
Di kota Bandung tepatnya di daerah Lembang yang sejuk, Nancy tengah asyik berbincang-bincang dengan keluarganya. Dia sangat merindukan suami tercinta, karena sudah lebih dari satu setengah bulan Adit tidak membalas pesannya, atau menghubunginya.
Wajah cantik itu sudah sedikit berisi semenjak kehamilan yang belum diketahui suaminya.
Atmaja yang menyaksikan kegundahan hati menantunya, membelikan makanan kesukaan Nancy hanya untuk menghibur sang menantu.
"Neng, tadi Bapak beliin seblak yang tidak begitu pedas di simpang belokan pas mau kerumah kamu ..." Atmaja memberikan satu bungkusan makanan kesukaan Adit jika kembali ke rumah orangtuanya.
Nancy tersenyum sumringah, karena sejak dua hari lalu dia sangat menginginkan seblak yang sangat menggugah seleranya.
Namun, Ningsih melarang karena akan berdampak pada kehamilan putrinya. Kandungan dalam kerupuk basah itu sama halnya dengan satu bungkus mie instan.
Nancy langsung berlalu menuju dapur kediaman Sugondo, tanpa meminta izin pada Ningsih. Hanya makanan kesukaan Adit lah yang ingin dia nikmati semenjak kehamilannya.
Kedua keluarga Nancy sangat bahagia sekali, mendengar kehamilan sang anak menantu. Kebahagiaan mereka tak mampu di ungkapkan dengan kata-kata, melainkan hanya dengan perhatian yang di berikan Keluarga Adit pada sang menantu.
.
Tiga bulan berlalu di dunia perang ...
Aditya masih menyekap Bambang, tanpa perduli dengan rintihan memohon sang sahabat.
Bagi semua prajurit yang menjadi saksi sejarah antara mereka, harus membuat satu keputusan yang segera mereka lakukan.
Akan tetapi, rencana tinggal rencana. Team prajurit militer angkatan darat lagi-lagi harus menerima serangan mendadak dari arah yang tidak di sangka-sangka.
Duaaar ... Duaaar ...
Dor ... Dor ... Dor ...
Zhiing ... Zhiing ... Zhiing ...
Markas militer angkatan darat Indonesia mendapatkan serangan dari atas markas mereka, saat pukul dini hari.
Suara dentuman besar meledak di hadapan markas militer mereka, membuat mereka tak mampu melakukan apapun, sehingga hanya bisa menyelamatkan diri, dan melepaskan tawanan mereka, Bambang ...
Aditya yang mengalami benturan keras pada kepalanya, membuat dia hilang kesadaran dalam hitungan menit, dimana tubuhnya terlempar jauh.
__ADS_1
Sementara Ali dan Luqman mengalami luka tembak di bagian bahu juga lengan mereka, karena saat penyerangan mereka berada di luar untuk berjaga-jaga.
Kepulan asap tiba-tiba melenyapkan Bambang dari hadapan mereka, membuat para prajurit gabungan angkatan laut dan angkatan udara bergegas menuju markas militer angkatan darat.
Suasana kembali mencekam saat Fredy Guarin di bawa oleh mereka sebagai tawanan yang akan di tebus oleh negara.
Seketika pandangan mereka berkabut dalam kegelapan. Adit mencoba mengerjabkan matanya, namun seketika gelap tak melihat cahaya sedikitpun.
"Luqman!" teriak Adit terdengar saat dia berusaha untuk bertahan hidup di perbukitan yang tandus dengan tubuh penuh luka.
"Ali! Yodi!" teriakan Adit kembali menggema.
Namun Adit harus melindungi dirinya, karena masih mendengar pesawat tempur dari ketinggian yang terus menerus menyoroti mereka dengan cahaya laser berwarna hijau.
Aditya yang merasakan adanya pihak ketiga yang ingin melumpuhkan angkatan darat, berusaha berlindung dibalik batu besar yang ada di perbukitan tersebut.
"Kenapa baru sekarang mereka melakukan penyerangan? Berarti benar, bahwa Bambang lah yang telah mengirimkan keterangan pada pihak musuh! Brengsek!" geram Adit merogoh sempi yang masih berada di pinggang.
Matanya masih terasa perih, bahkan jika di lihat dari jarak dekat maka mata Aditya tampak memerah dengan luka benturan keras di kepala sebelah kanan.
Pandangannya masih berkabut, Aditya Atmaja terus mencari keberadaan Ali serta team lainnya.
Helikopter berhenti di area perbukitan mereka berada, kemudian menyelamatkan semua prajurit angkatan darat, membawa mereka ke markas gabungan yang terletak di 500 kilo dari tempat pemecahan prajurit sesuai pengarahan sang komandan.
