Merebut Hati Suami Mayor

Merebut Hati Suami Mayor
Jangan ngomel terus ...


__ADS_3

Pagi menjelang, Nancy tengah mempersiapkan semua kebutuhan Aditya seperti biasanya. Mereka akan berangkat ke Jakarta, bersama prajurit lainnya, ditambah satu mobil milik Sugondo dan Atmaja.


Aditya mengambil kunci mobil pemberian Aldo diatas meja, menuju mobil yang terletak di garasi, untuk menyalakan mesin mobil hanya sekedar memanaskan mesin.


"Mas, kita pakai mobil yang mana? Jangan mobil Aa Aldo, karena masih plat putih, takutnya di berhentiin polisi," ucapnya untuk mengingatkan, saat tengah memasang kaus kaki Aditya.


Aditya tertawa kecil, mendengar celotehan Nancy, "Enggaklah ... Mana berani polisi berhentiin kalau ada baret merah!"


Nancy mendengus dingin, ia memasangkan sepatu pantofel di kaki suaminya, yang terlihat mengkilap, dan baru didapat kemaren siang.


"Selamat yah Mas! Walaupun Mas banyak menyakiti Neng, tapi setidaknya Mas berhasil kembali menjadi suami yang baik, dan Papa buat Abdi. Ingat, jangan nakal lagi. Kalau masih nakal, Neng enggak mau balik lagi sama Mas!"


Aditya menggelengkan kepalanya, dia menangkup wajah cantik Nancy mengecup berkali-kali wajah cantik nan menawan tersebut.


"Mas cinta sama Neng, jangan ngomel terus!"


"Udah ... Neng mau siap-siap. Sudah jam berapa ini, Mas. Nanti Bapak manggil," rengeknya manja.


Aditya mengecup kening Nancy, kembali menyeruput teh hangat yang telah tersedia seperti biasa, kemudian beranjak untuk segera menghampiri mobil barunya.


Namun, Aditya memiliki feeling yang sangat kuat, saat melihat minyak rem di lantai carport yang menetes dari bawah. Entah mengapa pria gagah itu seperti melihat satu kejanggalan, tapi belum mau mempertanyakan pada Mang Nanang yang tengah bersenandung ketika membersihkan kendaraan majikannya.


Aditya langsung bertanya pada Nanang, karena tidak ingin terjadi apa-apa pada keluarganya, "Aa ... Aa ikut kan sama Bapak?"


Nanang yang mendengar pertanyaan dari Aditya langsung menghentikan aktivitasnya dan menghampiri pria tersebut, "Iya Mas Adit. Kunaon?"


"Hmm mobil Nancy jangan di pakai dulu, bilangin sama Angga atau Ibu, yah. Kayaknya ada yang bocor. Tadi saya lihat ada yang menetes, pas mau ambil id card yang terjatuh," jelasnya.

__ADS_1


Nanang memastikan kondisi mobil Nancy, dia menundukkan kepalanya, dan melihat ada tetesan seperti oli, namun pikirannya hanya tetesan air conditioner dari selang bawah.


"I-i-iya Mas! Nanti saya kasih tahu sama Ibu, untuk pakai mobil Neng Nancy yang satu lagi saja. Karena mobil itu jarang di gunakan. Ibu nanti mau bawa Abdi ke rumah sakit, buat imunisasi katanya ..."


Lagi-lagi mata Aditya teralihkan pada jejak tangan hitam, yang menempel di body mobil istrinya, "Hmm ... Sepertinya tadi malam ada yang masuk ke pekarangan rumah, siapa yah ...? Apakah ada orang jahat yang mau menyakiti keluarga ku ...?"


Aditya enggan untuk menyampaikan pada siapapun, karena perhatiannya teralihkan pada Abdi yang berada dalam gendongan Ningsih yang berjalan mendekatinya.


"Itu Papa, Nak ... Papa dapet rejeki banyak, dari Paman Aldo. Kayaknya kita jadi besan saja, Dit. Biar tidak jauh-jauh anak-anak kamu nantinya," titah Ningsih sambil tertawa kecil.


Aditya mendelik, memandangi wajah Ibu mertuanya yang menyatakan besan dengan Aldo. Sambil bertanya karena kebingungan, "Ma-ma-maksud Ibu apaan? Abdi di jodohkan sama anak perempuan Aldo, begitu? Emang bisa, Bu?"


Ningsih tertawa, "Ya bisa atuh kasep. Daripada anak kamu nanti ketemu sama wanita yang enggak jelas, bagus di jodohkan sedari kecil, jadi bisa dibilang kayak di kawin gantung gitu. Jadi saat mereka sekolah dan beranjak remaja, atau sudah cukup umur, baru di kasih tahu. Kan enggak apa-apa."


Aditya menolak, "Enggak Bu. Iya kalau mereka cinta, kalau enggak? Bisa perang terus! Enggak aagh ... Adit takut, menjodohkan anak-anak. Mereka punya pilihan untuk bahagia, jadi mereka bebas untuk melakukan apapun yang mereka suka."


