Merebut Hati Suami Mayor

Merebut Hati Suami Mayor
Kita racun ...


__ADS_3

Aldo tersenyum, "Dua bule itu partner bisnis keluarga bini lo! Jangan egois, tolong pilah. Mending kalau mau selingkuh, mereka milihnya hotel, bukan restoran!" tukasnya.


"Ta-ta-tapi do!"


"Duduk suami egois!" perintah Aldo dengan wajah garang.


Tidak banyak bicara, Aditya duduk masih menatap nanar kearah Nancy yang duduk berhadapan dengan dua pria bule, yang ia ketahui bernama Bethrand, dan satunya lagi hanya mengenal samar, karena menggunakan pakaian bebas sama seperti dirinya.


Aditya menoleh kearah Aldo, "Siapa pria blesteran yang duduk di sebelah Bethrand itu? Apakah dia seorang polisi militer? Melihat dari gayanya, sepertinya aku pernah satu barak sama dia saat pendidikan ..."


Aldo tersenyum lebar, mengangguk membenarkan, "Ya, dia Gibran dari polisi militer yang menangani setiap angkatan yang berkasus seperti mu!"


Aditya bergidik, tak menyangka bahwa kali ini dia akan berurusan dengan pria yang satu angkatan dengannya, "Sial! Dia itu kan, dari kesatuan PM (Polisi Militer) yang akan menangani kasus ku. Tadi Bapak sempat menyebut namanya, dan aku akan berurusan dengannya. Ternyata dunia ini sempit, tidak pernah memberi ruang pada ku untuk berurusan dengan orang lain yang tidak mengenal Nancy!" sesalnya dengan wajah menggeram merah.


Sejujurnya Aditya sangat malu jika harus bertemu dengan pria yang mengenal Aldo ataupun Bethrand, karena beberapa kali dia ingin mencekik pria yang sengaja memanas-manasinya untuk menjaga Nancy.


"Do, ane lihat Bethrand itu suka sama bini ane! Lihat tuh gaya bicaranya, dan gaya dia menatap wajah Nancy. Ane enggak bisa biarin ini, ane harus memberi pelajaran pada bule jelek itu!" geramnya mengepal kuat tangannya, dengan rahang yang semakin mengeras karena menahan amarah.


Tentu pernyataan Aditya membuat Aldo semakin tertarik untuk menggodanya, "Lo bilang kagak cemburu! Biarin lah, kali saja Nancy tertarik buat ubah selera, daripada cintanya bertepuk sebelah tangan sama lo, mending dia membuka hati untuk pria lain. Kali saja Bethrand jadikan Nancy istri kedua setelah kalian berpisah!" tukasnya membuat buku-buku tangan Adit semakin memutih.


BRAAK ...!


Aditya tersulut emosi, menepuk meja restoran dengan tangannya yang bergetar hebat, saat mendengar penuturan sahabatnya ...


"Lo pikir bini ane cewek murahan! Enak saja lo, mau memberi ruang buat Bethrand mendekati Nancy! Untuk jadi bini kedua lagi!" Seketika Adit tersadar, melanjutkan pertanyaannya, "Eeh wait ... Emang tuh bule udah nikah njiir?"


Aldo tertawa terbahak-bahak mendengar celotehan Aditya yang sangat lucu bahkan tidak mampu menahan rasa cemburunya.


"Gue seneng banget lihat wajah lo! Kayak anak abege yang baru jatuh cinta!" tawanya mengejek sahabatnya.


Aditya mendengus dingin, dia berlalu meninggalkan Aldo yang sengaja membuatnya terbakar api cemburu. Tentu saja, Aldo bergegas mengikuti langkah Aditya agar tidak membuat onar di restoran miliknya.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang, Aditya mendekati Nancy yang belum menyadari suaminya berada di restoran yang sama. Karena posisi masih terlihat remang dan tipe wanita cantik itu, tidak suka melihat-lihat sekitarnya jika tengah berbicara serius dengan seseorang.


Nancy yang sejak tadi terlihat sangat cantik dan anggun, setelah menghabiskan waktu di salon. Seketika mendapatkan telepon dari Sugondo untuk bertemu dengan Gibran yang akan menangani kasus suaminya di persidangan militer minggu depan.


Gayung bersambut, Nancy yang telah selesai dengan segala perawatan kecantikannya, langsung bergegas menyusul Bethrand tanpa harus menghubungi Aditya.


Aditya mendehem di belakang Nancy yang posisi duduknya membelakangi suaminya itu, "Ehem ..."


Bethrand tertawa kecil, mendengar deheman dari pria kaku yang angkuh, berdiri di belakang Nancy.


Tentu senyuman Bethrand, membuat Nancy tampak kebingungan dan langsung mengalihkan pandangannya kearah belakang ...


"Mas!"


Adit tersenyum lirih, kemudian berkata, "Giliran Mas yang mengajak ketemu enggak bisa! Tapi giliran dua pria bule ini langsung ada waktu!" geramnya tanpa memikirkan dimana saat ini mereka berada.


Tentu Nancy tertawa kecil, mendengar penuturan Aditya, yang menurutnya sangat kekanak-kanakan, dan tidak bisa menahan diri ...


