
Dua insan yang telah dipersatukan dalam ikatan pernikahan, walau Aditya tak kunjung mengakui perasaannya, namun perhatian kecil yang ia berikan pada Nancy, mampu merubah perasaan nya saat ini.
Kedua-nya masih terbaring diatas ranjang peraduan mereka, tanpa menggunakan sehelai benangpun. Tangan Nancy yang masih melilit diperut sispack suaminya, membuat Adit terlelap pulas dalam mimpinya.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar paviliun, hanya untuk membangunkan Aditya yang akan berangkat menuju medan perang di belahan timur dunia.
"Neng ... Neng ... Nak Adit ... Bangun," panggil Sugondo, terdengar samar di telinga mereka berdua.
Seketika alarm berbunyi, membuat Nancy terjaga dari tidurnya. Tangan kanannya meraih jam beker yang ada diatas nakas, mengusap lembut dada suaminya.
"Mas ... Bangun! Sudah jam 04.00, nanti terlambat kita sampai pelabuhan," kecupnya pada wajah Adit, yang perlahan mengerjabkan mata.
Adit mengusap punggung Nancy, memeluk tubuh ramping istrinya, "Mas berangkat yah? Jaga diri kamu, jangan menghubungi kalau bukan Mas yang menghubungi. Karena terkadang kami berada dalam situasi sulit ..." kecupnya.
Nancy mengangguk patuh, perlahan tangannya kembali mendekap erat tubuh kekar suami yang ia cintai sejak remaja.
Air mata jatuh tak tertahankan, karena harus melepaskan suami terkasih berangkat ke medan perang.
"Jaga keselamatan Mas, jujur ini kali pertama buat Neng, harus melepaskan orang yang dicintai pergi selama setahun ..."
Adit mengangguk tersenyum, menenangkan Nancy yang sudah berada diatasnya, dengan hidung wanitanya yang terus mengendus aroma tubuh pria yang sangat dicintai.
Tangan kekar itu, menggendong tubuh istrinya dengan penuh perasaan yang bercampur aduk, dengan alasan membersihkan diri, namun kembali memberikan kebahagiaan sebelum keberangkatannya.
Teriakan kecil serta manja, terdengar bersahutan dari dalam kamar mandi paviliun Keluarga Sugondo. Cukup lama kedua insan itu saling bercumbu mesra, memberikan keindahan surga dunia yang mampu merubah perasaan Aditya Atmaja terhadap Nancy Sugondo.
Tepat pukul 05.30, kedua keluarga mereka tengah bersiap-siap, hanya untuk mengantar anak menantu mereka ke pelabuhan Jakarta.
Nancy enggan melepas pelukannya terhadap suami tercinta. Air mata tak kunjung mengering dari kelopak mata indahnya, sejak membuka mata, membuat Sulastri juga Ningsih hanya bisa menenangkan Nancy untuk memberi kekuatan.
"Mas Adit pergi cuma setahun, Neng. Enggak lama," usap Ningsih pada kepala sang putri sepanjang perjalanan.
Nancy masih tak menghiraukan nasehat ibunya yang duduk dibelakang, baginya setelah seminggu kebersamaan mereka menghabiskan waktu dengan penuh kemesraan, membuat gadis itu seperti akan kehilangan separuh jiwanya.
Adit hanya menatap jauh ke ruas jalan, selama melintasi tol Cipularang. Tangan kiri masih mendekap erat bahu sang istri yang dibalut baju kebanggaan Persit Kartika.
__ADS_1
"Mas ... Jawab Neng, Mas cinta kan sama Neng?"
Adit tersenyum tipis, mendengar suara manja sang istri, membuat dia mengecup lembut kepala Nancy tanpa mau menjawab.
Ningsih hanya bisa menghela nafas berat, melirik kearah Sulastri yang ikut merasakan kesedihan sang menantu.
Sugondo sangat menyayangi anak menantunya, dia selalu memberikan yang terbaik untuk Nancy.
Jika didelik kebelakang, mungkin Sugondo tidak akan keberatan jika harus menggelontorkan dana, agar sang menantu tidak berangkat meninggalkan putrinya. Namun, sebagai prajurit pilihan terbaik, mereka harus menerima dengan lapang dada, semua perintah yang menjadi abdi negara.
Mobil Keluarga Sugondo terparkir di pelabuhan. Acara pelepasan kapal perang yang siap berangkat meninggalkan dermaga.
Bergegas Aditya berlari tegap, hanya untuk ikut dalam barisan upacara, sebagai pelepasan lima prajurit TNI Angkatan Darat yang dibarengi sepuluh Angkatan Udara dan sepuluh Angkatan Laut pilihan.
Nancy hanya terdiam, melihat suaminya dari kejauhan yang masuk dalam barisan.