Ningsih melebarkan senyumnya, menepuk pundak Aditya yang masih sibuk dengan mobil barunya, "Kamu di jodohkan nempel terus sama anak Ibu! Yang awalnya enggak mau, sekarang jadi mau. Bahkan enggak mau lepas, gemes sama kamu! Pengen tak cubit-cubit ..." geramnya.


Kembali Adit menoleh kearah mobil sedan Nancy, kemudian berkata, "Bu, kalau mau keluar nanti pakai mobil yang di depan ini saja, yah? Sepertinya, mobil Neng yang ini ada masalah, tapi belum Adit cek ..."


Ningsih tidak mengacuhkan omongan menantunya, karena melihat Nancy yang sudah cantik dengan balutan busana hijau Ibu Persit dengan rambut panjang yang di cepol tinggi dan disasak selayaknya ibu-ibu pejabat lainnya.


Nancy mengambil Abdi dari gendongan Ningsih, dan mencium pipi putra kesayangannya, "Hmm Mama pergi dulu yah, Nak. Kamu jagain Oma, jangan rewel. Nanti kalau Mama dan Papa sudah kembali kita jalan-jalan pakai mobil barunya Papa ..."


Abdi tertawa, menunjukkan dua gigi yang baru tumbuh dengan penuh tawa. Pipi gembul yang tembem, membuat Abdi terlihat tumbuh sangat bahagia di tangan Ningsih dan Sugondo yang selalu menyayangi sang cucu.


"Ma-ma-ma, Pa-pa-papa brhhm Pa-pa-pa ..."

__ADS_1


Celoteh Abdi yang menyemburkan salivanya membuat Nancy lagi-lagi memeluk dan mencium putranya. Dengan mata berkaca-kaca menatap kearah Ningsih ...


"Jagain Abdi yah, Bu. Nanti imunisasinya pergi sama Angga saja. Tadi sudah Neng kabarin. Jadi Neng pergi dulu. Unik mana Bu?"


Ningsih menunjuk kearah rumah induk, sambil mengusap lembut punggung putri kesayangannya, "Unik didalam. Sudah ... Yang penting sekarang kamu menjadi panutan, jangan cengeng. Istri komandan harus tegar, lagian kamu masih bisa melanjutkan pekerjaan kamu di kebun, dan bulan depan berangkat, kan? Sama Nak Bethrand dan Prisil katanya ikut juga. Bapak sih yang bilang, kalau Mas mu enggak sibuk ajakin saja. Kan bisa sekalian bulan madu. Jadi bisa buat adik baru buat Abdi," godanya.


Nancy meringis, mendengar ucapan Ningsih, membayangkan bagaimana sakitnya saat keguguran beberapa bulan lalu, membuat dia merasa trauma untuk hamil lagi.


Aditya menghampiri dua wanita itu, merangkul bahu Nancy dan membawa tubuh istrinya masuk dalam pelukannya, membuat Ningsih mengerenyitkan kening karena tidak pernah melihat anak menantunya semesra ini di hadapannya.


"Bu, Adit berangkat dulu! Sepertinya mereka sudah masuk tol, dan kami ketemu di tempat peristirahatan kilometer akhir," hormatnya pada Ningsih juga pada Abdi putra kesayangannya.


"Pa-pa-pa ..." pekik Abdi saat ingin meraih tubuh Aditya.


Sontak pemandangan itu membuat Nancy enggan untuk meninggalkan putra kesayangannya, karena baru ketemu dengan Abdi, di sebabkan ulah Aditya Atmaja.


"Sudah-sudah, cepat pergi! Hati-hati Neng, Nak Adit! Jangan ngebut-ngebut!"


Aditya memasukkan travel bag mini ke bangku penumpang bagian belakang, kemudian membukakan pintu mobil untuk Nancy, dihadapan Sugondo dan Atmaja, yang sejak tadi menyaksikan kemesraan anak menantunya.


"Hmm ... Yang mau pisah kemaren, akhirnya rujuk, Mas! Tambah mesra lagi, mudah-mudahan tambah cucu kita," tawa Sugondo, memasuki mobil Pajero miliknya.


Sementara Atmaja hanya geleng-geleng kepala, dan dapat bernafas lega. Berlari kecil menghampiri mobil baru putra kesayangannya, sambil berkata, "Deluan saja ... Bapak sama Nanang agak santai. Ingat hati-hati, jangan ngebut! Karena plat nomor kendaraan kamu masih profit!"


"Siap Ndan!" hormat Aditya pada Atmaja, namun lagi-lagi Abdi berteriak memanggil ...


"Pa-pa-pa, Ma-ma-ma!"

__ADS_1


Membuat Nancy berkali-kali mengusap sudut matanya, "Mama pergi yah, Nak!" tangannya melambai-lambai kearah Abdi yang terus memanggil mereka berdua ...


"Pa-pa-pa, Ma-ma-mama ..."


__ADS_2