
Camel yang baru sadar langsung menatap jam dinding ya ada di ruang perawatan di mana dirinya berada, dan jam tersebut menunjukkan pukul tiga sore.
Itu artinya Camel sudah tidak sadarkan diri hampir enam jam. Kemudian Camel beranjak dari tidurnya, dengan ke dua bola matanya mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan tersebut.
Lalu tatapan Camel terhenti di selang infus yang menempel di salah satu tangannya.
Kemudian Camel mengingat lagi sebelum dirinya tidak sadarkan diri.
"Sayang," ucap Camel, ketika mengingat sang suami sedang berada di ruang ICU. Dengan segera Camel melepas selang infus yang berada di salah satu tangannya sebelum turun dari tempat tidur.
Saat di ruangan tersebut tidak ada siapa pun kecuali dirinya. Dan entah mengapa perasaan Camel merasa gelisah, apa lagi saat Santos sang suami sedang kritis di ruang ICU.
Camel pun segera keluar dari ruangan tersebut dengan terburu buru, saat tubuhnya tidak lagi lemah, tidak seperti tadi sebelum dirinya tidak sadarkan diri.
Camel terus berjalan dengan terburu buru menuju ruang ICU di mana Santos sedang mendapat perawatan intensif.
Lalu Camel menghentikan langkahnya tidak jauh dari ruangan di mana sang suami berada. Saat melihat, ke dua orang tuanya, ibu mertuanya, Meri, Hazel sang putri dan juga dokter Jimi sedang berdiri tepat di depan ruang ICU di mana Santos berada.
Perasaan Camel yang sedari tadi sudah merasa cemas, kini kecemasan itu bertambah, saat melihat ibu Rina dan juga Meri sedang menangis sambil berpelukan.
Kemudian Camel kini melangkahkan kakinya menuju depan ruang ICU di mana semua anggota keluarga berkumpul.
"Kenapa kalian semua berkumpul di sini?" tanya Camel yang sudah menghampiri semuanya.
Membuat semua orang langsung menoleh ke arah Camel, tanpa ada satu pun yang menjawab pertanyaan yang baru saja terlontar dari bibir Camel.
"Kenapa kalian semua hanya diam saja?" tanya Camel lagi saat pertanyaannya tidak ada satu pun yang menjawab.
Kemudian Camel berjalan menghampiri mami Asha dan juga palu Arthur yang sedang memeluk pinggang mami Asha.
Dan air mata tiba tiba meluncur dari ke dua bola mata mami Asha, tentu saja membuat Camel langsung menautkan keningnya sambil menatap ke arah sang mami.
"Mi ada apa?" Lagi lagi Camel tidak mendapat jawaban dari pertanyaannya.
"Pi, ada apa ini?" tanya Camel pada sang papi, saat dirinya tidak mendapat jawaban dari mami Asha.
__ADS_1
Bukannya menjawab pertanyaan yang baru saja Camel katakan. Kini papi Arthur melepas tangannya yang masih memeluk pinggang sang istri, lalu sekarang papi Arthur memeluk tubuh sang putri.
"Kamu harus kuat sayang, masih ada papi, mami, dan juga Hazel di samping kamu,"
Mendengar apa yang baru saja sang papi katakan membuat Camel dengan segera melepas pelukan sang papi, lalu menatapnya dengan intens.
"Pi. Kenapa papi berkata seperti itu padaku?" tanya Camel.
Dan lagi, papi Arthur tidak menjawab pertanyaan sang putri, karena papi Arthur sekarang memalingkan wajahnya untuk menghindar dari tatapan Camel.
Camel yang lagi dan lagi tidak mendapat jawaban dari pertanyaan, kini mendekati ibu Rina yang teras menangis sambil memeluk Meri yang juga sedang menangis.
"Bu, kenapa ibu menangis?" tanya Camel yang sudah mendekati ibu mertuanya.
Ibu Rina pun langsung menghentikan tangisnya dan menghapus air matanya yang masih membasahi ke dua pipinya, lalu ibu Rina melepas pelukan Meri sang Putri.
Dan kini ibu Rina beralih memeluk tubuh Camel dengan erat.
