
Kedua keluarga itu tengah asyik menikmati makan siang bersama di restoran hotel, sambil menunggu kehadiran rekan bisnis Sugondo.
Aditya, tengah sibuk bermain dengan Abdi, sementara Nancy menyantap makan siangnya setelah menyuapkan suaminya terlebih dahulu.
Bagi Nancy, janji Adit saat menghabiskan waktu di ranjang setelah pertikaian antara mereka, merupakan janji terakhir yang akan ia lakukan pada istrinya untuk tidak menyebut nama Evi saat mereka tengah menghabiskan waktu bersama.
Mata Aditya teralihkan, saat melihat seorang bule tampan mendekati mertuanya, kemudian menghampiri meja mereka untuk sekedar menyapa Nancy.
"Hai Neng Nan-cy," sapanya ramah.
Nancy yang tengah menikmati suapan terakhir, kemudian berdiri, tanpa menyalami pria muda itu, tidak mau menerima tangan dari pria asing yang sangat menawan menurut Aditya.
Bergegas Nancy menyelesaikan sisa makanannya, karena tidak ingin Bethrand menunggu lama.
Ada sedikit perasaan sakit yang dirasakan Adit, saat melihat istrinya tersenyum sumringah, bahkan mendahulukan kepentingan pekerjaannya di bandingkan dia sebagai suami sahnya.
"Mas, Neng gabung dulu sama Bapak dan klien itu, yah? Cuma sebentar kok," jelasnya dengan lembut.
Namun Aditya, memberikan Abdi kepada Sulastri, kemudian menarik lengan Nancy sedikit meremasnya, membawa agak menjauh dari keluarga dengan langkah istrinya semakin tergopoh-gopoh, sehingga membuat tubuh Nancy sedikit hoyong.
"Aaagh Mashh, sakit tahu!" Nancy menghentakkan tangannya, agar terlepas dari cengkraman Adit yang membuat lengannya berbekas memerah.
Adit mencondongkan tubuhnya kearah Nancy, membulatkan kedua bola matanya, menantang manik mata indah istrinya dengan tatapan garang ...
"Siapa dia? Kenapa ada laki-laki asing mendatangi kamu di sini? Apakah dia selingkuhan kamu?" hardiknya.
Mulut Nancy ternganga lebar, mendengar tuduhan suaminya semakin menyakitkan, walau mungkin akan di dengar oleh pihak keluarga, namun lagi-lagi Aditya tidak memahami bagaimana pekerjaan istrinya selama ini.
"Mas ... Dia itu rekan bisnis di perkebunan, dan memiliki aset di Bandung juga Jakarta. Tidak mungkin Neng akan berselingkuh! Mas kenapa jadi begini sih? Sekarang tenang dulu, jangan sampai dia berubah pikiran, karena ini bisnis Bapak. Please ..." ucap Nancy lembut dengan mata berkaca-kaca.
Tak pernah di sangka olehnya, bahwa Adit akan cemburu seperti ini, saat melihat Bethrand yang bukan siapa-siapa bagi Nancy.
Adit tersenyum sinis, dadanya masih turun naik, bahkan nafasnya semakin tidak beraturan, "Jawab jujur Nan-cy!"
__ADS_1
Air mata Nancy yang tadi tertahan, kini jatuh berderai. Bagaimana tidak, semua mata tertuju pada mereka yang masih bertatapan dengan wajah tegang, membuat tubuh putri kesayangan Sugondo bergetar hebat.
Nancy hanya bisa menahan amarahnya, namun tidak untuk membatalkan kerja sama dengan partner bisnis keluarganya.
Perlahan Nancy melebarkan senyumannya, mengusap lembut wajah Adit, agar tidak menjadi bahan pembicaraan bagi kedua orangtuanya yang masih menatap kearah mereka berdua.
Nancy menarik nafas dalam-dalam, hanya bisa bicara dengan suara berat dan bergetar, "Jangan buat malu di sini. Karena Neng harus propesional! Yuk, tahan emosi Mas. Nanti kita bahas di kamar. Masih ada satu malam lagi untuk kita menghabiskan waktu ..."
Namun apa yang dilakukan Nancy tidak menghasilkan apa-apa, selain wajah Adit yang semakin tidak mau mengerti dengan ucapan sang istri.
"Berarti selama ini kamu berselingkuh dengan dia! Dengan laki-laki bule tanpa sepengetahuan Mas! Buka topeng kamu, buka Nan-cy!" bentaknya dengan suara lantang.
Nancy yang tidak pernah bisa menerima bentakan serta tuduhan di depan umum, melayangkan tamparan keras pada suaminya ...
PLAAK ...!