"Mana Fredy?!" tanya sniper khusus angkatan udara, yang turun untuk menjemput dan memberikan bantuan kepada mereka.
Aditya dan Ali menggeleng, karena memang tidak mengetahui dimana keberadaan team elite tersebut.
Danu membawa mereka, dengan gerakan cepat, sebelum serangan kedua terjadi pada team prajurit angkatan darat tersebut.
"Cepat! Angkat mereka! Aku akan mencari keberadaan Fredy dan sandera mereka!" teriaknya, karena suara mesin helikopter kembali terdengar ...
Yodi yang menyaksikan Fredy dibawa oleh pihak sekutu, menjawab dengan tegas, "Tidak usah mencari Fredy! Dia dibawa oleh sekutu dan akan di jadikan sandera, seperti yang kita lakukan pada Bambang!"
Mendengar penuturan seperti itu, membuat Danu bergegas menaiki helikopter meninggalkan markas militer angkatan darat yang hancur berkeping-keping.
.
__ADS_1
Di tempat yang berbeda, Bambang justru tengah mendapatkan perawatan yang sangat baik karena berhasil di lepaskan oleh mereka.
"Bagus! Angkat pria ini, dan kita akan melakukan negosiasi agar mereka meninggalkan negara ini! Kita tidak ada pilihan, harus mereka yang kita jadikan tawanan!" tegas pria bule yang menggunakan pakaian biasa, namun tubuhnya di kelilingi senjata api serta misiu yang akan menembus lawan, jika berani membantah.
Wajah tertutup, bahkan hanya terlihat mata yang tegas, membuat Fredy dapat mengetahui apa maksud tentara gadungan tersebut, dengan berani menyandera beberapa tentara dari berbagai negara.
Perjanjian uang yang memang sangat menggiurkan, sehingga rela mengorbankan keselamatan warga sipil, yang menjadi korban atas ketamakan mereka.
Tubuh Fredy di lempar, di sebuah ruangan sempit yang berisikan orang-orang dari berbagai manca negara ...
BRAAAK ...!
Thaang ...!
Terdengar suara pintu besi dan rantai kapal yang tertutup rapat di ruangan pengap dan lembab.
"Aa Fredy?" tanya seorang wanita berpakaian bebas namun masih menggunakan identitas diri yang bergantung di dadanya.
"Celin? Kamu bukannya ikut dalam team Bambang?"
Celina menggelengkan kepalanya. Wanita yang telah lama menjadi team jurnalis TNI militer di Jakarta, ternyata menjadi sandera karena ketamakan Bambang untuk mendapatkan uang senilai lima milyar, sesuai yang di janjikan pihak negara sekutu.
"Celin terjebak, Aa? Ternyata Bambang yang menyusun rencana ini. Entah darimana dia mengenal mereka, sehingga sudah lebih dari dua bulan aku berada di sini. Di gabung dengan para tentara militer lainnya," jelasnya.
Benar saja, di ruangan pengap itu, ada tiga tentara wanita asing, dan lima pria asing termasuk Fredy, yang tampak tak bertenaga karena hanya memakan sisa makanan yang sudah berhari-hari.
Fredy yang terluka sedikit di bagian lengan, memeriksa saku celananya, untuk mencari alat komunikasi, memberi kabar pada pasukan elite yang tidak mengetahui dimana keberadaan mereka saat ini.
"Brengsek Bambang itu! Ternyata wajah lugunya, tidak sesuai dengan otaknya yang benar-benar hanya berharap uang! Aku akan memberi informasi pada pasukan lainnya, agar kita dapat terlepas, dan kembali ke tanah air dengan selamat!" geramnya.
Celin mengangguk. Sedikitpun tidak ada raut ketakutan dalam diri wanita yang berstatus seorang istri sekaligus ibu dari dua orang anak.
Dalam benak Celin, dia sangat percaya bahwa Tuhan akan mengirimkan penyelamat untuknya, dan melaporkan Bambang pada Interpol sebagai mata-mata internasional yang sangat berbahaya.
Fredy bernafas lega, saat menemukan handphone miliknya yang masih berada dalam saku celana sebelah kiri.
"Tenang! Aku akan memberi informasi pada pasukan elite internasional! Karena ini merupakan penyanderaan terencana!" tegasnya menoleh kearah sandera lainnya.
__ADS_1
Semua mata tertuju pada benda pipih yang ada dalam genggaman Fredy, hanya mengangguk tersenyum, walau mereka tidak mengerti apa yang di ucapkan oleh pria tersebut.