
Mendengar kalimat cengeng dari suaminya, Nancy hanya mengusap lembut wajah cantiknya. Dia meraih bantal yang ada disamping, namun Adit dengan sengaja menendang bantal itu hingga jatuh ke lantai kamar, dengan tertawa kecil.
Dalam benak Adit, merasa bangga di cintai wanita secantik Nancy, tapi kali ini dia ingin melihat keseriusan wanita yang telah memberikannya seorang anak tersebut dengan caranya.
Bilang saja Adit jahat, tidak menyukai Nancy. Tapi dia ingin membalas sakit hatinya karena telah kehilangan Evi disebabkan oleh Nancy menolak cinta Bambang.
Kalau dipikir-pikir, kenapa Adit mesti menyalahkan Nancy? Toh tidak ada yang salah disini. Namun, inilah Aditya yang belum bisa move on dari Evi. Apalagi setelah mengetahui status sang mantan janda beranak satu. Jadi jiwa kelaki-lakiannya bergelora untuk bertanggung jawab, tanpa memikirkan perasaan istri dan anak sendiri.
Nancy menjauhkan tubuhnya dari Adit. Ia tahu bahwa suaminya senang bercanda, namun kali ini dia tidak sedang bermain-main setelah permintaan sang suami yang akan menikahinya Evi untuk menjadi madu nya.
Seketika pikiran Nancy bekerja dengan sangat baik, "Mas Adit kan militer. Di kesatuan mana bisa memiliki istri lebih dari satu hmm, jika ini memang terjadi, aku yang akan melaporkan mu kepada Komandan Dida, Aditya Atmaja. Kelar karir mu untuk menjadi Kolonel berbintang. Makan tuh Evi sampai kenyang dan sendawa ..." sesalnya menggeram.
Adit melihat istrinya menjauh, dan dia mengetahui bagaimana Nancy tidak bisa menolak dirinya, perlahan pria itu mendekati Nancy. Maksud hati ingin menikmati indahnya sebagai pasangan suami istri halal, di sela-sela istirahat yang diberikan kesatuan.
Saat tangan Adit akan menyentuh bahu Nancy, namun ...
PLAAK ...!
"Aagh, Neng sakit!" geramnya.
Nancy refleks, menampar wajah Adit yang akan menyentuhnya. Bergegas dia beranjak dari ranjang kamar menatap nanar kearah suaminya.
"Ceraikan Neng! Neng enggak mau sama Mas lagi!" teriaknya frustasi.
Mendengar kata cerai, sontak Adit teringat pesan Atmaja, yang tidak ingin anaknya menyakiti Nancy. Walau sesungguhnya dia tidak bisa berpura-pura, namun kali ini dia ingin bermain karena dicintai wanita secantik dan sekaya Nancy, merasa jiwa kesatrianya bekerja dengan baik.
"Tidak ada salahnya aku baik jika di dekatnya. Berpura-pura mencintai nya, sehingga aku mendapatkan alasan kenapa dia menikah dengan ku, dan kembali ke pelukan Evi. Aku yakin, Evi masih mencintai aku ..."
Hanya itu yang ada dalam benak Adit, namun dapat di tangkap isyarat itu oleh Nancy dengan sangat mudah.
"Hmm Neng tidak akan pernah mengalah lagi kali ini. Kita lihat siapa yang akan menyesal, Mas ..."
Aditya turun dari ranjang, berusaha meraih tubuh ramping sang istri mendekapnya erat tanpa mau melepaskan wanita yang sudah menjadi istri sahnya.
__ADS_1
Semakin Adit berpikir untuk menyakiti Nancy dengan caranya, semakin berbeda perasaan yang dia rasakan saat kulitnya saling menyentuh kulit sang istri.
Entahlah, apakah Nancy memiliki cinta yang sangat besar, sehingga mampu membuat perasaan Aditya berubah seketika menjadi lebih berbeda, bahkan lebih berwarna. Cinta yang dia anggap hanya kepalsuan, ternyata sangat besar ia rasakan gejolak cinta itu untuk Nancy.
"Enggak, ini enggak mungkin. Perasaan aku hanya ingin menyakiti Nancy, bukan membalas cintanya ..."
Nancy yang awalnya berontak, lagi-lagi dia kalah karena perasaan cintanya terhadap Adit.
Kini ibu satu anak itu, hanya bisa menangis, dalam dekapan Adit yang enggan untuk melepaskannya dari pelukan.
"Neng ... Mas minta maaf. Jangan berontak lagi, nanti Neng sakit," kecupnya masih mendekap tubuh hangat itu, sambil menutup matanya perlahan.
Dada yang terasa sangat sesak, kini hanya terisak didada pria yang telah menjadi suaminya, Aditya Atmaja Mayor bunga dua, terlihat bodoh dalam menilai seorang Nancy, yang tulus mencintainya dalam janji suci pernikahan.