Pesawat tempur, berseliweran terbang diatas mereka sebagai tanda pelepasan para prajurit yang dipimpin oleh Panglima Jenderal TNI Angkatan Darat. Dihadiri para pejabat tinggi negara berada di sana.
Isak tangis semakin terdengar, saat dentuman meriam terdengar dari arah kapal perang, agar para prajurit gabungan segera menaiki kapal ...
Entahlah, kali ini tangis Nancy semakin tak terbendung. Dia terisak, membuat Sulastri hanya bisa memeluk tubuh ramping sang menantu.
Aditya tersenyum lirih, jujur kali ini dia tak kuasa melihat isak tangis Nancy dari kejauhan.
Setelah sesi foto bersama, Adit menghampiri Nancy dan keluarganya.
Dalam benak Adit hanya ingin mendekap istrinya, tanpa mau berpisah. Namun, dia harus meninggalkan Nancy, yang tanpa disadari kini menaruh rasa pada wanita cantik tersebut.
Aditya Atmaja, Mayor bunga dua, akan berangkat menuju timur tengah, hanya untuk menjadi perencana perang dalam melawan sekutu. Daerah konflik yang tidak pernah berhenti, menghadapi serangan sehingga menurunkan militer terbaik di tiap-tiap negara dunia, termasuk Indonesia.
Langkah Adit semakin mendekat, meraih tangan Nancy yang langsung berhamburan memeluknya, dengan deraian air mata.
"Mas baik-baik yah? Kalau ada apa-apa hubungi Neng atau Bapak ..." isaknya tak karuan.
Adit hanya bisa memeluk Nancy, berkali-kali dia mencium aroma wangi dari rambut istrinya yang di cepol tinggi. Mengusap punggung Nancy hanya untuk sebagai salam perpisahan.
__ADS_1
Tiupan terompet semakin terdengar, membuat langkah prajurit harus cepat menaiki anak tangga.
Perlahan Adit mengecup lembut wajah istrinya, kembali mendekap erat, menangkup wajah cantik alami itu, dengan penuh perasaan ...
"Mas cinta sama, Neng! Tunggu Mas kembali ... Kita akan bahagia selamanya. Mas berangkat, jaga kesehatan ... Ingat, setia lah. Mas akan selalu ada di tiap-tiap rasa rindu itu datang ..."
Mendengar kalimat cinta dari Aditya seketika air mata Nancy kembali mengalir deras.
Senang ... Sakit ... Semua bercampur aduk dalam perasaan yang selama ini di harapkan oleh wanita bernama Nancy.
Nancy mengangguk patuh, dadanya semakin terasa sesak, nafas nya tersengal bahkan hanya menanti kecupan pertama kali dari bibir Adit sang pujaan yang membalas ungkapan cintanya.
Adit mengecup penuh kelembutan, mellumat bibir manis yang menjadi candunya selama pernikahan mereka.
Perlahan Adit melepas ciumannya, tersenyum manis, mengecup kedua mata sembab milik Nancy.
"Makasih Mas ... Terimakasih Mas sudah membalas cinta, Neng!"
Adit yang tak kuasa membendung air matanya, kembali mendekap tubuh Nancy, mendongakkan kepalanya menatap langit, menutup mata, memanjatkan doa, agar Tuhan melindungi rumah tangga mereka berdua.
Terdengar suara mikrofon dari atas kapal, sebagai panggilan kedua, "Perhatian, para prajurit yang masih berada di bawah, harap menaiki kapal ... Selamat tinggal untuk keluarga, semoga kita di pertemukan kembali, amin ..."
Mendengar kalimat perpisahan dari arah kapal saja, sudah membuat bulu kuduk merinding ...
Aditya mengusap wajahnya, menghela nafas dalam-dalam, mencium bibir dan kening Nancy berulang-ulang ... Melepaskan tangannya, berdiri tegap, memberi hormat kepada istri tercinta, dengan linangan air mata.
Dengan langkah tegap Adit melangkah, menaiki anak tangga, tanpa menoleh kebelakang.
Disambut oleh tangan yang sudah berada diatas kapal, sebagai team kesatuan republik Indonesia.
Tangan Nancy terus berada di dadanya, enggan untuk mengusap air mata, melambaikan tangan kearah kapal yang telah menyalakan terompet berulang kali.
Isakan tangis semua pasangan yang turut melepaskan suami tercinta semakin terdengar. Suasana semakin terasa haru saat seorang anak kecil memanggil sang ayah agar tidak meninggalkan nya ...
"Ayah ... Jangan tinggalkan Kevin, Yah!"
__ADS_1
"Selamat jalan Ayah ... Kevin mencintai Ayah!"
Teriakan anak kecil itu, membuat Nancy tersenyum ... Ikut berteriak keras, "Neng mencintai Mas!"