Merebut Hati Suami Mayor

Merebut Hati Suami Mayor
Bisa menjadi mantan Mas Adit ...


__ADS_3

Sudah lebih dari empat hari Aditya dan Nancy berpisah. Nancy tidak mengurungkan niatnya untuk tetap berlibur ke Swiss mengunjungi keluarga Aldo yang merupakan Abang dari Sugondo, bersama Emi juga Prisil sesuai rencana mereka untuk berlibur bersama ...


Cuaca di Swiss sangat sejuk, bahkan lebih sejuk dari Lembang, tempat Nancy di lahirkan dan di besarkan.


Kaki Nancy berhenti melangkah, hanya untuk memastikan bahwa saldo tabungannya tidak berselisih. Keningnya mengerenyit masam memandangi struk pengambilan uang di mesin ATM.


"Kenapa uang Mas Adit berkurang ...? Bukannya ini tabungan kita bersama? Kenapa enggak ngomong kalau mau ada pengeluarannya sebesar ini ..."


Nancy merogoh kocek jaket, untuk mengambil handphone miliknya, hanya untuk sekedar memastikan bahwa yang mengambil saldo tabungan mereka adalah Aditya.


Tanpa menunggu lama, langsung terdengar suara Aditya di seberang sana ...


[Ya Neng sayang ...]


[Mas dimana? Sudah selesai sidangnya, kemaren ...]


[Sudah, tidak ada masalah. Kenapa ...]


Nancy masih berusaha tenang, sambil melambaikan tangan kepada kedua wanita yang tengah menunggunya di salah satu restoran, tidak jauh dari tempat dia berdiri.


[Mas ada ngambil uang tabungan kita? Buat apa, bukannya tabungan yang atas nama Mas Adit ini uang gaji Mas ditambah uang Neng yang di dapat dari kebun. Kenapa saldo jadi berkurang banyak yah? Lebih kurang 20 jutaan. Tadi Neng cek di m-banking ini pengambilan tunai. Mas enggak beli sesuatu yang nggak penting, kan ...]


Terdengar suara tertawa Aditya di seberang sana ...


[Iya, kemaren Mas ngambil tunai. Karena uang di ATM sebagai pegangan Mas, enggak cukup. Kemaren hmm eee, selesai sidang ... Mas melihat anaknya Evi. Eee, merasa kasihan sama anaknya, yah ... Mas titipin uang itu untuk cucu Pak Sunardi. Karena Mas tidak bisa membantu dengan cara lain, yah setidaknya kita ada rejeki, kita bantu ...]


Mendengar penuturan Aditya di seberang sana, seketika membuat darah Nancy semakin mendidih, bahkan bulu kuduknya meremang dan rambutnya seakan-akan berdiri tegak karena tidak ingin mempermasalahkan hal uang kepada Aditya. Melainkan dia tidak suka, harus memberi kepada orang yang mampu seperti Sunardi yang jahat kepada keluarganya.

__ADS_1


[Ooh ... Lebih baik uang 20 juta itu, kamu beliin susu Abdi dari rasa strawberry, coklat, sampai vanila, Mas. Satu karton besar, kamu tumpukin di gudang rumah Bapak, pasti Abdi akan mendoakan kamu, oooh Tuhan ... Lancarkan rejeki Papa Abdi, agar tidak bodoh dan dungu seperti ini!!!]


Mendengar makian dari istrinya, membuat Adit naik pitam. Dia tidak terima dikatakan bodoh, bahkan dungu oleh Nancy.


[Apa sih Neng? Kamu kenapa? Yang Mas kasih itu uang Mas, Neng! Bukan uang kamu ... Lagian wajar Mas ngasih anaknya Evi, dia anak yatim. Dan kita sebagai orang yang tahu akan agama, harus menafkahi anak yatim. Tolong hentikan hinaan kamu. Kali ini Mas marah sama kamu karena perkataan bodoh itu keluar dari bibir kamu]


[Oke. Disini Neng tidak bahas tentang agama. Yang Neng bahas ... Kenapa Mas sok-sok peduli sama anak Evi? Apa karena dia janda? Hmm kalau begitu, Mas jandain Neng, karena Neng ingin merasakan bagaimana rasanya di perhatikan oleh Mas Adit jika sudah menyandang status janda ...]


[Neng! Jaga ucapan kamu ...]


Akan tetapi Nancy langsung mengakhiri sambungan teleponnya. Dia mengalihkan pandangannya kearah lain, dengan mata berkaca-kaca dan semakin membuat hatinya semakin terasa sangat sakit.


Nancy duduk di kursi yang tersedia, agar dapat mengatur perasaannya kali ini.