Kedua-nya larut dalam suasana hati yang tak karuan, sementara Atmaja dan Sulastri hanya menunggu Sugondo yang tengah dalam perjalanan menuju restoran hotel.
Sulastri menoleh kearah Atmaja, hanya bisa bertanya, "Kamu apain tuh anak kesayangan kamu, Pak? Anak yang selalu menjadi kebanggaan, tapi masih saja bodoh dalam menilai perempuan! Dikasih wanita cantik kayak Nancy menantu ku, malah minta yang butek buluk kayak Evi! Ingat yah Pak, Ibu enggak mau anak kita sampai kepincut sama janda itu. Jangan sampai dia bertemu sama Aditya saat kembali, jangan sampai, titik! Karena pasti akan di cucinya otak anak mu itu sama perempuan iblis kayak anak Sunardi!"
Mata kedua orang paruh baya itu, menoleh kepada besan serta cucu kesayangan mereka.
Ningsih yang terlihat sederhana, mencium kedua pipi besannya saat mendekat, sekaligus bertanya, "Mana anak menantu kita, jeng? Jangan bilang lagi di kamar," tawanya mengusap lembut punggung Sulastri.
Sulastri hanya membalas dengan tertawa, "Biasa besan, kalau sudah ketemu enggak mau lepas. Tadinya Neng ngambek. Ini baru di baikkin sama Bapaknya. Kalau enggak, mungkin menantu ku udah telepon Bapak Sugondo, minta jemput ..."
Ningsih tersenyum tipis, baginya inilah yang menjadi pilihan Nancy. Sejujurnya dia merasa sedih jika putri kesayangan harus menerima perlakuan atau perkataan kasar dari Aditya.
Sugondo menelpon Nancy, karena orangtuanya ingin melihat sang menantu menggendong Abdi cucu pertama mereka.
[Bapak sudah dibawah yah Neng, sekaligus Mr. Bertrand Russell akan menyusul. Jangan lama-lama ...]
[Ya Pak ...]
Sulastri dan Ningsih masih berbincang-bincang tentang anak menantunya, dengan segala kecemasan yang semakin menghantui pikiran Ningsih sebagai seorang ibu.
__ADS_1
Sementara Sugondo dan Atmaja masih menunggu Nancy serta klien yang akan bertemu di hotel tersebut untuk meminta tanda tangan sang putri selaku direktur utama pabrik perkebunan milik Sugondo.
Tak lama keluarga tengah asyik berkumpul, berbincang-bincang hangat di restoran hotel.
Adit menggandeng tangan Nancy keluar dari lift, dengan rambut panjang yang basah tergerai dengan indah. Terlihat wajah keduanya lebih cerah dan berseri-seri kembali.
Membuat Atmaja dan Sulastri hanya bisa tersenyum tipis, menatap anak menantunya.
Entahlah, inilah uniknya cinta dalam ikatan janji suci pernikahan untuk membina rumah tangga. Sekeras apapun hati menolak, namun hasrat dan gairah tak pernah dapat dihindarkan untuk saat ini bagi mereka berdua.
Sugondo tersenyum sumringah menatap sang menantu mayor ada didepan mata, sementara Ningsih hanya tersenyum tipis menatap wajah Aditya yang benar-benar sangat sedap di pandang mata.
"Jeng, pantas saja anak ku tergila-gila pada Adit. Semenjak mereka menikah baru kali ini saya melihat Adit dari jarak dekat, ternyata memang membuat hati kaum hawa luluh lantak, tanpa memikirkan perasaan malu ..." bisiknya pelan, membuat keduanya tertawa kecil.
Unik sebagai pengasuh, benar-benar terpesona melihat kesempurnaan anak majikannya, terlihat sangat mengagumi sosok Nancy juga Adit yang memang memiliki kemiripan.
Tangan Aditya meraih Abdi sang putra tampan yang selalu dibanggakan oleh Nancy. Walau sesungguhnya Adit belum pernah menggendong baby seumur hidupnya, namun ada perasaan yang berbeda saat seorang Ayah memeluk dan mengendus aroma wangi tubuh dari seorang baby berusia dua bulan lebih tersebut.
Adit mendekatkan wajahnya pada sang baby, meminta Nancy untuk mendokumentasikan kenangan mereka ayah dan anak tersebut.
Aditya membawa anak istrinya, berjalan-jalan mengelilingi kolam renang yang menjadi fasilitas hotel, membuat Atmaja dapat bernafas lega melihat kemesraan anak menantunya.
Sugondo tersenyum lebar, hanya bisa berkata lebih dekat dengan Atmaja, "Ternyata orang yang dijodohkan itu akan terlihat sempurna jika memiliki anak, yah Mas ..."
Atmaja hanya bisa menjawab, "Yah ... Semoga saja."
____
Sudah Senin saja nih ... Jangan lupa vote, komentar, and give akan meluncur ... Terimakasih reader ...
Ingat yah, untuk dua pemenang ... Daster atau jilbab, tinggal pilih ...
Happy reading ...😘🌹
__ADS_1