
"Ya elah Tos, makanya jangan mainin cilok mulu, sekali kali main yang lain, biar tahu apa itu ehem ehem. Ah sudahlah, ngomong sama kamu itu, sama saja ngomong sama anak bocil,"
Pak RT pun langsung menyodorkan map yang berada di tangannya ke arah Santos, map yang berisi surat surat yang harus Santos bawa besok ke kantor urusan agama untuk melangsungkan pernikahannya dengan Camel, sesuai keinginan Santos yang ingin menikah secara sederhana.
Dan Santos pun dengan segera mengambil map tersebut.
"Besok datang tepat waktu, jangan sampai telat, besok aku akan menyusul. Dan Iya, jangan lupa beri tahu ibu kamu, jika pernikahan kamu di majukan besok," ujar pak RT.
"Baik Pak. Terima kasih, dan besok aku akan datang tepat waktu,"
"Bagus," sambung pak RT sambil melirik ke arah Camel, dan mendekatkan wajahnya ke telinga Santos. "Jangan di lakukan lagi yang barusan, belum sah. Nanti saja kalau sudah sah biar tambah nikmat,"
"Pak RT," sambung Santos merasa malu dengan ucapan yang terlontar dari bibir pak RT.
"Tidak usah malu malu Tos, kadang setan memang senang menggangu jika hanya ada dua orang di dalam ruangan, apa lagi lawan jenis,"
"Baik Pak,"
"Bagus. Kalau begitu aku pamit dulu," pamit Pak RT, lalu melambaikan ke arah Camel yang masih berada di tempatnya. "Neng pamit dulu,"
Camel pun langsung mengangguk dan tersenyum.
Setelah pak RT dan wakil nya keluar dari rumah, Camel langsung berjalan mendekati Santos yang kebetulan sudah membalik tubuhnya, lalu menatap Camel yang sedang tersenyum ke arahnya.
"Maaf,"
"Untuk apa sayang, kamu tidak salah,"
"Tapi bibirku ini su–"
__ADS_1
"Ssstttt," Camel menaruh jari telunjuk nya tepat di bibir Santos untuk menghentikan ucapannya. "Jangan katakan apa pun lagi sayang, aku sungguh menikmati setiap sentuhan bibir kamu ini,"
Camel kini mengelus bibir Santos dengan begitu lembut.
Hingga pemilik bibir terangsang dengan sentuhan Camel, apalagi saat ini tangan Camel sudah berada di dada bidangnya dan memainkan biji kopi yang ada di ke dua dadanya, yang mulia mengeras.
Dan Camel tahu, jika Santos sudah terangsang dengan sentuhannya, membuatnya langsung melepas tangannya dan ingin membalik tubuhnya untuk menguji Santos.
Namun Camel langsung mengukir senyum, kala Santos menahan tangannya lalu membawa ke dalam pelukannya.
"Kamu harus bertanggung jawab," ujar Santos yang langsung menempelkan bibirnya pada bibir Camel.
Dan ke duanya saling balas berciuman, lalu tangan Camel mengambil map yang ada di tangan Santos dan melemparnya ke sembarang arah.
Kemudian Camel mengarahkan ke dua tangan Santos menuju buah melon berboba di ke dua dadanya.
Camel yang benar benar sudah tidak bisa menahan hasrat di tubuhnya, kini melepas tautan bibirnya, dan tersenyum ke arah Santos yang sedang mengatur nafasnya.
"Di mana kamar kamu sayang?"
"Untuk apa kamu menanyakan kamarku? Aku tidak punya kamar. Aku selalu tidur di sini, dengan beralaskan tikar ini," jawab Santos.
"Oh tidak, yang ada punggung aku remuk jika harus melakukannya di sini,"
"Melakukan apa?"
"Ya ampun sayang, setelah yang baru saja kita lakukan, apa kamu tidak ingin melakukan hal lain?"
Santos pun langsung menepuk jidatnya sendiri. "Aku lupa, aku harus menemui ibu dan memberikan tahu jika pernikahan kita di percepat," ujar Santos yang langsung membalik tubuhnya dan berjalan menuju pintu meninggalkan Camel.
__ADS_1
"Awas saja setelah sah, aku kurung kamu di kamar," gerutu Camel. "Santos!"
Mendengar teriakan Camel, Santos langsung membalik tubuhnya dan menoleh ke arah Camel, lalu mendekatinya.
"Maaf, aku harus menemui ibu. Lebih baik kamu pulang,"
"Aku ingin ikut titik!"
"Baiklah,"
Dan Camel pun langsung memeluk lengan Santos keluar dari rumahnya.
*
*
*
Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit menggunakan mobil Camel, akhirnya Camel memarkirkan mobil mewah yang di kendarai tepat di depan pagar rumah yang menjulang tinggi, di mana ibu Santos dan juga adiknya berada. Dan Camel tidak asing lagi dengan rumah tersebut.
Lalu Camel menoleh ke samping kiri di mana Santos duduk, sebelum ke duanya turun dari mobil.
"Jadi ibu kamu bekerja di sini?" tanya Camel sambil menautkan keningnya.
"Iya,"
"Ya ampun!"
Bersambung..........................
__ADS_1