Merebut Hati Suami Mayor

Merebut Hati Suami Mayor
Kalian yang akad, ane yang pesta


__ADS_3

Setelah seminggu menghabiskan waktu di negara Eropa nan indah, rombongan Sugondo berangkat menuju Indonesia, meninggalkan Netherland.


Negara indah yang sangat menyejukkan, bahkan dapat memberikan keromantisan dalam hubungan rumah tangga yang berbeda bagi Aditya dan Nancy selama pernikahan.


Kedua-nya tampak lebih mesra, bahkan tidak pernah berpisah. Ibarat pepatah mengatakan, 'nempel terus bak perangko'. Tentu sangat berbeda dengan Luqman, yang membawa serta Sindi dan ketiga buah hatinya.


Betapa beruntungnya mereka dapat berlibur bersama, sambil menjalankan bisnis milik Sugondo. Kini mereka tiba di bandara internasional Soekarno-Hatta Jakarta, menantikan penerbangan selanjutnya menunju kota kembang.


Nancy masih meringkuk di bahu Aditya sambil menghubungi Ningsih melalui video call.


Nancy : "Bagaimana keadaan Abdi, Bu? Maaf, Neng enggak bisa menghubungi Ibu, karena sibuk banget."


Ningsih melihat secara jelas kemesraan putri kesayangan serta menantu gagahnya mengecup lembut kepala Nancy yang masih tertutup pasmina, selama dalam penerbangan.


Ningsih : "Iya, Abdi semakin pintar. Dia selalu memanggil nama Mama dan Papa-nya. Sepertinya, kalian bulan madu saja dulu. Kan, Nak Adit masih cuti seminggu lagi. Lagian Ibu mau berangkat ke Jogja sama Bapak. Jadi kami mau jalan-jalan sama orang pabrik ..."


Nancy mendongakkan kepalanya, menatap wajah tampan Aditya yang seolah-olah akan mengecup bibirnya.


Benar saja, tanpa perasaan sungkan Aditya langsung mengecup bibir basah istrinya, tanpa perasaan malu dihadapan kerabat.


Nancy bertanya dengan suara manja yang sangat menggemaskan, "Gimana Mas? Kita mau langsung ke Bali atau Lombok? Kemaren kita dari negara dingin, bagaiman kalau kita langsung ke Bali?"


Perlahan Aditya menggelengkan kepalanya, "Kita pulang dulu. Mas kangen sama Abdi. Kalau Ibu sama Bapak berangkat, baru kita pergi lagi. Karena Mas juga kangen sama Ibu. Mau memberikan kado terindah yang selalu Ibu idam-idamkan."


Nancy menautkan kedua alisnya, bertanya karena penasaran, "Emang Mas mau ngasih apa?"


Perlahan Aditya menempelkan bibirnya kecuping kanan Nancy, sambil berbisik kecil, "Mas mau mengajak kamu menginap di rumah Ibu. Biar mereka tahu, kalau Mas sudah berubah dan membawa istri Mas menginap di rumah. Kamu mau, kan?"

__ADS_1


Nancy tampak ragu, ia menggigit bibir bawahnya, "Hmm ta-ta-tapi, Neng enggak bisa masak Mas. Bisa sih, palingan buat Mas saja. Enggak bisa masakin Bapak dan Ibu. Kalau di omelin mertua bagaimana?"


Aditya tertawa terbahak-bahak mendengar celotehan sang istri, "Kan, ada Ibu yang masak. Lagian semenjak kita menikah, kamu belum pernah menginap di rumah kami, dan merasakan tidur menggunakan kasur kapuk juga kipas angin," jelasnya.


Nancy menepuk dada bidang Aditya, mencubit kecil perut sispack suaminya karena perasaan geram, "Kebiasaan! Siapa bilang pakai kipas angin. Orang rumah Bapak baru di renovasi, dan pakai air conditioner. Bohong dosa lho!"


Aditya mencubit kecil pipi mulus Nancy, "Yang penting nanti malam kita nginap di rumah Ibu dan Bapak Atmaja. Tidak ada kata sungkan. Mas, sudah minta masakin cumi goreng tepung dan sambal kecap kesukaan kamu ditambah kentang goreng belado. Ibu sudah mempersiapkan semua untuk makan malam kita."


Nancy mengangguk setuju, kali ini ia hanya ingin menikmati pernikahannya yang sudah menemukan satu titik kebahagiaan.


Ningsih : "Neng, kamu masih dengerin Ibu enggak? Kalian kalau mau pacaran, Ibu tutup ya teleponnya!"


Nancy : "I-i-iya Bu."


