
Setelah berbincang-bincang di ruang keluarga selama dua jam bersama orang tua, Ningsih memberikan kunci rumah pada Nancy, namun Aditya menolak dengan sangat sopan ...
"Maaf Bu ... Malam ini kami berdua menginap di hotel yang di berikan Aldo saja. Masih ada dua malam lagi, sayang kalau tidak di gunakan," tawanya menunduk malu, tapi di goda oleh Sugondo ...
"Jangan macam-macam lagi yah Nak Adit! Kalau macam-macam tak tenggelamin kamu di sawah Bapak yang ada di Curug sana," geramnya.
Ningsih menautkan kedua alisnya, menggeleng tidak setuju, "Kenapa mesti nginap di hotel? Besok kalian ke Jakarta, terus siapa yang bangunin kalian berdua hmm? Kalian kalau sudah ngamar, enggak ingat waktu! Sudah nginap di paviliun saja. Sudah dibersihkan sama Sumi tadi kamarnya ...!"
Nancy menoleh kearah Aditya yang mengangguk patuh, dan menerima kunci paviliun yang ada ditangan Ningsih Ibu mertuanya.
"Sudah istirahat sana, Abdi biar sama Ibu saja. Unik dia pulang dulu, karena besok ada kuliah pagi, jadi jam 11.00 baru kembali ke sini," jelasnya panjang lebar.
Nancy mengangguk setuju, dia menarik tangan Aditya untuk beranjak ke kamar paviliun mereka berdua, sambil menenteng paper bag yang sama sekali belum mereka buka.
Perlahan Aditya membuka pintu paviliun, yang telah memberikan kenangan tersendiri baginya, membuat ia benar-benar teringat masa indah bersama Nancy.
Aditya membalikkan badannya, membuat Nancy yang berdiri di belakang sang suami terlonjak kaget, karena langsung menerima serangan didepan pintu.
Aditya menggendong tubuh istrinya, tanpa menghiraukan mertua, tengah melihat dari balik jendela ...
"Ck ck ck, ternyata kalau udah baikkan enggak kasih jedah buat pasangan melangkah masuk kamar yah, Bu!" tawa Sugondo, menoleh kearah Ningsih.
"Biarin deh Pak! Mereka mau jungkir balik, mau ngapain, yang penting Nak Adit sudah terlihat menyayangi anak kita! Jadi sekarang tinggal kita membantu mereka untuk selalu bersama-sama, ditambah Nak Adit bakal naik pangkat. Pasti mereka akan tinggal di rumah dinas, Pak!" jelasnya dengan nada suara bergetar, dan mata berkaca-kaca.
Sugondo yang mendengar Nancy akan tinggal di rumah dinas terdiam sejenak, mata sayu itu berkaca-kaca bahkan tidak ingin jauh dari Nancy putri kesayangan satu-satunya.
Sugondo bertanya, karena merasa keberatan pada Ningsih, "Emang harus yah, Bu? Nancy tinggal dirumah dinas? Kita larang saja bagaimana?"
Ningsih menaikkan kedua bahunya, "Enggak tahu sih Pak. Coba dengar saja cerita anak-anak jika sudah kembali dari Jakarta. Jika mereka memang pindah, terpaksa kita harus rajin-rajin berkunjung kesana. Eeeh, Ibu belum ngasih tahu sama besan, kalau anak-anak nginap di paviliun. Jadi suruh kesini saja, yah? Minta bawain makanan kesukaan Aditya? Terus bagaimana rencana liburan ke luar negeri, Pak? Enggak jadi?"
"Mana Bapak tahu! Bapak justru pengennya mereka di sini saja, sama kita. Nanti Bapak beliin apa maunya, Neng. Sebentar lagi dia mau jadi ketua Ibu Persit Kartika, pasti akan berkumpul sama istri-istri jenderal, dan kumpul sama ibu-ibu pejabat gitu. Sosialita, Bu ..."
"Hmm ..."
__ADS_1
Ningsih membawa Abdi ke kamarnya, sementara Aditya tengah mereguk keindahan surga bersama Nancy tanpa memikirkan perut yang semakin terasa lapar.
"Ahh ... I love you, Neng ..." Adit menghentakkan pinggulnya beberapa kali saat mencapai pelepasannya, membuat Nancy merasa lega, karena merasakan kehangatan kedutan miliknya dibawah sana, yang mencengkram erat milik suami tercinta.
Pakaian berserakan dilantai kamar, dengan sprei spring bed berantakan tak karuan.
Kamar paviliun yang mereka huni sejak menikah membuat Adit enggan untuk membuka matanya, setelah melepaskan semua hasrat yang selama ini terpendam.
Sementara Nancy memilih membersihkan diri, membiarkan Aditya beristirahat di ranjang peraduan mereka, tanpa mau mengganggu suami tersayang.
Setelah melakukan ritualnya, Nancy mencari stock makanan yang ada didalam kulkas, ternyata sudah di persiapkan oleh Sugondo, tentu dengan bantuan Mang Nanang dan Sumi.