"Maafkan Santos, untuk semua kesalahannya nak. Dan maafkan dia jika dia belum bisa membahagiakan kamu," ujar ibu Rina yang masih memeluk tubuh sang menantu.
"Kenapa ibu berkata seperti itu, suamiku selalu membahagiakan aku. Dan dia tidak memiliki salah sedikitpun padaku Bu,"
"Jika begitu, ikhlaskan Santos pergi," sambung ibu Rina.
Yang membuat Camel begitu penasaran dengan apa yang ibu mertuanya katakan.
"Apa maksud ibu? Jawab Bu," tanya Camel yang sekarang memegangi ke dua bahu ibu Rina agar wanita paruh baya yang ada di hadapannya tidak memalingkan wajahnya dan mau menjawab pertanyaan yang baru saja di tanyakan nya.
Lidah ibu Rina terasa kaku saat ingin menjawab pertanyaan Camel. Dan air mata yang tadi sudah kering, kini meluncur bebas dari ke dua kelopak matanya. Tentu saja hal itu membuat Camel begitu penasaran dengan semua orang yang tidak ada satu pun yang mau menjawab pertanyaan.
"Bu, jawab Bu," pinta Camel sambil menggoyang goyang kan tubuh ibu Rina.
"Kakak Santos sudah meninggal dunia," suara Meri di sela sela isak tangisnya.
Tentu saja Camel mendengar apa yang baru saja Meri katakan, saat adik iparnya tersebut berdiri tepat di samping ibu Rina, dan kini Camel melepas ke dua tangannya yang masih memegang ke dua bahu ibu Rina.
__ADS_1
Lalu Camel kini berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Meri.
"Mer. Apa yang kamu katakan. Kurang ajar sekali kamu mengatakan hal ini pada kakak kamu sendiri," kesal Camel yang tidak menyukai apa yang baru saja sang adik ipar katakan.
"Memang itu kenyataannya Kak, kakak Santos sudah meninggal. Dan dia tidak akan ada lagi di samping kita untuk selamanya," jelas Meri di sela sela isak tangisnya.
"Pembohong kamu Mer," ucap Camel tidak suka.
Kemudian Camel beranjak dari tempatnya, lalu menoleh ke arah dokter Jimi yang sedang berdiri di samping Hazel sang putri jauh dari tempat Camel berada.
Lalu Camel sekarang melangkahkan kakinya menuju ke arah dokter Jimi sang sahabat.
"Jim, bagaimana keadaan suamiku. Dia baik baik saja kan?" Tanya Camel saat sudah mendekati Jimi.
"Maaf," hanya itu ucapan yang keluar dari bibir Jimi.
Mendengar apa yang baru saja Jimi katakan membuat perasaan Camel tidak enak.
"Katakan padaku. Jika ucapan yang baru saja keluar dari bibir Meri itu bohong. Dan katakan padaku jika suamiku baik baik saja,"
"Maaf Mel, aku tidak bisa–"
Jimi tidak jadi meneruskan ucapannya saat tatapan Camel kini tertuju pada pintu ruang ICU di mana sang suami sedang mendapat perawatan intensif.
Apa lagi dari pintu ruangan tersebut, keluar beberapa perawatan yang mendorong brankar berisi seseorang di atasnya yang sudah tertutup kain putih.
Perasaan Camel semakin tidak enak, kemudian dia berlari menuju brankar tersebut, lalu menghentikan perawat yang ingin membawa brankar tersebut.
Camel yang sudah menghentikan perawat yang ingin membawa brankar tersebut, langsung mendekati brankar tersebut. Dan tanpa pikir panjang langsung membuka penutup kain putih yang menutupi seluruh tubuh seseorang yang berada di atasnya.
"Sa–" Camel tidak jadi meneruskan ucapannya, saat sudah membuka kain putih yang menutupi tubuh seseorang di atas brankar. Dan air mata kini meluncur bebas tanpa aba aba dari ke dua kelompok mata Camel.
Saat dirinya melihat ternyata tubuh sang suami lah yang berada di atas brankar tersebut, tubuh yang sudah kaku dan wajah yang pucat pasi.
"Tidak!!!!!""""
__ADS_1
Bersambung...................