Nancy tersadar, bahwa Ningsih masih menyaksikan kemesraan anak dan menantunya di seberang sana, membuat kedua bola matanya berkaca-kaca karena perasaan bahagia.


Bahagia, hanya itu yang dirasakan oleh kerabat Aditya serta kedua orangtuanya. Tidak ada kata-kata yang mampu mereka ucapkan, karena ingin melihat tumbuh kembang Abdi berada di kedua keluarga terpandang tersebut.


Atmaja menghampiri putra satu-satunya itu. Memberikan satu amplop coklat yang berisikan uang, "Nih, buat kamu dan keluarga!"


Sontak Aditya menautkan kedua alisnya, menatap wajah sang ayah yang berdiri tegap di hadapannya, seraya bertanya, "A-a-a-apa ini Pak?" ia merasakan ketebalan isi amplop tersebut, melanjutkan perkataannya karena perasaan sungkan, "Adit enggak minta, kok Bapak malah ngasih amplop?"


"Sudah terima saja. Itu dari Pak Anggoro. Dia tidak bisa bertemu dengan kamu, makanya menitipkan pada Bapak. Lusa mungkin Bapak dan mertua kamu mau ke Jogja. Mengisi traning karyawan pabrik. Kalau kamu masih cuti ikut saja. Karena pulang dari Jogja, kita akan mengatur pesta besar peresmian pernikahan kalian berdua. Jadi setelah itu, kalian bisa bulan madu dan memberikan satu cucu lagi buat kami."


Nancy yang ikut mendengarkan ucapan mertua laki-lakinya, hanya bisa menelan ludah. Bergumam sendiri dalam hati, "Main nambah cucu saja. Emang hamil itu enggak melelahkan apa ...? Jangan hamil lagi dong, masih capek Bapak ..."


Sementara Aditya mengangguk patuh, karena ingin merasakan bagaimana rasanya menemani sang istri, saat mengandung buah cinta mereka berdua ketika sudah semakin dekat bahkan tidak terpisahkan.

__ADS_1


"Iya Pak. Adit juga pengen punya anak perempuan. Doakan saja, kami berusaha terus kok selama di Amsterdam kemaren," tawanya, seketika, "Augh sakit Neng ..." Ia meringis kesakitan.


Namun, Nancy semakin mencubit kecil perut sispack suaminya tanpa perasaan sungkan ataupun bersalah dihadapan mertua tercinta.


Atmaja hanya tersenyum bahagia, memberikan ruang pada anak menantunya untuk melanjutkan tawa canda mereka.


Sementara Luqman masih di sibukkan dengan menjaga kedua anak Sindi, ketika wanita itu masih terlelap di sofa lounge bandara.


Bagaimana tidak kelelahan, selama dalam penerbangan, Sindi terus mengurus Mery yang mengalami ketakutan ketika berada dalam pesawat, membuat gadis berusia tiga tahun itu terus menangis dan meminta kembali kerumah mereka yang berada di Amsterdam.


Tidaklah mudah bagi Luqman, ketika gadis kecil itu berlari kesana-kemari bersama dua kakak tertuanya, Juno dan Joni.


Sindi yang memiliki anak yang hanya berjarak dua tahun, membuat kesabaran Luqman benar-benar menjadi taruhannya.


Bagaimana tidak, seorang pria muda yang tidak memiliki pengalaman dalam mengasuh anak-anak berusia lima dan tiga tahun itu, harus ekstra sabar demi mendapatkan hati janda cantik beranak tiga seperti Sindi.


Aldo yang membantu Luqman dalam mengawasi gadis kecil itu, hanya tertawa kecil melihat tingkah laku Mery yang sangat lucu dan menggemaskan.


"Sayang, Mery ini mirip boneka ya? Cantik banget. Aa pengen punya anak perempuan lagi. Karena bisa di kepang dua gini rambutnya seperti Arini anak kita," jelasnya pada Emi.


Emi menganggukkan kepalanya, "Iya, Neng aja gemes banget sama pipi tembemnya. Kayaknya kalau mereka tinggal di rumah kita bakal seru deh, Aa."


Luqman langsung menggelengkan kepalanya, mengisyaratkan tidak setuju karena Sindi dan Aldo pernah memiliki story percintaan masa lalu.


"Enak saja. Mereka tinggal di paviliun gue! Udah di siapin sama pembantu Mama. Pokoknya, minggu ini kami harus menikah!" tegasnya.


Aldo dan Bethrand yang mendengar penuturan Luqman mengacungkan jempol mereka, disusul celotehan Aditya.

__ADS_1


"Bareng saja sama pesta besar ane. Jadi kalian yang akad nikah, ane yang pesta!" tawanya menyeringai lebar.


__ADS_2