Merebut Hati Suami Mayor

Merebut Hati Suami Mayor
Pengkhianat


__ADS_3

Duaar ... Duaar ... Duaar ...


Dor ... Dor ... Dor ...


Suara dentuman ledakan bom lagi-lagi terjadi, dan menewaskan lebih sedikit 200 jiwa warga sipil. Membuat Aditya yang berada di tengah-tengah baku tembak tersebut berusaha menyelamatkan diri dari serangan musuh, yang menginginkan merdeka di untuk wilayah belahan timur dunia.


Entahlah ... Ini pertama kalinya Adit berada di perang yang membuat bulu kuduknya merinding. Beberapa kali dia menyaksikan tubuh yang hancur berserakan ke tanah, karena menginjak ranjau yang sengaja di taroh oleh pihak lawan.


Kembali Aditya mengendap-endap masuk kesebuah lorong, yang ternyata terlihat jelas olehnya sosok pria yang menyerupai, Bambang. Sahabat sekaligus pria yang merebut Evi darinya.


"Bambang! Pssst ... Bro ... Bro!" panggil Adit saat berusaha bersembunyi dari serangan musuh siang itu.


Bambang menoleh kearahnya, lorong sempit yang hanya berjarak satu meter membuat mereka sulit untuk bergerak.


Namun Adit berusaha mendekati sahabatnya itu karena kaget, dipertemukan dengan Bambang dalam situasi ini.


Adit bertanya karena penasaran, "Kenapa kamu ada di sini? Bukankah kamu di Jakarta?"


Bambang meletakkan telunjuknya di bibir, "Ssssht ... Sebenarnya sudah hampir dua bulan aku ikut sama kalian, tapi kemaren kita sempat berpisah, karena team leader ku ada yang di jadikan sandera oleh mereka. Dan kami sudah melakukan negosiasi, untuk menyelamatkan dua jurnalis yang ada dalam sandera mereka. Tapi masih belum ada jawaban dari pihak kedutaan, bahkan negara kita."


Adit menautkan kedua alisnya, dua bulan ... Berarti selama ini mereka sama sekali tidak pernah bertemu muka, bahkan dipertemukan dalam situasi menegangkan seperti ini. 


"Sekarang dimana team mu? Aku akan kembali ke markas ku! Apa kamu mau ikut? Tapi ini khusus angkatan darat ... Yang penting kita aman dulu, karena kita tidak tahu musuh saat ini berada di sisi mana, selatan atau utara."


Adit membawa Bambang, mengendap-endap keluar dari lorong tersebut, menuju arah selatan. Tentu dengan sangat hati-hati, karena Bambang menggunakan pakaian kemeja, dan celana panjang berbahan jeans.


Mereka tiba di markas militer angkatan darat, yang komandoi oleh Aditya sendiri.


Luqman sedikit berbisik pada Aditya karena membawa orang sipil datang ke markas mereka, "Siapa dia bro? Jangan bawa orang asing, bisa jadi dia hanya mata-mata yang di bayar oleh pihak sekutu ..."


Adit menepis semua pikiran Luqman, Bambang merupakan sahabatnya, tidak mungkin akan menyakiti mereka.


Namun, Adit melupakan masalah pribadi yang di tikung habis-habisan oleh sahabatnya sendiri.

__ADS_1


Bambang masuk kedalam tenda yang terbuka, atas izin Aditya. Kecurigaan Luqman benar adanya, saat melihat sendiri gerak-gerik Bambang yang mengambil beberapa gambar di dalam tenda, tanpa izin Aditya ataupun prajurit lainnya. 


Sontak Ali yang ikut menyaksikan gerak-gerik Bambang, langsung bertindak, karena dia merupakan prajurit yang menyesiasati situasi.


Ali membalikkan tubuh Bambang, dan memutar tangan sahabat sekaligus suami sepupunya tersebut tanpa perasaan sungkan ataupun bersalah.


"Ali!" teriak Adit.


Ali tidak memperdulikan apapun tentang Bambang yang merupakan suami dari sepupunya, baginya pria yang ada dalam kepitan tangannya merupakan penghianat negara sekaligus sahabat yang mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri.


"Apa? Apa kau lupa siapa dia? Dan dari jurnalis mana dia bergabung?" sambungnya hanya untuk melindungi kesatuan angkatan darat.


Adit yang mendengar penuturan Ali, hanya bisa menelan ludah sendiri, menoleh kearah Luqman.


