
“Tapi aku…” Camel tidak jadi meneruskan ucapannya untuk ke dua kalinya.
Tentu saja membuat papi Arthur dan juga mami Asha yang duduk di kursi yang berhadapan dengan
sang putri sama sama meraih tangan Camel satu satu, saat melihat raut wajah sang putri yang terlihat murung, saat papi Arthur menanyakan tentang kehamilan sang putri.
Bagaimana Camel tidak murung karena sampai sekarang dirinya belum juga mendapatkan momongan. Meskipun
Camel tahu belum lama dirinya dan juga Santos berumah tangga.
“Jangan murung begitu, suatu saat nanti kamu pasti akan memiliki momongan lagi. Papi yakin itu,” ujar papi Arthur, tak lupa senyum manis dirinya tunjukkan pada sang putri.
“Iya Mel, benar apa kata papi kamu. Lagian kalian belum lama menikah. Mami dulu juga lama di berikan momongan sekitar dua seteleh menikah,” sambung mami Asha membenarkan perkataan sang suami.
Saat mengingat lagi jika mami Asha juga lama di berikan momongan setelah menikah.
Santos yang duduk di samping Camel mengelus kepalanya dengan sangat lembut. “Kamu dengar kan apa yang mami dan papi katakan. Kita tidak boleh berputus asa sayang, karena cepat atau lambat pasti kita akan di berikan momongan oleh Tuhan. Yang penting
kita sudah berusaha semaksimal mungkin,” ujar Santos untuk menyemangati sang istri karena akhir akhir ini, Santos sering melihat Camel murung semenjak dirinya selalu mengatakan ingin segera memiliki momongan.
“Tos mungkin kamu kurang dalam menanamnya,”
“Sudah Pi. Aku selalu…” Santos tidak jadi meneruskan ucapannya, kemudian dirinya menggaruk kepalanya sambil tersenyum ke arah papi Arthur, karena hampir saja dirinya keceplosan mengatakan apa yang seharusnya dirinya katakana.
__ADS_1
“Tidak usah malu malu Tos,” sambung papi Arthur tahu jika sang menantu tidak ingin mengumbar urusan ranjang.
“Pi. Sudahlah, seperti papi bisa menanam dalam saja,” sambung mami Asha.
“Ish mami kenapa mengumbar aib saja. Maklum lah papi kan sudah tua,”
“Dari dulu juga…”
Mami Asha tidak jadi meneruskan ucapannya saat mendengar ibu Rina berdeham.
“Maaf Bu,” ucap mami Asha pada ibu Rina.
“Iya Bu Rina, maafkan kami. Beginilah keluarga kami yang sebenarnya sebelum negara api menyerang,”
Mengingat lagi sebelum sang istri mengetahui Camel menikah dengan Santos. Keluarganya begitu humoris, dan keadaan berbalik saat mami Asha selalu menghina Santos sang menantu.
Namun saat ini Papi Arthur bersyukur bisa membuat sang istri humoris Kembali, saat mami Asha sudah bisa menerima Santos sang menantu.
Mami Asha dan juga Ibu Rina berbincang bincang setelah makan siang selesai, layaknya besan pada umumnya. Tidak ada lagi rasa canggung di antara keduanya, saat mami Asha benar benar sudah menyesali perbuatannya, dan ibu Rina juga sudah memaafkan mami Asha.
Sementara itu papi Arthur, Santos dan juga Camel berkumpul bertiga di ruang tamu.
“Pi, apa yang sebenarnya papi lakukan dengan memberikan saham perusahan papi pada Jack?” tanya Camel, karena Camel belum pernah menanyakan tentang hal ini pada sang papi.
__ADS_1
“Papi hanya ingin memberikan pelajaran untuk dia,” jawab papi Arthur dengn santainya.
“Itu bukan pelajaran Pi. Papi malah membuat Jack berada di atas angin dengan memberikan saham perusahaan padanya.”
“Kamu tenang saja Mel, papi tahu apa yang papi lakukan ini,”
“Tapi Pi…”
“Sudahlah Mel, jangan bahas tentang Jack di sini. Ada hal yang lebih penting yang ingin papi sampaikan pada kalian,” sambung papi Arthur memotong perkataan sang putri.
“Hal penting?” tanya Camel penasaran.
“Iya, dan ini untuk masa depan kalian,”
Mendengar apa yang baru saja papi Arthur katakan, Santos yang tadi hanya mendengar percakapan sang istri dan juga papi Arthur, kini dirinya menoleh ke arah papi Arthur yang duduk tepat di hadapannya.
“Maaf Pi sebelumnya. Masa depan Camel dan juga Hazel putri kita aku yang akan mengurus. Papi tenang saja, karena aku akan selalu membuat mereka bahagia, dan memberi financial lebih dari cukup,” sambung Santos yang meyakini papi Arthur pasti akan ikut campur mengenai materai, mengingat lagi keluarga sang istri termasuk orang yang berada.
“Aku suka gayamu Tos,” sambung papi Arthur yang tidak ragu lagi dengan tanggung jawab sang menantu pada anak dan juga cucunya. “Papi tahu apa maksud dari perkataan kamu,
tapi ini lebih penting, dan sangat berharga,”
Bersambung……………………..
__ADS_1