Merebut Hati Suami Mayor

Merebut Hati Suami Mayor
Story' yang berbeda


__ADS_3

Aditya menghadiri rapat pengaturan strategi untuk pengawalan team pasukan elite militer dalam kesatuannya. Bagaimanapun kini ia sudah menjadi komandan khusus dan sebagai panutan bagi para prajuritnya.


Sudirman yang memmipin rapat di sana, mengajukan pertanyaan kepada Aditya, "Bagaimana? Siapa diantara mereka yang akan berada di karpet merah untuk menyambut para pejabat tinggi luar negeri, Ndan?"


"Hmm ... Sepertinya cukup Fredy dan Yodi saja. Kebetulan besok saya sudah berangkat. Jadi saya mengikuti aturan dari komandan saja," tuturnya kepada Sudirman.


Sudirman menganggukkan kepalanya, dia menoleh kearah Yodi juga Fredy, yang memiliki perawakan sangat berbeda dari Luqman dan Ali.


"Baik! Kita segera ke lapangan, untuk mengawasi beberapa sniper yang akan berada diatas gedung. Ini merupakan kegiatan rutin kunjungan pejabat luar negeri ke negara kita. Jangan sampai ada kesalahan! Saya yakin, akan ada sabotase pengalihan perhatian nantinya!" jelasnya.


Sudirman kembali melanjutkan ucapannya, "Saya harap kita akan tetap fokus pada pekerjaan ini. Jangan sampai para prajurit pilihan, sampai lengah!"


Semua yang berada di ruangan rapat itu mengangguk mengerti.


Kembali Sudirman bertanya kepada Aditya, "Sampai kapan kamu di sana, Dit? Apakah ini acara bulan madu atau acara bisnis keluarga Sugondo?"


Aditya tertawa kecil, mendengar pertanyaan sang komandan, ia hanya menjawab sedikit, "Ya sekalian jalan Ndan!"


Sudirman tertawa kecil mengangguk mengerti, "Jangan lupa sampaikan salam saya kepada keluarga mertua kamu yang berada di Swiss. Dari dulu saya ingin sekali bertemu dengan beliau, tapi kami tidak memiliki kesempatan untuk mengenal pria itu lebih dekat!" ceritanya.


Para sahabat Aditya lainnya hanya sibuk dengan denah pengaturan strategi yang berada diatas meja besar dihadapan mereka.


Entah mengapa, semenjak menjabat sebagai kolonel, Aditya sedikit lebih lega, karena dia hanya memberi arahan dan petunjuk sesuai pengetahuan yang ia miliki selama ini.


Sangat banyak yang Aditya alami saat menjabat sebagai mayor. Peperangan yang terjadi di timur tengah hingga perseteruan di Yordania. Itu menjadi satu pengalaman luar biasa baginya dalam merintis karir yang terkadang berada di atas, terkadang berada di bawah, ibarat rollercoaster.


Aditya lebih memilih untuk berbincang-bincang ringan, dengan Sudirman, mengenai kabar burung yang ia terima beberapa waktu lalu, tentang niat sang komandan kepada keluarga Nancy.


Benar saja, penuturan Sudirman justru sangat mengejutkan bagi Aditya ... "Ja-ja-jadi kapan terakhir kalinya Anda bertemu dengan mertua saya, Ndan?"


Sudirman menautkan kedua alisnya, sedikit berpikir, karena dia memang lupa kapan terakhir bertemu dengan mertua Aditya tersebut.


"Hmm sepertinya dua bulan sebelum kamu kembali ke Indo. Saat kamu masih di mana ya. Saya lupa! Yang penting saya datang sama Komandan Simon, tapi kami hanya berbincang ringan saja. Oogh ya, saya baru inget ... Waktu Gibran hmm eee ... Tidak usah kita bahas di sini. Karena tidak enak, sama yang lainnya. Bagaimana kalau kita bertemu dengan Aldo? Saya mau menghabiskan waktu di club'nya lusa. Setelah pekerjaan selesai," jelasnya sedikit berbisik.


"Baik. Palingan selesai dari lapangan kita ke restorannya. Karena hari ini jadwal saya sedikit padat, Ndan!"


"Oke, kita jalan sekarang!"


Bergegas para petinggi itu meninggalkan prajurit angkatan darat yang tengah duduk dalam perdebatan mereka, membuat Luqman tersadar bahwa Aditya telah meninggalkan mereka.

__ADS_1


"Buset dah! Enak benar Aditya, pergi ninggalin kita! Gue juga mau jadi prajurit pilihan, dalam mengabdikan diri!" tawanya menyeringai lebar, membuat sahabatnya hanya menepuk pundak Luqman.


"Hush! Fokus, nanti kita di bilang enggak serius. Yuk, jalan ke lapangan!"


"Oke!"


Mereka meninggalkan ruang rapat, menuju parkiran untuk segera meninggalkan kesatuan mereka.


Namun langkah Luqman terhenti, saat melihat sosok Jumaida tengah sibuk dengan kegiatan untuk operasi penyamarannya dalam penangkapan salah satu pembelot kelas kakap, yang selama ini sangat meresahkan.