Belum jadi Nancy menjelaskan pada Aditya, pria yang tampak bringas itu langsung menarik lengan istrinya dengan sangat kasar dari tempat duduk wanita cantik itu.


"Pulang!" bentaknya.


Nancy melawan, kali ini dia tidak peduli dengan semua orang yang akan melihat pertikaian mereka berdua. Ia menghentakkan lengannya, agar terlepas dari genggaman tangan Aditya yang mencengkram sangat kuat ...


"Lepas! Mas Adit kenapa sih? Kamu tahu Neng ngurusin apa? Ngurusin kasus kamu yang sangat menjijikkan itu Aditya Atmaja!" geramnya dengan mata melotot. "Bisa enggak jaga sikap kamu didepan umum? Kamu cemburu hmm?" tantangnya lagi.


Aditya menelan ludah, matanya mengawasi situasi yang masih tampak melirik kearah mereka, sementara Aldo menggelengkan kepalanya.


Dua pria bule itu hanya memijat-mijat keningnya, karena merasa malu melihat Aditya yang sangat arogan dihadapan mereka.


Aditya menggelengkan kepalanya, mengisyaratkan bahwa dirinya tidak cemburu, namun sikapnya, menunjukkan bahwa ia sedang berada dalam amarah yang membuncah oleh rasa memilikinya terhadap Nancy begitu tinggi. Sehingga ia tidak mengizinkan wanita cantik itu dikelilingi pria yang lebih darinya.

__ADS_1


Nancy tersenyum sumringah, "Bagus kalau enggak cemburu! Berarti kali ini, Neng bebas mau keluar sama siapa saja! Biar kita impas! Kalau bisa Neng nikah lagi sama pria muda dan lebih tampan dari kamu!" geramnya.


Seketika Nancy menoleh kearah Bethrand juga Gibran, tersenyum tipis karena malu, mengambil tasnya, dan memberikan amplop coklat sesuai perintah Sugondo, diatas meja.


"Maaf! Sepertinya kita akan bertemu dilain waktu saja. Karena ada pengganggu yang tidak pernah sadar diri! Neng permisi mister!" tunduknya hormat, merogoh kunci mobil, memilih berlalu setelah meletakkan uang pecahan 100 ribuan sebanyak lima lembar untuk membayar makanan mereka diatas meja.


Melihat pemandangan itu, Aditya tidak tinggal diam, ia tidak ingin kehilangan istrinya kali ini, yang ternyata telah membantunya dalam menyelesaikan kasus memalukan tersebut.


Adit menoleh kearah Aldo yang masih berdiri memperhatikan gerak-gerik pasangan suami istri tersebut dengan senyum-senyum mengejek kecil kearah sahabatnya.


"Do, ane izin dulu! Mau nyelesaiin masalah! Makasih yah!"


Aldo yang tahu gelagat Adit langsung menjawab ucapan sahabatnya, "Lo cemburu?"


Adit menoleh kearah Aldo, lalu memberikan jari tengahnya, "Ane sayang setan!" geramnya spontan.


Aldo hanya tertawa terbahak-bahak, melihat kearah Bethrand juga Gibran, "Yang katanya enggak cemburu, melihat bininya sama kalian saja sudah kalang kabut! Bagaimana jika aaagh entahlah, ada yah pria egois begitu! Di tolongin salah, enggak di tolong kasihan. Terkadang orang dikasih barang bagus, mintanya barang soak. Aditya-Aditya ... Bodohnya kamu mau terkena kasus sampah begini!"


Mereka tertawa-tawa sambil menoleh kearah uang yang ada didalam amplop serta diatas meja.


Aldo menautkan kedua alisnya, "Ini uang apa hmm? Jangan bilang mereka membayar 100 juta untuk eee ..."


Gibran tertawa kecil, "Setoran! Lagian kasus Aditya ringan sih. Apalagi Nancy tidak menuntut suaminya. Bahagia sebenarnya Aditya mendapatkan istri seperti Nancy, tapi mungkin dia kurang bersyukur saja. Jadi salah langkah!"


Aldo mengangguk membenarkan, sekaligus bertanya, "Masuk sel enggak tuh bocah?"


Gibran menggelengkan kepalanya, menjelaskan pada Aldo karena memang mereka juga saling mengenal, "Yang penting Nancy datang ke persidangan minggu depan, dan pihak keluarga sudah membuat berita acara permohonan maaf. Jadi ini hanya sidang formalitas saja. Karena Pak Atmaja sudah menghubungi orang pusat. Cuma Aditya diberi cuti dulu selama dua bulan untuk pengalihan. Rencananya mereka mau berlibur. Mudah-mudahan Pak mayor bisa berubah, mendapatkan perhatian luar biasa dari keluarga, tanpa menghiraukan pernikahan sirihnya!"


Aldo menggelengkan kepalanya, "Ya sahabat gue emang rada-rada bego sih! Bagaimana kalau nanti malam, kita undang dia kesini, kita buat dia gila, untuk menanyakan isi hatinya. Kita rekam, kita kirim tuh ke Nancy!"


Bethrand tertawa kecil, mengangguk tanda setuju, "Kita racun tuh bocah tengil! Pengen lihat dia gila kayak apa!"

__ADS_1


__ADS_2