
"Aku tahu apa yang ingin kamu katakan sayang. Pasti kamu akan meminta pulang dari rumah sakit,"
"Itu kamu tahu, ijinkan aku pulang sekarang ya sayang,"
"Tidak, sebelum kamu sembuh total. Apa kamu lupa Jimi pernah mengatakan luka kamu belum sepenuhnya sembuh. Dan masih butuh beberapa hari untuk kamu sembuh total,"
"Tapi aku sudah tidak merasakan sakit lagi sayang. Dan aku juga bosan berada di ranjang ini,"
"Sekali tidak. Tetap tidak sayang!" tegas Camel, karena sudah sering sang suami meminta ingin segera keluar dari rumah sakit.
"Aku tidak bisa berdiam diri di sini, dan meninggalkan usahaku, sayang,"
"Kamu lebih memilih usaha kamu di banding dengan kesehatan kamu begitu," ucap Camel kesal, lalu bertolak pinggang sambil menatap tajam ke arah sang suami.
"Jelas saja aku tidak akan memilih keduanya, karena kamu yang akan aku pilih," sambung Santos.
Kemudian tersenyum ke arah sang istri yang sedang menatapnya tajam. Lalu Santos memeluk pinggang Camel yang berdiri di samping ranjang.
Camel mengukir senyum mendengar apa yang baru saja di katakan oleh sang suami. Dan ciuman beberapa kali Camel berikan tepat di atas pucuk kepala Santos yang masih memeluk pinggangnya.
"Kamu tenang saja sayang. Beberapa hari ini, aku juga sering mengontrol usaha milikmu. Dan usaha milikmu berjalan dengan lancar," ujar Camel.
Karena memang selama sang suami berada di rumah sakit, Camel terlebih dahulu mengontrol usaha milik Santos sebelum pergi ke perusahaannya.
Santos melepas pelukannya setelah mendengar apa yang baru saja di katakan oleh sang istri.
"Maaf sayang, aku merepotkan kamu,"
__ADS_1
"Tentu saja tidak. Aku senang melakukannya," sambung Camel yang sekarang duduk di pinggiran ranjang perawatan sang suami, dan menatap ke arahnya. "Untuk itu, tetaplah di sini hingga kamu sembuh total,"
"Tapi sayang aku–"
"Suamiku sayang, aku mohon padamu," sambung Camel memotong perkataan Santos.
"Baiklah jika itu mau kamu sayang," Akhirnya Santos mengikuti apa yang sang istri katakan. Meskipun dirinya benar benar sudah tidak betah berada di rumah sakit.
"Begitu dong. Jadi anak baik,"
"Aku suamimu,"
"Iya suamiku sayang," ujar Camel sambil tersenyum dan mendekatkan wajahnya ke wajah Santos.
"Sayang, jangan lagi. Bibir aku kebas senam aerobik terus," ucap Santos tahu, jika sang istri ingin mencium bibirnya.
"Sayang, kamu tahu kan. Hanya ini yang bisa aku nikmati,"
"Hanya ini? Apa kamu tidak salah, kemarin apa yang kamu nikmati?"
"Sesuatu yang keras di bawah sana, kamu juga menikmatinya kan?"
"Tentu," ucap Santos sambil tersenyum mengingat lagi apa yang sang istri lakukan.
"Jadi kamu jangan menolak, jika aku ingin senam aerobik bibir. Sebelum kamu bisa menusuk,"
"Apa. Menusuk!" teriak seseorang yang baru masuk ke dalam ruang perawatan Santos.
__ADS_1
Membuat Camel dan juga Santos langsung menoleh ke arah sumber suara.
Dan Camel langsung menghembuskan nafasnya kasar, saat tahu yang datang adalah Meri di ikuti ibu Rina dari belakang.
Yang Camel yakin, malam ini pasti dirinya akan tidur di sofa ruang perawatan sang suami. Karena Meri pasti akan meminta tidur bersama dengan Santos jika mengunjungi sang kakak.
"Apa yang Kakak Camel katakan, menusuk. Tidak bisa di biarkan," ujar Meri saat sudah mendekati ranjang sang kakak. "Siapa yang ingin menusuk, ini tidak bisa di biarkan. Kita harus lapor polisi Kak, sebelum jatuh korban lagi,"
"Untuk apa laporan polisi. Orang kakak yang ingin me–" Santos langsung menutup mulutnya, karena hampir saja keceplosan.
"Yang ingin apa Kak?" tanya Meri penasaran.
"Anak kecil tidak boleh banyak bicara di rumah sakit. Jadi diam ya,"
"Iya Kak," bisik Meri yang langsung naik ke tempat tidur.
Tentu langsung membuat Camel cemburu, karena malam ini dirinya tidak bisa tidur satu ranjang dengan Santos.
*
*
*
Plak!
"Diam kamu!"
__ADS_1
Bersambung..........................