"Hei ... Hati-hati! Jangan gegabah!" ucapnya sebelum memasuki mobil.


Jumaida mengerenyitkan keningnya, menoleh kearah kiri dan kanan, untuk meyakinkan bahwa Luqman tengah berbicara kepadanya.


"Dasar laki-laki aneh. Tidak bisa menentukan sikap!" sungut Jumaida, jika mengenang sosok Luqman yang hitam manis.


Bagaimana tidak kesal, Luqman yang awalnya serius mengajak Jumaida menuju pelaminan, akhirnya mundur perlahan karena tidak mendapat restu dari sang Mama ...


"Aagh Jum, andaikan saja Mama ku mengizinkan kita untuk menikah, mungkin saat ini kita sudah menjadi pasangan suami istri ..." senyum Luqman berlalu meninggalkan kesatuan.


.


Di tempat yang berbeda Aditya, masih di sibukkan dengan semua pekerjaannya. Tentu sebagai pendamping Komandan Sudirman jika beliau tengah berada di kota kembang tersebut.


Dor, dor, dor ...


Aditya merasakan getaran handphone miliknya yang bergetar, karena tidak menggunakan nada dering.


Bergegas Aditya menempelkan earphone di telinga kanannya, hanya untuk menjawab panggilan telepon yang tidak sempat ia perhatikan.


[Hmm ...]


Dor, dor, dor ...


[Mas dimana? Kenapa enggak ada ngasih kabar sama Neng dari tadi malam. Mas gitu igh! Nyebelin ...]


Sejenak Aditya menelan ludahnya, merogoh handphone dari saku celananya, melihat nama yang tertera ...


[Oogh sayang. Maafin Mas, tadi malam saat pulang belanja sama Ibu dan Abdi, Mas langsung pulang ke rumah, tahunya ketiduran. Nah ... Pagi ada rapat sama orang pusat. Ini lagi latihan, tapi buat meregangkan otot-otot saja. Kenapa Neng sayang ...]

__ADS_1


Terdengar Nancy mendengus dingin di seberang sana, antara percaya atau tidak, yang pasti saat ini ia hanya ingin melihat kegiatan suaminya.


[Video call ...]


[Ya ...]


Aditya langsung mengalihkan kameranya, memperlihatkan situasinya saat ini.


Nancy justru memperlihatkan seorang wanita cantik yang tengah duduk di restoran hotel, bersama Emi juga Prisil.


Tanpa banyak bicara, Aditya hanya bertanya pada Nancy ...


[Siapa dia, Neng ...]


[Teh Sindi, Mas. Masih ingat enggak]


[Hmm enggak deh, karena Mas enggak punya teman nama Sindi. Mas tahunya cuma Luqman, Ali, dan Aldo]


Tampak wajah Aditya masih serius dengan senjata api yang berada di tangan kanannya.


Namun, suara lengkingan seorang wanita bernama Sindi itu mengejutkan gendang telinga Aditya yang masih serius.


[Brengsek lo, Dit! Lupa sama gue ... Dasar anak jurik, mentang-mentang sudah nikah, sudah kaya, lupa sama gue. Eeeh ... Kasihanilah gue yang janda ini Aditya Atmaja! Janda beranak tiga! Sampai-sampai tidak ada yang berani menikah dengan gue]


Tawanya menggelegar dan sangat hapal oleh Aditya.


Dengan cepat Adit melepaskan peralatan tembaknya, hanya untuk memastikan bahwa wanita yang tengah mencaci-maki dirinya merupakan orang terdekatnya saat sekolah.


[Sindi! Kamu teh beneran Sindi. Kok bisa ketemu sama bini ane? Kalian dimana? Jangan bilang lo mau ngajakin bini gue nakal, ya! Bisa gue jadiin pupuk organik lo ...]


Tawa mereka pecah, entahlah kali ini benar-benar kebetulan, Nancy dan kedua sahabatnya bisa bertemu dengan wanita bernama Sindi yang merupakan mantan kekasih Aldo beberapa waktu lalu.


[Inget lo sama gue. Luqman mana, Dit? Bilang sama dia, gue tunggu dia! Kayaknya jodoh gue emang Luqman, karena cuma dia yang belum menikah]


Mendengar penuturan Sindi diseberang sana, membuat Aditya bergegas mencari keberadaan sahabatnya.


"Bro! Bro! Sini, ada Sindi nyariin lo!" teriak Aditya melambaikan tangannya kepada Luqman.


Mereka berbincang sejenak, menjelang Luqman datang, membuat semua kenangan masa sekolah kembali terkenang.

__ADS_1


Nancy yang berada di samping Sindi ikut tertawa terbahak-bahak, karena tidak menyangka, bahwa Emi menjadi sangat dekat dengan mantan kekasih Aldo tersebut.


Nancy hanya bisa tersenyum dan banyak belajar dari cara Emi, sambil bergumam dalam hati, "Emi sangat berbeda ketika bertemu dengan Sindi. Lebih seru, bahkan tidak ada kata-kata yang menyakitkan. Tapi mereka mungkin tidak memiliki story yang sama seperti aku ..."


__ADS_2