
Mendengar pertanyaan tegas dari Sindi, membuat Luqman tidak dapat melakukan apapun untuk mencegah janda beranak tiga itu meninggalkan kediamannya. Tentu Sindi membawa ketiga buah hatinya menuju kediaman Nancy yang ternyata tampak sepi menggunakan taksi online.
"Assalamualaikum ..." teriaknya ketika melihat seorang pria menghampiri pagar kediaman Sugondo tersebut.
"Waalaikumsalam, Teh Sindi?" tanya Nanang ketika melihat wanita berhijab itu sudah berdiri di depan pintu pagar.
Nanang melihat Sindi menggunakan taksi online, bergegas membukakan pintu pagar, kemudian menuju pintu utama agar terbuka lebar, dan mengetuk pintu kamar majikan untuk memberitahu kehadiran janda muda tersebut.
"Pak, Bu, ada Non Sindi. Yang tadi ketemu di bandara, membawa ketiga anaknya. Kayaknya lagi ada masalah dengan Luqman. Buka pintu paviliun yang sebelah kamar Neng Nancy ya, Pak?" tanya Nanang, ketika melihat pria paruh baya itu langsung berhamburan keluar rumah menuju teras.
"Ya, buka pintu paviliun," tunjuknya, kemudian melanjutkan ucapannya, "Minta tolong Unik untuk membersihkan kamar, karena Neng menginap di rumah mertuanya. Besok pagi mereka baru kembali ke rumah!" sambil merogoh kocek untuk membayar tagihan taksi online Sindi.
Semua orang-orang Sugondo bergerak cepat untuk membantu Sindi, membawa barang-barang janda berhijab itu, agar dapat beristirahat dengan nyaman di tempat yang telah tersedia untuk para tamu yang ingin menginap di kediaman mereka.
Sindi menggelengkan kepalanya, "Tidak usah Pak, sudah saya bayar," tolaknya cepat.
Ningsih menghampiri Sindi, kemudian membantu anak-anak wanita itu untuk membawa mereka ke dalam kamar paviliun yang terletak bersebelahan dengan kamar putri kesayangan mereka.
"Sini, biar Ibu bantu. Kamu istirahat dulu, besok pagi kita ngobrol ya? Oya, kamu sudah makan, Nak? Kalau belum, nanti bibik yang akan mengantarkan kebutuhan kamu ke dalam kamar ya?" tambahnya lagi.
Sindi menganggukkan kepala, sejujurnya sejak tiba di kediaman Luqman, tak seteguk air pun yang dapat ia rasakan karena perasaan tidak nyaman disebabkan perubahan Melinda terhadapnya sejak awal bertemu.
Perubahan Melinda terlihat sangat jelas, karena status jandanya dan memiliki tiga orang anak, sehingga membuat wanita paruh baya itu tidak memberikan restu kepada putra kesayangannya.
Juno mengerjabkan kedua bola matanya, mengusap lembut wajahnya, karena merasa asing begitu melihat suasana yang berbeda dari tempat awal mereka tiba di kota kembang.
"Bun, kita dimana?" tanyanya, ketika melihat Ningsih masih menutup jendela, dan memberitahu semua apa-apa saja yang tersedia di paviliun tersebut.
Sindi menoleh kearah putra pertamanya, kemudian duduk dibibir ranjang dan merangkul Juno sambil berkata, "Kita di rumah Aunty Nancy. Tetapi aunty lagi di rumah keluarganya. Jadi kita di sini dulu, karena kalau ke hotel bunda enggak tahu mau kemana. Mau ke rumah Uncle Aldo, bunda enggak tahu dimana kediaman mereka. Jadi kita kesini saja, karena bunda tidak mau menyusahkan orang lain, terutama Om Luqman."
Juno tersenyum sumringah, ia melirik kearah Ningsih dan Sugondo yang masih memberi perintah kepada Unik untuk melengkapi semua isi kulkas yang ada di paviliun tersebut.
"Istirahatlah, kami permisi ya!" jelas Sugondo menarik tangan istrinya.