Nancy tersenyum sumringah, meracik bahan baku, menjadi masakan yang spesial untuk makan malam Aditya Atmaja. Namun, lagi-lagi pendengarannya mesti di kejutkan dengan suara panggilan Ibu mertua dari arah luar paviliun ...
"Neng, Neng Nancy!" panggil Sulastri ...
Bergegas Nancy membuka pintu kamar sedikit, agar tak terlihat Aditya yang masih terlelap diatas ranjang tanpa menggunakan pakaian, hanya tertutup selimut dibagian bawahnya saja.
"Nih ... Ibu masakin ayam kecap manis dan tumis saus tiram pokcay, kesukaan kalian berdua. Buat nambah tenaga ..." godanya.
Nancy tersenyum malu-malu, menunduk hormat menerima pemberian Sulastri, sambil berkata ...
"Neng baru selesai masak nasi dan filet goreng tepung Bu. Sama sambal kecap, kenapa repot-repot, Bu? Lagian besok pagi kami mau ke Jakarta," jelasnya sungkan.
"Sudah, enggak apa-apa. Besok angetin saja untuk sarapan pagi, atau besok Ibu bawain nasi goreng. Karena besok Bapak juga ikut sama kalian. Dua mobil saja ..."
Nancy menautkan kedua alisnya, kembali bertanya, "Emang kenapa Bapak mesti ikut, Bu? Bukankah besok sidang saja sama polisi militer?"
Sulastri menggelengkan kepalanya, hanya menjelaskan secara singkat, "Justru besok pelantikan Mas Adit untuk menjadi Kolonel bintang satu, Nak. Jadi kalian akan menjadi contoh bagi prajurit lainnya. Kamu juga akan tinggal di rumah dinas, kan? Di kasih ajudan dan semua fasilitas yang dapat menjamin keamanan dan kehidupan kalian bertiga. Selamat yah?"
Nancy termangu, jujur dia tak mengwtahui bahwa suaminya naik pangkat secepat ini, "Ooogh, begitu yah, Bu."
Hanya kalimat itu yang keluar dari bibir Nancy, melihat Sulastri berlalu meninggalkan paviliun mereka menuju rumah utama keluarganya.
__ADS_1
Nancy menutup pintu kamar, meletakkan rantang susun di meja makan, kembali mendekati Aditya yang masih terlelap ...
"Mas ... Mas, bangun! Apa enggak pake makan? Neng lapar banget lho ..." rengeknya meringkuk dibawah ketiak Aditya.
Aditya hanya menyunggingkan senyuman, dan mendekap tubuh Nancy sambil mengendus-endus pipi mulus sang istri.
Nancy menoleh kearah Aditya, bertanya karena suami tidak menceritakan rencana besok ...
"Emang benar, besok Mas naik pangkat? Kok bisa secepat ini?"
Aditya mengangguk meng'iya'kan pertanyaan sang istri. Sambil menjelaskan sedikit yang ia dengar dari para petinggi tadi siang.
"Saat ini, tugas Mas hanya mengikuti perintah kesatuan. Jadi tidak ada alasan untuk Mas menolak. Karena memang sudah sepantasnya Mas menjadi Kolonel. Sebenarnya setelah pulang dari Yordania, tapi semua terpending karena konflik timur tengah. Jadi semua prajurit akan naik pangkat besok. Kamu bisa pakai baju yang biasa saja. Jangan terlalu mengikuti trend istri-istri pejabat lainnya. Karena Mas tidak begitu suka dengan sosialita ibu-ibu itu. Apalagi arisan mereka sampai 20juta sebulan, dan jauh dari gaji serta tunjangan seorang kolonel. Nanti di audit, kita yang susah. Karena Pak Dida mengalami itu ..." jelasnya panjang lebar.
Akan tetapi, Nancy menyela ucapan suaminya, "Kalau Neng ikut arisan 20 juta sebulan, dan ikut ibu-ibu lainnya, apa salahnya. Toh pakai uang sendiri, bukan gaji kamu, Mas ..."
Aditya mendehem, "Ya terserah kamu sih! Mas enggak mau kamu terlalu banyak waktu diluar, tanpa memperhatikan Mas, juga Abdi. Mas enggak mau kehilangan perhatian kamu sebagai istri ..." rengeknya meraih tubuh ramping Nancy.
"Kok gitu? Kan, Neng yang menggantikan Bu Alvi. Berarti harus punya ide untuk menyalurkan hobi Neng dong, membantu anak-anak panti asuhan dan sekolah-sekolah yang berada dalam naungan yayasan Kartika. Benar enggak?"
Aditya menautkan alisnya, menggeleng karena tidak ingin istrinya terlalu sibuk, dia hanya ingin istrinya selalu bersama dalam semua kegiatan nantinya ...
"Enggak boleh. Neng sama Mas saja, titik!"
____
Hai hai hai ...
Sudah tanggal 29 Oktober saja, hayuuuk aaah ... Author akan mengumumkan dua orang yang menerima give yah ...😘😍
Terimakasih atas dukungannya selama satu bulan, next bulan depan pasti lebih seru lagi, karena ceritanya masih panjang, sepanjang jalan kenangan ...❤️❤️
Tolong balas chat Author yah, terimakasih dukungannya ... 🙏😘😍
__ADS_1