"Jangan lakukan apapun padanya! Istrinya tengah hamil, dan dia harus pulang dalam keadaan selamat! Jangan ceroboh Li!" Adit berusaha menenangkan Ali.


Sementara Luqman, mengambil kamera milik Bambang, dan menghapus semua foto-foto yang sengaja dia ambil barusan.


Luqman memperlihatkan beberapa foto yang menyatakan bahwa mereka menerima undangan makan malam dari sekutu.


Ali tidak mau tahu, baginya kali ini dia dapat membaca situasi, karena dia merupakan orang pintar yang di asingkan oleh Keluarga Sunardi.


Pertemuan Aditya dan Evi, merupakan campur tangan Ali, saat mereka sama-sama melakukan pelatihan selama enam bulan di Setiabudi Bandung.


Pendidikan yang sangat berkesan bagi Adit, membuka pintu hati Adit untuk menerima cinta dari gadis bernama Evi tersebut, yang merupakan keluarga sepupu, sama layaknya Aldo dan Nancy.


Mereka sangat dekat, sehingga membuat Ali menghajar Bambang saat Evi ketahuan selingkuh dari Aditya kala itu.


Keluarga Evi yang tidak pernah menyalahkan putrinya, malah memilih mengusir Ali dari kediaman mereka, karena pria berkulit hitam manis tersebut sudah tidak memiliki orang tua lagi semenjak kecil.


Kala itulah Sunardi membantu Ali mencapai cita-citanya sebagai abdi negara, namun hanya karena pengkhianatan Bambang terhadap Adit, membuat Ali di buang oleh Sunardi, tanpa di ketahui oleh Aditya hingga saat ini.


Kini kedua tangan Bambang sudah terikat di sebuah tiang, dengan mulut di lakban oleh Luqman.

__ADS_1


"Kau pengkhianat sahabat sekaligus negara! Kami capek menjaga negara, tapi kau justru ingin menguras uang negara hanya untuk kekayaan pribadi semata! Hebat sekali peranmu! Selamat datang di markas macan Asia, bro ..." tepuk Luqman pada pipi Bambang.


Aditya termenung sejenak, dia berpikir karena tidak percaya dengan langkah yang diambil Bambang, hanya untuk sekedar mencari kekayaan.


Adit menatap mata Bambang, kemudian bertanya dengan wajah merah padam, "Apa salah ku padamu, sahabat? Sehingga kau menyakiti aku luar dalam? Kau merampas Evi, dan kini menjadi mata-mata untuk menghancurkan kesatuan markas militer negara mu sendiri. Ada apa dengan mu? Siapa di belakang mu?" geramnya menghujam pukulan tepat di ulu hati Bambang.


BHUUG ...!


"Hmmfh ..." Seketika mata Bambang berair dan memerah mengisyaratkan bahwa pukulan Aditya sangat menyakitkan.


Adit menyunggingkan senyuman sinis, kali ini dia tidak ingin melihat Bambang sebagai sahabatnya. Justru pria yang ada di hadapannya kini, merupakan salah satu team sekutu yang akan menyerang markas mereka.


Ali memeriksa semua isi tas ransel yang di bawa Bambang. Benar saja, sebuah kode rahasia telah terkirim secara acak dan rahasia ke pihak sekutu, yang akan melakukan penyerangan pada markas militer angkatan darat.


"Brengsek!"


BHUUG ...!


BHUUG ...!


Lagi-lagi tangan Ali melayang ke perut Bambang.


Perlahan dia membuka lakban berwarna abu-abu tersebut, membuat Bambang semakin meringis kesakitan.


"A-a-a-aku minta maaf pada kalian! Ta-ta-tapi aku membutuhkan uang, agar kehidupan ku lebih baik! Kalian enak menjadi seorang prajurit! A-a-a-aku?" ungkapnya tanpa perasaan malu dan bersalah.


Mendengar ucapan Bambang, membuat darah kedua Ali juga Adit yang sangat mengenalnya semakin mendidih ...


"Alasan apa ini brengsek! Kenapa tidak sekalian kau jual saja dirimu! Atau jangan-jangan kau ingin membunuh kami satu persatu?! ..."


PLAAAK ...!


Tangan Ali lagi-lagi melayang kewajah Bambang. "Pengkhianat kau Bambang!"

__ADS_1


__ADS_2