ...!