__ADS_1
Perlahan Sindi menganggukkan kepalanya, ia merasa sungkan karena telah merepotkan keluarga mantan kekasihnya yang sejak dulu selalu baik padanya.
Sindi menghampiri kedua orang tua Nancy, sambil berkata dengan mata berkaca-kaca, "Ma-ma-maafkan Sindi, Pak, Bu. Telah merepotkan keluarga ini malam-malam. Jujur Sindi sungkan, tapi karena tidak tahu mau pergi kemana makanya Sindi membawa anak-anak kesini."
Ningsih tertawa kecil, mengusap lembut lengan janda berhijab itu dengan penuh kasih sayang, "Sudah ... kamu istirahat dulu. Jangan pernah merasa sungkan. Karena kami juga keluarga kamu selama di sini. Besok pagi, pasti Neng Nancy akan langsung kesini. Kalian bisa jalan-jalan, dan berlibur bersama. Aditya hanya ada kegiatan sebentar saja, karena lusa kami mau ke Jogja. Kalau kalian mau, ikut saja. Kita jalan-jalan sekalian traning sama buruh pabrik. Karena kami menggunakan bis pariwisata."
Sindi menganggukkan kepalanya, ia merasa nyaman karena kebaikan Keluarga Sugondo yang sangat welcome padanya.
"Sudah, Ibu sama Bapak istirahat lagi. Nanti Sindi yang menghubungi Nancy. Sindi rasa Nancy belum tidur, karena dia biasa tidur larut malam," jelasnya.
"Ya sudah, Ibu tinggal ya? Kalau ada apa-apa panggil Unik saja, karena dia sudah terbiasa mengurus anak-anak."
Sindi menganggukkan kepalanya, kali ini ia sangat merindukan kehangatan keluarga yang sama persis dengan keluarganya masa dulu.
"Ibu persis banget sama almarhum Mama Sindi. Yah, setidaknya Sindi kembali ke kampung halaman, mendapatkan perhatian dari keluarga baik seperti kalian," peluknya menangis haru.
Ningsih memeluk gadis ramping yang masih menutup kepalanya tersebut, sambil mengusap lembut punggung Sindi dengan baik.
Kedua orang tua Nancy meninggalkan Sindi yang langsung mengunci pintu kamar itu untuk beristirahat. Sedikit berbisik karena penasaran akan perbuatan Melinda, yang pasti menyakiti wanita sebaik Sindi.
Sementara di kamar paviliun itu, Sindi menghela nafas panjang, membersihkan dirinya, kemudian melakukan tugasnya sebagai seorang muslimah dalam melakukan ritualnya menjalankan perintah agama yang ia anut sejak lahir.
"Ya Allah Gusti, ampunilah hamba mu ini. Jika memang Luqman bukan yang terbaik, tunjukkan bahwa dia hanya bisa di jadikan sahabat seperti Aa Aldo, tanpa harus menunggu lama. Jadikan liburan kali ini, menjadi berkah untuk ku dan ketiga buah hati ku. Hamba hanya manusia yang bergelimang dosa, tidak luput dari kesalahan. Tapi hamba tidak ingin di cintai tanpa restu dari Keluarga Luqman, Amin ..."
Matanya tertuju pada ketiga buah hatinya, yang menjadi kekuatannya, ketika Dedrick meninggalkannya seperti saat ini.
"Hmm, untung aku bukan wanita lemah. Emang Mama Melinda pikir, aku mau menikah begitu saja dengan anaknya. Masih banyak orang yang ingin menerima aku dan ketiga anak ku, tidak harus anaknya! Tadi dia bilang Luqman pernah membawa wanita berpangkat enggak jelas? Kenapa Luqman tidak jujur pada ku tentang siapa wanita yang ia dekati selama ini. Ahh, dasar perjaka akut, yang enggak bisa menolak permintaan orangtuanya. Pantas saja sampai saat ini dia masih jomblo ..." tawanya menyeringai kecil, menoleh kearah handphone yang bergetar diatas meja.
"Nan-cy ..."
Sindi : "Ya neng geulis! Ayak naon?"
