My Wife SUGAR MOMMY

My Wife SUGAR MOMMY
Stroke


__ADS_3

"Jika Tuhan sudah mengijinkan, tentu aku siap," sambung Santos menanggapi apa yang baru saja mami Asha katakan. "Anda tahu bukan. Hanya Tuhan yang tahu kapan ajal manusia. Untuk itu, kita sebagai manusia harus melakukan yang terbaik sebelum ajal itu tiba. Karena Tuhan tidak pilih pilih untuk menjemput ajal manusia. Banyak orang di usia muda sudah meninggal, tapi lebih banyak yang sudah tua sih,"


Santos mengatakan hal seperti itu, sebenarnya hanya ingin menyindir mami Asha. Agar sang mertua menyadari apa yang selama ini dilakukannya pada Santos.


"Kurang ajar. Jadi menurut kamu, aku yang akan mati terlihat dahulu begitu?!"


"Tidak. Aku tidak bermaksud begitu. Kalaupun anda merasa. Bukankah alangkah baiknya, mulai sekarang anda mengubah sikap Anda menjadi lebih baik lagi,"


"Jadi, kamu mengatakan aku tidak baik begitu?!"


"Tidak. Aku tidak mengatakan itu. Anda sendiri yang mengatakannya," sambung Santos sambil mengukir senyum termanisnya.


Tentu saja mami Asha langsung naik darah mendengar apa yang baru saja Santos katakan.


"Oh. Kurang ajar ya kamu!" seru mami Asha yang kini beralih bertolak pinggang, sambil menatap Santos yang sedang mengukir senyum manis ke arahnya.


"Mana mungkin aku kurang ajar pada ibu dari istriku, yang bagiku wanita itu adalah, wanita yang harus di hormati dan juga di sayangi," ucap Santos. Sebisa mungkin dirinya harus bisa mengubah sikap mami Asha padanya. Dan menerima Santos sebagai menantunya.

__ADS_1


"Jika bukan kurang ajar kenapa kamu mengejek aku dengan mengukir senyum!"


"Senyum itu salah satu hal baik yang harus di lakukan setiap manusia. Jangan cemberut terus, yang akan memperpendek umur, apa lagi jika sudah tua, tambah dekat tuh dengan ajal jika bawaannya cemberut terus, apa lagi marah marah," sambung Santos.


Lagi lagi dalam ucapan Santos mengandung sindiran untuk mami Asha.


"Ish Kakak Santos benar sekali jika bicara," sambung Meri yang baru masuk ke dalam ruang perawatan sang kakak, tentu saja masih menggunakan seragam merah putih di ikuti oleh ibu Rina dari belakang.


Tentu saja ibu Rina, yang mendapati keberadaan mami Asha langsung menyapanya, namun di acuhnya oleh mami Asha yang tambah tidak suka dengan kedatangan Meri dan juga ibu Rina.


"Ish ish tak patut. Eh Oma sayang, kalau ada yang menyapa itu setidaknya sapa balik. Tahu tidak, kemarin ada loh Oma Oma seperti Oma ini ketabrak mobil dan mati di tempat, karena tidak menjawab sapaaan orang," ucap Meri yang sudah mendekati ranjang perawatan Santos. Di mana mami Asha berdiri di sisi ranjangnya.


"Kalau bukan Oma aku harus panggil apa dong. Tante? Kayaknya ketuaan. Sis? Seperti bencong yang ada di salon tidak jauh dari rumah. Apa Bu? Tapi kan Oma bukan ibuku," sambung Meri sambil berpikir.


"Jaga batasan mu anak ingusan!"


"Ish Oma ini buta kali ya. Lihat nih, jarak kita sudah jauh, dan tidak usah pakai batasan," Meri terus menyahut dengan apa pun yang di katakan oleh mami Asha.

__ADS_1


Tentu saja membuat mami Asha semakin kesal.


"Benar benar anak kecil satu ini. Kalian memang benar benar sampah!"


"Ih Oma buta. Orang kita manusia," sahut Meri sambil menatap ke arah mami Asha. "Oma jangan marah marah ya. Tahu tindak, Oma teman aku kemarin terkena stroke karena sering marah marah. Aku kasihan dengan Oma nanti, sudah buta stroke lagi,"


"Arrggggh. Dasar menyebalkan!" teriak mami Asha yang langsung meninggalkan ruang perawatan Santos dengan kesal.


"Ada apa degannya Kak?" tanya Meri yang sekarang naik keranjang perawatan Santos.


"Kaka tidak tahu adikku sayang. Bagaimana sekolahnya?"


Belum juga Meri menjawab pertanyaan, Santos memanggil ibu Rina yang ingin keluar dari kamarnya.


"Bu, tetap di sini," larang Santos. Karena dirinya yakin sangat ibu akan menghampiri mami Asha.


"Ketabrak mobil, stroke ah itu tidak mungkin," ujar mami Asha saat sudah di luar ruang perawatan Santos, saat mengingat apa yang baru saja Meri katakan.

__ADS_1


Bersambung..........................


__ADS_2