"Kenapa sih Mas, kamu begitu egois. Ini bukan masalah uang. Tapi masalah kejujuran dan keterbukaan dalam hubungan kita. Kenapa kamu memberi dulu pada mereka baru mengatakan sama, Neng. Padahal kami sebagai pihak pabrik selalu menyisihkan sebagian uang kami untuk anak Evi setiap bulannya. Kenapa lagi-lagi wanita itu yang membuat Mas jadi berubah sama, Neng ..." tangisnya, dengan kedua telapak tangan menutup wajah.


"Mi ... Kamu samperin Nancy. Dia kenapa lagi? Kok sudah dua hari badmood saja," bisik Prisil ketelinga sahabatnya.


Emi mengangguk membenarkan, "Tunggu di sini. Aku panggil dulu yah ..."


Prisil mengangguk setuju.


Tak menunggu lama Emi menepuk pundak Nancy yang masih menangis tersedu-sedu di kursi yang tersedia, berhadapan dengan ATM sebagai tempat orang wara-wiri dihadapan mereka berdua.


Emi merangkul bahu Nancy, langsung menebak, dan bertanya, "Hei ... Kamu kenapa lagi? Berantem lagi sama Mas Adit?"


Nancy menghela nafas panjang, dia memperlihatkan layar handphone miliknya yang lagi-lagi menyala yang langsung tertulis, 'My first love' ...

__ADS_1


Emi tertawa kecil, melihat layar handphone milik Nancy, kemudian berkata pelan ... "Angkat atuh ..."


Nancy menggelengkan kepalanya dengan cepat. Dia tidak ingin berdebat dengan Aditya. Apapun alasannya, kali ini dia tidak suka dengan sikap suaminya, karena selalu mengulangi kesalahan yang sama.


"Ya sudah ... Kita makan? Besok kita kan mau trip to Prancis. Jadi enggak boleh bete. Today, kita jalan-jalan, makan enak, menikmati keindahan Eropa, jangan pikirkan masalah. Apalagi kalau masalah rumah tangga ... Duuh enggak pernah ada habisnya sayang. Jadi mumpung kita di sini, kita happy. Nanti kalau orangnya sudah ada dihadapan kita, baru kita hajar, kalau perlu kita injek-injek dan buang ke limbah pabrik!!" celotehnya.


Nancy hanya bisa mengangguk. Kali ini, dia seperti tidak di hargai oleh Aditya. Dadanya masih terasa sangat sakit, jika mengenang kisah kebodohan Aditya yang mau menikahi Evi.


"Kenapa Mas Adit enggak pernah berubah? Emang Evi itu memberikan dia kenikmatan seperti apa? Sampai-sampai tidak bisa melupakan wanita itu ...!" geramnya sepanjang jalan, ketika menghampiri Prisil yang menunggu mereka berdua.


Prisil dan Emi saling memberi isyarat, membuat mereka berdua hanya bisa menghibur Nancy agar kembali tersenyum lebar dihadapan mereka.


Dengan berat hati Prisil bertanya kepada Nancy, dengan kedua telapak tangannya menopang wajah cantik itu di atas meja, "Kenapa lagi sih Mas Adit?"


Nancy yang awalnya tidak ingin membahas tentang Aditya Atmaja, akhirnya membuka laporan m-banking tabungan mereka bersama.


"Aku enggak minta jalan keluar dari kalian berdua. Tapi aku hanya ingin bertanya ... Kenapa Mas Adit tidak bisa melupakan Evi, hingga ke anak, atau mungkin sampai ke cucunya nanti ..." geramnya langsung berpangku tangan, menyandarkan tubuhnya di kursi restoran.


Emi dan Prisil saling menatap satu sama lainnya. Sejujurnya mereka berdua bingung dengan tingkah Aditya, yang masih sok dekat dengan mantan kekasih masa lalunya.


Spontan Emi bertanya, "Jadi yang waktu Mas Adit mencaci-maki Evi di club', setingan dong? 20 juta banyak lho ciin ... Kalau 200 ribu, dua juta, 20 ribu, okelah yah. Tapi kalau 20 juta, aku juga mau jadi mantan Mas Adit ..."


Dengan cepat Prisil menyela ucapan Emi, "Setuju ... Aku juga mau beib ... Enak jadi mantan Mas Adit, di perhatikan, ya kan ...?" tawanya hanya untuk menghibur.


Nancy tersenyum ... "Aku juga berharap pulang dari sini, bisa menjadi mantan Mas Adit ..."


Sontak pernyataan Nancy, membuat dua wanita cantik itu ternganga lebar, sambil berseru keras secara bersamaan ...

__ADS_1


"What! Apakah kamu serius!?"


__ADS_2