Nancy : "Teteh nginap di rumah? Kenapa enggak ngasih tahu? Teteh sudah makan, jika belum Neng minta tolong Mang Nanang jemput ke rumah Bapak, ya? Karena Ibu mertua tadi masak enak banget, dan masih banyak. Neng suruh jemput ya?"
__ADS_1
Sindi tertawa terbahak-bahak mendengar celotehan Nancy diseberang sana ...
Sindi : "Enggak perlu geulis. Teteh enggak lapar kok. Tadi Bapak juga sudah mengisi kulkas dengan berbagai macam makanan. Nanti kalau lapar, tinggal buat saja. Enak ternyata paviliun kamu, kayak tinggal di hotel, berapa ni satu malam?"
Nancy mendengus dingin ...
Nancy : "Gratis, mau seumur hidup juga tinggal di sana, tetap gratis. Jangan macam-macam, anak-anak suka makan tengah malam. Sebentar lagi Mang Nanang akan mengantarkan makanan buat Teteh. Anggap kayak rumah sendiri ya, jangan sungkan. Besok tukang londri juga datang mengambil kain kotor. Teteh lagi ngapain? Masih ada Luqman di sana?"
Sindi : "Teteh sendiri geulis. Luqman hanya membantu Teteh angkat anak-anak ke mobil, karena kami sempat ribut tadi. Biar dulu lah semua tenang, karena dia enggak cerita kalau Mama Melinda telah berubah jadi monster semenjak Papa Siagian meninggal dunia. Ya, biarin dulu seperti ini ..."
Nancy : "Besok kita jalan-jalan. Biar anak-anak diasuh oleh Unik, karena ada Abdi juga, kan? Besok pagi kita ketemu ya, Teh. Teteh istirahat dulu, kalau jodoh tidak akan kemana. Enggak ada Luqman, masih ada Kolonel Simon yang katanya baru kematian istri. Kami baru dapat kabar, kalau kehilangan Ibu Persit terbaik. Besok kita melayat, baru deh jalan-jalan keliling kota kembang. Pasti kangen kan, sama batagor Bandung ..."
Keduanya tertawa terbahak-bahak, jika mengingat semua kuliner yang sangat menggugah selera.
Sindi : "Iya, teteh baru selesai sholat. Jadi mau istirahat dulu, see you more darling ..."
Nancy : "See you too, Teh ..."
Nancy mengakhiri panggilan teleponnya, menoleh kearah Aditya yang masih berbicara dengan Luqman di seberang sana.
Aditya : "Ya sudah, besok kita bertemu di rumah Komandan Simon, dan langsung ke arhanud!"
Luqman : "Siap Ndan!"
Aditya menatap lekat iris mata indah istrinya, merangkul bahu Nancy, agar merebahkan kepalanya di dada kekar sang suami tercinta.
"Mas terkadang sedih sama Luqman. Pengen nyuruh dia ninggalin Mama-nya, tapi enggak tega ..."
"Jangan atuh Mas, kasihan Mama-nya sudah membesarkan anaknya, biarin saja. Teh Sindi itu enggak pernah masukin ke hati semua masalah yang ada. Kali ini dia ingin berlibur, membawa anak-anak mengenal kota kembang yang menjadi kota kecilnya," jelas Nancy dengan nada lembut.
Keduanya masih duduk saling berpelukan di ruang keluarga, sambil menikmati segelas sekuteng yang baru di beliin Nanang ketika menjemput makanan untuk Sindi.
Atmaja dan Sulastri yang melihat kemesraan anak menantunya dari balik pintu kamar yang sengaja mereka buka sedikit ketika menidurkan Abdi, tersenyum sumringah dengan perasaan bahagia.
__ADS_1
"Alhamdulillah ya Pak. Walau awalnya Adit anak mu tidak mau menerima Nancy, tapi sekarang mereka semakin mesra. Setelah hampir dua tahun pernikahan mereka. Ibu yakin, sebentar lagi Abdi akan punya adik. Semoga saja perempuan ..."
Atmaja mengangguk meng'iya'kan, "Semoga tidak ada lagi yang ingin memisahkan mereka ..." usapnya pada kepala Abdi yang masih menggunakan dot susu formula.