"Sadar apa yang kamu ucapkan Aditya Atmaja! Ini cara kamu melihat sesuatu dengan mata mu! Ternyata kamu tidak lebih dari pria bajingan di luar sana. Maaf, silahkan pergi! Karena aku yakin, tidak ada wanita di luar sana yang sanggup menjadi pendamping mu selain, Neng!"
Kali ini Nancy sudah tidak memperdulikan apapun saat ini. Baginya, dia harus menghadapi kenyataan yang benar-benar sangat menyakitkan dengan sikap seorang Aditya.
Sementara Nancy masih berdiri di tempat yang sama, sambil mengontrol emosinya.
Sugondo dan Ningsih hanya saling bertatapan, namun mengalihkan perhatian Bethrand yang tampak kebingungan dengan kejadian tersebut.
Tentu keadaan itu membuat Bethrand memberanikan diri untuk bertanya pada Sugondo ...
"Maaf Pak, apakah pria itu putra mu? Atau hmm ..."
Sugondo tampak seperti kebingungan, hanya bisa menjawab, menahan malu serta mencoba berpikir tenang, mengerti akan kondisi menantunya.
"Maaf, pria yang ditarik Pak Atmaja itu adalah menantu saya. Mayor, yah mayor bunga dua," jelasnya mengacungkan dua jarinya.
Nancy hanya melihat dari kejauhan sang suami yang masih menatapnya dengan wajah garang. Perlahan dia menutup matanya, rasa sesak semakin terasa, apalagi semenjak Adit mengatakan bahwa dirinya selingkuh.
__ADS_1
"Kenapa Mas Adit tega menuduh Neng selingkuh! Padahal dia tahu pekerjaan Neng berhubungan dengan orang banyak ..." sesalnya dalam hati.
Nancy mengatur nafasnya, mengusap wajahnya berkali-kali, menarik nafas panjang, kemudian mendekati meja Sugondo yang tengah menunggunya.
Kepalanya seperti pening, bahkan dia ingin sekali pulang ke Bandung, tak menghiraukan lagi Aditya Atmaja yang ternyata masih kekanak-kanakan dalam mengontrol emosinya.
Nancy tak banyak bicara, dia hanya membaca beberapa tulisan di atas kertas, dan menandatangani surat perjanjian kerjasama mereka dengan cepat, kemudian meminta izin dan berlalu meninggalkan restoran tersebut.
Namun sebelum putri kesayangan Sugondo itu pergi, dia mengambil Abdi yang menjadi penenang dalam hidupnya.
"Neng ..." panggil Sulastri semakin serba salah.
Nancy hanya tersenyum tipis, memilih berlalu meninggalkan keluarganya di sana, tanpa menghiraukan panggilan dari Sugondo ataupun Ningsih.
Adit yang melihat istrinya memasuki lift membawa Abdi menahan pintu lift untuk ikut bersama sang istri, tanpa memikirkan ucapan Atmaja yang semakin berang padanya.
Pemandangan itu sangat menarik bagi Bethrand, pria bule yang masih berusia 27 tahun itu tersenyum sumringah, bergumam dalam hati, "Ternyata Nancy memiliki suami yang sangat cemburuan. Aku bisa mendekati wanita itu, tidak masalah dia memiliki anak, yang pasti dia sangat baik dan lembut ..."
Sugondo hanya bisa menahan malu, membiarkan pria bule itu meninggalkan mereka, tanpa ada perasaan was-was akan pembatalan kontrak kerja, karena sudah di setujui oleh Nancy.
Kedua orang tua itu hanya terdiam, menyaksikan kejadian yang tak pernah disangka-sangka sebelumnya.
Sugondo seketika panik, saat tidak melihat cucu kesayangannya di tangan Ningsih, "Unik, mana Abdi! Cepat ambil cucuku, aku tidak ingin cucuku mendengar hal-hal yang tidak baik karena sikap Papa-nya!"
Unik yang tampak ketakutan, bergegas menyusul ke kamar anak majikannya, walau sesungguhnya dia tidak mengetahui dimana letak kamar Nancy.
Berkali-kali Unik mencoba menghubungi Nancy, tapi tidak ada jawaban, membuat dia harus kembali ke restoran, untuk memberitahu pada Sugondo.
"Maaf Pak ... Unik tidak tahu dimana kamar Teh Nancy ..."
Sogondo hanya menarik nafas panjang, dia meminta Nanang untuk memesan tiga kamar hotel.
"Hmm ... Terpaksa kita menginap disini, padahal saya pengen membawa kalian menginap di daerah laut," sesalnya geram, merutuki kebodohan sang menantu.
__ADS_1
"Ganteng doang! Ternyata cemburuan ..."